Tidak peduli panjang atau pendek, tidak peduli bulat atau lonjong, pun tak peduli berwarna hijau, merah, kuning terang ataupun pucat, bahkan ungu sekalipun jikalau ia terasa pedas tetap saja ia bernama cabai. Walau harganya lagi naik meroket ataupun lagi terjun payung, selama titel pedas itu ada padanya, pun tetap saja ia bernama cabai dengan titel pedas mengikut di belakang namanya.

Pedasnya cabai terasa di lidah, pun ternyata tidak kalah pedas terasa akhir-akhir ini di pemberitaan berbagai media di negeri kita. Meroketnya harga cabai ternyata bisa menjadi alat untuk mengkritik kinerja pemerintah. Hal inipun telah direspon oleh pemerintah melalui Menteri Pertanian, Amran Sulaiman, sebagaimana dikutip dari salah satu media online beliau berkata: “Itu cabai ampun kita. Apa nggak bisa bedakan pangan dengan cabai. Cabai dengan pangan itu perbedaan (jauhnya) seperti Aceh dengan Irian. Pangan itu yang sifatnya strategis seperti padi, jagung itu juga pokok,” pada saat Rapat Koordinasi Pangan di Hotel Clarion, Kota Kendari, Sulawesi Tenggara, Jumat (13/1/2017).

“Cabai bukan masuk panganan pokok. Enggak ada orang masuk rumah sakit karena enggak makan cabai. Kalau beras 3 hari enggak makan, saya tunggu di rumah sakit dan pasti di ICU tempatnya. Ini enggak berimbang informasinya,” ujar Mentan.

“Rawit saja yang naik, keriting harganya jatuh, yang (cabai) besar harganya jatuh. Tapi rawit naik beritanya digoreng 2 minggu. Harus berpikir positif sayangi negeri ini, jangan diputar-putar terus beritanya. Ada beritanya rawit di Balikpapan Rp 200.000/kg, saya telepon orang bagian pangan di sana hanya Rp 40.000/kg kok,” tambah beliau.

Pernyataan beliau -cabai itu bukanlah pangan- barang tentu sudahlah tepat, pun konfirmasi tentang fakta masalah kenaikan harga cabai yang hanya terjadi pada jenis tertentu saja dan hanya terjadi di beberapa daerah saja barang tentu pula sudah dapat menentramkan hati para penikmat cabai. Bisa saja cabai itu hanya memiliki sedikit kemungkinan dapat menggoyang ketahanan pangan kita, karena toh pedasnya cabai masih dapat digantikan dengan pedasnya merica, dan tanpa memakan cabaipun tetap saja manusia bisa bertahan hidup.

Namun, akan berbeda posisinya tatkala pedasnya cabai ini kita lihat dari sisi Ketahanan Kebudayaan. Cabai masuk ke dalam unsur makanan walau cabai bukanlah makanan pokok, ia adalah jenis makanan pelengkap. Makanan adalah salah satu unsur di dalam Sistem Peralatan Hidup dan Teknologi yang masuk kedalam Tujuh Unsur Kebudayaan Yang Universal.

Jikalau kita berandai-andai suatu saat cabai hilang dari permukaan Bumi ini, sudah barang tentu akan diikuti oleh hilangnya beberapa jenis makanan yang selama ini telah menjadi ciri khas kita sebagai sebuah suku, bangsa, dan ras. Seperti contoh Kuah Beulangong, gulai kambing khas dari Aceh yang menggunakan salah satu bahan dasar cabai rawit giling, apakah ia akan tetap bisa dikatakan sebagai Kuah Beulangong tanpa adanya cabai rawit sebagai salah satu bahan dasar pembuatannya selain bumbu yang lainnya seperti merica, bawang merah, dan sebagainya? Rasa pedas yang kita rasakan saat menyicipi Kuah Beulangong itu berasal dari perpaduan pedas yang berasal dari cabai rawit dan merica. Hilangnya keotentikan Kuah Beulangong sudah barang tentu akan dapat mendepaknya keluar dari daftar Warisan Budaya Nasional milik Bangsa Indonesia.

Sedikit mengingat ke belakang, saya teringat dengan pernyataan Ibnu Khaldun di dalam Mukaddimah kitab yang beliau tulis, yang pernah kami pelajari di semester-semester awal waktu kuliah Sejarah dulu. Beliau menekankan di dalam buku tersebut bahwa makanan itu sangat berpengaruh besar terhadap kehidupan manusia yang memakannya. Beliau memberikan banyak contoh semisal orang-orang yang sering memakan daging hewan yang berukuran besar maka kebiasaannya akan memiliki keturunan yang berbadan besar-besar pula, pun orang-orang yang biasa meminum susu unta dan memakan dagingnya maka akan berpengaruh kepada akhlak mereka, seperti sabar dan mampu menanggung beban kehidupan yang berat sebagaimana unta. Mungkin, bisa saja panasnya (baca: pedas) berita tentang meroketnya harga cabai di pasaran karena respon pedas dari para penikmat pedasnya cabai.

Salam Kebudayaan!

🙂