Tugu Yogyakarta

0
227
Tugu Yogyakarta. Foto: Dok. BPCB DIY.2013

       Tugu Pal Putih ( De Witte paal) atau Tugu Yogyakarta dibangun atas prakarsa Pangeran Mangkubumi yang kemudian bergelar menjadi Sri Sultan Hamengku Buwono I sebagai penguasa tertinggi Kasultanan Yogyakarta. Setelah terjadi peristiwa palihan nagari, Mataram dibagi menjadi dua yaitu Kasunanan Surakatra dan Kasultanan Yogyakarta (Perjanjian Giyanti 1755).

     Tugu dibangun sebagai tanda terima kasih kepada masyarakat dan tanda peringatan terhadap· semangat persatuan dan semangat kebulatan tekad (golong-gilig) bersama rakyat. Bangunan terdiri atas bagian puncak, batang, dan umpak. Bagian puncak berbentuk bulat dan runcing berdiri pada lapik berpelipik. Batang terdiri atas dua ruas, berdiri di umpak berbentuk segi empat dan berundak. Pada dinding sisi utara tertulis PAKARYANIRA SINEMBADAN PAPATIH DALEM KANJENG RADEN AD/PA Tl DANUREJO INGKANG KAP/NG V, KAUNDHAGEN DEN/NG TUWAN JWE. VAN BRUSSEL, OPZICHTER WA TERTAAT” yang artinya pekerjaan ini dundangkan oleh pepatih dalem Kanjeng Raden Adipati Danureja V dan dipimpin oleh Tuan NVE Van Brussel Opsihter (pekerjaan umum).

     Di sisi timur tertulis ING KANG MANGAYUBAGYA KARSA DALEM KANGJENG TUWAN RESIDENT J. MULLEMEISTER (dengan persetujuan residen J Mullemeister) di sisi selatan tertulis HAMENGKU BUWONO VII , dan di sisi barat tertulis CANDRASENGKALA WIWARA HARJA MANGGALA PRAJA (tahun jawa 1819). Tugu Yogyakarta terbuat dari batu bata setinggi 15 meter. Tugu yang berada di Gowongan, Jetis, Yogyakarta tersebut ditetapkan sebagai Cagar Budaya dengan Per.Men Budpar RI No. PM25/PW.007/MKP/2007.

TINGGALKAN KOMENTAR