Penampungan Benda Cagar Budaya (BCB) Seyegan (Bagian I)

0
261
Penampungan Benda Cagar Budaya Seyegan

    Penampungan Benda Cagar Budaya (BCB) Seyegan adalah tempat yang berfungsi untuk menampung benda-benda cagar budaya yang ditemukan di wilayah Kabupaten Sleman, khususnya benda-benda cagar budaya yang berasal dari Kecamatan Seyegan, Kecamatan Moyudan, Kecamatan Minggir, dan Kecamatan Godean. Penampungan BCB Seyegan merupakan satu dari tiga penampungan benda cagar budaya yang ada di Kabupaten Sleman. Dua penampungan lainnya yaitu Penampungan BCB Mlati berada di Kecamatan Mlati dan Penampungan BCB Turi terletak di Kecamatan Turi. Ketiga penampungan tersebut dikelola oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya Daerah Istimewa Yogyakarta (BPCB DIY).

    Keberadaan Penampungan BCB Seyegan merupakan bagian dari upaya pelestarian cagar budaya yang dilaksanakan oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya  Daerah Istimewa Yogyakarta. Pelestarian Cagar Budaya dilakukan melalui tiga cara yaitu pelindungan, pengembangan, dan pemanfaatan. Penampungan BCB Seyegan adalah salah satu sarana yang digunakan dalam rangka melakukan pelindungan terhadap cagar budaya dengan cara pengamanan. Penampungan BCB Seyegan digunakan untuk mengamankan cagar budaya, khususnya yang bersifat bergerak (benda cagar budaya) dengan tujuan untuk menjaga dan mencegah cagar budaya agar tidak hilang, rusak, hancur, atau musnah. Beberapa benda cagar budaya yang diamankan di Penampungan BCB Seyegan adalah sebagai berikut.

Arca Durga Mahisasuramardini

    Durga adalah istrinya Siwa. Durga menaklukkan raksasa berkepala lembu jantan. Ia digambarkan bertangan delapan, masing-masing tangannya memegang: cakra, khadga, busur dan anak panah, perisai, sangkha; satu tangan memegang ekor lembu dan satu tangannya lagi memegang rambut raksasa. Ia berdiri di atas lembu yang ia pegang ekornya.

Arca Durga Mahisasuramardini B.863

No. inventaris               : B.863

Asal                             : Margoluwih, Seyegan, Sleman

Keterangan                  : Bagian kepala hilang

.

Arca Ganesa

    Ganesa merupakan dewa ilmu pengetahuan dan penyingkir rintangan dalam agama Hindu. Ia adalah anaknya Siwa. Ia digambarkan berbadan manusia, berkepala gajah, bertangan dua atau empat dengan laksana berupa tasbih, kapak, sangkha, dan jerat. Pada kepalanya terdapat ardha candrakapãla dengan mata ketiga di dahinya. Mengenakan upawita yang terdiri dari ular dan rangkaian tengkorak.

    Tangan depannya memegang mangkuk dan patahan gading. Belalainya dimasukkan ke dalam mangkuk sebagai lambang bahwa ia tidak puas-puasnya mencari ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan. Dalam kitab Suaradhahana diceritakan bahwa gadingnya patah ketika berperang dan membunuh raksasa Nilarudraka. Raksasa tersebut hanya dapat dibunuh oleh makhluk yang bukan manusia dan bukan binatang.

Arca Ganesa B.925

No. inventaris               : B.925

Asal                             : Sumberrahayu, Moyudan, Sleman

Keterangan                  : Kondisi arca sudah aus dan kepalanya hilang

.

Arca Nandi

    Nandi adalah lembu kendaraannya Siwa.

Arca Nandi

No. inventaris             : B.848

Asal                            : Krapyak, Margoagung, Seyegan, Sleman

Keterangan                 : Kondisi arca sudah aus dan kepalanya hilang B.848

.

Arca Dhyani Buddha Aksobhya

    Dhyani Buddha Aksobhya merupakan salah satu dari lima perwujudan Dhyani Buddha. Empat Dhyani Buddha lainnya yaitu Wairocana, Ratnasambhava, Amithaba, dan Amogashiddi. Dhyani Buddha juga sering disebut Jina (dari bahasa Sanskerta yang artinya pemenang). Dhyani Buddha adalah sebutan tokoh yang secara spiritual merupakan pancaran Adibuddha (Buddha yang tertinggi).

    Aksobhya merupakan Jina kedua yang berhubungan dengan kesadaran (vijnana) dan digambarkan berwarna emas atau biru. Ia juga disebut Ratnaketu yang menjaga belahan bumi sebelah timur. Pengarcaan Dhyani Buddha Aksobhya digambarkan duduk di atas padmasana dalam posisi bermeditasi. Kaki bersila dalam posisi yogasana. Matanya setengah tertutup memandang ujung hidungnya sendiri. Rambutnya ikal. Bagian kepalanya memiliki tonjolan disebut ushnisa. Memiliki lingkaran kecil di tengah dahi disebut urna. Telinganya digambarkan panjang. Tangan kanan di atas lutut, sikap tangannya (mudra) yaitu bhumisparsamudra atau dhyana yang melambangkan memanggil bumi sebagai saksi.

Arca Dhyani Buddha Aksobhya B.875

No. inventaris             : B.875

Asal                             : Margomulyo, Seyegan, Sleman

Keterangan                  : Kepala sudah hilang

.

.

Lingga

    Lambang Dewa Siwa dalam Agama Hindu berbentuk kemaluan laki-laki (phallus). Lingga terdiri atas tiga bagian, yaitu bagian dasar berupa segi empat disebut brahmabhaga, bagian tengah berbentuk segi delapan disebut wisnubhaga dan bagian puncak berbentuk bulat panjang disebut  siwabhaga. Pada umumnya lingga terbuat dari batu dan diletakkan di atas yoni pada ruang dalam bangunan induk candi.

Lingga B.938b

No. inventaris             : B.938b

Asal                             : Rewulu Kulon, Moyudan, Sleman

.

.

Yoni

    Yoni merupakan landasan lingga yang melambangkan kemaluan wanita (vagina). Pada permukaan yoni terdapat lubang berbentuk segi empat di bagian tengah untuk meletakkan lingga yang dihubungkan dengan cerat melalui sebuah saluran air sempit. Cerat hanya terdapat pada salah satu sisi dan berfungsi sebagai pancuran. Yoni dan lingga biasanya dihubungkan dengan keberadaan candi.

Yoni B.890

No. inventaris             : B.890

Asal                             : Sendangrejo, Minggir, Sleman

.

.

Lingga Semu

    Lingga yang hanya mempunyai dua bagian saja, yaitu wisnubhaga dan siwabhaga serta tidak dilengkapi dengan yoni. Lingga semu tidak pernah ditemukan bersama yoni, melainkan lebih banyak digunakan sebagai tanda batas atau tanda suatu kawasan yang disucikan.

Lingga Semu B.895a

No. inventaris             : B.895a

Asal                             : Sendangrejo, Minggir, Sleman

.

.

Baca selanjutnya: https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbyogyakarta/penampungan-benda-cagar-budaya-bcb-seyegan-bagian-ii/?preview=true&_thumbnail_id=9483

Tinggalkan balasan