Pembuatan Film Pemugaran Candi Kedulan

0
265
Kepala Subbagian Tata Usaha Balai Pelestarian Cagar Budaya Daerah Istimewa Yogyakarta Drs. Indung Panca Putra, M.Hum., menjelaskan aspek teknis dan arkeologis terkait pemugaran Candi Kedulan dalam pembuatan film "Pemugaran Candi Kedulan".

       Selama berabad-abad Candi Kedulan hilang tertimbun material vulkanik erupsi gunung Merapi. Setelah ditemukan kembali pada 24 September 1993, berbagai penggalian dilakukan untuk melestarikan keberadaannya. Mulai dari penggalian arkeologi untuk menampakkan wujudnya, sampai penggalian informasi historis untuk mengetahui sejarah pendiriannya. Kini, tahun 2018 pada saat pemugarannya, Balai Pelestarian Cagar Budaya Daerah Istimewa Yogyakarta berupaya menggali pengetahuan tentang kronologi penimbunan material vulkanik erupsi gunung Merapi terhadap Candi Kedulan dan upaya pelestariannya dari para ahli yang berkompeten di bidangnya.

Ahli Geologi dari Universitas Gadjah Mada, Prof. Dr. Ir. Subagyo Pramumijoyo memaparkan tentang kronologi tertimbunnya Candi Kedulan oleh material vulkanik dari erupsi Gunung Merapi dalam pembuatan film Pemugaran Candi kedulan.

      Tim dokumentasi Balai Pelestarian Cagar Budaya Daerah Istimewa Yogyakarta melakukan pengambilan gambar untuk pembuatan film “Pemugaran Candi Kedulan” pada Selasa, 25 September 2018 di Candi Kedulan, Tirtomartani, Kalasan, Sleman. Pada kegiatan tersebut, dilakukan perekaman informasi tentang berbagai hal teknis-arkeologis yang berkaitan dengan pemugaran Candi Kedulan yang disampaikan Kepala Subbagian Tata Usaha Balai Pelestarian Cagar Budaya Daerah Istimewa Yogyakarta, yang juga seorang arkeolog, Drs. Indung Panca Putra, M.Hum. Sedangkan misteri hilangnya Candi Kedulan yang terpendam material vulkanik erupsi gunung Merapi  ditelisik dengan menghadirkan pakar geologi dari Universitas Gadjah Mada, Prof. Dr. Ir. Subagyo Pramumijoyo.

      Ada dua poin yang menjadi substansi penting pesan yang hendak disampaikan oleh narasumber. Pertama, dalam melaksanakan pemugaran Cagar Budaya tujuan utamanya untuk mengembalikan kondisi fisik Cagar Budaya dengan harus memperhatikan keaslian bahan, bentuk, tata letak, gaya, dan/ atau teknologi pengerjaan. Kedua, faktor alam dan segala perubahannya berpengaruh besar terhadap kelestarian warisan budaya. (Ferry A.)

Tinggalkan balasan