Merayakan Hardiknas dengan Belajar di Luar Kelas

0
84

     Insan Pendidikan di seluruh penjuru tanah air memperingati Hari Pendidikan Nasional dengan beragam cara. Balai Pelestarian Cagar Budaya Daerah Istimewa Yogyakarta merayakan Hardiknas tahun 2019 dengan mengajak pelajar untuk belajar di luar kelas melalui program pendidikan karakter berbasis kebudayaan (edukatif-kultural). Program tersebut diselenggarakan dalam empat kegiatan yaitu pameran cagar budaya, pemutaran film cagar budaya, sekolah cagar budaya, dan workshop videografi cagar budaya.

    Pameran Cagar Budaya berlangsung pada 1 s.d. 4 Mei 2019 di Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta. Pameran mengusung tema “Melacak Jejak Pendidikan Era Kolonial Belanda di Yogyakarta”, di sana pelajar bisa memperluas wawasan tentang bangunan-bangunan sekoah peninggalan pemerintah kolonial Belanda yang didirikan pada abad ke-20 di Yogyakarta. Bangunan-bangunan tersebut hingga kini masih lestari dan berfungsi sebagai sekolah, juga telah ditetapkan sebagai Cagar Budaya karena mengandung nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan kebudayaan.

Pameran Cagar Budaya

 

 

 

 

 

    Pemutaran Film Cagar Budaya bertempat di Gedung F Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta pada 2 Mei 2019, yang disaksikan oleh pelajar SMP Negeri 2 Yogyakarta. Film-film yang diputar merupakan produksi Balai pelestarian Cagar Budaya Daerah Istimewa Yogyakarta, antara lain Profil Balai Pelestarian Cagar Budaya Daerah Istimewa Yogyakarta, Darma Siwa Grha, dan Gua Jepang dalam Lintasan Sejarah. Pemutaran film bertujuan untuk mengenalkan Cagar Budaya yang ada di Yogyakarta kepada pelajar dari berbagai aspek sejarah, arkeologi, dan upaya pelestariannya.

Pemutaran film Cagar Budaya

 

 

 

 

 

     Workshop Videografi Cagar Budaya dilaksanakan pada 3 s.d. 4 Mei 2019, pesertanya adalah pelajar tingkat SMA/SMK yang berasal dari Kabupaten Sleman dan Kota Yogyakarta berjumlah 50 orang.  Workshop berlangsung di dua lokasi. Workshop pada hari pertama berada di Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta, diisi pemberian materi pengenalan cagar budaya dan videografi. Hari kedua, peserta melakukan ekskursi di Candi Ijo, candi yang memiliki keletakkan paling tinggi di Yogyakarta, berada di Dusun Groyokan, Desa Sambirejo, Prambanan, Sleman. Di sana peserta membuta video jurnalistik dengan merekam berbagai aktivitas yang terjadi di lingkungan sekitar Candi Ijo, antara lain perilaku pengunjung dan kegiatan juru pelihara saat merawat candi.

Praktik membuat video jurnalistik cagar budaya
Mewawancarai Juru Pelihara

 

 

 

 

 

Mendokumentasikan secara detail warisan budaya
Berfoto bersama setelah kegiatan

 

 

 

 

 

     Sekolah Cagar Budaya diselenggarakan pada 4 Mei 2019 dengan peserta pelajar SD Tanjungtirto, Berbah, Sleman sejumlah 120 orang. Dalam kegiatan tersebut, pelajar diajak mengamati warisan budaya peninggalan peradaban mataram kuno yaitu Candi Sambisari yang terletak di Dusun Sambisari, Desa Purwomartani, Kalasan, Sleman. Candi bercorak agama Hindu tersebut dibangun sekitar abad ke-9 Masehi. Objek kedua yang menjadi media pembelajaran adalah Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta. Di sana pelajar berkeliling museum bersama pemandu mengamati ragam diorama sejarah perjuangan bangsa dalam menggapai kemerdekaan, dan benda-benda yang dipakai oleh para pejuang dari masa tersebut.

Berkunjung ke Candi Sambisari
Mengamati Arca Ganesha

 

 

 

Melihat maket Candi Sambisari di ruang informasi
Mendengarkan penjelasan pemand di Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta

 

 

 

 

 

 

      Perayaan Hari Pendidikan Nasional tahun ini dilandasi semangat “Menguatkan Pendidikan, Memajukan Kebudayaan”. Berbagai program pendidikan karakter berbasis kebudayaan (edukatif-kultural) yang diselenggarakan Balai Pelestaraian Cagar Budaya Daerah Istimewa Yogyakarta dalam rangka menyemarakkan Hardiknas begitu relevan dengan semangat tersebut. Kegiatan pembelajaran pelestarian Cagar Budaya diharapkan dapat menjadi media pendidikan karakter untuk membina generasi muda agar mencintai warisan budaya bangsa. Dari rasa cinta itulah, akan timbul rasa kepedulian pelajar untuk melindungi, mengembangkan, memanfaatakan dan memajukan kebudayaan bangsa. (fry)

TINGGALKAN KOMENTAR