Mengenalkan Cagar Budaya kepada masyarakat dapat dilakukan melalui beragam cara. Salah satunya yaitu memberikan pengalaman kepada masyarakat dengan mengajaknya  berkunjung ke Cagar Budaya. Apalagi saat berkunjung dilakukan sambil berolahraga, tentu akan menambah semangat masyarakat mengenali Cagar Budaya.

Ka.Subbag Tata Usaha BPCB DIY, Indung Panca Putra mengibarkan bendera tanda dimulainya “Jalan Sehat Bersama Sahabat Cagar Budaya”

     Balai Pelestarian Cagar Budaya Daerah Istimewa Yogyakarta (BPCB DIY) menggelar “Jalan Sehat Bersama Sahabat Cagar Budaya” pada Selasa (26/2/2019). Rute perjalanan difokuskan menyusuri perbukitan Prambanan yang dikenal mengandung potensi Cagar Budaya yang beraneka ragam, khususnya tinggalan budaya dari masa klasik (Hindu-Buddha). Kegiatan tersebut diikuti oleh 600 orang peserta yang terdiri atas pegawai BPCB DIY dan masyarakat. Tujuannya digelarnya “Jalan Sehat Bersama Sahabat Cagar Budaya” ini selain  untuk mengenalkan Cagar Budaya, juga guna menyehatkan raga.

Antre panjang

Rute perjalanan sebagian besar berupa jalan setapak yang menanjak. Oleh karena itu, selama perjalanan tidak jarang para peserta mengantre panjang untuk bergantian menapaki jalan tanjakan. Peserta begitu berhati-hati saat melintasinya. Untuk memudahkan peserta melewati jalan tanjakan, dipasang sebilah kayu panjang  di kanan-kiri jalan sebagai pegangan tangan.

 

Berfoto bersama

     Rasa lelah menaiki bukit dan menuruni lembah, tidak selalu harus dihapus dengan meneguk air. Peserta punya cara lain mengusir rasa lelah, salah satunya yaitu dengan berfoto. Pada saat beristirahat di titik pemberhentian di Situs Sumur Bandung, Desa Sambirejo, Prambanan, sebagian peserta tidak mengeluarkan bekal air minum, mereka justru langsung merogoh saku untuk mengambil gawainya masing-masing. Sesaat kemudian… mereka asyik berfoto bersama dan melupakan rasa dahaga.

Saling membantu

     “Jalan Sehat Bersama Sahabat Cagar Budaya” tidak hanya melahirkan rasa cinta terhadap Cagar Budaya, namun juga melahirkan rasa peduli terhadap sesama. Di beberapa titik rute perjalanan, tidak jarang rasa empati muncul di antara para peserta. Misalnya, peserta yang berusia muda menolong peserta lain yang lebih tua saat berusaha melintasi jalan yang sulit. Sepanjang perjalanan melewati perbukitan Prambanan yang dikenal kaya akan tinggalan budaya dan bermedan menantang, rasa cinta terhadap Cagar Budaya dan rasa peduli terhadap sesama telah tumbuh bersamaan.

Meski tua, masih bertenaga

        Umur tak menjadi batasan bagi peserta untuk terus semangat mengenali Cagar Budaya dan menyehatkan raga. Hal itu tecermin dari sebagian peserta yang berusia lanjut, namun masih tetap bertenaga saat melintasi Candi Ijo. Padahal, rute perjalanan mulai dari start di Tebing Breksi, Prambanan, menuju ke Candi Ijo banyak melewati jalan yang bermedan terjal dan turunan tajam. Senyum semringah yang menghiasi wajah “simbah-simbah” tak sedikit pun mengekspresikan rasa lelah …. (Fry)