RETAK PANJANG GEDUNG JOANG BPPI 45 PADANG

0
1227

RETAK PANJANG GEDUNG JOANG BPPI 45 PADANG

Oleh: Dafriansyah Putra (Staf Pokja Pemugaran BPCB Batusangkar)

Gempa 7.9 Skala Richter pada 2009 silam tidak hanya menyimpan duka mendalam bagi masyarakat kota Padang. Namun, akibat bencana dahsyat tersebut tidak sedikit bangunan yang mengalami kerusakan. Salah satunya adalah Gedung Joang 45 yang juga menjadi Gedung Dewan Harian Cabang 45, Badan Penggerak Pembina Potensi 45 Kota Besar Padang. Gedung yang berlokasi di Jalan Pasar Mudik No. 50 ini mengalami kerusakan berupa retak-retak di hampir seluruh dinding dan lantainya.

retak

Berbeda dengan bangunan lainnya gedung ini memiliki keistimewaan tersendiri. Gedung Joang 45 tidak hanya memiliki makna fisik semata, tetapi juga menyimpan makna historis dan arkeologis yang terkait erat dengan sejarah perjalanan bangsa, terutama sekali sejarah kemerdekaan RI di Kota Padang khususnya dn Sumatera Barat pada umunnya.

Secara historis diketahui, bahwa di gedung inilah para pemuda kota Padang merespon dengan segera (yang pertama di Kota atau Sumatera Barat) proklamasi kemerdekaan RI yang dinyatakan oleh Soekarno-Hatta tanggal 17 Agustus 1945. Seiring dengan itu, gedung ini juga dijadikan sebagai salah satu aset historis, salah satu bukti adanya sejarah perjuangan pemuda Padang dalam penegakan negara ini.

Gedung Joang 45 BPPI berada di Jalan Pasar Mudik No. 50, Kelurahan Pasar Gadang yang dalam pembagian Sub Kawasan persebaran Cagar Budaya masuk kedalam Sub Kawasan Pasar Gadang, Kecamatan Padang Selatan, Kota Padang.

gedung

Pasar Gadang merupakan salah satu pusat perniagaan atau perekonomian di Kawasan Kota Lama Padang. Kawasan ini terintegrasi dengan Kawasan Batang Arau, Kampung Pondok, atau Jalan Niaga sekarang. Kawasan Pasa Gadang terdiri dari Jalan Pasa Batipuh, Jalan Pasa Malintang, Jalan Pasar Hilir, Jalan Pasar Mudiak, Jalan Ranah,dan Jalan Pulau Air lokasi beradanya Stasiun Pulau Air.

Banguan Gedung Joang 45 BPPI secara astronomis berada pada posisi 0°57’33.2″ LS dan 100°22’06.4″ BT.Keletakan geografis situs termasuk pada daerah dataran rendah yakni pada ketinggian sekitar 2 s.d 4 meter dari permukaan laut.

gedung joang

Di lingkungan Gedung Joang 45 BPPI ini berada, Belanda membangun gudang-gudang untuk menumpuk barang sebelum dikapalkan melalui pelabuhan yang berada di muara Batang Arau, yang kemudian menjadi tempat dibangunnya Emma Haven, dikenal dengan sebutan Teluk Bayur sekitar abad ke-19. Selain dari tempat perniagaan, kawasan Pasar Gadang ini merupakan tempat tinggal masyarakat, dengan memanfaatkan bangunan rumah-toko sebagai tempat tinggal. Aksesibiltas bangunan ini cukup mudah dijangkau, karena lokasi bangunan berada di dekat jalan raya dan dapat dengan mudah dicapai dengan kendaraan bermotor.

joang

Bangunan Gedung Joang 45 BPPI erat kaitannya dengan perjuangan pemuda Sumatra Barat dalam suatu badan berwujud Balai Penerangan Pemuda Indonesia. Belum habis pemikiran sekitar kekalahan Jepang, kala itu, bergema pula tentang telah adanya Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945, sedangkan beberapa orang Belanda yang ditawan Jepang di Bangkinang telah mulai berada di kota Padang. Mereka mulai kasak-kusuk dan mengadakan hubungan kembali dengan penduduk bekas orang-orang kepercayaan yang mereka dahulu dan menyusun daftar hitam dari orang-orang yang pernah bekerja sama dengan Jepang yang tentu nantinya akan dituntut sebagai kolabolator Jepang.

Dalam menghadapi situasi itu, para eks Gyu Gun, mengadakan pembicaraan dan pertukaran pikiran dalam mengambil tindakan untuk menggugah simpati rakyat banyak terhadap perjuangan yang akan segera dihadapi. Suasana Kota Padang diliputi oleh beraneka ketegangan. Di saat itulah, Chatib Soelaiman, bekas pemimpin Gyu Gun meminta Ismael Lengah bersedia memimpin perjuangan menghadapi perkembangan baru di Tanah Air. Sebagai bekas perwira Gyu Gun, ia yakin Ismael Lengah mempunyai pengetahuan dalam ilmu militer, dan kesanggupan untuk memikul tanggung jawab memikirkan langkah-langkah yang perlu diambil.

20 Agustus 1945, Ismael Lengah menyusun kekuatan di tengah-tengah situasi tegang waktu itu. Dalam rapat tersebut, Ismael Lengah berpendapat supaya segera dibentuk satu badan bagi pemuda-pemuda yang akan mempelopori perjuangan di Padang khususnya dan Sumatera Barat pada umumnya.

Besoknya, 21 Agustus 1945 dibentuklah Balai Penerangan Pemuda Indonesia (BPPI). Pada kesempatan itu disepakatilah pemuda akan berpikir, bertindak dan berbuat sesuai dengan perkembangan di tanah aur, memelihara pesatuan bangsa, memupuk kader serta menyiapkan senjata sebanyak mungkin untuk menghadapi segala kemungkinan.

Pada hari itu pula dikibarkan bendera Merah Putih di Bangunan Cagar Budaya yang dahulu merupakan sebuah bangunan hotel bernama “Pasar Gedang” ini. BPPI bertugas menampung segala macam persoalan dan memberi pengarahan serta penjelasan kepada mereka yang datang bertanya berkenaan perjuangan setelah Indonesia memproklamirkan kemerdekan.

Nama BPPI tidak menimbulkan kecurigaan pada Jepang waktu itu, karena pada lahirnya hanya sebagai satu kantor penerangan saja. Akan tetapi sesungguhnya gedung ini menjadi markas yang memelopori segala tindak tanduk menyangkut pelaksanaan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945 di Padang, umumnya di Sumatera Barat.

joaanng

Di bangunan ini pula, setelah sekutu mendarat, kerap dilancarkan penggeledahan-penggeledahan, penggerebekan-penggerebekkan, serta penangkapan-penangkapan. Kondisi saat itu, Ismael Lengah lebih banyak berfokus pada pembentukan Badan Keamanan Rakyat (BKR). Hal ini menyebabkan hanya Soelaiman, selaku Ketua II, yang menampung sebagian besar pekerjaan di kantor BPPI. Suatu ketika, kantor BPPI ini digerebek oleh tentara sekutu dan Soelaiman yang sedang berada di kantor ditangkap dan dibawa ke markas mereka. Akibatnya keadaan semakin panas, semangat perjuangan pemuda-pemuda semakin bergelora. Mereka menuntut pembebasan Soelaiman. Segala macam provokasi dan sabotase dilancarkan. Melihat keadaan yang kian rusuh, Sekutu terpaksa membebaskan Soelaiman kembali setelah satu hari mereka tahan.

Lantaran Soelaiman ditugaskan aktif ke luar kota, BPPI menetapkan Kamaroelzaman, seorang bekas guru, sebagai pengganti. Sekutu pun kembali rutin mendatangi bangunan ini. Kamaroelzaman pun digiring paksa. Lagi-lagi pemuda bangkit mengadakan pelbagai tindakan yang menambah tegangnya suasana. Sehingga sesudah satu hari ditahan, sekutu membebaskan Kamaroelzaman.

Akan tetapi, pemeriksaan Sekutu terhadap kantor BPPI ini hampir setiap hari berjalan terus. Akibatnya, BPPI dalam menghadapi sekutu mengubah taktik bekerja. Jika selama ini, walaupun bagaimana juga panasnya suasana, selalu ada saja anggota Pengurus BPPI yang duduk bertugas di kantor, akan tetapi setelah Sekutu mulai memakai tindakan kekerasan, maka di gedung BPPI tidak ada lagi anggota pengurus yang duduk secara rutin.

Anggota-anggota Pengurus BPPI menjalankan tugas secara gerilya. Nasrul AS yang pada waktu itu menjalankan tugas sebagai sekretaris, dalam bekerja sehari-hari beralih tempat ke masjid Pasar Gedang yang letaknya di seberang jalan. Dari masjid itulah Nadrul AS mengawasi kantor dan jika kelihatan ada pemuda atau orang datang yang gelagatnya perlu berurusan dengan BPPI, maka Nasrul AS datang menemui mereka untuk melayani. Demikianlah BPPI berjalan terus dengan menjalankan taktik gerilya serba macam taktik dan muslihatnya.

Bangunan ini kemudian menjadi kantor Dewan Harian Cabang ’45 bagi para pejuang angkatan 45 dalam Badan Penggerak Pembina Potensi 45. Meskipun organisasi tersebut tak lagi aktif, namun pada sisi depan Gedung Joang 45 BPPI ini masih terpampang pelang penanda kantor organisasi.

Menurut Eli selaku juru pelihara bangunan, sebelum terjadinya gempa bumi, 30 Sepetember 2009, aula pada lantai dua bangunan kerap dijadikan sebagai tempat pertemuan. Bahkan bangunan ini sering menerima kunjungan siswa maupun mahasiswa untuk meminjam koleksi buku di perpustakaan. Kini, gedung yang pernah menjadi saksi pelbagai peristiwa bersejarah itu seolah dipaksa tegak dengan kepincangan.

Di tempat ini, pemuda-pemuda bangsa pernah merapalkan mantra perjuangan pada setiap sudutnya. Di depan pintu, yang lainnya akan digiring oleh tebalnya tapak sepatu lars sekutu yang secara rutin menggerebek. Akan tetapi, tubuh-tubuh bengis itu tak sadar, mereka sejatinya tengah menyerakkan bara ke jiwa para pemuda. Bara yang kelak meruak sebagai api. Api perjuangan!

21 Agustus 1945. Merah Putih berkibar di bekas kantor BPPI ini. Hingga kini, dan tentu selamanya, Sang Saka akan senantiasa mengepaki halaman bangunan yang pernah bercerita tentang amarah, pengorbanan dan cinta.

Catatan:
Artikel ini banyak mengambil faedah dari buku “Sejarah Perjuangan Kemerdekaan R.I di Minangkabau/Riau 1945-1950” Ahmad Husein, dkk. 1978.