Lidah Arang Yang Mengubah Wajah Sawahlunto

0
69
Sumber dari KITLV. Hoofdkantoor van de Ombilinmijnen te Sawahloento

Seminar daring ke empat Kamis 9 Juli 2020 yang dihelat BPCB terbilang sukses, dengan menghadirkan pemateri yang benar-benar menguasai sejarah pertambangan Sawahunto dan sudah banyak melahirkan karya luar biasa mengenai kota tambang ini. Beliau adalah Prof. Dr.Erwiza Erman, MA, Profesor Bidang Sejarah Lokal dan Global P2SDR-LIPI,  Beliau mengusung tema  Refleksi Setahun Word Heritage di Sumatera Barat.

Menurut Prof. Dr.Erwiza Erman, MA., OUV (outstanding universal value) kawasan tambang ini salah satunya bersumber dari narasi sejarah yang telah di produksi oleh para peneliti, bahwasanya arang yang ditemukan De Greve 1867 sebanyak jutaan ton telah membawa Sawahunto ke skala yang lebih luas dimana sebagian lidah arang ini dikonsumsi Jawa untuk menggerakkan kapal-kapal uap, kereta api dan industri. Batu bara  ini kemudian menembus skala internasioanl dengan menurunkan impor batu bara dari Natal dan Cina. Bahkan yang paling penting batu bara ombilin ini kemudian bisa memenuhi kebutuhan ekspor ke Cina dan Jepang, batu bara ini juga dikapalkan kebeberapa tempat dan di beberapa tempat di Hindia Beanda juga dibangun bungker batu bara.

Batau bara juga merubah Sawahunto dari desa menjadi kota modern dengan infrastruktur dan tekonologinya yang berkembang, dari yang semula hanya terdiri dari orang Minang saja berubah mejadi majemuk.Terjadinya interelasi antar etnik membuat Sawahunto kaya akan budaya Eropa, Indo Eropa, masyarakat lokal, Nias, Bone yang kalah perang, para pesilat Belitung, Sumbawa yang kalah perang, Jawa yang memberontak pada kolonial Belanda.  Banyak cerita  yag tertoreh dalam perjalanan kota tambang ini salah satunya kisah pilu dari beberapa negeri mengenai orang rantai yang masih lekat dalam memory historis mereka, cerita mengenai nenek moyang mereka yang dibawa paksa ke Ombilin untuk diperas tenaganya mengeruk lidah lidah arang namun sayangnya belum ada yang menuliskan  himpunan cerita ini. padahal cerita ini akan memiliki kekuatan setelah dinarasikan dalam bentuk buku populer, ilmiah, novel komik dll

Prof Erwiza  juga menyatakan bahwa Batu bara ini juga sudah membawa ciptaan masalalu yang kemudian diperhatikan kembali ketika kota Sawahunto mengalami kolap setelah  cadangan batu bara menipis. Kota yang hampir mati ini  kemudian mulai mencari alternatif lain untuk kembali memompa denyut nadinya, dengan menghidupkan kembali batu bara menjadi warisan. Batu bara yang sampai kepada kita baik fisik maupun non fisik itu semua kemudian menjadi modal untuk Kota Sawahlunto kembali tegak berdiri. Bapak Amran Nur punya jasa besar dalam menghidupkan kota ini kembali, dengan merubah kota hantu menjadi kota wisata, Ombilin yang dulunya diabaikan, tidak lagi menarik seperti nenek tua yang terbungkuk-bungkuk berubah menjadi kota wisata tambang yang hidup. Pemerintah kota berusaha memberikan makna pada kota ini, yang nantinya melahirkan kota tua, museum gudang ransum dll. Dengan story tellingnya yang kaya mampu menarik turis untuk datang menikmati wisata sejarahnya. Magnet itu semakin kuat ketika Pada tanggal 5 juli 2019 batu bara yang menjadi warisan menciptakan sejarah baru karena mendapatkan pengakuan dari UNESCO sebagai warisan dunia, semangat kebangsaan diringi dengan emosi yang meluap mewarnai eforia pengakuan ini.

Lokasi OUV warisan dunia ini meliputi Kabupaten Solok, Kabupaten Tanah Datar, Kota Solok, Kabupaten Padang Pariaman, Kota Padang, Kota Padang Panjang, Kota Sawahlunto. Transportasi dan teknologi mempunyai peran penting didalamnya, batu bara yang pada mulanya hanya berada di sebuah kota kecil tidak akan berarti apa-apa jika tidak ditransportasikan dengan kereta api ke seluruh wilayah di Pulau Sumatera. Dalam perkembangannya, juga terjadi perkawinan teknologi lokal dan global, karena untuk membangun kereta api ada pertimbangan kondisi geografi lokal dan juga menjadi laboratorim oleh para insyinyur sipil untuk menguji coba kepandaian. Setelah berhasil membangun kereta api di Sumatera, para perancang/ilmuwan ini kemudian baru membangun kereta api di Belanda.

Prof Erwiza juga menegaskan, meskpiun kawasan tambang sudah ditetapkan sebagai warisan dunia, masih ada 17 rekomendasi ICOMOS yang harus dilakukan dan penuhi oleh si penerima Word Heritage, jadi tanggung jawabnya semakin berat. Yang paling penting dari ke 17 point adalah 3 P People (dapat hidup layak), Planet( terjaga) dan Profit(fair). Planet, Warisan itu harus dijaga dan diproteksi, masyarakatnya dapat hidup layak dan budaya terus berlangsung, jangan seperti kebanyakan sekarang ini, banyak perusahaan yang pembangunannya tidak sebanding dengan masyarakat tambang dan masyarakat di sekitarnya. Dari segi eknomi dan sosial Profit juga harus fair dengan menguntungkan seluruh masyarakat, jangan sampai seperti di Bali yang diuntungkan hanya kelompok-kelompok tertentu. Mengenai Sawahlunto seharusnya juga difikirkan masyarakat Lumindai, Taratak Bancah, Kubang, Lunto, Silungkang, Talawi, dulunya daerah Silungkang dan Talawi mendapatkan dampak postif dari pertambangan, seperti Bapak Muhamamad Yamin yang merupakan orang Talawi yang mendapatkan keuntungan dengan bisa menikmati pendidikan di Sawahlunto. Sedangkan masyarakat daerah Silungkang mendapatkan keuntungan dari perdagangan tekstil dan suplai beras, hal ini harus seimbang dan terus berlangsung

Kemudian point penting lainnya adalah point 14 mengenai Sejarah Sosial, kawasan ini telah banyak melahirkan pengetahuan dalam bentuk buku, namun sayangnya kualitas penyampaian narasi pemandu masih kurang, kekurangan ini harus segara diperbaiki, Wisatawan belum melihat bagian yang integral tentang kota itu karena umumnya penyampaian narasi langsung ke atribut kota. Seharusnya narasi dimulai dari yang makro kemudian baru masuk ke atribut-atribut pertambangan. Mengenai sejarah sosial masyarakat sekitar juga belum diungkapkan, begitu juga dengan  sejarah sosial lokasi lokasi yang ditempuh batu bara setelah dikeluarkan dari perut bumi Sawahlunto menuju emma heven dan keluar dari pulau Sumatera, narasi mengenai kota-kota yang dilalui perlu disuguhkan, dan setiap Kota dan Kabupaten harus mengisi dengan keunikannya sehingga bisa dijadikan magnet penarik wisatawan ex: Padang Panjang (kota modernisasi islam), Solok ( bareh solok). Hal ini sangat berguna untuk OUV dari warisan tambang ini

Sejarah sosial mempunyai peran penting untuk kembali membangkitkan emosi pengunjung, seperti sedih ,takut, marah,kagum dll, dan ini bisa dilakukan hanya dengan menarasikannya, semakin panjang narasinya maka akan semakin lama orang itu tinggal. Untuk satu buah atribut saja seperti Gudang Ransum bisa menghabiskan waktu 30 menit. Kunci utamanya terletak pada pemandu, dengan narasinya yang mampu menggugah pendengar. Narasi ini akan menghadirkan masalalu kepada masa kini, benda-benda akan menghadirkan roh masalalu seperti gudang ransum, kantor utama dan sirine yang berbunyi setiap pagi, siang dan sore. Sirine ini mewakili suasana kota tambang yang penuh dengan work disiplin yang menandakan modernisasi kota industri. Pagi para pekerja masuk ke lubang dan sore keluar dari lubang dengan tubuh dan wajah yang menghitam, dengan wajah dan senyum bahagia bahwasanya hari ini mereka selamat dan tidak mati di dalam lubang.  Di pertambangan juga terjadi transmisi (pemindahan nilai pendidikan) karena pengetahuan antar generasi sangat penting, disiplin kerja yang diterapkan dalam masyarakat pertanian ke masyarakat tambang bukanlah sebuah persoalan yang mudah.

“Mereka lebih baik bunuh diri dari pada masuk ke dalam lubang tambang”.

Persoalan adaptasi dengan lingkungan kerja butuh waktu yang lama, perlu disiplin yang kuat salah satunya tidak boleh merokok di dalam lubang tambang karena adanya gas metan yang  kapan saja bisa membunuh buruh tambang. Banyak persoalan yang terjadi di dalam lubang tambang, seperti buruh tambang yang membawa pisau dan keris ke dalam lubang tambang sebagai senjata karena seringnya terjadi  bunuh-bunuhan sesama buruh tambang, korban yang tewas kondisinya sangat miris dengan kepala, kaki, badan yang terpisah- pisah.  Fakta sosial lainnya yang perlu dinarasikan adalah hubungan sosial antar buruh seperti etnik Madura yang tidak mau dimandori oleh orang Bugis dan perihal orang rantai yang menjadi primadona pemilik tambang, karena mereka  tau akar batu bara itu ada dimana, lidahnya arah kemana karena jalur tambang di Sawahlunto cenderung berkelok-kelok dan perlu keahlian khusus untuk mencari akar dari batubara ini.

Menurut prof Erwiza, Sejarah sosial yang dinarasikan sangat penting karena jika suatu benda  tidak diceritakan hal ini menjadi suatu hal yang asing dan seperti di negeri asing, namun jika sudah diceritakan hal tersebut tidak lagi asing tapi bisa membangkitkan emosi. Banyak hal yang harus  diriset yang kemudian dinarasikan seperti Gudang Ransum (bagaimana peran anak-anak disana), Kerkhof (yang sama sekali belum ada narasinya)dan ada beberapa Societet berdasarkan kelas, komplek penjara Sungai Durian, dan kenapa orang eropa tidak suka belanja ke pasar dan malah orang eropa belanjanya ke Bukittinggi dan pelesirannya ke Matur. Magnet dari pengunjung selain bendanya adalah narasi sejarahnya,untuk itu perlu dikaji lagi sejarah sosial kawasan tambang ini untuk menghadirkan kembali suasana tambang, menambah OUV dan menarik wisatawan sehingga bisa mensejahterakan masayarakat(Penulis Merry Kurnia)

TINGGALKAN KOMENTAR