Cagar Budaya Kota Solok

0
3741

Cagar Budaya (CB) merupakan kekayaan bangsa yang penting artinya bagi pemahaman dan pengembangan sejarah, ilmu pengetahuan dan kebudayaan. Oleh karena itu, CB perlu dilindungi dan dilestarikan demi memupuk kesadaran jatidiri bangsa dan kepentingan nasional. Upaya pelestarian terhadap CB sampai saat ini masih terus dilakukan, baik oleh pemerintah maupun oleh masyarakat luas. Namun, upaya pelestarian tersebut seringkali mengalami beberapa hambatan, antara lain sering dijumpainya berbagai pelanggaran atau perusakan terhadap CB, kurangnya perhatian dari berbagai pihak dalam penanganan pelestarian CB sehingga menyebabkan aset-aset budaya tersebut mengalami kemerosotan kualitas secara fisik, dan perkembangan kota yang sering kali berbenturan dengan upaya-upaya pelestarian terhadap CB.

Sebagai sebuah tinggalan budaya masa lampau yang mempunyai karakteristik yang khas dan unik, CB sangat membutuhkan penanganan yang berkelanjutan dan monitoring secara berkala untuk memastikan kondisi kelestariannya. Hal ini karena secara alamiah CB bersifat tak dapat diperbaharui sehingga lambat atau cepat pasti mengalami pelapukan dan kerusakan. Sementara itu, faktor manusia juga sangat berperan dalam kelestarian atau sebaliknya kehancuran terhadap CB yang ada. Sebagai contoh, dapat dilihat banyaknya aksi-saksi vandalisme yang dilakukan oleh pihak-pihak tak bertanggung jawab terhadap CB, mulai dari coret-moret (grafiti) sampai ke perusakan fisik. Bahkan di banyak tempat, terutama di kawasan perkotaan, terdapat penghancuran beberapa bangunan cagar budaya yang kemudian diganti dengan bangunan-bangunan baru. Selain itu, keletakan administratif CB juga sering mengalami perubahan. Hal ini terutama diakibatkan oleh proses pemekaran wilayah yang senantiasa terjadi di daerah otonom.

Kota Solok sebagai salah satu daerah budaya di Provinsi Sumatera Barat, yang pada awalnya merupakan bagian dari Kabupaten Solok banyak menyimpan potensi cagar budaya. Potensi cagar budaya tersebut tersebar di berbagai daerah di Kota Solok. Potensi cagar budaya tersebut seperti Surau Latiah, Makam Syech Sihalahan, Rumah Gadang Gajah Maharam, Stasiun Kereta Api Kota Solok, SMP 1 Kota Solok (eks HIS) dan lainnya.

Semua ini merupakan peninggalan dari aktivitas manusia pada masalalu di Kota Solok, wajib untuk dilestarikan sebagai bentuk dari peninggalan masa lalu di Kota Solok. Dalam pelestarianya sebagai cagar budaya memerlukan langkah-langkah yang khusus sehingga dalam pelestarian peninggalan budaya tersebut tidak menghilangkan kekhasan dari objek peninggalan budaya tersebut.

SEJARAH BERDIRINYA KOTA SOLOK

Kota Solok berdiri pada tanggal 16 Desember 1970 yaitu dengan dikeluarkannya Peraturan Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 1970 tentang Pelaksanaan Pemerintahan Kotamadya Solok dan Kotamadya Payakumbuh. Namun, sebenarnya secara yuridis formil, Kota Solok telah resmi terbentuk dengan dikeluarkannya Undang-undang Nomor 8 Tahun 1956 tentang Pembentukan daerah Otonom Kota Kecil Dalam Lingkungan Daerah Propinsi Sumatera Tengah.

Sebelum dibentuk menjadi Kotamadya Solok, Kota Solok sekarang ini merupakan salah satu wilayah adat yaitu Nagari Solok. Nagari Solok ini merupakan bagian dari wilayah Kabupaten Solok yang terdiri dari 84 Nagari.

Untuk kelancaran administasi pemerintah Kotamadya Solok mengeluar Surat Keputusan Nomor 21/Desth/Wako/71 tanggal 10 Maret 1971 tentang Pembentukan 13 Resort Administrasi. Resort administrasi ini berfungsi sebagai perpanjangan tangan dari Walikotamadya Solok dalam urusan pemerintah. Berikut daftar resort di Kotamadya Solok yang dibentuk tahun 1971 :

  1. Resort Tanah Garam
  2. Resort Enam Suku
  3. Resort Sinapa Piliang
  4. Resort IX Korong
  5. Resort Kampai Tabu Karambie (KTK)
  6. Resort Aro IV Korong
  7. Resort Simpang Rumbio
  8. Resort Koto Panjang
  9. Resort Air Pandan Air Mati
  10. Resort Laing
  11. Resort Tanjung Paku
  12. Resort Nan Balimo
  13. Resort Kampung Jawa

Ketiga belas Resort inilah yang kemudian menjadi 13 Kelurahan yang tergabung dalam 2 Kecamatan yaitu Kecamatan Lubuk Sikarah dan Kecamatan Tanjung Harapan yang semuanya ini berada dalam wilayah administrasi Kota Solok.

CAGAR BUDAYA KOTA SOLOK

  1. MAKAM SYECH SIHALAHAN

Makam Syech Sihalahan merupakan salah satu cagar budaya di Kota Solok yang telah masuk dalam database cagar budaya di Balai Pelestarian cagar Budaya Provinsi Sumatera Barat dengan nomor inventaris : 03/BCB-TB/A/05/2007.

Makam Syech Sihalahan berda di Jalan Raya By-pass / Simp. Balai Koto Anau, Kelurahan Kampai Tabu Karambia, kecamatan Lubuk Sikarah. Secara astronomis makam ini berada di posisi S 00° 48’ 17,2’’ E 100° 39’ 30,3’’ dengan ketinggian 401 m dpl. Makam ini berada di Tanah Kaum suku caniago (Datuk Bandaro)

Berdasarkan keterangan dari Nasril (Juru Pelihara dan keturunan Syekh Sihalahan), Syekh Sihalahan memiliki nama asli Husen Dt. Bandaro. Beliau lahir sekitar tahun 1852 di desa Tabu, Solok. Beliau merupakan penyebar agama Islam di sekitar daerah Sihalahan (Tanah Datar), Solok dan sekitarnya. Beliau merupakan murid Syekh Burhanuddin di Ulakan Pariaman yang beraliran Tarekat Naqsabandiah.

Untuk menyebarkan ajaran Islam beliau membangun Surau Latiah sebagai tempat untuk berlatih ilmu-ilmu keagamaan dan seni bela diri. Oleh karena itulah surau ini bernama Surau Latiah (tempat latihan). Pada masa beliau, surau ini juga digunakan sebagai tempat “bersuluk” bagi para pengikut dan murid-murid beliau pada saat bulan Ramadhan (bulan puasa). Murid-murid beliau berasal dari berbagai daerah seperti daerah Tanah Datar, Padang Panjang dan Sijunjung. Tradisi “bersuluk” ini terakhir dilakukan pada tahun 2003. Berdasarkan keterangan dari berbagai narasumber dan inskripsi pada cungkup makamnya, Syekh Sihalahan wafat pada bulan juli 1917.

Makam Syekh Sihalahan terbuat dari susunan bata berplester. Nisannya menyatu dengan jirat, dengan bentuk nisan berbentuk undakan, pada bagian kepala nisan terdapat empat buah undakan dan pada bagian kaki nisan terdapat tiga buah undakan. Bagian kaki makam lebih rendah dari bagian kepala makam sehingga jika dilihat dari samping maka makam ini terlihat miring. Saat ini makam Syekh Sihalahan telah diberi cungkup dan dibuatkan bangunan yang disusun dengan bata berplester dengan ukuran panjang 4 meter dengan lebar 3 meter, bangunan ini tidak penuh hingga ke atas. Atap cungkup terbuat dari seng. Makam Syekh Sihalahan berada di dalam lingkungan Surau Latiah.

makam syech sihalahan
makam syech sihalahan

  1. SURAU LATIAH

Surau Latiah berada dekat makam Syech Sihalahan. Bangunan Surau Latiah ini telah masuk dalam daftar inventaris cagar budaya di Balai Pelestarian Cagar Budaya Provinsi Sumatera Barat, Riau, dan Kepulauan Riau dengan nomor inventaris : 04/BCB-TB/A/05/2007.

Keberadaan Surau Latiah tidak terlepas dari ketokohan Syekh Sihalahan. Surau ini dibangun oleh Syekh Sihalahan guna kepentingan penyebaran agama Islam di daerah Solok dan sekitarnya. Selain itu surau ini juga digunakan sebagai sarana latihan bagi kepentingan keagamaan dan bela diri pada masa itu. Oleh karena itulah surau ini dinamakan Surau “Latiah”.

Berdasarkan keterangan Nasril (Juru Pelihara dan keturunan Syekh Sihalahan), surau ini didirikan oleh Syekh Sihalahan sekitar tahun 1880-an. Salah satu ciri khas dari surau ini adalah memiliki atap seperti Rumah Tradisional Minangkabau (beratap gonjong).

Berdasarkan keterangan narasumber, secara umum bangunan masih dipertahankan keasliannya. Namun pada beberapa bagian komponen bangunan sudah mengalami perubahan. Dahulunya surau ini beratap ijuk dengan dinding yang terbuat dari “sasak” (anyaman bambu). Setelah beliau wafat (setelah tahun 1917) dinding ini kemudian diplester dengan semen. Adapun pada bagian lantai dan loteng di diganti pada tahun 1997 oleh BP3 Batusangkar. Pada bagian tiang dalam masjid (asli) sudah dilapisi oleh ahli waris dengan papan guna perkuatan dan pencegahan terhadap rayap.

Surau Latiah terbuat dari bahan kayu (bambu) yang dikombinasikan dengan plester (pasir dan semen). Bangunan Surau ini memiliki ukuran panjang 22 meter dengan lebar 12 meter. Bagian atap berbentuk gonjong dengan bahan terbuat dari seng, dan kerangkanya terbuat dari kayu dan bambu. Bagian tubuh dari Surau Latiah terdiri dari tiang-tiang yang menjadi penopang dari bangunan surau, dan beberapa bukaan. Tiang-tiang yang terdapat di dalam bangunan utama berjumlah 12 buah tiang. Bukaan-bukaan antara lain berupa pintu dan jendela, pintu utama berada di sisi utara. Sisi selatan terdapat 3 buah jendela, di sisi barat terdapat enam buah bukaan berupa jendela, dan di sisi timur terdapat lima buah jendela dan sebuah pintu masuk. Pada sisi timur dari ruang utama Surau Latiah terdapat empat buah kamar yang pintunya tidak penuh hingga ke bagian bawah, dan sebuah ruangan dengan pintu penuh hingga ke bagian bawah. Bagian lantai terbuat dari kayu, dan pernah diganti pada tahun 1997 yang dilakukan oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya Provinsi Sumatera Barat, Riau dan Kepulauan Riau.

surau latiah
surau latiah (Dok. BPCB Batusangkar)

  1. RUMAH GADANG GADJAH MAHARAM

Rumah Gadang Gajah Maharam berada di Jalan Lintas (By-Pass) Nomor 107 Kelurahan Kampai Tabu Karambia kecamatan Lubuk Sikarah. Bangunan ini telah masuk dalam daftar inventaris cagar budaya di Balai Pelestarian Cagar Budaya Provinsi Sumatera Barat, Riau, dan Kepulauan Riau dengan nomor inventaris 05/BCB-TB/A/05/2007.

Bangunan ini disebut Rumah Gadang Gajah Maharam karena bentuknya menyerupai gajah mengeram. Rumah ini merupakan rumah bekas Engku Lareh yang dulu dipakai sebagai tempat tinggal dan acara adat. Rumah ini sekarang sudah tidak dihuni lagi karena bangunannya sudah miring dan hanya dipakai pada saat-saat tertentu, seperti kalau ada keluaraga atau ahli waris dari rumah ini yang meninggal maka akan disemayamkan dulu di tempat ini baru di bawah ke pemakaman. Secara umum Rumah Gadang Gajah Maharam ini merupakan milik Kaum Dt. Bandaharo, Suku Chaniago.

Rumah Gadang Gadjah Maharam memiliki ukuran panjang 16,5 meter dengan lebar 7,6 meter. Rumah ini terbuat dari bahan kayu, atapnya terbuat dari seng, orientasi rumah menghadap ke arah utara. Rumah Gadang Gajah Maharam memiliki gonjong sebanyak lima buah, empat buah di bagian atap dan sebuah di bagian depan sebagai pelindung tangga masuk rumah. Bagian tubuh bangunan terbuat dari kayu, dinding bagian utara disetiap bagiannya dipenuhi dengan ukiran-ukiran. Ada lima buah bukaan pada dinding bagian depan, satu diantaranya adalah pintu masuk ke dalam bangunan.

Sisi barat dan timur dindingnya terbuat dari sasak (anya-man bambu) dan bagian singok me-miliki ukiran seper-ti yang terdapat pada sisi utara dari bangunan. Dinding di selatan juga terbuat dari sasak, pada bagian selatan terdapat lorong yang menghubung-kan bangunan utama dengan bangunan dapur. Bangunan dapur berbentuk bujursangkar dengan atap berbentuk limasan. Kondisi bangunan sangat memprihatinkan sehingga berbahaya untuk dinaiki, oleh sebab itu pengamatan terhadap ruang-ruang di dalam bangunan sulit untuk dilakukan.

Rumah Gadang Gajah Maharam (Dok. BPCB Batusangkar)
Rumah Gadang Gajah Maharam (Dok. BPCB Batusangkar)

 

  1. STASIUN KERETA API SOLOK

Stasiun Kereta Api Kota Solok berada Jalan Kartini No. 1, Kelurahan Kampung Jawa, Kecamatan Tanjung Harapan, Kota Solok. Bangunan ini telah masuk dalam daftar inventaris cagar budaya di Balai Pelestarian Cagar Budaya Provinsi Sumatera Barat, Riau, dan Kepulauan Riau dengan nomor inventaris : 07/BCB-TB/A/05/2007.

Belakang Sejarah Keberadaan Stasiun KA Solok tidak terlepas dari sejarah panjang perkembangan jalur transportasi perkereta apian di Indonesia umumnya dan Sumatera Barat khususnya. Pembangunan jalan KA di Sumatera Barat dimulai pada tahun 1891. Selain membangun jalur kereta api di daerah Solok, Belanda juga membangun stasiun (tempat pemberhentian) di beberapa titik yang menhubungkan antara Padang Panjang-Solok-Sawahlunto.

Secara umum perkembangan jalur transportasi ini diprakarsai oleh “Naamlooze Venootschap Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij” (NV. NISM). Selanjutnya setelah kemerdekaan pengelolaan Stasiun KA Solok ini beralih dari “Angkatan Moeda Kereta Api” AMKA, “Djawatan Kereta Api Republik Indonesia” (DKARI), Perusahaan Negara Kereta Api (PNKA), Perusahaan Jawatan Kereta Api (PJKA), Perusahaan Umum Kereta Api (Perumka) dan terakhir PT Kereta Api Indonesia (Persero) sampai sekarang.

Selain digunakan sebagai sarana transportasi, stasiun ini dahulunya juga digunakan sebagai tempat penyimpanan hasil bumi daerah disekitarnya yang akan diangkut ke Padang via Sawahlunto (muaro Kalaban). Pada 1 maret 2009, Jalur/Stasiun KA Solok ini difungsikan sebagai KA Wisata dengan jalur Padangpanjang-Solok-Sawahlunto 3 kali seminggu.

Stasiun di Kota Solok adalah salah satu bangunan peninggalan masa kolonial. Bangunan ini memiliki ukuran Panjang 54,4 meter dengan lebar 10 meter. Beberapa indikator yang dapat diamati bahwa bangunan ini berasal dari masa kolonial adalah temboknya yang tebal dan beberapa bukaan berupa pintu dan jendela dengan ukuran yang besar. Bangunan Stasiun Solok terdiri dari beberapa ruangan yang berfungsi sebagai kantor serta beberapa ruangan yang berfungsi sebagai pelayanan bagi berjalannya fungsi stasiun, seperti loket penjualan tiket. Selain ruang-ruang tersebut, terdapat ruang terbuka dengan hanya memiliki atap serta ditopang dengan tiang-tiang terbuat dari kayu. Ruang terbuka ini berfungsi sebagai ruang tunggu bagi para penumpang kereta api. Dijalur kereta apai masih ditemukan beberapa peralatan lama yang digunakan sebagai pemindah jalur, terdapat empat buah alat yang berfungsi untuk memindahkan jalur kereta api. Pada alat tersebut terdapat tulisan “FRANS SMULDERS UTRECHT” yang besar kemungkinan tulisan ini adalah nama produsen yang memproduksi alat pemindah jalur kereta api tersebut. Sedangkan pada rel terdapat beberapa tulisan seperti DK 1914 JSST yang diduga tulisan angka menunjukkan angka tahun pembuatan dari rel tersebut, dan juga ada yang bertuliskan KRUP 1914 JSS. Apakah tulisan selain angka tersebut dapat diindikasikan sebagai pabrik pembuatnya masih belum dapat dipastikan.

stasiun kereta api solok (Dok. BPCB Batusangkar)
stasiun kereta api solok (Dok. BPCB Batusangkar)

 

  1. SMP 1 KOTA SOLOK (EKS HIS)

SMP 1 Kota Solok berada di Jalan K.S. Tubun No. 20 Kel. Kampung Jawa Kecamatan Tanjung Harapan Kota Solok. Bangunan ini telah masuk dalam daftar inventaris cagar budaya di Balai Pelestarian Cagar Budaya Provinsi Sumatera Barat, Riau, dan Kepulauan Riau dengan nomor inventaris : 06/BCB-TB/A/05/2007.

SMP 1 Solok merupakan bangunan tinggalan kolonial Belanda. Bangunan asli yang masih tertinggal adalah ruangan guru dan kepala sekolah. Pada masa Belanda bangunan ini dahulunya dipakai sebagai sekolah HIS (Hollands Inlandse School). Keberadaan HIS ini, tidak terlepas dari perkembangan pendidikan di zaman kolonial Belanda dan diberlakukannya “Politik Etis” di Indonesia. Secara umum politik etis ini juga disebutkan sebagai “balas budi” dari kolonial Belanda kepada daerah jajahan terkait berbagai perlakukan terhadap daerah jajahannya.

Pengaruh politik etis dalam bidang pengajaran dan pendidikan sangat berperan sekali dalam pengembangan dan perluasan dunia pendidikan dan pengajaran di Hindia Belanda. Salah seorang dari kelompok etis yang sangat berjasa dalam bidang ini adalah Mr. J.H. Abendanon (18521925) yang Menteri Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan selama lima tahun (19001905). Sejak tahun 1900 inilah berdiri sekolah-sekolah, baik untuk kaum priyayi maupun rakyat biasa yang hampir merata di daerah-daerah.

HIS (Holland Indische School) ini diperuntukan bagi warga pribumi. Secara umum dasar didirikannya HIS (Holland Indische School) adalah keinginan yang kuat dari rakyat Indonesia sendiri untuk mendapatkan pendidikan ala Barat. Hal itu merupakan akibat dari perubahan kondisi sosial ekonomi di kawasan Timur Jauh yang telah diperkenalkan pada masa Politik Etis yang diberlakukan kepada Indonesia. Selain itu juga diorong oleh organisasi-organisasi yang telah berdiri di Indonesia pada waktu itu, seperti Budi Utomo dan Sarekat Islam. Apalagi dengan didirikannya sekolah untuk orang-orang Cina di Indonesia yaitu Hollands Chinese School (HCS).

Kurikulum yang dipakai HIS adalah sesuai yang tercantum dalam Statuta 1914 No. 764, yaitu meliputi semua pelajaran ELS (Europese Lagere School). Di HIS diajarkan membaca dan menulis bahasa daerah dalam aksara Latin dan Melayu dalam tulisan Arab dan Latin. Namun disini, yang lebih ditekankan adalah pelajaran bahasa Belanda yang sampai memakan waktu lebih dari enampuluh enam persen dari waktu belajar.

Diperkirakan bangunan ini didirikan pada awal tahun 1900-an. Bangunan utama yang masih asli merupakan ruangan guru dan kepala sekolah yang terdapat ditengah-tengah bangunan sekolah. Secara umum sampai sekarang bangunan ini masih tetap dipertahankan keasliannya oleh pihak sekolah..

Bangunan SMPN 1 Solok memiliki denah dasar huruf U dengan orientasi menghadap utara. Atap terbuat dari seng dengan kerangka-kerangkanya terbuat dari kayu, atap pada bagian facade berbentuk pelana, sedangkan atap lainnya berbentuk limasan. Tubuh bangunan terbuat dari gabungan kerangka yang terbuat dari kayu dan dindingnya terbuat dari sasak yang diberi plester. Bangunan lama dari sekolah saat ini telah dikelilingi dengan bangunan baru yang memiliki dua lantai. Bangunan lama saat ini terdiri dari delapan buah ruangan. Ruang-ruang tersebut saat ini dipergunakan sebagai ruang tata usaha, gudang, ruang kesenian, ruang masak, ruang belajar komputer, ruang wakil kepala sekolah, dan ruang UKS. Sisi utara dari bangunan memiliki tiga buah pintu dan empat buah jendela, dan disetiap bukaan tersebut pada bagian atasnya memiliki ventilasi (lubang udara), di sisi barat dan timur masing-masing memiliki enam buah bukaan yang masing-masing terdiri dari dua buah pintu dan empat buah jendela. Bagian lantai saat ini sudah diganti menggunakan lantai keramik. Salah satu komponen bangunan yang telah dirubah adalah bagian lantai yang sudah dikeramik

smp 1 kota solok (Dok. BPCB Batusangkar)
smp 1 kota solok (Dok. BPCB Batusangkar)

PENUTUP

Cagar budaya Kota Solok yang merupakan potensi budaya perlu untuk dilestarikan. Dalam pelestariannya sebagai cagar budaya, instansi yang terlibat dalam pelestarian cagar budaya seperti Kementarian Pendidikan dan Kebudayaan, pemerintah Kota Solok, Masyarakat harus sejalan dalam pelestarian cagar budaya.

Pemanfaatan cagar budaya dapat dilakukan dalam pendidikan seperti dengan mengadakan kunjungan ke objek cagar budaya. Hal ini sangat penting untuk memperkenalkan cagar budaya kepada generasi muda terutama para pelajar. Terlebih lagi salah satu objek cagar budaya di Kota Solok juga merupakan sarana pendidikan yaitu SMP 1. Dengan memperkenalkan cagar budaya kepada generasi muda dari awal akan membuat mereka lebih memahami dan mencintai cagar budaya sebagai bukti dari peninggalan masalalu di daerahnya. Yusfa Hendra Bahar,SS

 

Lestarikan cagar budaya

 

Sumber :

http://geospasial.bnpb.go.id

http://dedymasry.blogspot.co.id/2010/11/sejarah-berdirinya-kota-solok.html

Rafki R., Inventarisasi Data Penetapan cagar Budaya Kota Solok Tahun 2012

Sri Sugiharta, Daftar Benda Cagar Budaya dan Situs di Provinsi Sumatera Barat, Riau, dan Kepulauan Riau tahun 2007.

Yusfa Hendra Bahar, Pendataan cagar Budaya di Provinsi Sumatera Barat tahun 2013.

Yusfa Hendra Bahar, Pusaka Tradisional Minangakabau, 2009

Penulis :

Staf Kelompok Kerja Dokumentasi dan Publikasi Balai Pelestarian Cagar Budaya Provinsi Sumatera Barat, Riau, dan Kepulauan Riau.

TINGGALKAN KOMENTAR