Pendataan 3D Kawasan Goa-Goa Maros Sulawesi Selatan dengan Aplikasi 3D Laser Scanner

0
882
View Lukisan Goa Leang Petta Kere
Perspective View Lukisan Goa Leang Petta Kere (Colour From Scanner)

Usaha perlindungan merupakan sesuatu yang sangat penting sekali, dasar pelestarian Cagar Budaya tersebut berdasarkan UU Cagar Budaya nomor 11 tahun 2010. Usaha pelestarian jangka panjang tidak hanya berhenti pada aspek perlindungan, upaya preservasi dan konservasi juga perlu dilakukan untuk menjaga kondisi keterawatan bangunan itu sendiri. Perekaman data situs juga merupakan salah satu usaha yang sangat penting untuk menjaga kelestarian dan kondisi keterawatan. Dokumentasi dengan berbagai macam metode merupakan salah satu bentuk perekaman data dalam usaha pelestarian jangka panjang. Salah satu upaya kegiatan yang dilaksanakan oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya Makassar adalah “Pendataan 3D Kawasan Goa-Goa Maros Sulawesi Selatan dengan Aplikasi 3D Laser Scanner”.

pelaksanaan kegiatan ini adalah melakukan Perekaman data dan Pendokumentasian Goa-Goa di Maros Sulawesi Selatan yang teridiri dari Situs Leang Timpuseng, Leang Pettae, Leang Petta Kere, Leang Burung dan Situs Leang Kassi.

Tujuan kegiatan ini adalah memperoleh data – data teknis 3 (tiga) dimensi model, ukuran dan gambar yang detail, akurat dan informatif pada masing-masing Situs Leang (Goa)

Ruang lingkup kegiatan ini meliputi perekaman data dan pendokumentasian yang dilanjutkan dengan pengolahan data 3D scanning :

  1. Leang Timpuseng
  2. Leang Pettae
  3. Leang Petta Kere
  4. Leang Burung
  5. Leang Kassi.

Hasil dari Perekaman data dengan Aplikasi 3D Laser Scanner ini berupa Gambar 2D dan 3D yang meliputi :

  1. 3D Image Point Clouds (semua sasaran perekaman)
  2. Asbuilt Drawing 2 Dimensi yang meliputi :
  3. Tampak Atas (Top View)
  4. Asbuilt – Drawing 2D – Depan (Front View)
  5. Asbuilt – Drawing 2D – Samping (Left/Right View)

Situs Goa Pra Sejarah

  1. Leang Timpuseng

Terletak ± 380 m sebelah timur Leang Bembe, secara administrative masih berada pada wilayah yang sama. Secara astronomis berada pada posisi S 04O 59’ 53,5” dan E 119O 39’ 39,8”, menghadap ke selatan pada ketinggian ± 25 m dpl (Garmin GPS 60i). Lantai gua hampir rata dan hanya lebih tinggi ± 0 – 50 cm dari lahan persawahan di depannya. Lantai gua memanjang ± 30 m dengan lebar bervariasi antara 2 m hingga 7 m. Di dalam gua terdapat cekungan yang menjadi sumber air, oleh penduduk setempat dimanfaatkan untuk mengairi sawah atau dipompakan untuk memenuhi kebutuhan air untuk peternakan unggas. Karena berhadapan langsung dengan persawan, maka kondisi gua sangat gersang, hanya terdapat sepetak sawah yang dimanfaatkan oleh penduduk setempat untuk menanam rumput gajah sebagai pakan ternak di depan gua. Selain itu beberapa jenis tanaman yang dikultivasi oleh masyarakat, misalnya pohon kapuk, mangga dan nangka.

Beberapa tinggalan arkeologi yang masih dapai ditemui pada leang ini antara lain sebaran cangkang-cangkang kerang pada permukaan lantai gua dan artefak batu, walaupun sudah sulit ditemukan. Kondisi situs sangat teracak karena aktivitas penduduk setempat sangat tinggi di sekitarnya, selain sumber airnya dimanfaatkan, gua ini juga sangat mungkin difungsikan sebagai tempat menyimpan peralatan pertanian atau perlengkapan lainnya.

Dalam konteks pelestarian, leang ini telah dipasangi pagar kawat duri pada bagian depannya, meskipun nampaknya tidak terawat dan tidak efektif lagi. Demikian pula dengan juru pelihara yang bertugas, masih belum berfungsi maksimal.

  1. Leang Pettae

Leang Pattae terletak di dalam lokasi Taman Prasejarah Leang Leang pada posisi astronomik 04O 58’ 44,6” LS dan 119O 40’ 30,5” BT. Gua ini berada pada ketinggian kurang lebih 50 meter dari permukaan laut, sedangkan dari tanah yang ada di P a g e | 8 Pendataan 3D Kawasan Goa-Goa Maros Sulawesi Selatan dengan Aplikasi 3D Laser Scanner

depannya tingginya berkisar antara 1 meter sampai 2 meter. Distribusi lahan yang berada di depan gua dirunut sebagai lahan yang terdiri atas pelataran sepanjang 5 meter dengan lebar ke arah samping kiri dan kanannya kurang lebih 7 meter. Pelataran ini tepat berada di depan pintu gua. Di bagian luar dan sedikit kearah bawah pelataran terdapat lahan datar yang memanjang dan melebar ke tepi sungai Leang Leang yang lebarnya berkisar 10 sampai 20 meter. Lahan datar ini sudah dimodifikasi dan dilengkapi dengan jalan setapak yang dibuat dari beton tumbuk dan permukaannya ditutup dengan kerikil dari batu kali. Di sebelah sungai Leang Leang merupakan bentangan lahan yang cukup datar dan di atasnya terdapat batu-batu insitu. Lahan ini telah menjadi milik Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Makassar yang diperoleh melalui proses pembebasan.

Di atas lahan yang terdistribusikan di depan gua ini tidak banyak ditemukan pohon-pohon yang rindang dan tinggi kecuali semak belukar yang tumbuh di atas permukaan batu kaki bukit sekitar gua.

Leang Pattae termasuk tipe gua kekar lembaran yang ditandai dengan langit-langit gua yang sempit dan kurangnya proses travertine yang terjadi di dalam rongga gua. Gua ini menghadap ke arah barat dengan pintunya yang berukuran tinggi 8 meter dan lebar 12 meter. Suhu udara di dalam gua berkisar 30 derajat Celsius dengan kelembaban rata berkisar 70 %, sedangkan kelembaban rata-rata dinding gua berkisar antara 15-25 %.

Situs Leang Pattae telah diteliti oleh Heern Palm (1972), Batalipu (1978). Akumulasi temuan yang teramati di situs ini adalah lukisan dinding gua berupa gambar cap telapak tangan dan lukisan babi rusa, artefak batu (mikrolith) yang menyebar dalam pelataran gua dan buangan sisa-sisa makanan berupa kulit-kulit kerang yang terdeposit di sisi pintu gua.

Perspective View Leang Petta Kere (Colour From Scanner)
Perspective View Leang Petta Kere (Colour From Scanner)

 3. Leang Petta Kere

Leang Petta Kere berada ± 300 m sebelah timur Leang Pattae pada posisi geografis 04O 58’ 43,2” LS dan 119O 40’ 34,2” BT dengan ketinggian 45 m di atas permukaan laut (dpl). Sesungguhnya gua ini terletak di tengah tebing dengan ketinggian dari permukaan tanah di bawahnya berkisar ± 10 m. Walaupun letak gua ini berada di tebing bukit tetapi pada bagian pintunya masih terdapat lantai yang menjorok keluar selebar kurang lebih 1 sampai 2 meter yang berfungsi sebagai pelataran gua. Distribusi lahan di bawah gua mulai dari sisi tebing ke arah depan merupakan lahan datar berbentuk lembah yang di atasnya tertanam batu-batu gamping insitu. Bagian tengah lembah ini mengalir sungai Leang Leang yang jaraknya dari gua hanya berkisar ± 100 m. Lahan yang terdistribusikan di depan gua dapat dikatakan sebagai daerah terbuka mengingat di atasnya hampir tidak ditemukan tanaman dan pohon-pohon besar.

Leang Petta Kere termasuk kategori gua kekar tiang yang ditandai dengan banyaknya rongga-rongga gua dan langit-langitnya yang tinggi. Pintu gua menghadap ke arah barat dengan ukuran tinggi 8 m dan lebar ± 4 m. Suhu udara di dalam gua rata-rata berkisar 27 derajat Celsius dengan kelembaban rata-rata 65 %, sedangkan kelembaban rata-rata dinding gua berkisar antara 17-22 %.

Situs Leang Petta Kere telah diteliti oleh Heekern (1972), Batalipu (1978). Akumulasi data arkeologi yang ditemukan terdiri atas lukisan dinding gua berupa gambar babi rusa dan gambar cap telapak tangan yang kesemuanya menggunakan zat berwarna merah. Alat-alat batu mikrolit termasuk mata panah yang sisinya bergerigi juga ditemukan di situs ini tetapi tidak berada di dalam rongga dan pelataran gua, justru menyebar di bagian lahan di bawah pelataran gua. Pada bagian lahan dimana alat-alat batu ditemukan tersebar pula sisa-sisa makanan berupa kulit kerang yang sudah terdeposit. Temuan lain yang tidak kalah menariknya dari situs ini adalah perolehan tengkorak tanpa kerangka ketika Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Makassar pada tahun 1978 melaksanakan penggalian tanah untuk membuat pondasi tangga besi menuju pintu gua.

Di samping mengembangannya sebagai taman prasejarah dengan menata lingkungan situsnya, kebijakan perlakuan pelestarian di gua ini juga dilakukan treatment dan merekonstruksi bagian-bagian lukisan yang sudah rusak. Sedangkan keterawatan situs cukup baik dengan adanya distribusi juru pemelihara yang ditempat di sini.

 4. Leang Burung

Leang Burung I, Leang Burung II berada dalam satu lintasan yang panjangnya tidak lebih dari 100 m dari kaki bukit Tompobalang yang terletak di Lingkungan Pakalu, Kelurahan Kalabbirang Kecamatan Bantimurung. Berjarak kurang lebih 3,1 km sebelah selatan Taman Prasejarah Leang Leang. Aksesibilitas lokasi mudah ditempuh karena letaknya berada ditepi jalan menuju Leang Leang.

Leang Burung I dan Leang Burung II

Kedua gua ini, Leang Burung I dan II berjarak tidak lebih dari 30 meter. Terletak pada posisi astronomic 05O 00’ 11,9” LS dan 119O 39’ 17,9” BT dengan ketinggian 45 m dpl. Berada ± 1-2 m dari tanah yang ada di depannya. Distribusi lahan sebagai pembentuk lingkungan situs dirunut sebagai pelataran yang berada di bawah pintu gua dengan lebar ke depan ± 8 meter. Kemudian bagian luar pelataran terdapat lahan kebun dengan lebar ± 12-16 m dan mempunyai kemiringan berkisar 45 derajat. Lahan berikutnya adalah jalan aspal selebar 3 m yang di sisinya berjejer rumah-rumah penduduk. Dengan demikian lingkungan Leang Burung berada di areal pemukiman, sehingga tidak banyak lagi vegetasi besar yang tumbuh di dalam lahan yang terdistribusikan di lingkungan situs.

Leang Burung I dan II termasuk kategori gua kekar tiang yang ditandai dengan langit-langit rongga gua yang tinggi dan di dalamnya banyak tersisa hasil-hasil proses travertine seperti stalakmit dan stalaktit termasuk depositnya yang menutupi sebagian lantai gua. Pintu gua menghadap ke arah barat dengan tinggi 20 m dan lebar 30 m. Suhu udara di dalam rongga gua rata-rata berkisar 29 derajat dengan kelembaban mencapai 85 %, sedangkan untuk kelembaban dinding gua berkisar antara 23-28 %.

Leang Burung telah di oleh Stein Callenfels, I.C. Glover dan Emily Glover (1981). Akumulasi data arkeologi yang ditemukan di situs ini adalah lukisan dinding gua berupa gambar-gambar cap telapak tangan. Gambar-gambar ini di tempatkan pada langit-langit gua dan dinding gua. Peralatan kerja atau hidup ditemukan menyebar pada lantai dan pelataran gua berupa alat-alat batu mikrolith. Sedangkan buangan sisa-sisa makanannya yang teramati pada lantai dan sisi pintu gua berupa kulit-kulit kerang.

Upaya pelestarian situs Leang Burung telah dilakukan oleh Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala dengan mendaftarkannya kedalam Buku Register Situs. Sedangkan untuk melindungi lingkungan situs secara fisik telah dibangun pagar kawat berduri. Keterawatan situs sangat rendah karena belum tersedianya juru pelihara yang ditempatkan. Oleh karenanya beberapa fasilitas penunjang yang dibangun disini rusak seperti pagar, papan peringatan dan papan nama situs sudah rusak.

  1. Leang Kassi

Leang Kassi berada di kaki perbukitan Bulu Matojeng, namun secara administrative berada dalam wilayah kampong Bellae, Kelurahan Biraeng, Kecamatan Minasate’ne. Leang Kassi berada kurang lebih 300 m sebelah timur dari Leang Lompoa, tepatnya pada posisi astronomis 04° 50’ 07,6” LS dan 119° 35’ 23,5” BT, dan berada pada ketinggian 15 m dpl. Lebar dan tinggi mulut gua masing-masing 24 m dan 30 m. Sebagian besar lantai gua tertutup oleh bongkahan-bongkahan batu akibat reruntuhan langit-langit gua. Temuan arkeologi yang terdapat pada leang ini terdiri atas lukisan dinding gua, artefak batu berupa alat batu serpih bilah dan tatal, serta sampah dapur berupa cangkang Mollusca dan anthropoda serta tulang binatang.

Perekaman Data dan Pendokumentasian

Proses perekaman data, sistem pendokumentasian dan manajemen informasi merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Rangkaian kegiatan tersebut digunakan sebagai salah satu usaha pelestarian dan pemeliharaan obyek Benda Cagar Budaya.

Dalam sebuah manajemen informasi dan sistem pendokumentasian obyek Benda Cagar Budaya perlu melibatkan berbagai multi disiplin ilmu untuk mendapatkan informasi yang menyeluruh dan lengkap.

Sistem informasi yang menyeluruh dan lengkap dapat dimanfaatkan, antara lain sebagai :

  1. Sebagai sarana pengetahuan, pemahaman tentang suatu maksud/arti dan nilai-nilai dari keberadaan suatu BCB.
  2. Sebagai sarana mempromosikan suatu BCB dan pembuatan suatu manajemen informasi dan perijinan.
  3. Sebagai base-data dalam rangka pemeliharaan dan konservasi
  4. Sebagai sumber data untuk anak cucu dan generasi masa depan.

Perkembangan Sistem Pendokumentasian Cagar Budaya

Sistem pendokumentasian khususnya untuk Benda Cagar Budaya mengalami perkembangan yang cukup pesat, beberapa perkembangan sistem pendokumentasian Benda Cagar Budaya antara lain :

  1. Sketsa

Merekam data/obyek dengan melihat langsung melalui berbagai keanekaragaman format, kemudian dituangkan dalam bentuk gambar dengan dimensi dan akurasi yang kurang teliti

  1. Hand Survey

Teknik Perekaman dengan mengukur obyek menggunakan tangan, berdasarkan penilaian dan peralatan sederhana.

  1. Photograpy

Teknik Perekaman modern dengan menggunakan alat kamera disertai dengan metode metode khusus untuk mendapatkan data langsung dari obyek

  1. Photogrammetry

Teknik Perekaman obyek dengan teknik pengambilan foto stereo yang saling bertampalan sehingga membentuk gambar 3 dimensional dan berkoordinat.

  1. 3D Laser Scanner Photogrammetry

Metode Perekaman Data/Dokumentasi dengan akurasi yang sangat tinggi, detail dan akurat, menggunakan sistem laser yang merekam data 3 Dimensional (x,y,z) permukaan obyek tanpa menyentuh/bersinggungan langsung dengan obyek itu sendiri.

TINGGALKAN KOMENTAR