‘Kingdom of Butterfly’ hingga ‘The Oldest Rock Art Painting in the World’

0
1049

Kawasan Karst Maros-Pangkep, yang terbentang pada Kabupaten Maros dan Kabupaten Pangkep di Sulawesi Selatan telah dikenal dunia sejak 1857 melalui The Malay Archipelago yang ditulis oleh seorang naturalis berkebangsaan Inggris bernama Alfred Russel Wallace. Wallace menyebutkan dalam jurnalnya bahwa Bantimurung (Maros) dan kawasannya merupakan Kingdom of Butterfly.

Pada bukit karst yang membentang dari Utara ke Selatan pulau Sulawesi tersebut terdapat lubang-lubang di kaki dan lereng perbukitan. Penduduk setempat menyebutnya Leang atau dalam bahasa Indonesia disebut dengan Gua.

Hal ini menarik beberapa peneliti asing untuk melakukan penelusuran terhadap jejak-jejak prasejarah yang pernah terjadi pada kawasan ini. Diawali oleh Fritz Sarasin dan Paul Sarasin pada tahun 1902-1903, kemudian Van Stein Callenfels pada tahun 1937 yang menemukan alat tulang berupa lancipan. Selanjutnya, untuk pertama kalinya ditemukan lukisan dinding yang berwarna merah di Leang Pettae oleh Van Heekeren dan Heeren Palm pada tahun 1950.

Penelitian mengenai umur dari temuan-temuan arkeologis tersebut terus dilakukan hingga saat ini. Tahun 1969 dilakukan penelitian kerjasama antara peneliti Australia (Australian National University) dipimpin oleh Mulvaney dan peneliti Indonesia (Lembaga Penelitian Purbakala dan Peninggalan Nasional) dipimpin oleh Soejono. Para peneliti menemukan sisa arang pada Situs Ulu Leang yang dijadikan sebagai sampel absolut untuk metode C14. Hasilnya, sisa arang tersebut berumur kurang lebih 3.790 tahun sampai 230 tahun sebelum masehi dan 5.520 tahun sampai dengan 650 tahun sebelum masehi.

Seiring dengan perkembangan zaman, metode yang digunakan untuk menentukan umur tinggalan arkeologi juga berkembang. Peneliti menggunakan metode uranium series untuk mengetahui umur lukisan dinding gua (rock art painting).

Penelitian terbaru yang dilakukan sejak 2011 hingga 2014 yang dilakukan oleh kolaborasi antara peneliti Australia dan Indonesia memberikan hasil yang mengubah pandangan dunia mengenai sejarah penyebaran dan peradaban manusia. Mereka menggunakan 19 sampel pada 7 situs. Hasilnya, penanggalan tertua dengan umur minimum terhadap lukisan telapak tangan berasal dari ±39.900 tahun yang lalu dan lukisan babi rusa memiliki umur minimum ±35.400 tahun yang lalu ditemukan pada Leang Timpuseng. Seperti yang diketahui sebelumnya, lukisan dinding tertua di dunia yaitu di El Castillo memiliki usia maksimum sekitar 40.800 tahun yang lalu dan lukisan binatang tertua yaitu di Chauvet Cave berasal dari 35.000 tahun yang lalu.

Kawasan Karst Maros-Pangkep berada dalam wilayah kerja Balai Pelestarian Cagar Budaya Sulawesi Selatan. Saat ini telah terdaftar sebanyak 65 gua prasejarah di Kabupaten Maros dan 62 gua prasejarah di Kabupaten Pangkep. Saat ini telah dibangun dua taman prasejarah, Taman Prasejarah Leang-Leang pada Kabupaten Maros dan Taman Prasejarah Sumpang Bita pada Kabupaten Pangkep. Kedua taman prasejarah ini memiliki masing-masing 2 gua prasejarah yang dapat dikunjungi oleh masyarakat umum sebagai tempat wisata yang bernilai edukasi. Masyarakat dapat melihat langsung temuan arkeologis berupa lukisan dinding gua, alat batu, dan sampah dapur.

  • Taman Prasejarah Leang-Leang

Pada Taman Prasejarah Leang-Leang terdapat dua gua prasejarah, yaitu Leang Pettakere dan Leang Pettae. Leang Pettae memiliki sejarah penelitian penting dikarenakan pada tanggal 26 Februari 1950 untuk pertama kali di Sulawesi Selatan, lukisan dinding gua berupa gambar telapak tangan berwarna merah ditemukan oleh C.H.M. Heeren-Palm. Selanjutnya, van Heekeren menemukan gambar seekor babi rusa yang sedang melompat dengan teknik gambar garis-garis berwarna merah kecokelatan.

Sedangkan pada Leang Pettakere, tinggalan arkeologi yang ditemukan antara lain lukisan dinding gua berupa gambar babi rusa dan gambar cap telapak tangan, alat batu microlith, dan mata anak panah bergerigi yang dikenal dengan Maros Point.

 

  • Taman Prasejarah Sumpang Bita

Taman Prasejarah Sumpang Bita memiliki 2 gua prasejarah, yaitu Leang Sumpang Bita dan Leang Bulu Sumi. Leang Sumpang Bita, merupakan gua terbesar di Kabupaten Pangkep, bahkan di Sulawesi Selatan.

Temuan di Leang Sumpang Bita didominasi oleh lukisan dinding gua (33 telapak tangan dewasa, 24 telapak tangan anak-anak, 2 telapak kaki anak-anak, 7 gambar menyerupai babi rusa berukuran besar dan 3 berukuran kecil), cangkang moluska, fragmen gerabah polos dan berhias serta fragmen tulang dan gigi manusia yang ditemukan tersebar di permukaan lantai gua.

Pada Leang Bulu Sumi, tingggalan arkeologi yang ditemukan berupa lukisan dinding (2 telapak tangan), artefak batu, fragmen tulang, gerabah dan cangkang moluska ditemukan tersebar dari dalam lantai gua terutama bagian mulut gua hingga pelataran gua.

  • Leang Timpuseng

Leang Timpuseng sering dijadikan objek penelitian baik oleh peneliti dalam negeri maupun peneliti luar negeri. Hingga penelitian yang dilakukan oleh Maxime Aubert menghasilkan bahwa lukisan telapak tangan pada gua ini memiliki umur tertua dengan usia minimum ±39.900 tahun yang lalu dan lukisan babi rusa memiliki umur minimum ±35.400 tahun yang lalu. Temuan lainnnya berupa artefak batu dan sebaran sampah dapur yang tersebar di pelataran gua.

Mengingat nilai penting yang dimiliki Kawasan Karst Maros-Pangkep, saat ini Kawasan Karst Maros Pangkep telah masuk dalam daftar usulan calon nominasi (tentative list) World Heritage UNESCO. Yuk kita dukung pelestarian Kawasan Karst Maros-Pangkep dengan tidak merusaknya.

 

TINGGALKAN KOMENTAR