DISKUSI KELOMPOK TERPUMPUN MEMBAHAS KAWASAN KARS KABUPATEN MAROS

0
868

Hari sabtu, 4 Mei 2019 di Grand Town Hotel Maros, Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Sulsel menyelenggarakan Diskusi Kelompok Terpumpun yang membahas Hasil Monitoring dan Evaluasi Laju Kerusakan Dinding Gua Prasejarah Maros, Hasil Kajian Tata Pamer Ruang Informasi di Taman Prasejarah Leang-Leang dan Studi Teknis Pengembangan Kawasan Karst Maros. Pada diskusi kelompok tersebut hadir perwakilan dari Dinas terkait di Kabupaten Maros, akademisi, perwakilan dari kecamatan Bantimurung, Lurah, Kepala Desa dan Tokoh masyarakat dari Kecamatan Bantimurung, serta komunitas di kawasan kars Maros.

Acara dimulai dengan pembukaan. Laporan penyelenggaraan disampaikan oleh Dra. Nusriat, Kepala Unit Pengembangan dan Pemanfaatan dan dibuka oleh Drs. Laode Muhammad Aksa, M.Hum selaku Kepala Balai Pelestarian Cagar Budaya Sulawesi Selatan. Acara dilanjutkan dengan pemaparan dari narasumber yang dipandu oleh moderator, serta diskusi dengan para peserta.


Diskusi dibagi kedalam dua sesi. Pembahasan sesi pertama adalah hasil kajian Tata Pamer Ruang Infomasi di Taman Prasejarah Leang-Leang oleh Andini Perdana, M.Hum dan Hasil Monitoring dan Evaluasi Laju Kerusakan Dinding Gua Prasejarah Maros oleh Rustan, S.S, dipandu oleh Akademisi Arkeologi Universitas Hasanuddin, Drs. Iwan Sumantri, M.A. Pembahasan sesi kedua adalah hasil studi teknis pengembangan kawasan kars Maros oleh Drs. Laode Muhammad Aksa, M.Hum yang dipandu oleh Modertor dari BPCB, Dra. Hj. Irwani Rasyid, M.M.

 

Pada pembahasannya terkait hasil kajian tata pamer di ruang informasi, Andini Perdana menjelaskan bahwa tahun 2018, BPCB telah membangun Ruang Informasi di Taman Prasejarah Leang-Leang. Tahun 2019, akan dilakukan penataan di ruang informasi tersebut yang didahului dengan kajian tata pamer terlebih dahulu. Idealnya, terdapat tiga tahap penataan pameran, yaitu tahap konseptual, pengembangan, dan fungsional. Kajian tata pamer ini hanya mencakup tahap konseptual yaitu dilakukan kajian pengunjung, calon pengunjung, dan masyarakat untuk mengetahui keinginan mereka. Selain itu, disusun segmen pengunjung, penamaan, visi dan misi, storyline, serta rekomendasi desain tata pamer. Berdasarkan hasil kajian disimpulkan enam hal. Pertama; informasi yang disajikan adalah gambar prasejarah melalui media digital dan non digital di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara (wilayah kerja BPCB Sulsel). Kedua; penamaan ruang informasi tersebut adalah Pusat Informasi Gambar Prasejarah di Sulawesi Selatan dan Tenggara. Ketiga; Visi pusat informasi adalah mewujudkan pelestarian Gambar Prasejarah di Sulawesi Selatan dan Tenggara sebagai sumber ilmu pengetahuan, yang dilengkapi dengan misinya. Keempat; segmen pengunjung adalah generasi X, generasi Y (milenial), generasi Z, dan generasi alpha. Kelima; metode pendekatan pameran adalah penggabungan kronologis, taksonomik, dan tematik. Keenam; tema alur cerita (storyline) yang disampaikan adalah alam, manusia, dan kebudayaan.


Rustan S.S menjelaskan hasil monitoring dan evaluasi laju kerusakan lukisan dinding gua yang telah dilaksanakan pada Maret 2019. Monitoring tersebut rencananya akan dilaksanakan di enam sampel gua preserah di Sulawesi Selatan dan 2 sampel gua prasejarah di Sulawesi Tenggara. Monitoring telah dilakukan pada tahun 2018 dan bulan Maret 2019. Kesimpulan sementara adalah 1 (satu) dari 7 (tujuh) sampel yang dipantau rutin dengan intensitas berbeda (1-4 kali) mengalami perubahan bentuk. Sampel tersebut berada di Leang Jarie dengan kasus pengelupasan, permukaan kulit batu berpigmen yang berkurang 1,36898 cm2, yaitu dari 4,038419 cm2 pada periode 3 (November 2018) menjadi 5,407399 cm2 pada Periode 1 2019 (Maret 2019). Hasil monitoring tersebut belum dapat digeneralisasi sebagai kondisi seluruh gambar karena pengulangan kasus belum intens. Cukup sulit mengidentifikasi perubahan warna karena belum konsistennya pencahayaan pada setiap periode perekaman. Permasalahan yang terjadi pada penelitian ini adalah belum ditemukan teknik yang efektif untuk menghitung luasan pigmen, kerusakan, dan standar warna yang akurat pada sampel lukisan; masih ada masalah akurasi pada posisi dan keletakan kamera dan frame/panel dengan system koordinat, berakibat pada kestabilan dan konsistensi foto rekaman; dan Belum tersedia kamera yang mampu menangkap citra yang detail untuk untuk membantu mengenali jenis kerusakan

Drs. Laode Muhammad Aksa, M.Hum menjelaskan bahwa berdasarkan hasil Delineasi Kawasan Cagar Budaya Gua Prasejarah Kars Maros Pangkep oleh BPCB tahun 2011 bahwa kawasan tersebut dibagi dalam 20 subkawasan, dua diantaranya adalah subkawasan Leang-Leang dan subkawasan Lopi-Lopi yang akan dikaji dalam studi teknis pengembangan ini. Diidentifikasi bahwa terdapat 19 gua prasejarah di subkawasan Leang-Leang dan 56 gua prasejarah di subkawasan Lopi-Lopi. Salah satu gua yang dikembangkan adalah Leang Bulu Bettue (subkawasan Leang-Leang) yang pada tahun 2017, ditemukan Liontin berumur 30.000 tahun. Gua lain yang dikembangkan adalah Leang Timpuseng yang umur lukisan dinding guanya adalah tertua di dunia, yaitu 39.900 tahun. Upaya pengembangan dilakukan dengan melihat potensi Cagar Budaya dan alam. Adapun jenis wisata yang akan dikembangkan adalah wisata budaya, seperti kunjungan ke berbagai situs Cagar Budaya, wisata pendidikan yang bertujuan untuk menambah nilai-nilai edukasi atau pendidikan bagi pelajar yang disesuaikan dengan kurikulum pendidikan. Wisata ini merupakan sarana pealajar untuk melestarian cagar udaya dan mengenalkan nilai penting Cagar Budaya kepada mereka. Wisata minat khusus seperti tracking, climbing, hiking, dan susur gua.

TINGGALKAN KOMENTAR