Pendataan Kepurbakalaan Di Kabupaten Buton Utara Propinsi Sulawesi Tenggara

0
3217

Latar Belakang

Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya menegaskan bahwa Cagar Budaya adalah Benda, Bangunan, Struktur, Situs, dan Kawasan yang memiliki nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, agama, dan kebudayaan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara sehingga perlu dilestarikan dan dikelola secara tepat melalui upaya pelindungan, pengembangan, dan pemanfaatan dalam rangka memajukan kebudayaan nasional untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Oleh karena itu harus didata, dilestarikan, dikelola secara tepat supaya dapat memberi manfaat sebesar-besarnya kepada bangsa Indonesia.

Upaya pelestarian menjadi tanggung jawab bersama antara Pemerintah dan Pemerintah Daerah yang didukung oleh Setiap Orang dan Masyarakat Hukum Adat. Pelestarian ini merupakan realisasi dan amanat Undang-Udang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945 Pasal 33 untuk menjaga kekayaan budaya yang berada di darat dan didalam air. Pelestarian yang semula dipahami secara sempit hanya terbatas pada upaya pelindungan saja, kini diperluas tidak saja untuk maksud pelindungan tetapi terkait juga dengan upaya Pengembangan dan Pemanfaatan. Perluasan pemahaman ini dilatarbelakangi oleh kenyataan bahwa tidak satu pun unsur dari pengertian Pelestarian itu yang berdiri sendiri, melainkan merupakan sebuah kesatuan yang saling mempengaruhi tanpa dapat dipisahkan.

Provinsi Sulawesi Tenggara khususnya Kabupaten Buton Utara merupakan kawasan potensial sumber daya budaya, namun saat ini penanganannya belum maksimal. Oleh karena itu dalam proses pelestarian cagar budaya di Kabupaten Buton Utara, perlu dilakukan pendataan. Pendataan obyek yang diduga cagar budaya di Kabupaten tersebut, diharapkan dapat menyajikan informasi tentang potensi yang diduga cagar budaya dalam rangka penyiapan data untuk penetapan sebagai cagar budaya.

 Maksud dan Tujuan

Kegiatan pendataan ini dimaksudkan untuk memperoleh informasi dan persebaran tinggalan budaya beserta situsnya. Adapun tujuan kegiatan pendataan adalah tersedianya data tentang potensi tinggalan budaya dalam bentuk tertulis dan audio visual.

Lingkup Kegiatan

Adapun lingkup kegiatannya meliputi pencatatan temuan di lokasi obyek yang diduga cagar budaya, kondisi lingkungan, pengukuran dan pembuatan gambar denah lokasi, sehingga dapat diketahui bentuk, jumlah temuan, kondisi lingkungan, dan jenis obyeknya.

 Sasaran Kegiatan

Pendataan telah dilaksanakan di Kabupaten Buton Utara pada9 (sembilan) obyek yang diduga cagar budaya, antara lain; 3(tiga) obyek situs yang diduga cagar budaya, yakni; Situs Benteng Lipu (Benteng Lipu, Masjid Agung Keraton Kulisusu, Kulisusu (Kulit Kerang), Baruga, Raha Bulelenga (Tiang Pegangan), Makam Wa Ode Bilahi, Makam La Iji, Makam Ima Ea (Imam besar), Makam Gau Malanga, Kompleks Makam Sangia La Ihori, Makam La Ode-Ode dan Raja Jin, Kompleks Makam Bunga Eja, Sumur Ee Bula), Situs Benteng Bangkudu (Benteng Bangkudu, Makam Murhum (La Ode Guntu), Makam Mongkolengko Sangia, Makam Anakhoda Wahabu, Makam Cina Laguna, Kamali Ngkongko) dan Situs Benteng Lipu Koro (Benteng Lipu Koro, Kompleks Makam Dhonggoro (Lakino Koro), Makam Wa Ngkolo, Makam Jin, Batu Sangia), dan 6 (enam) buah struktur yang diduga cagar budaya, yakni; Benteng Pangilia, Makam Kodhangku, Benteng Tomoahi, Sumur Tua Mata Oleo, Benteng Mata Oleo, Makam Tasau Ea. Kegiatan pendataan ini berupa pencatatan, pengukuran, penggambaran/pembuatan denah lokasi, pemotretandan pengambilan gambar berupa audio visual, serta penyusunan pelaporan.

 Output

Tersedianya data berupa deskripsi lokasi obyek yang diduga cagar budaya, gambar/denah lokasi, jenis temuan, data lingkungan, foto dan audio visual obyek yang diduga cagar budaya.

 Metode

Pelaksanaan kegiatan pendataan ini menggunakan beberapa metode untuk memperoleh data yang lebih akurat dan dapat dipertanggung-jawabkan. Kerangka kerja yang harus dilalui antara lain :

  • Pengumpulan Data Pustaka, kegiatan awal dimulai dengan pengumpulan/penelusuran data pustaka untuk memperoleh penjelasan tentang informasi objek termasuk nilai penting maupun hal lain yang terkait dengan keberadaan tinggalan budaya/situs, sehingga dapat membantu dalam pengumpulan data lapangan.
  • Pengumpulan Informasi,kegiatan ini dilaksanakan pada saat koordinasi dengan Pemerintah Daerah dalam hal ini Dinas atau lembaga yang menangani kebudayaan, pemerintah kecamatan/desa, tokoh masyarakat dan tokoh adat setempat yang berkaitan dengan keberadaan obyek.
  • Pengumpulan Data Lapangan, kegiatan ini meliputi peninjauan langsung lokasi obyek, sekaligus melakukan perekaman data temuan dalam bentuk pencatatan, pengukuran, penggambaran/denah lokasi, pemotretan dan pengambilan gambar berupa audio visual.
  • Pelaporan, sebagai salah satu rangkaian kegiatan dan pertanggung-jawaban pelaksanaan kegiatan pendataan, adalah pengolahan data dan penyusunan laporan tertulis dibuat meliputi kronologi pelaksanaan kegiatan beserta hasilnya dalam bentuk deskripsi/hasil rekaman tinggalan budaya yang berhasil didata.

Letak Geografis

Kabupaten Buton Utara adalah salah satu Kabupaten di Provinsi Sulawesi Tenggara yang wilayahnya meliputi sebagian Pulau Buton bagian utara, serta pulau-pulau kecil yang tersebar disekitar kawasan tersebut.

Kabupaten Buton Utara terletak dibagian Selatan khatulistiwa pada garis lintang 40 06’ sampai 50 15’ LS dan dari Barat ke Timur 1220 59’ BT – 1230 15’ BT, dengan batas-batas sebagai berikut:

  • Sebelah Utara berbatasan dengan Selat Wawonii
  • Sebelah Timur berbatasan dengan Laut Banda
  • Sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Buton
  • Sebelah Barat berbatasan dengan selat Buton dan Kabupaten Muna

Kabupaten Buton Utara yang terdiri dari 2 matra darat dan matra laut. Luas wilayah daratan seluas 1.923,03 km² dan luas perairan sekitar 2.500 km². Pembagian luas wilayah daratan menurut kecamatan masing-masing:

 Topografi

Kabupaten Buton Utara terdiri dari barisan pegunungan yang sedikit melengkung ke arah utara-selatan dimana hampir setengah (92.799) atau sebesar 48,26 persen luas wilayah Kabupaten Buton Utara berada pada ketinggian 100 – 500 meter di atas permukaan laut.

Wilayah Kabupaten Buton Utara memiliki kemiringan yang hampir merata pada setiap klasifikasi kemiringan, dimana kemiringan 0 – 2% seluas 57.129 hektar (29,71%), kemudian disusul kemiringan 15 – 40% seluas 55.309 hektar atau 28,76% dari seluruh luas wilayah Kabupaten Buton Utara. Selanjutnya kemiringan lebih dari 40% seluas 55.309 hektar atau 28,76% dari seluruh luas wilayah Kabupaten Buton Utara. Selanjutnya kemiringan lebih dari 40% seluas 50.875 hektar atau 26,46% serta kemiringan 12 – 15% seluas 28.990 hektar atau 15,08% dari total luas wilayah Kabupaten Buton Utara.

 SekilasTentang Kabupaten Buton Utara

Kabupaten Buton Utara merupakan pemekaran dari Kabupaten Muna. Kabupaten Buton Utara lebih dikenal dengan Kulisusunya. Menurut sejarah, Kulisusu/Kolencusu/Kalingsusu merupakan salah satu dari empat benteng pertahanan Barata Patapalena (cadik penjaga keseimbangan perahu negara) di masa Kesultanan Buton. Barata Kulisusu bersama-sama dengan Barata Muna, Barata Tiworo dan Barata Kaledupa merupakan pintu-pintu pertama pertahanan sebelum musuh masuk ke dalam wilayah pusat kekuasaan di Bau-Bau. Oleh karena itu mereka memiliki peran yang cukup penting dalam menjaga keselamatan negara. Mereka juga diberi hak otonom untuk mengatur sendiri daerahnya termasuk memiliki tentara sendiri namun dengan batasan-batasan pengaturan yang sudah digariskan oleh pemerintahan pusat yang ada di Bau-Bau. LIPU TINADEAKONO SARA,berdasarkan sejarah Buton Utara adalah negeri yang didirikan dan dibangun oleh SARA (Penguasa Kampung). maka pembagian wilayah administrasi pemerintahan Kabupaten Buton Utara meliputi 6 kecamatan, yaitu Kecamatan Bonegunu, Kambowa, Wakorumba, Kulisusu, Kulisusu Barat dan Kecamatan Kulisusu Utara. LIPU TINADEAKONO SARA sampai saat ini masih terlihat di pintu gerbang setiap rumah penduduk di Kabupaten Buton Utara.

Selain itu, adapula cerita yang berkembang di masyarakat bahwa dimasa lalu daerah ini merupakan wilayah barata dari Kesultanan Buton, yakni Barata Kulisusu. Istilah Barata merujuk pada kerajaan kecil dibawah naungan Kesultanan Buton yang menjalankan roda pemerintahannya sendiri terkecuali dalam beberapa hal tertentu tetap menjadi tanggung jawab dari pemerintahan Kesultanan Buton.Penyebutan kulisusu berasal dari nama kulit kerang yang umum dikenal dengan nama “kima”. Kulisusu atau kulit kerang ini berada persis di pelataran kiri mesjid keraton kulisusu yang sejak dulu kala telah mempunyai fungsi sakral yaitu menjadi tempat pelantikan Lakina (Raja) kulisusu sebelum melaksanakan tugasnya sebagai pemimpin dan pengayom bagi masyarakat kulisusu.

Kabupaten Buton Utara adalah 1 dari 16 usulan pemekaran kabupaten/kota yang disetujui oleh Dewan Perwakilan Rakyat pada tanggal 8 Desember2006. Kabupaten ini dibentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2007 pada tanggal 2 Januari2007. yang beribukota di Buranga.

 HASIL KEGIATAN PENDATAAN

Situs Benteng Lipu

Benteng Butur
Lawa Ea adalah pintu Utama Benteng Lipu dan Kabhongka (sebutan masyarakat setempat untuk sebuah pintu) (Dok.BPCBM, 2014)

Secara administratif Benteng Lipu masuk dalam wilayah Kampung Lipu Kelurahan Lakonea Kecamatan Kulisusu Kabupaten Buton Utara, yang berjarak ± 1 km dari Ibu Kota Kecamatan Kulisusu. Akses menuju kawasan ini sangat mudah, yakni dengan menggunakan kendaraan bermotor maupun berjalan kaki karenaletaknya yang berada di tengah kota.Secara Astronomi, Benteng Lipu berada pada titik koordinat 04° 47’ 03.4” LS – 123° 10’ 49.1” BT dengan ketinggian mencapai 43 m diatas permukaan laut. Batas-batas wilayah Benteng Lipu meliputi sisi sebelah Timur benteng yang berbatasan dengan perkebunan jambu mete, sisi sebelah Barat langsung berbatasan dengan jalan aspal dan wilayah pemukiman, sebelah Utara berbatasan dengan hutan semak dan sebelah Selatan berbatasan langsung dengan jalan aspal dan perkebunan jambu mete.

Situs Benteng Lipu merupakan satu-satunya benteng dengan kondisi terawat, dan dijadikan sebagai wilayah pemukiman adat yang cukup padat. Hampir sebagian wilayahnya terdiri atas bangunan rumah penduduk, beberapa bangunan bersejarah, dan sebagian lainnya meliputi beberapa jenis vegetasi yang di dominasi oleh tanaman konsumsi seperti pepaya, kelapa, mangga, ubi kayu, pohon kapuk, bambu dan jenis tumbuhan semak.

Pada Benteng Lipu terdapat lima buah pintu/gerbang yang oleh masyarakat setempat disebut Lawa. Tiap-tiap pintu/gerbang ini memiliki nama yang merujuk pada arah kampung atau objek dimana pintu/gerbang tersebut menghadap. Lawa Ea (Pintu/Gerbang Utama, Ea dalam bahasa kulisusu berarti besar), Lawa Mata Oleo ( Pintu/Gerbang menuju kampung mata oleo, Lawa Yi Lemo (Pintu/Gerbang menuju kampung Lemo), Lawa Eebula (Pintu/Gerbang menuju sumur Eebula), Lawa Mopusu dan sebuah pintu lain oleh masyarakat setempat tidak disebut sebagai lawa, namun disebut Kabhongka. Secara keseluruhan, benteng lipu memiliki 7 bastion yang bergungsi sebagai tempat mengintai dan meletakan meriamdengan lantai berterap.

Panjang Benteng Lipu mencapai 1883 m dengan luas 12,95 Ha dengan ketebalan struktur mencapai 2 – 3m, sedangkan ketebalan sudut terutama pada sisi bagian Utara mencapai 5.40 m dan tingginya bervariasi antara 1 – 2m tergantung kondisi kontur tanah. Seperti halnya ciri benteng-benteng lokal khususnya yang berada di Sulawesi Tenggara, konstruksi struktur Benteng Lipu tidak lagi memperlihatkan bentuk aslinya seperti pada ciri benteng-benteng lokal. Struktur keseluruhan benteng telah diberi perekat berbahan semen untuk merekatkan batu koral sebagai bahan baku pembuatan benteng. Tidak diketahui secara pasti apakah struktur dan konstruksi Benteng Lipu benar-benar masih tetap pada bentuk dan posisinya yang asli atau tidak karena menurut keterangan Kasim (salah satu informan dan juru kunci) tercatat bahwa benteng telah di pugar oleh Pemda setempat secara bertahap mulai dari tahun 1997 sampai tahun 2000 dan pemugaran terakhir dilakukan pada tahun 2007.

Tabel 1. Lawa/Pintu gerbang

N0 Nama Lawa Titik Kordinat Keterangan
1 Lawa Ea 04° 47’ 01.4” LS – 123° 10’ 46.5” BT Memiliki atap gerbang
2 Lawa Eebula 04° 47’ 05.1” LS – 123° 10’ 44.5” BT Memiliki atap gerbang
3 Lawa Ilemo 04° 47’ 10.8” LS – 123° 10’ 47.9” BT Memiliki atap gerbang
4 Lawa Mataoleo 04° 47’ 01.3” LS – 123° 10’ 53.8” BT Tidak memiliki atap
5 Lawa Mopusu 04° 47’ 07.7” LS – 123° 10’ 48.5” BT Tidak memiliki atap
6 Kabhongka Atapnya terbuat dari semen

Benteng Lipu didirikan atas prakarsa Buraku (Gau Malanga) dan Kodhangku pada masa pemerintahan Lakino Kulisusu Laode Ode sekitar abad XVII, dengan tujuan untuk melindungi Kulisusu dari serangan Tobelo dan Belanda. Benteng kemudian dibangun secara gotong royong oleh segenap masyarakat Kulisusu.Tidak diketahui secara pasti berapa lama benteng ini diselesaikan, namun demikian masyarakat setempat meyakini legenda yang ada bahwa makhluk gaib ikut berperan dalam pembangunan benteng tersebut karena ikan yang dimasak belum matang untuk konsumsi pekerja,namun benteng sudah selesai dikerjakan. Selain Struktur Benteng Lipu, ada beberapa bangunan dan makam yang terdapat dalam Benteng Lipu yaitu:

 Masjid Agung Benteng Lipu

Masjid ini terletak dalam Benteng Lipu, ± 200 meter dari Lawa Ea. Masjid dibangun oleh La Ode Golla yang lebih dikenal dengan gelar Moji Mohalo dan menjadi masjid pertama yang dibangun setelah Kerajaan Kulisusu dan masyarakatnya memeluk Islam. Letak astronomi masjid berada pada titik koordinat 040 47’ 03,4” LS dan 1230 10’ 49,1” BT dan berada di ketinggian 43 m diatas permukaan laut.Pada dasarnya bangunan masjid telah di pugar dan tidak memperlihatkan ciri kearkeologian. Bahan bangunan terbuat dari bahan-bahan modern seperti semen, kaca, tegel dan seng. Ukuran panjang bangunan = 14.1 m dan lebar = 12.19 m. Selain itu, pada setiap sudut halamanMasjid terdapat 4 buah meriam yang masing-masing berukuran panjang = 1.18 m, diameter mulut = 14 cm, leher = 11 cm, dan bagian bawah = 17 cm.

 Kulisusu (Kulit Kerang)

Dalam bahasa lokal Kulisusu diartikan sebagai kulit kerang.Kulit kerang ini dapat ditemukan pada benteng-benteng yang telah dieksplorasi di wilayah Kabupaten ButonUtara. Kulit kerang atau kulisusu dalam tradisi dan kepercayaan masyarakat diyakini

sebagai asal muasal penamaan Tanah atau Kerajaan Kulisusu, sedangkan dalam konteks kearkeologian jenis cangkang ini masuk dalam kategori ekofak yang dapat diasumsikan dalam konteks aktifitas kebudayaan.Kulisusu berada pada titik 040 47’ 02,5” LS dan 1230 10’ 49,6” BT pada 46 m diatas permukaan laut, tepatnya di depan sisi sebelah kiri Masjidyang ditempatkan dalam sebuah lingkaran berbentuk sumur dan sisi luarnya terpasang pagar pelindung dengan satu pintu masuk berukuran 0,65 cm, keliling pagar berukuran 7.05 x 8.06 yang berbentuk persegi empat dengan diameter dinding lingkaran berukuran 3,00 m, tebal = 0,30 cm dan tinggi = 1.1 m.Adapun dinding ini terbuat dari bahan semen dan batu karang. Sedangkan cangkang berukuran panjang = 0,65 cm, lebar = 0,31 cm, dan tinggi =0,23 cm.

Kulisusu adalah nama kerang laut raksasa yang sudah membatu (fosil) tempat ini sangat disakralkan oleh masyarakat sebagai tempat yang memiliki keberkahan bagi penduduk yang akan bepergian jauh. Sebelum bepergian biasanya terlebih dahulu ziarah ketempat ini karena dipercaya akan selamat kembali. Saat ini Kulisusu menjadi dasar penamaan keraton Kulisusu yang sekarang sudah menjadi salah satu nama kecamatan di wilayahKabupaten Buton Utara (Wawancara, 6 mei 2014).

 Baruga

Bangunan berada di depan Masjid Keraton Kulisusu pada koordinat 04045’ 11,5” LS dan 123010’ 27,2” BT. Bangunan ini berbentuk rumah panggung dengan 20 tiang penyangga utama tanpa dinding dengan lantai yang bertingkat. Tingkatan pada lantai ini dimaksudkan untuk mengatur posisi duduk berdasarkan jabatan struktural pada Kerajaan Kulisusu. Atap pada bangunan sejak 2013 dibuat bertingkat, berbeda dengan sebelumnya yang dibuat tanpa tingkat.

Ukuran bangunan 6.10 x 6.10 m dan pada bagian dalamnya terdapat sekat yang berbentuk persegi lima dimana berfungsi sebagai tempat duduk para mancuana atau pemimpin kampung untuk mengadakan ritual meminta berkah. Kondisi bangunan terawat dan kontruksinya terbuat dari bahan kayu dan secara keseluruhan bangunan tidak lagi merupakan bangunan yang asli karena telah di pugar.

Berdasarkan cerita turun temurun di masyarakat Kulisusu, pada mulanya bangunan ini merupakan bangsal pembuatan perahu pada masa pra Islam.Setelah perahu selesai, bangsal inipun kemudian dijadikan tempat masyarakat bermusyawarah.Sampai saat ini, bangunan masih tetap difungsikan sebagai balai pertemuan tokoh masyrakat dan tokoh adat.Bangunan ini telah mengalami perbaikan oleh masyarakat dan terakhir pada 2013 di pugar oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Buton Utara.

 Raha Bulelenga (Tiang Pegangan)
Sebelumnya adalah bongkahan batu yang berbentuk tiang yang oleh masyarakat Kulisusu berdasarkan cerita bahwa daratan ini pernah tenggelam saat itulah tiba-tiba muncul bongkahan batu berbentuk tiang yang dijadikan sebagai tempat berpegang dalam bahasa setempat artinya Raha Buleleng sehingga mereka selamat, saat ini Raha Buleleng dibentuk seperti rumah dengan tiang satu yang dibuat dari beton dan difungsikan sebagai tempat tinggal pemimpin untuk meminta berkah keselamatan rakyatnya yang disebut Mancuana.
Bangunan ini terletak saling berdekatan dengan kulisusutepatnya berada di sebelah Timur depan Masjid Lipu, dengan letak astronomi 040 47’ 02,7” LS dan 1230 10’ 50,0” BT pada 44 m diatas permukaan laut. Ukuran bangunan 6.01 x 6.01 m dan pada bagian dalamnya terdapat sekat yang berbentuk persegi lima dimana berfungsi sebagai tempat duduk para mancuana atau pemimpin kampung untuk mengadakan ritual meminta berkah. Pada dasarnya bahan baku pembuatannya sama dengan Baruga dan saat ini bangunan tidak asli lagi seperti pada awal pembuatannya.

 Makam Wa Ode Bilahi

Makam terletak dalam Benteng Lipu, ± 200 meter dari Lawa Ea. 040 47’ 02,4” LS dan 1230 10’ 50,7” pada 41 m diatas permukaan laut. Makam terdiri atas nisan, fondasi, dan cungkup serta berorientasi Utara Selatan. Panjang nisan = 0,4 cm dengan diameter = 0,13 cm. Pada bagian atas nisan masih asli, sedangkan pada bagian bawah telah mengalami perubahan dengan cara disambung yang menggunakan bahan batu dan semen. Pada bagian fondasi terbuat dari bahan semen dengan ukuran Panjang = 3,01 m, Tinggi = 0,44 cm, dan Lebar = 0,17 cm. Selain itu, pada bagian cungkup, panjang dan lebarnya mengikuti ukuran fondasi makam, sedangkan dinding terbuat dari kayu reng, dan atap berbahan seng dengan ukuran tinggi cungkup = 3.10 m.

Wa Ode Bilahiadalah isteri Sultan Buton IV Dahkyanu Ikhsanuddin Mobulina Pauna (Lailangi) yang bertahta tahun 1597-1631.

 Makam La Iji

Lokasi makam berada ±50 m arah sebelah utara Raha Bulelenga. Secara geografis/ astronomis berada di titik koordinat S 04º 47’ 01,3” LS dan 123º 10’ 58,3” dengan ketinggian 50 m diatas permukaan laut.

Bentuk asli makam telah hilang, terkecuali nisan masih tampak keasliannya. Saat ini, makam dilindungi dengan bangunan tanpa dinding dengan atap berbahan seng yang ditopang 4 tiang kayu dengan model segi tiga sedangkan Panjang dan Lebar Cungkup 3.50 x 3,00 m. Nisan terbuat dari batu padas yang dihaluskan dan berbentuk pipih serta memiliki motif ukiran pada pada sisi-sisinya dengan ukuranTinggi = 0,67 cm, Tebal = 0,5 cm, dan Lebar = 0,25 cm. Panjang jirat = 2.20 dan Lebar = 1.70, Tebal = 16 cm. Bagian makam juga memiliki gunungan berukuran Tinggi = 59 cm, Tebal = 0,19 cm dan Tinggi cungkup = 2.40 m.

Berdasarkan penuturan masyarakat setempat, makam ini merupakan makam La Iji, seorang tokoh pejuang tradisional masyarakat Kulisusu, bahkan ada sumber lain menyebutkan bahwa tokoh ini adalah Lakino Kulisusu yang kedua. Selain itu, La Iji diketahui oleh masyarakat setempat adalah orang yang mempunyai keahlian dalam ilmu kebatinan. Makam La Iji merupakan makam tertua yang berada di dalam Kawasan Benteng/Keraton Lipu, dan hingga saat ini tidak ada yang mengetahui sejak kapan keberadaan makam tersebut.

 Makam Ima Ea (Imam besar)

Makam berada ± 100 m arah tenggara Makam Sangia Laihori. Makam memiliki cungkup berbentuk dasar persegi dengan ukuran 10 x 6 m yang disokong 8 tiang beton dan dilengkapi jeruji juga batu yang disusun layaknya struktur benteng sebagai pagarnya. Bentuk makam agak sedikit berbeda, karena hanya terdapat bongkahan batu karang yang dibentuk melingkar dan direkatkan dengan semen.Kisah turun temurun di masyarakat Kulisusu, Ima Ea dimakamkam dimasukkan ke dalam lubang berbentuk lingkaran, dan sebagai penanda makam dibuatlah nisan yang dibentuk melingkar mengikuti lingkaran makam. Ima Ea memiliki nama asli La Gama, beliau adalah penyiar Islam pada periode awal berdirinya Kerajaan Kulisusu dan imam besar pertama di keraton Kulisusu.

Model nisan pada makam ini berbentuk bulat yang terbelah menjadi dua bagian dengan ukuran Panjang = 0,49 cm, Tinggi = 0,48 cm, dan Tebal = 0,19 – 0,27 cm. Tinggi cungkup 4,08 m terdiri dari 8 tiang beton, dinding terbuat dari pagar besi dan tinggi dinding fondasi 0,70 – 0,76 cm, Tebal 0,68 cm yang terbuat dari batu koral dengan bahan perekat semen.

 Makam Gau Malanga

Makam terdiri atas satu buah nisan berukuran panjang = 0,29 cm dengan diameter = 17 cm, Tinggi cungkup = 3 m. Atap cungkup terbuat dari bahan seng berbentuk limas, sedangkan dinding terbuat dari bahan kayu yang menutupi setengah dari dindingnya.

Beliau adalah seorang penyiar Islam yang menggagas pembangunan benteng keraton Lipu agar aman dari serangan musuh utamanya dari suku Tobelo dan Belanda.

Kompleks Makam Sangia La Ihori

Makam berada didalam Benteng Lipu. Untuk menuju makam, dari Lawa Ea berjalan ±100 m ke timur lalu membelok ke kiri melewati setapak beton ± 50 m. Makam telah diberi cungkup dengan dinding beton berjeruji besi dan atap berbahan seng. Letak astronomis makam berada dititik 4º 47’ 01,2” LS dan 123º 10’ 47,7” dengan ketinggian 36 mdiatas permukaan laut.Makam Sangia La Ihori memiliki dua nisan berbahan batu padas yang dipangkas dan dihaluskan. Menurut keterangan Kasim (salah satu juru kunci benteng lipu), Makam ini mulai di pugar pada tahun 1997. Makam memiliki cungkup dengan tinggi = 5.50 m, terdiri dari 8 tiang beton, dan bentuk cungkupnya sama dengan makam Ima Ea.

Saat ini makam Sangia Laihori telah diberi penutup dan sekelilingnya telah dipagar. Tidak diketahui secara pasti berapa makam yang ada di dalamnya. Karena saat ini hanya tersisa satu buah bangunan makam yang masih terlihat utuh jirat dan nisannya, sedangkan makam lainnya hanya menyisakan satu buah papan jirat.Beberapa nisan sebagian besar tertimbun oleh tanah. Sangia La Ihori adalah seorang pejuang tradional pada masa pemerintahan La Ode-ode raja Kulisusu I.

MakamLa OdeOde dan Raja Jin

Makam berada di sisi utara Benteng Lipu ± 100 m dari Makam Gau Malanga. Letak astronomis makam berada di 04º 46’ 58,7” LS dan 123º 10’ 52,4” BT pada ketinggian 37 meter diatas permukaan laut.

Pada situs ini terdapat dua makam yang diidentifikasi sebagai Makam La Ode-Ode (Lakina Kulisusu I) dan Makam Raja Jin (Panglima Perang). Kedua makam ini berada dalam satu cungkup yang terletak di bagian Utara dalam benteng Lipu. Makam La Ode-Ode berbentuk persegi panjang dengan orientasi utara-selatan.Terdapat dua buah nisan berbentuk mahkota bunga teratai serta jirat yang sudah tidak dalam bentuk aslinya. Nisan pada makam dibuat dari batu padas yang dipangkas dan dihaluskan kemudian diukir dengan motif sulur daun. Pada nisan makam Laode Ode Tinggi = 79 cm, diameter = 19 cm sedangkan nisan bagian bawah berukuran Tinggi = 94 cm, diameter = 19 cm. Panjang jirat = 2.6 m, Lebar = 1.1 m, Tebal jirat = 35 cm, Tinggi = 60 cm. Sedangkan pada Makam kedua adalah Makam Raja Jin, dengan bentuk persegi dan orientasi utara-selatan. Adapun ukuran makam, antara lain; Tinggi nisan = 137 cm, Lebar = 26 cm, pada nisan bagian bawah Tinggi = 96 cm, Lebar = 25 cm, Tebal = 23 cm, dan Panjang jirat = 3,25 cm, Lebar = 1,85 cm. Cungkup terdiri dari 9 tiang kayu model atap limas berbahan seng, lebar cungkup = 4, 35 cm dengan dinding terbuat dari besi.

Kedua tokoh pada makam ini merupakan tokoh utama dalam awal berdirinya Kerajaan Kulisusu. La Ode-Ode adalah anak dari Sultan Buton ke 4, La Elangi yg digelari Sultan Dayanu dengan Wa Ode Bilahi, seorang bangsawan kulisusu. Setelah dewasa La Ode-Ode menjadi pemersatu dari tiga wilayah kecil di Kulisusu yang sebelumnya telah memiliki pemimpin masing-masing. Atas musyawarah ketiga pimpinan wilayah tersebut, La Ode-Ode kemudian dipilih menjadi Lakina Kulisusu yang membawahi tiga wilayah yang telah ada dan menjadi kerajaan otonom dari Kesultanan Buton.

Kompleks Makam Bunga Eja

Kompleks makam ini berada ± 65 m arah sebelah timur baruga. Kondisi terkini pada situs ini cukup memprihatinkan karena telah menjadi lokasi pembuangan sampah. Banyak potongan jirat dan nisan terserak dikomplek makam. Berdasarkan data di Dinas Pemuda, Olahraga, Budaya dan Pariwisata, dulunya di kompleksini memiliki jirat makam dengan ukuran 8 m x 8,20 m, namun saat pendataan lapangan, jirat dimaksud sudah tidak nampak. Kompleks makam saat ini telah berbaur dengan beberapa makam baru.Keletakan astronomis pada situs ini berada pada 4º 47’ 03,7” LS dan 123º 10’ 51,7” BT di ketinggian 32 m diatas permukaan laut. Terdapat 10 makam kuno di komplek ini, dua diantaranya yang teridentifikasi adalah makam Waopu Bunga Eja dan Waopu Baluara yang masing-masing pernah menjadi Lakino Kulisusu.

Makam ini merupakan nama tokoh wanita yang pernah menjabat sebagai Lakino Kulisusu bergelar Wa Opu Bunga Eja.

Sumur Ee Bula

Secara astronomi Sumur Ee Bula berada pada titik kordinat 04° 45’ 04.4” LS – 123° 10’ 41.0” BT dan loksinya tepat berada di sisi luar Lawa EE Bula. Sumur ini merupakan salah satu sumber mata air yang sejak awal pembuatannya hingga kini masih dimanfaatkan oleh masyarakat setempat terutama yang bertempat tinggal dalam Benteng Lipu. Lokasi sumur berada pada sisi luar benteng bagian Barat dan tepat berada di sisi jalan yang searah menuju pintu gerbang Lawa dan Sumur ini berdekatan dengan Kantor Kecamatan Kulisusu Desa Wasalabose pada bagian Selatannya.
Ukuran kedalaman sumur mencapai 19.09 dinding tembok disesuaikan dengan lubang sumur yang berbentuk persegi empat berukuran = 3.80 x 3.80 m dengan ukuran ketebalan dinding bibir sumur = 34 cm. Pada bagian lain, tepat di atas bibir sumur terdapat balok-balok kayu yang dipasang sejajar mengikuti bentuk sumur yang berfungsi sebagai pengganti katrol untuk mempermudah saat menaikan timba air ke atas permukaan. Hal ini dapat terlihat pada balok kayu yang telah aus terkikis oleh gesakan-gesekan tali penimba. Selain itu terdapat 22 lubang pada lantai mengelilingi bentuk persegi empat bibir tembok sumur. Pada masa lalu lubang-lubangini difungsikan sebagai tempat penyimpan bhosu (wadah penyimpan air) yang kemudian diletakan diatasnya.

Makam Tasau Ea

Terletak di Jalan Tasau ‘Ea Kelurahan Bangkudu, Kecamatan Kulisusu, Kabupaten Buton Utara. Dari pertigaan jalan menuju Kantor Pos Buton Utara berjarak ± 50 m. Lokasi makam berada persis di pinggir jalan berjarak kurang lebih 100 meter dari Kantor Pos Buton Utara,

pada koordinat 04o 46’ 24,1” LS dan 123o 10’ 40,5” BT pada ketinggian 24 meter di ataspermukaan laut (Hasil pembacaan GPS merk Magellan Explorist 610). Makam TasauEa

Saat ini telah diberi pagar keliling dan diberi atap.Makam ini berbentuk persegi panjang berorientasi utara selatan, terdapat pula jirat pada makam namun bahannya bukan asli lagi dengan ukuran panjang = 3,12 m dan lebar = 3,27 m.Makam memiliki dua buah nisan berbentuk gada dengan tinggi = 59 cm. Bahan yang digunakan pada nisan adalah batu padas yang dihaluskan dan pada nisan sisi luar berelief.

Masyarakat setempat meyakini bahwa Tasau ‘Ea adalah seorang tokoh Islam yang terkenal dengan keilmuan di bidang tasawuf. Beliau merupakan putra dari Lakino Kulisusu I, dan karena pengetahuannya yang mendalam tentang Islam maka kemudian diangkat menjadi mancuana,pemimpin spiritualdan menjadi cikal bakal Mancuna Ramba Ereke. Setahun sekali dimakam ini akan digelar ritual haroa yang dilaksanakan oleh para pemuka adat bersama masyarakat setempat dan malam harinya dilanjutkan dengan pertunjukan tari lense.

Situs Benteng Bangkudu

Benteng Bangkudu berada pada titik koordinat 04° 45’ 10.9” LS – 123° 10’ 41.6” BT dengan ketinggian 71 m diatas permukaan laut. Situs ini terletak di sisi jalan poros pertigaan yang menghubungkan antara jalan menuju Kota Ereke, Pelabuhan dan Bau-Bau. Untuk mencapai situs ini terlebih dalulu melewati jalan setapak dengan menaiki bukit hingga kemiringan mencapai 45 – 50° sejauh ± 300 m.Benteng berada di perbukitan dengan vegetasi belukar, beringin, pohon mete, pohon kelapa dan beragam tanaman perdu.

Secara administratif situs masuk dalam wilayah Kampung Eelahaji desa Kalibu kecamatan Kulisusu kabupaten Buton Utara. Benteng Bangkudu tidak memiliki pola dasar benteng yang simetris, dikarenakan struktur dinding benteng dibuat mengikuti kontur permukaan bukit.Berdasarkan hasil tracking menggunakan GPS, Benteng Bangkudu terbagi atas tiga petak yakni; Petak Bale Banawa pada sisi barat, Petak Poniki pada bagian tengah, dan Petak Cina Laguna disisi timur. Luas benteng Bangkudu mencapai 5.24 ha dengan panjang struktur benteng mencapai 2188 m dan ketebalan dinding mencapai 1 sampai 3 m dengan tinggi    30 cm sampai 2 m, pada beberapa bagian sisi dalamnya berundak membentuk jalan setapak menyerupai jalan patroli. Pintu masuk benteng berjumlah lima buah dan berukuran kecil. Pada beberapa sisi dinding benteng terdapat pola dinding seperti bastion. Dinding sisi timur dan dan sisi utara Petak Cina Laguna telah dipugar oleh Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara, hal ini nampak pada susunan batunya lebih rapi dengan menggunakan bahan perekat semen.

Bukit Bangkudu diyakini sebagai wilayah awal bermukimnya masyarakat Kulisusu, dan kemudian menyebar kedaerah sekitar sehingga lokasi ini kemudian menjadi tak berpenghuni.Dalam perkembangan Kerajaan Kulisusu, ketika Suku Tobelo menyerang dan berhasil menduduki Benteng Lipu, seluruh masyarakat benteng kemudian mengungsi di Bangkudu dan kemudian kembali bermukim dengan membangun benteng yang lebih besar.

Terdapat pula tinggalan arkeologis lain didalam Benteng Bangkudu yang meliputi; makam kuno, meriam, gong, fragmen keramik, serta beberapa antara lain; kamali, baruga, bale banawa yang berkaitan erat dengan eksistensi Benteng Bangkudu sebagai benteng kuno.

Makam Murhum (La Ode Guntu)

Makam berada pada Petak Poniki dipermukaan bukit batu karang berada pada ketinggian ± 3 m. Letak astronomis 04º 45’ 16,9” LS dan 123º 10’ 35,9” BT dengan ketinggian 77 m diataspermukaan laut. Bentuk makam tidak memiliki kelengkapan seperti pada makam pada umumnya,hanya memperlihatkan bentuk kubangan cekung dengan ukuran diameter 1.065 m. Mengenai ketokohan yang dimakamkan belum dapat diidentifikasi dengan jelas karena banyak versi yang berbeda-beda.

Makam Mongkolengko Sangia

Makam ini terletak pula di Petak Poniki pada titik 4º 45’ 15,8” LS dan 123º 10’ 36,8” BT di ketinggian 82 m dpl. Pola makam berbentuk persegi dan memiliki jirat dari batu karang yg ditumpuk dengan panjang = 4.00 m, lebar 2,04 m, dengan tebal jirat =0.60 cm,tinggi jirat = 40 cm. Tidak terdapat nisan pada makam dan makamnya sendiri berukuran panjang = 2,6 m, lebar = 1 m. Posisi makam agak melenceng dari orientasi utara selatan. Dikisahkan oleh masyarakat setempat bahwa yang dimakamkan disini adalah seorang pemuka agama Islam (Lakino Agama).

Makam Anakhoda Wahabu

Lokasi makam ± 40 m disebelah utara Kamali Ngko-ngko, pada titik koordinat 4º 45’ 16,5” LS dan 123º 10’ 33,9” BT di ketinggian 88 m diatas permukaan laut. Bentuk makam tidakseperti makam pada umumnya tidak memiliki jirat dan nisan, hanya berupa tumpukan batu karst dengan pola melingkar dengan ukuran panjang 1m x 72 cm.

Anakhoda Wahabu adalah saudara Cina Laguna yang merintis pembangunan benteng bangkudu yang memiliki keahlian dalam bidang ilmu pelayaran.

Makam Cina Laguna

Makam Cina Laguna berada pada titik kordinat 04° 45’ 16.8” LS – 123° 10’ 33.7” BT dengan ketinggian 67 m diatas permukaan laut.Makam ini mempunyai nisan kepala dan nisan kaki. Nisan kepala berukuran besar yang menampakkan bentuk sebuah batu gunung. Makam ini tidak berjirat, namun telah dibuatkan cungkup oleh masyarakat. Cina Laguna adalah seorang Mancuana dari Ramba Kalibu dan beliaulah yang memprakarsai pembangunan benteng Bangkudu bersama Poniki dan Anakhoda Wahabupetak sebelah Timur. Ukuran Cungkup adalah panjang = 2,63 meter dan lebar = 1,70 meter.

Fragmen Keramik

Pada beberapa bagian ditemukan fragmen keramik dalam jumlah yang tidak terlalu banyak. Salah satu fragmen yang ditemukan berbahan porselin dengan warna dasar putih dan berglasir biru. Motif hias berupa garis berwarna biru gelap sepanjang tepian dan garis yang meliuk kaku dan terdapat garis lingkaran di bagian tengah keramik.

Meriam

Meriam ini ditemukan di depan pintu gerbang sisi utara yang moncongnya menghadap ke pintu. Bentuknya dari ujung pangkal hingga moncong semakin mengecil. Meriam yang panjangnya mencapai 2 meter ini terbuat dari besi dan merupakan tipologi meriam yang telah dikenal secara luas penggunaannya di wilayah Indonesia sejak abad XVII.

Gong

Gong ini tersimp an di kolong rumah warga yang bermukim di terbuat dari perunggu. Menurut penuturan pemilik rumah dimana gong tersebut berada, gong ini hanya dipergunakan pada pesta adatyang dilaksanakan di dalam kawasan benteng.

Kamali Ngko-Ngko

Kamali/bangunan Ngko-Ngko berada pada titik astronomi 04° 47’ 04.4” LS – 123° 10’ 41.0” BT dengan ketinggian mencapai 31 m diatas permukaan laut.Kamali/bangunan ini berupa rumah panggung yang berukuran kecil, awalnya rumah ini didiami oleh Laki Poniki, yaitu pendiri benteng petak bagian tengah. Di dalam kamali/bangunan terdapat sebuah kelambu yang berisi pedupaan untuk bahan sesajen. Ukuran kamali/bangunan yakni; panjang = 3,38 meter dan lebar = 2,46 meter. Di bawah kolong kamali/bangunan ini tersimpan 5 (lima) buah kulit (cangkang) keong jenis Tripton, oleh masyarakat setempat menyebutnya Ngko-Ngko. Ngko-Ngkoini apabila ditiup akan mengeluarkan suara (bunyi). Menurut informasi dari masyarakat yang tinggal di Benteng Bangkudu bahwa Kamali/bangunan ini merupakan tempat pengintaian musuh yang datangnya dari arah laut, apabila musuh datang maka penjaga akan memberi aba-aba dengan meniup Ngko-Ngkotersebut. Pada perkembangan selanjutnya, kamali/bangunan ini digunakan oleh Mancuana dalam beramal meminta berkah untuk keselamatan masyarakatnya.

Bale Banawa

Bangunan ini berupa rumah panggung yang berukuran kecil. Fungsinya adalah sebagai pos penjagaan dan pengintaian karena ditempatkan di dekat pintu masuk menghadap ke teluk Kulisusu. Ukuran bangunan yakni: 2,57 meter dan lebar 2,10 meter.

Situs Benteng Lipu Koro

Benteng Lipu Koro masuk dalam wilayah administrasi Kelurahan Bone Lipu Kecamatan Kulisusu dan berada pada titik kordinat 04°50’43.4” LS – 123° 11’35.5” BT pada ketinggian 58 diatas permukaan laut. Untuk mencapai lokasi Benteng Lipu koro, dari jalan aspal yang dekat dengan pemukiman penduduk terlebih dahulu harus melewati jalan setapak dengan jarak lokasi ± 500 m dengan luas 58,014 meter.Benteng Lipu Koro berbatasan dengan kebun masyarakat di sisi barat, semak belukar di sisi selatan dan timur sedangkan sisi utara berbatasan dengan setapak dan kebun masyarakat. Benteng berada di perbukitan landai di tengah-tengah kebun masyarakat. Secara umum lingkungan vegetasi terdiri atas tanaman perkebunan jambu mete, ubi kayu, pohon kapuk, pohon kelapa, dan sisanya adalah jenis tumbuhan semak, dan hampir keseluruhan bagian permukaan tanah dalam benteng terdapat cangkang-cangkang kerang (dalam bahasa lokalnya Kulisusu).

Panjang keseluruhan benteng lipu tidak dapat diidentifikasi lagi. Hal ini dikarenakan aktifitas perkebunan masyarakat membuat petak-petak lahan dengan bentuk menyerupai susunan-susunan benteng dengan menggunakan bahan atau batu yang sama. Kecuali pada sisi benteng bagian pintu masuk masih memperlihatkan ciri keaslian dan dapat mudah diitentifikasi. Bagian ini berukuran lebar pintu masuk 50 cm, tinggi 80 cm dan tebal dinding 1.20 m.Pintu masuk benteng mengarah ke barat, menghadap ke Teluk Goram. Kondisi benteng sangat tidak terawat karena hampir seluruh dinding benteng telah ditumbuhi semak belukar. Hanya bagian pintu masuk benteng saja yang masih menunjukkan struktur benteng.Disisi selatan Benteng Lipu Koro, ketebalan dan ketinggian struktur dinding sangat tipis dengan tebal 30 cm dan tinggi 80 cm, sehingga sulit membedakannya dengan pagar kebun. Struktur benteng berbahan batu karang, dan dalam pembuatannya bahan disusun dari bawah keatas tanpa menggunakan perekat. Berdasarkan penuturan La Odu, tokoh masyarakat setempat, benteng ini mempunyai 4 pintu masuk yang disebut lawa(gerbang) yakni Lawana Bolongita, Lawana Kasasi, Kawa Ngapa yi Pande, Lawa yi Koro. Rimbunnya belukar pada benteng membuat akses pada tiga pintu masuk lainnya menjadi sangat sulit.

Didalam Benteng Koro, selain adanya struktur dinding benteng, temuan-temuan lepas (Tembikar), terdapat pula makam kuno,yakni:

Kompleks Makam Dhonggoro (Lakino Koro)

Kompleks Makam terletak ditengah-tengah Benteng Koroberada pada titik kordinat 04°50’42,0” LS – 123°11’46.5” BT, dengan ketinggian 60 m diatas permukaan laut. Pada kompleks makam terdapat 12 buah nisan yang terbuat dari batu padas dengan berbagai ukuran,dengan orientasi makam Timur – Barat yang berukuran 5,9 m x    5,6 m. Dulunya makam ini memiliki pagar dari susunan batu gunung, namun hal itu sudah tidak nampak lagi dikarenakan pemugaran oleh masyarakatsetempat dan tidak berkoordinasi terlebih dahulu dengan instansi terkait sehingga mengakibatkan nilai arkeologinya tidak nampak lagi.Saat ini, pagar pada komplek makam telah diganti dengan beton dan diberi tegel putih serta telah diberi cungkup dari bahan asbes.

Tabel 2. Kompleks Makam Dhonggoro (Lakino Koro)

No Nisan Ukuran CM Tipe Nisan Keterangan
Tinggi DiameterAtas/bawah
1 40 14 Batu Stalaktit
2 26 10/16
3 20 8/10
4 7 15 posisi nisan miring
5 19 10
6 11 8
7 15 8
8 5 12 nisan patah pada bagian ujung
9 7 8
10 16 10 posisi nisan miring
11 20 4/5 posisi nisan miring
12 5 5

Berdasarkan penuturan informan setempat salah salah satu nisan dalam kompleks ini adalah makam pendiri benteng yakni Donggoro yang merupakan Lakina Koro dan enam wanita hamil yang memangku beliau saat menghembuskan nafas terakhir.

Setiap tahun, sebelum musim tanam dan setelah panen, tetua kampung akan bertirakat ditempat ini memohon kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, meminta keselamatan dan kesejahteraan bagi seluruh warga kampung. Nisan pada makam berbahan stalagtit dengan ukuran terbesar;Tinggi = 45 cm, Diameter = 15 cm dan terkecil berukuran Tinggi = 5 cm, Diameter = 5 cm.

Makam Wa Ngkolo

Makam ini masih berada didalam Benteng Koro pada posisi astronomis 4º 50’ 44,0” LS dan 123º 11’ 37,8” BT di ketinggian 58 m dpl. Lokasinya berjarak ±100 m arah sebelah barat dari makam 12 nisan dan disekeliling makam ditumbuhi semak belukar. Bentuk makam sekarang sudah tidak asli lagi berdasarkan penuturan La Odu, Juru Pelihara Benteng karena makam pernah digali oleh orang-orang yang meyakini terdapat harta karun didalamnya. Berdasarkan pengamatan, makam berupa tumpukan batu karst dalam pola melingkar dengan diameter 5 m dan ketebalan diameter tumpukan batu 80 cm – 110 cm.

Wa Ngkolo oleh masyarakat setempatdikisahkan sebagai wanita yang lumpuh namun memiliki kesaktian sehingga dapat menaklukan jin dan menjadikannya sebagai suami. Makam ini dianggap keramat, sehingga sampai sekarang kerap dikunjungi oleh orang-orang yang mempunyai hajat tertentu untuk berziarah.

Makam Jin

Lokasi situs terletak berdampingan dengan makam Wa Ngkolo yang kemungkinan dikarenakan merupakan suami dari Wa Ngkolo.Makam berupa tumpukan batu karst dengan orientasi memanjang timur ke barat serta ukuran yang tidak lazim dengan panjang 8 m dan lebar 3,9 m.

Seperti Makam Wa Ngkolo, makam inipun dikeramatk an dan kerap dikunjungi masyarakat untuk berziarah.Letak astronomis situs ini berada pada 4º 50’ 44,0” LS dan 123º 11’ 37,8” BT di 58 m diatas permukaan laut.

Batu Sangia

Objek berada dipinggir setapak menuju makam kuno atau ± 30 m dari situs Makam Jin.Objek ini merupakan batu karang berbentuk budar dengan permukaan agak rata pada bagian atas. Batu sangia berukuran tinggi 1,8 m dan diameter 3 m.Oleh masyarakat setempat, objek ini dikeramatkan dan dijadikan sebagai tempat menyimpan sesajen ketika awal musim tanam dan saat pesta panen digelar. Objek ini berada pada letak astronomis 4º 50‘ 43,7” LS dan 123º 11’ 36,7” BT diketinggian 62 m diatas permukaan laut.

Benteng Mata Oleo

Benteng Mata Oleo terletak di Desa Wasalabose, lokasi dapat dijangkau dengan kendaraan roda dua ataupun roda empat dengan berkendara ± 1km ke arah timurBenteng Lipu, sampai dipertigaan kompleks olahraga belok kearah kiri ± 150 m. Perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki ke arah timur sejauh ± 50 m dengan melewati kebun mete masyarakat. Benteng Mata Oleo berbatasan dengan jalan/kebun mete disebelah barat, sebelah utara kebun penduduk, sebelah barat dan selatan belukar. Vegetasi yang tumbuh didalam benteng antara lain pohon mete, pohon mangga, pohon biti, pohon pisang dan belukar. Benteng berada di titik 04º 47’ 07,8” LS dan 123º 11’ 17,9” BTpada ketinggian 58 m diatas permukaan laut.

Benteng dibangun dikontur tanah yang cukup rata.Struktur dinding benteng dibuat dari batu karst yang disusun tanpa perekat dengan ketebalan struktur dinding antara 20 cm – 70 cm dan tinggi 110 cm. Panjang struktur dinding benteng 485 m dengan dua lawa yang masing-

masing menghadap kearah timur dan barat. Tidak ditemukan bastion pada struktur dinding benteng. Kondisi terkini benteng tidak terawat, sekelililing dinding benteng dipenuhi belukar. Begitupun didalam benteng, dipenuhi belukar dan pohon mete masyarakat. Bagian cukup bersih terdapat ditengah benteng dimana terdapat sumur tua yang sesekali masih digunakan oleh masyarakat sekitar.Dulunya, benteng ini menjadi pemukiman masyarakat, namun pada tahun 1950 berangsur-angsur ditinggalkan karena kekhawatiran pada ancaman gerombolan DI/TII pimpinan Kahar Muzakar. Benteng Mata Oleo dibangun mengelilingi perkampungan masyarakat kala itu oleh Sangia Nciy dengan tujuan mendukung keberadaan Benteng Lipu umtuk menahan serangan musuh dari arah timur.

Sumur Tua Mata Oleo

Objek ini terdapat didalam Benteng Mata Oleo, pada titik koordinat 04 º47’07,8” LS dan 123º11’17,9” BT di ketinggian 58 m diatas permukaan laut. Menurut Kasim, informan setempat mengemukakan bahwa sumur tua ini telah ada sebelum Benteng Mata Oleo dibangun.Lebih lanjut beliau menyampaikan sumur tua ini digali oleh laki-laki sakti yang merupakan suami Wa Bula, yang bernama LaOde Tongka Alamu.Pengukuran pada objek, sumur tua ini memiliki ukuran pondasi 390 cm x 380 m, tebal pondasi 75 cm, dan kedalaman sumur 27 m.Dinding sumur nampak telah ditumbuhi tanaman rambat dan benalu. Oleh masyarakat, pondasi sumur ditinggikan dengan 5 balo k kayu yang disusun secara horizontal untuk memudahkan ketika mengambil air dari sumur.Saat ini, sumur ini hanya sesekali digunakan oleh masyarakat yang berkebun disekitar lokasi Benteng Mata Oleo.

Benteng Pangilia

Benteng Pangilia terletak di arah tenggara Benteng Lipu, dan secara adminstratif berada di Kampung Lakonea, Desa Wasalabose, Kecamatan Kulisusu, Kabupaten Buton Utara. Untuk menjangkau lokasi, dapat menggunakan kendaraan roda dua/roda empat sejauh 500 meter kearah timur melintasi komplek perkantoran Sara Ea, pada batas jalan beraspal lalu belok kanan melintasi jalan pengerasan ± 1 km, kemudian belok kiri dan berjalan melintasi kebun masyarakat ± 1,5 km. Saat ini jalan pengerasan telah dibuka oleh Pemerintah Daerah setempat hingga mencapai dasar lereng menuju benteng.

Benteng Pangilia berada jauh di sebelah Timur Benteng Mata Oleo, dengan titik koordinat 04° 47’30.1” LS – 123° 12’08.1” BT dan ketinggian 90 m di atas permukaan laut, adapun arah hadap pintu benteng mengarah ke sisi barat daya. Akses jalan aspal untuk menuju ke Benteng Pangilia terbilang bagus, dan untuk mencapai lokasi ini harus meneruskan perjalanan dengan melewati jalan setapak sejauh ±1 km. Kemiringan benteng pada sisi sebelah Utara dan Timur mencapai 75-80 derajat dan langsung berbatasan dengan hutan dan laut. Dilihat dari bentuk dan teknologinya, struktur benteng terbilang masih asli tersusun dengan batu karang tanpa bahan perekat dengan ketinggian benteng disesuaikan dengan kondisi kontur tanah. Ketebalan benteng berfariasi antara 1sampau 3 m dengan ketinggian mencapai 2 sampai 4 m. panjang struktur benteng mencapai 686 m, Luas 1974 hm dan untuk menelisuri dinding-dinding benteng cukup sulit, karena hampir sebagian dari wilayahnya ditumbuhi semak serta pohon-pohon besar yang tumbuh dengan kerapatan 1 hingga 2 m.

Jika   dilihat   pada   sisi   sebelah Timur   dan sebelah   Barat, struktur   benteng   banyak mengalami kerusakan. Beberapa bagian runtuh yang disebabkan oleh akar dan pohon-pohon besa serta beberapa dinding lainnya runtuh akibat kemiringan tanah yang terjal dimana tepat ditepianya sebagai tempat berdirinya struktur benteng. Selain itu pada dinding benteng bagian Selatan terdapat struktur benteng yang terputus yang mencapai ukuran 10m dan tidak jau setelahnya terdapat jurang membentuk cerukan fertikal yang memotong bagian pada struktur benteng hingga mencapai ukuran 4 m.

Benteng Tomoahi

Benteng Tomoahi berada pada titik kordinat 04° 42’ 16.7” LS – 123° 11’41.7” BT dengan ketinggian 72 m di atas permukaan laut dengan luas ± 10.267 meter.Lokasi ini dapat diakses melewati jalan pengerasan yang berjarak ± 1,200 m dari jalan poros yang menghubungkan pelabuhan dan kota Ereke dengan menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat. Kondisi jalan masuk berbatu serta menanjak dengan kemiringan yang berbeda-beda, kemudian dilanjutkan dengan berjalan kaki sepanjang ± 200 m, dengan vegetasi lingkungan yang dapat dijumpai sepanjang perjalanan menuju Benteng Tomoahi adalah tanaman perkebunan kelapa yang memang lokasinya berada dalam area perkebunan.Untuk sampai pada pintu atau lawa, terlebih dahulu harus mendaki bukit dengan kemiringan 45°- 50°.

Lingkungan vegetasi pada umumnya dipenuhi dengan semak belukar, pohon-pohon besar berdiameter 1 hingga mencapai 2 m dan beberapa diantaranya telah tumbang secara alami dan akibat dari aktifitas penebangan yang dilakukan oleh masyarakat. Menurut informasi juru kunci Benteng Tomoahi bahwa benteng ini terdiri dari 3 (tiga) terap, namun yang berhasil diinventarisir hanya pada terap 3 (tiga). Dengan demikian, 2 (dua) terap lainnya belum diinventarisir karena cuaca tidak mengizinkan pada saat tim turun ke lapangan. Selain itu ditemukan pula fragmen keramik asing.

Orientasi lawa atau pintu masuk timur laut. Pada struktur dinding benteng sebelah Utara berukuran tebal 35 – 65 cm, ketinggian dari sisi luar 110 cm dan dari sisi dalam 30 – 40 cm. Pada struktur benteng sebelah baratnya berukuran tebal 150 cm dengan ketinggian 60 – 110 cm. secara umum kondisi struktur benteng Tomoahi masih memperlihatkan bentuknya yang asli sebagai ciri benteng-benteng lokal pada umumnya. Pada struktur benteng pada bagian barat juga terdapat sebuah lawa atau pintu dengan ketebalan dinding mencapai 290 cm. pada bagian sebelah timur benteng tomoahi berbatasan dengan kampung Ulumambo.

Benteng didirikan pada masa pemerintahan La Ode Tomba Mohalo (Lakino Tomoahi I) oleh oleh Wapatola diatas sebuah bukit dengan tujuan agar dapat memandang arah laut antara Timur dan Utara. Menurut informan (wawancara; tanggal 11 Mei 2014), bahwa Benteng Tomoahi terdapat 3 (tiga) pintu (Lawa), yaitu; Lawa Opa-Opa, Lawa Kadudia saat ini masuk daerah Tabuncini yang mengarah ke permandian, dan Lawa Empayasa.

Makam Kodhangku

Makam berada di Desa Wasalabosearah sebelah timur Benteng Lipu. Untuk menjangkau lokasi makam dapat menggunakan kendaraan roda dua dan roda empat. Dari Lawa yi Lemo Benteng Lipu berkendara ± 200 m menuju kompleks olahraga, lalu belok kiri ± 75 m menuju kompleks perkantoran Bumi Sara Ea. Perjalanan kemudian dilanjutkan dengan berjalan melintasi belukar ± 30 m ke arah barat. Saat kegiatan pendataan, keberadaan lokasi makam dipenuhi dengan belukar yang sangat rapat.Vegetasi disekitar makam meliputi jati putih, dan tanaman perdu, kecuali sebelah timur berbatasan dengan jalan.

Makam memiliki pagar berbentuk persegi yang terbuat dari susunan batu karst dengan panjang 11,50 m, tebal 90 cm, dan tinggi 65 cm.Ukuran panjang tidak lazim dijumpai pada makam ini yakni 570 cm dan lebar 140 cm. Terdapat satu nisan pada makam berbahan stalaktit dengan tinggi 32 cm dan diameter 12 cm serta jirat dari batu karang dengan tinggi berkisar 20cm – 30 cm dan tebal 30 cm.Letak astronomis makam berada di titik 4º 47’ 13,7” LS dan 123º 10’ 56,3” BT pada ketinggian 43 m diatas permukaan laut dengan orientasi membujur utara selatan.Kisah turun temurun masyarakat Kulisusu menuturkan bahwa Kodhangku merupakan salah satu tokoh yang disegani di Kerajaan Kulisusu. Bersama Buraku, keduanya memprakarsai dibangunnya Benteng Lipu di masa Lakina Kulisusu I, La Ode-Ode. Namun dalam proses pembangunan benteng, beliau kemudian berselisih pendapat dengan Buraku karena dalam pembangunan Benteng Lipu tidak berpatokan dengan rancangan beliau yang menginginkan wilayah benteng meliputi seluruh pancaran Kulisusu (air Lokan) sewaktu ditemukan oleh Sangia Doule. Setelah wafat, beliau kemudian dimakamkan di luar benteng atas permintaan sendiri.

Kesimpulan

  1. Kegiatan pendataan kepurbakalaan yang dilaksanakan selama 11 hari (4 hari perjalanan (PP) dan 7 hari di lapangan) di Kabupaten Buton Utara, berhasil mendata 9 (sembilan) obyek yang diduga cagar budaya, antara lain; 3(tiga) obyek situs yang diduga cagar budaya, yakni; Situs Benteng Lipu (Benteng Lipu, Masjid Agung Keraton Kulisusu, Kulisusu (Kulit Kerang), Baruga, Raha Bulelenga (Tiang Pegangan), Makam Wa Ode Bilahi, Makam La Iji, Makam Ima Ea (Imam besar), Makam Gau Malanga, Kompleks Makam Sangia La Ihori, Makam La Ode-Ode dan Raja Jin, Kompleks Makam Bunga Eja, Sumur Ee Bula), Situs Benteng Bangkudu (Benteng Bangkudu, Makam Murhum (La Ode Guntu), Makam Mongkolengko Sangia, Makam Anakhoda Wahabu, Makam Cina Laguna, Kamali Ngkongko) dan Situs Benteng Lipu Koro (Benteng Lipu Koro, Kompleks Makam Dhonggoro (Lakino Koro), Makam Wa Ngkolo, Makam Jin, Batu Sangia), dan 6 (enam) buah struktur yang diduga cagar budaya, yakni; Benteng Pangilia, Makam Kodhangku, Benteng Tomoahi, Sumur Tua Mata Oleo, Benteng Mata Oleo, Makam Tasau Ea.
  2. Dari 9 obyek yang didata satu diantaranya telah memiliki SK Penetapan Cagar Budaya Nomor : KM.8/PW.007/MKP-03, tanggal 4 Maret 2003 oleh Menteri Kebudayaan dan Pariwisata I Gede Ardika, berdasarkan Undang-Undang No. 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya.
  3. Maraknya pemugaran yang dilaksanakan oleh Pemda di daerah ini tanpa memperhatikan aspek-aspek pelestarian yang dapat menghilangkan nilai arkeologi dari obyek yang diduga cagar budaya tersebut, dapat dijumpai hampir di semua obyek yang didata.
  4. Pada umumnya obyek yang didata kurang terpelihara, hal ini dapat menyebabkan obyek tersebut hilang/rusak mengingat obyek tersebut tertutup oleh semak belukar.

 Saran/Rekomendasi

  1. Perlunya sesegera mungkin diberi sarana penunjang berupa; papan nama lokasi, papan petunjuk dan papan larangan di lokasi yang telah didata untuk menghindari pemanfaatan dan pengembangan yang tidak sesuai dengan aspek-aspek pelestarian Cagar Budaya.
  2. Obyek yang telah memiliki SK Penetapan tersebut adalah Benteng Bangkudu. Dengan demikian hendaknya menjadi perhatian Pemda setempat untuk pelestarian, pengembangan dan pemanfaatan, mengingat benteng ini sudah dipugar pada dinding sebelah barat dari petak poniki. Selain itu, hendaknya Benteng Bangkudu diusulkan kembali berdasarkan UU No. 11 Tahun 2010.
  3. Kegiatan pengembangan dan pemanfaatan yang ingin dilaksanakan sebaiknya dikoordinasikan dengan Dinas terkait dan UPT Pusat yang menangani pelestarian dalam hal ini Balai Pelestarian Cagar Budaya Makassar, sehingga obyek tersebut dapat ditangani sesuai dengan aspek-aspek pelestarian.
  4. Sesegera mungkin memasang papan petunjuk sehingga dapat memudahkan pengunjung lainnya yang hendak ke obyek tersebut.
  5. Sebaiknya ditempatkan Polsus Cagar Budaya pada obyek-obyek tersebut, khususnya pada Benteng Bangkudu yang telah memiliki SK Penetapan. (IK)