Rumah Tradisional Bubungan Tinggi

0
12581

110Rumah Adat Banjar awalnya bernama Rumah Bubungan Tinggi, dinamakan demikian karena bagian atapnya berbentuk atap pelana demikian tingginya dan lancip ke atas dengan membentuk sudut sekitar 45 º. Rumah adat Banjar pada mulanya hanyalah dibangun dengan kontruksi yang berbentuk segi empat yang memanjang ke depan. Perkembangan selanjutnya, pada samping kiri dan kanan bangunan agak ke belakang disumbi ditambah dengan sebuah ruangan yang panjang dan lebarnya berukuran sama. Bangunan tambahan yang menenpel  di samping kiri dan kanan dalam istikah Banjar dimanakan Pisang Sasikat “pisang sesisir” dan menganjur keluar. Bangunan tambahan di kiri kanan ini disebut dengan ‘’anjung’’ . Oleh karena itu, rumah adat banjar juga disebut dengan rumah Baanjung.

Rumah Adat Banjar Bubungan Tinggi dan Rumah Adat Banjar Gajah Baliku adalah rumah Baanjung yang terletak dalam satu area. Lokasi bangunan berada di sisi sebelah barat Sungai Martapura. Secara administratif bangunan ini berlokasi di jalan Martapura Lama, Desa Teluk Selong Ulu, Kecamatan Martapura Barat, Kabupaten Banjar Provinsi Kalimantan Selatan.

Sejarah Rumah Tradisional Bubungan Tinggi

Pada masa Kerajaan Banjar, Rumah Bubungan diperuntukan untuk bangsawan pada masa kesultanan, tetapi dapat dibangun juga oleh golongan pedagang yang kaya, hal ini terjadi setelah kerajaan Banjar jatuh pada 1860. Rumah Bubungan Tinggi diperkirakan dibangun pada tahun 1867 M, oleh H. Muhammad Arif. Beliau dikenal sebagai saudagar yang kaya raya pada masanya. Pada masa perjuangan merebut kemerdekaan, rumah bubungan tinggi ini dipergunakan oleh pada pejuang kemerdekaan atau TKR sebagai markas dan tempat latihan. Tidak lama setelah sama perjuangan berakhir, Rumah Bubungan Tinggi ini mulai ditinggalkan penghuninya.

112

Deskripsi Bangunan

Rumah Tradisional Bubungan Tinggi memiliki luas denah panjang 35,49 meter dan lebar 14 meter. secara morfologi Bangunan terdiri dari tiga bagian yaitu bagian kaki, bagian badan, dan bagian atap. Bagian kaki merupakan tiang utama penyokong struktur bangunan terdiri dari tiang utama dan tiang penyangga. Sedangkan bagian badan terdiri dari beberapa ruang. Ruang yang ada di bagian bubungan tinggi secara umum dapat dikelompokan atas 4 (empat) kelompok ruang (Seman, 1982). Berurutan dari posisi depan adalah :

  1. Kelompok ruang pelataran

Kelompok ruang pelataran memiliki 3 ruang yaitu pelataran muka (surambi muka), pelataran tengah (surambi sambutan) dan pelataran dalam (lapangan pamedangan)(Muchammad dan Mentayani, 2007).

  1. Kelompok ruang tamu

Kelompok ruang tamu yang bersifat publik atau semi publik terbagi atas 4 ruang yaitu ruang antara (pacira), ruang tamu (panampik kecil), ruang tamu tengah (panampak tengah), dan ruang tamu utama (panampik besar) (Muchammad dan Mentayani, 2007).

  1. Kelompok ruang tinggal

Kelompok ruang tinggal atau hunian yang merupakan area yang sangat privat terbagi atas 3 ruang, yaitu ruang keluarga (paledangan), ruang tidur orang tua (anjung dan anjung jurai) serta ruang tidur untuk anak (karawat dan katil) (Muchammad dan Mentayani, 2007).

  1. Kelompok ruang pelayanan

Kelompok ruang palayanan terbagi menjadi 4 ruang yaitu, ruang saji dan ruang makan ( penampik dalam atau panampik padu), ruang dapur (padapuran atau padu), ruang penyimpanan (jorong dan ruang teras belakang) (palataran belakang). Dari keempat ruangan tersebut dipisahkan oleh dinding atau yang disebut dengan tawing. Terdapat 3 dinding pemisah dalam ruang yaitu dinding muka (tawing hadapan), dinding pembatas dalam (tawing halat) dan dinding pembatas dapur (tawing pahalatan padu) (Muchammad dan Mentayani, 2007).

Berdasarkan organisasi ruang yang ada kelompok ruang tersusun membentuk suatu pola memanjang linear dari bagian depan hingga ke belakang bangunan. Pola ini juga menggambarkan semakin ke tengah maka akan semakin bersifat pribadi.

Atap pada Rumah Tradisional Bubungan Tinggi terbuat dari sirap kayu ulin berukuran panjang 50 cm dan lebar 8 cm. Atap adalah bagian yang khas dari bangunan tradisional ini, atapnya menjulang tinggi dengan kemiringan 45 º. Atap dalam bahasa banjar disebut dengan hatap. Secara umum atap pada bangunan ini dibedakan berdasarkan bagian-bagiannya dan juga perletaknnya, sedangkan bagian atap lainnya relatif landai dengan kemiringan 15 º. Komposisi ini dimaksudkan untuk mempercepat jatuhnya air dari bagian tengah bangunan.