Meneduhkan Jiwa di Rumah Betang Ensaid Panjang

Masyarakat Dayak di Desa Ensaid Panjang, Kec. Permai, Kab. Sintang, Kalimantan Barat masih mempertahankan tradisi tinggal di rumah besar atau betang. Rumah Betang Ensaid Panjang ditempati 88 orang dari 22 keluarga. Menurut Sembai, Kepala Dusun Rentap Selatan, rumah betang itu sudah berkali-kali pindah. Alasan rumah betang dipindahkan karena sebagian struktur bangunan sudah rapuh. Hanya tiang-tiang utama yang masih kokoh. Tiang utama berasal dari kayu ulin yang berumur lebih dari 100 tahun. Rumah betang terdiri dari beberapa bagian. Paling depan disebut ruai yakni ruang bersama tanpa sekat yang digunakan untuk rapat bersama atau menerima tamu adat. Bagian kedua disebut baruah merupakan ruang tamu dan ruang keluarga. Bilik serambi adalah kamar tidur dan bilik tingka yang menjadi bagian terakhir berfungsi sebagai dapur. Ketua Adat Dayak Desa Cepi mengatakan, warganya masih bertahan di rumah betang karena ingin melestarikan warisan nenek moyang. Awalnya rumah betang dibuat untuk menyesuaikan kebiasaan perang suku. Untuk lebih aman, mereka yang berasal dari satu subsuku tinggal di satu tempat yang sama. Di rumah Betang Ensaid Panjang, wisatawan masih bisa menyaksikan pembuatan kain tenun secara tradisional atau membelinya langsung. Menenun adalah pekerjaan sampingan kaum ibu. Pekerjaan utama adalah berladang dan menyadap getah karet.

 

img-130133641-0039 img-130133641-0040 img-130133641-0041