Rumah Tradisional Bubungan Tinggi dan Gajah Baliku

Gambar 1. Peta Lokasi Rumah Tradisional Bubungan Tinggi dan Gajah Baliku di Kalimantan Selatan.

          Rumah Tradisional Bubungan Tinggi dan Gajah Baliku terletak di Desa Teluk Selong Ulu, Kecamatan Martapura Barat, Kabupaten Banjar, Provinsi Kalimantan Selatan. Tepatnya berada pada koordinat 259257.72 m E, dan 9626404.41 m S. Rumah tradisional berada di tepi Sungai Martapura, berjarak kurang lebih 60 meter, dan berada di lingkungan dataran rendah dan berawa. Saat ini di kanan dan kiri rumah tradisional sudah mulai padat akan pemukiman penduduk. Tidak banyak lagi ditemui rumah dengan tipe arsitektur serupa di kawasan ini. Berdasarkan hasil observasi, terdapat 2 (dua) rumah tradisional di kawasan Teluk Selong Ulu. Rumah tradisional ini berjarak sekitar 2 km ke arah Barat dari Rumah Tradisional Bubungan Tinggi (lihat Foto 2.3).

Foto 2.2  Rumah Tradisional Bubungan Tinggi Kondisi saat ini dan kondisi sebelum dilakukan pengurukan dan pemasangan paving blok

Foto 2.2  Rumah Tradisional Gajah Baliku

          Saat ini dapat dikatakan bahwa rumah ba-anjung atau rumah Bubungan Tinggi yang merupakan arsitektur klasik Banjar itu tidak banyak dibuat lagi.
Sejak tahun 1930-an orang-orang  Banjar hampir tidak pernah lagi membangun rumah tempat tinggal mereka dengan bentuk rumah ba-anjung.
Masalah biaya pembangunan rumah dan masalah areal tanah serta masalah mode nampaknya telah menjadi pertimbangan yang membuat para penduduk tidak mau membangun lagi rumah-rumah mereka dengan bentuk rumah ba-anjung. Banyak rumah ba-anjung yang dibangun pada tahun-tahun sebelumnya sekarang dirombak dan diganti dengan bangunan-bangunan bercorak modern sesuai selera jaman. Tidak jarang dijumpai di Kalimantan Selatan si pemilik rumah ba-anjung justru tinggal di rumah baru yang (didirikan kemudian) bentuknya sudah mengikuti mode sekarang.

          Apabila sekarang ini di daerah Kalimantan Selatan ada rumah-rumah penduduk yang mempunyai gaya rumah adat ba-anjung, maka dapatlah dipastikan bangunan tersebut didirikan jauh sebelum tahun 1930.

          Bentuk rumah Bubungan Tinggi diibaratkan tubuh manusia terbagi menjadi 3 bagian secara vertikal yaitu kepala, badan dan kaki. Sedangkan anjung diibaratkan sebagai tangan kanan dan tangan kiri yaitu anjung kanan dan anjung kiwa (kiri). Pada rumah bubungan tinggi bagian tersebut berupa bagian pondasi, tiang (bagian kaki), bagian badan berupa bangunan utama seperti dinding bangunan, lantai, teras, ruangan privat, ruangan tengah, dan dapur. Serta atap bangunan yang diibaratkan sebagai (kepala).

          Kondisi geografis serta iklim di Kalimantan Selatan yang berawa membuat pola pemukiman masyarakat pada masa lalu membuat rumah dengan tiang tinggi. Hal ini sebagai salah satu bentuk adaptasi masyarakat terhadap lingkungannya. Kondisi alam tersebut membuat bangunan dibuat lebih tinggi dari tanah sekitar.

          Struktur di Rumah Bubungan Tinggi terbuat dengan konstruksi kayu. Konstruksi dimulai dari dasar, papan instalasi, kemudian sampai ke kasau. Konstruksi tersebut  membentuk struktur kerangka seluruh sistem stabil dan memiliki kekakuan baik secara vertikal dan lateral. Rumah Bubungan Tinggi memiliki struktur bentang panjang dan mampu berdiri stabil di bawah tanah lemah (berawa), dengan beban yang berbeda di bagian depan, tengah dan belakang rumah, serta berat dari bahan bangunan. Tingkat kesulitan yang tinggi dalam pembangunan rumah, membawa kearifan budaya lokal yang menyatu dengan alam. Hasil arsitektur dan bangunan rumah bubungan tinggi merupakan salah satu bentuk adaptasi terhadap lingkungan yang telah dibuat oleh masyarakat setempat.

          Jenis material yang digunakan dalam membangun rumah bubungan tinggi berasal dari alam sekitar yang terdapat di Kalimantan Selatan. Jenis kayu yang digunakan rumah Bubungan Tinggi terbagi dalam fungsinya yaitu  :

  1. Galam kayu dan Kayu Kapur Kedua jeniskayu biasanya digunakan untuk pondasi rumah. Pondasi iniadalah bagian penting dalam konstruksi Rumah BubunganTinggi. Rumah Bubungan Tinggi biasanya dibangundi daerah berawa dan berlumpur, sehingga lembaga iniharus kuat dan kokoh untuk menghindari busuk ketika ia dikuburkan di dalam rawa atau lumpur. Oleh karena itu, mereka menggunakan Galamatau Kayu Kapur Naga.Kedua jenis kayu memiliki keunikan. Mereka bisa menahan sampai 70 tahun jika mereka dikubur di daerah berawa,dan 60 tahundi daerah kering.
  2. Kayu ulin. Kayu ini dikenal awet, tahan air, dan tahan panas. Kayu ulin biasanya digunakan sebagai tiang, tongkat, gelagar (split bambu digunakan sebagai dasar tempat duduk), pasak, lantai, watun barasuk, kusen pintu dan jendela, dan kasau dari atap.
  3. Lanan kayu. Kayu ini biasanya digunakan untuk membangun dinding.
  4. Putih resin kayu. Kayu ini biasanya digunakan untuk gelagar, turus tawing, balabat, titian tikus, bujuran sampaian, dan riing.
  5. Daun Rumbia. Digunakan untuk atap.
  6. Paring (bambu). Hal ini digunakan untuk membangun Palupuh halayung dinding dan Hanau. Selain itu, Paring juga digunakan untuk membangun lantai di padu atau pambayuan.

 

Leave a Reply