“Indonesia di Pusaran Badai Pandemi: Sejarah yang Berulang”

0
96
eramuslim.com

Wabah penyakit menular seperti ledakan bom yang menghantam dunia dan menimbulkan gelombang kepanikan, ketakutan dan ketidakberdayaan yang sangat hebat. Sejarah pandemik misalnya dari abad ke-19 hingga sekarang diwarnai dengan kemuncullan sejumlah penyakit menular seperti: kolera (1817-1923), pes (third plague) atau “pesteurellosis” (1885); flu Rusia (1889-1890), flu burung (dari Meksiko, 2008-2010),  flu Spanyol (1918-1919); flu Asia (19571958), flu Hongkong (1968-1970), HIV/AIDS (1981-sekarang), flu babi (swine flu) (2009-2010), SARS (November 2002-Juni 2003), virus ebola (dari Afrika Barat, 2014-2016), zika virus (dari Amerika Selatan dan Amerika Tengah, 2015-sekarang), MERS atau virus onta (2015-sekarang). Dan kini wabah yang sedang menebar ancaman kematian bagi manusia adalah covid19 (2019-sekarang). Virus ini ibarat hantu,  predator atau alien yang menyembur aroma rasa takut dan horor di seluruh dunia. Wajah dunia yang sebelumnya diwarnai semangat, riuh rendah dan hiruk pikuk interaksi manusia lintas global, sekarang seakan pucat pasi tanpa energi. Sejarawan dari Universitas Ibrani Yerusallem, Israel Yuval Noah Harari menyesalkan beberapa pihak yang menyalahkan epidemic corona virus pada globalisasi, dan satu-satunya jalan untuk mencegahnya adalah melakukan de-globalisasi dunia. Sejarah peradaban umat manusia membuktikan bahwa wabah menyebar dengan cepat bahkan di era abad pertengahan, jauh sebelum masa globalisasi.

Efek pandemik virus yang mewabah ini menciptakan iklim ketakutan, kecemasan dan kecurigaan antarsesama kalau saja di antaranya sudah tertular atau menularkan virus. Rasa panik pun muncul ketika pemerintah mengeluarkan himbauan dan protokol kesehatan yang lebih ketat agar melakukan social distancing, physical distancing,  mencuci tangan dengan sabun dan air yang mengalir, menggunakan masker serta mengkonsumsi makanan yang bergizi untuk menjaga immune tubuh. Sekarang, rakyat makin cemas dan mengkhawatirkan nasib keluarga mereka yang sudah dibatasi ruang akses berinteraksi di ranah publik dengan pemberlakuan PSBB, menutup semua pintu dan mengatur pergerakan orang dengan melarang moda transportasi beroperasi. Akhirnya orang tidak bisa bepergian, tak bisa mudik lagi walau sekadar bernostalgia dengan keluarga di kampung halaman.

Dengan memperhatikan berbagai kasus pandemic tersebut beberapa pertanyaan mengemuka;

  1. Bagaimana kita menjelaskan fenomena pandemic yang kerap muncul secara beruntun ini dari perspektif sejarah?
  2. Bagaimana masyarakat merespon dan memanfaatkan potensi sumber daya alam untuk mencegah menularnya wabah penyakit berdasarkan local knowledge dan local wisdom untuk menjaga ketahanan budaya mereka?, serta
  3. Bagamana langkah pemerintah mencegah persebaran covid19 dan  stimulus bagi masyarakat terdampak?.

Pertanyaan-pertanyaan di atas hanya sebagian kecil dari sejumlah isu seputar pandemic di Indonesia dan masing-masing narsum dimungkinkan untuk memperkaya wacana diskusi dengan isu-isu lain yang relevan dengan topic diskusi.

TINGGALKAN KOMENTAR