Ekskavasi Penyelamatan Situs Candi Selokelir Tahap IV

0
91

Situs Candi Selokelir merupakan salah satu tinggalan arkeologi di Gunung Penanggungan yang kaya akan makna sejarah dan arkeologi. Apabila dilihat dari sekian banyak tinggalan arkeologis yang tersebar di Gunung Penanggungan, Situs Candi Selokelir memiliki keunikan dari segi arsitektur dan berbagai tinggalan benda arkeologi yang terkait dengan situs tersebut. Situs Candi Selokelir memiliki ciri-ciri arsitektur yang memiliki ciri khas bangunan peninggalan masa Majapahit. Situs Candi Selokelir merupakan bagian penting dari peninggalan arkeologis yang ada di Gunung Penanggungan yang merepresentasikan warisan budaya Indonesia cerminan kekayaan tradisi spiritual dan budaya Masyarakat Jawa Kuno di masa Kerajaan Majapahit.

Pada tanggal 13 sampai dengan 24 Mei 2024 tim ekskavasi penyelamatan Balai pelestarian Kebudayaan Wilayah XI melaksanakan kegiatan ekskavasi penyelamatan di Situs Candi Selokelir di Desa Kedungudi, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto. Pada kegiatan ekskavasi ini membuka sekitar 50 kotak gali untuk menemukan bentuk, pola, dan konteks keruangan dari Situs Candi Selokelir. Situs Candi Selokelir memiliki tipologi bangunan berteras yang terdiri dari tiga halaman yang dibatasi oleh talud. Pada penggalian pertama ditemukan struktur anak tangga yang masih intak (menyatu), dengan ukuran sisi timur anak tangga sepanjang 2,7 meter, tinggi 3 lapis batu andesit dan sisi bagian barat anak tangga memiliki panjang sekitar 2,2 meter.

Selain itu juga terdapat temuan angka tahun lepas berupa batu angka tahun berbahan batu andesit dengan ukuran panjang 18 cm, lebar 15 cm, dan tinggi 9,5 cm. Angka tahun tersebut ditulis dengan Bahasa Jawa Kuno atau Kawi dan dapat dibaca sebagai angka tahun 1356 Saka, atau apabila dikonversikan dalam masehi yaitu 1434 Masehi. Pembangunan Situs Candi Selokelir diduga dibangun pada era pemerintahan Ratu Suhita pada masa Kerajaan Majapahit. Pada kegiatan ekskavasi penyelamatan ini juga ditemukan temuan lepas berupa fragmen genting, bubungan, kemuncak, kmudian terdapat juga fragmen gerabah seperti jambangan, cerat kendi susu, dan fragmen keramik. (LF).