You are currently viewing Stoneware

Stoneware

Balai Pelestarian Cagar Budaya Provinsi Jawa Tengah telah menerbitkan beberapa buku. salah satu buku yang telah diterbitkan adalah buku berjudul Jawa Tengah Sebuah Potret Warisan Budaya. Buku ini diterbitkan oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya Provinsi Jawa Tengah bekerjasama dengan Jurusan Arkeologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada (Prof. Sumijati Atmosudira dkk /editor). Mempertimbangkan permintaan dari masyarakat maka buku ini ditampilkan di laman ini.

Stonware bukan merupakan nama benda, melainkan jenis keramik yang menggunakan campuran bahan tertentu dan dibakar pada suhu tertentu pula, sehingga menghasilkan kualitas di atas gerabah (earthenware) namun di bawah porselin. Peralatan stoneware yang ditemukan di Jawa Tengah, pada umumnya merupakan barang impor, misalnya dari Thailand (Sawankalok), Burma, Khmer, dan dari China. Jenis peralatannyapun bervariasi, tatapi yang paling populer adalah guci, seperti yang ditemukan di Purworejo, Pemalang, Blora dan Klaten. Beberapa fragmen peralatan Stoneware juga ditemukan melalui hasil ekskavasi di Kompleks Candi Plaosan Lor (Prambanan, Jawa Tengah).

Fungsi guci sebenarnya untuk wadah benda cair, akan tetapi pada waktu ditemukan seringkali guci digunakan unuk menempatkan benda lain yang lebih kecil. Temuan guci di Wonoboyo (Klaten) misalnya, digunakan untuk menempatkan benda-benda emas dan mata uang; temuan guci di Pabelan (Semarang) dan Tunjungan (Brola) digunakan untuk wadah mata uang kuna, sedangkan temuan guci di Rejoso (Klaten) digunakan untuk menyimpan sekelompok arca buddhis yang terbuat dari perunggu. Penggunaan guci sebagai wadah air, misalnya dapat dilihat pada guci-guci Stoneware dari Thailand (abad XVI) yang terdapat di Imogiri, dalam makam raja-raja Surakarta dan Yogyakarta. Beberapa kalangan masyarakat percaya bahwa air dalam guci-guci tersebut membawa berkah . Oleh karena itu, guci-guci tersebut dikeramatkan dengan cara diberi nama (Kyai Mendung, Nyai Siyem,  Kyai Danumaya, dan Nyai Danumurti) seperti keraton yang lain. Data etnografis yang lain memberikan bukti bahwa orang-orang China di Kalimantan Barat seperti sekarang masih menggunakan guci untuk tempat benda-benda kecil, selain sebagai wadah benda cair.

Leave a Reply