Situs Liangan yang Sempat Terlupakan

0
173

Oleh: Isbania Afina Syahadati

Situs Liangan terletak tepat di Dusun Liangan, Desa Purbosari, Kecamatan Ngadirejo, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Dusun Liangan juga berada pada kawasan lereng Sindoro yang memang menyimpan banyak data arkeologi masa Mataram Kuno. Situs Liyangan ini memiliki keistimewaan tersendiri, dimana integrasi dengan data berupa fitur, organik, artefak, serta lingkungan, lereng Sindoro yang potensial sebagai lokasi permukiman namun juga berpotensi terhadap bencana alam. Secara garis besar, data arkeologi berupa struktur dan bangunan khususnya berbahan batu di Liangan meliputi candi dan batur, pagar dan talud, jalan, selasar, dan tangga. Keberadaan dari candi dan batur di situs Liangan ini masih menunjukkan bentuk dasarannya. Seperti candi yang berdenah bujursangkar dan berukuran 5,53 m x 5,53 m dan menghadap ke timur laut.

Pada candi lainnya juga teridentifikasi berbentuk bujursangkar dengan ukuran 7,2 x 7,2 m. Dimana keduanya sama-sama menghadap kearah timur laut. Sedangkan untuk batur sendiri ditemukan berdenah bujursangkar dan berukuran 8,40 x 8,45 m. Selain itu, pada bagian batur juga ditemukan lubang bekas tiang berjumlah 12, dan di bagian tengah lantai batur terdapat bentuk altar. Meskipun demikian, beberapa batur lain juga ditemukan namun tidak dapat didentifikasi lebih lanjut secara ukurannya. Hal ini dikarenakan bangunan batur yang berlokasi dekat sungai diperkirakan mengalami kerusakan akibat gerusan aliran sungai Liangan. Selain itu, ditemukan pula bangunan batu yang diperkirakan antara candi atau petirtaan. Dikarenakan pada saat penemuan hanya ditemukan bagian sudutnya saja. Salah satu sisi bangunan dilengkapi dengan jaladwara yang terhubung dengan selokan kecil di atas bangunan. Pada situs Liangan ini ditemukan pula pagar candi, dimana pagar tersebut tidak mengelilingi bangunan candi. Akan tetapi hanya berupa bujuran yang berorientasi timur laut – barat daya, sejajar dengan jalan batu.

Adapun bangunan talud balok atau lempeng batu yang menjadi pagar pemisah antara halaman I dengan halaman II pada area ibadah. Pada struktur tersebut ditemukan menggunakan batu andesit yang berukuran lebar 1,34 m dan tinggi 1,65 m. Sedangkan berdasarkan singkapan pagar candi yang telah tampak mempunyai panjang kurang lebih 80 m. Kondisi dari struktur yang sudah tidak utuh sebagai akibat dari terjangan vulkanik sewaktu erupsi Gunung Sindoro. Tidak hanya aktivitas dari gunung berapi saja, melainkan aktivitas penambangan juga turut serta mempengaruhi rusaknya talud tersebut. Bahan dari penyusun struktur talud sendiri berasal dari batu sedimen. Dimana batuan ini berbentuk balok dengan panjang 53-84 cm dan tebal 18 cm. Sejauh penelitian yang dilakukan hingga 2014, setidaknya telah ditemukan delapan struktur talud boulder di lokasi yang berbeda.

Pada umumnya struktur talud boluder tidak berada di bagian tengah situs tetapi cenderung di bagian atas atau tepi dari area peribadatan. Kontruksi berbahan bolder juga ditemukan sebagai kombinasi pada talud yang dibangun dari balok atau lempeng batu tufaan. Hal tersebut telah menunjukkan adanya gejala renovasi yang dilakukan oleh masyarakat Liangan kuno pada masanya. Selain itu, juga ditemukan kontruksi boulder yang tersambung dengan kontruksi talud berbahan balok batu tufaan. Satu struktur dengan bahan dan kontruksi talud berbahan balok batu tufaan. Satu struktur dengan bahan dan kontruksi yang berbeda tentunya memiliki arti tertentu, baik berkaitan dengan ketersediaan bahan maupun aspek lain yang belum diketahui.

Adapun ditemukannya selasar yang menghubungkan halaman I dengan halaman II yang dilengkapi dengan tangga dalam jarak kurang lebih 25 m dan beberapa saluran air. Pada bagian lain juga ditemukan lubang bekas tiang, dimana bekas lubang tersebut berjumlah 36. Namun, bekas lubang tersebut yang paling dominan ialah 33 lubang berbentuk bundar, sedangkan sisanya berbentuk persegi. Pada susunan lubang-lubang ini membentuk pola baris dengan dua baris memanjang yang berorientasi tenggara-baratlaut. Dari berbagai bentuk bangunan yang ditemukan pada situs Liangan ini juga terdapat temuan lain yakni berupa, artefak, keramik, guci, tembikar, dan lain sebagainya. Penemuan-penemuan artefak di situs Liangan ini cukup beragam, dari berbagai alat pertanian, alat bangunan, alat pertukangan, alat rumah tangga, alat upacara, perhiasan, dan juga senjata.

Apabila dirinci secara kronologi situs Liangan jika didasarkan pada gaya bangunan candi 1, menunjukkan gaya bangunan candi masa Mataram Kuno di Jawa Tengah sekitar abad VIII – X Masehi. Dari penemuan keramik yang seluruhnya berasal dari Cina masa Dinasti Tang mengacu pada kronologi sekitar abad IX atau awal abad X Masehi. Hal ini menunjukkan pula bahwasanya permukiman di Liangan Kuno telah hadir setidaknya sejak sejak abad VI hingga abad X Masehi. Rentang kronologis tersebut telah menggambarkan bahwa situs Liangan merupakan situs masa klasik. Sehingga dapat dikaitkan dengan Dinasti Syailendra dengan Dapunta Salendra nantinya. Berdasarkan hal tersebut, secara hipotetik, situs Liangan telah menjadi lokasi hunian sebelum kerajaan Mataram Kuno berdiri. Oleh karenanya, berbagai data yang telah ditunjukan dengan adanya situs Liangan ini menunjukkan bahwa situs Liangan bukanlah komplek candi, merupakan suatu komplek permukiman pada masa klasik.

Situs Lianganmerupakan salah satucontohdarisekianbanyak situs yang terletak di Indonesia tepatnya yang berada di Jawa Tengah. Dimana melalui situs ini, kitamampumengetahuiperadabannenekmoyangkitaterdahulu yang sudahbegitukompleks. Denganditemukannyacandi pada Situs Liangantersebuttelahmenunjukkanadanyakeyakinan yang telahdianut.  Sedangkandenganditemukannyatalud, pagar, maupun, jalan juga telahmenunjukkantingginyaperadaban dan sudahmengertiteknikpembangunan. Oleh karenanya, Situs Lianganinidirasacukupkompleksapabiladikaitkandengankehidupan pada masa sekarang.

Sumber:

Sugeng Riyanto, Situs Liangan: Ragam Data, Kronologi, dan Aspek Keruangan, Berkala Arkeologi, Vol. 35 No.1, Mei 2015.

Sugeng Rianto, Situs Liangan Dalam Bingkai Sejarah Mataram Kuno, Berkala Arkeologi, Vol. 37 No. 2, November 2017.

TINGGALKAN KOMENTAR