Sejarah Benteng Willem I Ambarawa

0
112

Benteng Willem I Ambarawa terletak di wilayah Kelurahan Lodoyong, Kecamatan Ambarawa, Kabupaten Semarang. Secara astronomis berada pada koordinat 70 16’ ,9,24″ LS dan 1100 24’ 30,24”. Saat ini separo benteng dimanfaatkan sebagai Lembaga Permasyarakatan Kelas II A Ambarawa dan asrama. Lingkungan sekitar benteng berupa persawahan. Beberapa bagian bangunan benteng masih menyisakan kondisi aslinya. Sementara pada beberapa bagian telah mengalami perubahan, baik disesuaikan dengan fungsi maupun karena pengaruh alam.

Pendirian Benteng Willem Ambarawa berkaitan dengan bergolaknya Revolusi Belgia di Eropa pada tahun 1830. Wilayah Belgia yang dikenal sekarang pada masa itu merupakan bagian dari kerajaan Belanda. Sebagian besar penduduk Belgia merupakan penganut agama Katolik, berbeda dengan mayoritas penduduk Belanda yang merupakan penganut Kristen Protestan. Wilayah Belgia yang menjadi basis revolusi Industri segera menjadi rebutan Belanda, Perancis, dan Austria.  Berakar dari perbedaan agama dan ekonomi, tahun 1830, Belgia dengan bantuan bangsa lain berusaha memisahkan diri dari Belanda dan meletuslah Revolusi Belgia. Pergolakan yang terjadi di negeri Belanda mendorong Gubernur Jenderal Van den Bosch untuk mendirikan benteng-benteng di beberapa titik strategis di Pulau Jawa karena khawatir jika gejolak itu meluas hingga Pulau Jawa. Salah satu titik yang dipilih oleh Van der Bosch adalah Ambarawa lantaran letaknya berada di jalur yang menghubungkan Semarang dengan pedalaman. Ambarawa menjadi titik pertahanan paling penting karena di sini merupakan titik kumpul pasukan apabila seluruh wilayah pesisir sudah jatuh ke tangan musuh dan dari sini, mereka dapat melancarkan serangan balik.

Berbagai keperluan disiapkan dengan matang dan terencana untuk mendirikan benteng ini. Barak prajurit, bengkel kerja, dan perkampungan pekerja dengan daya tampung 4.500 orang didirikan di dekat benteng. Proyek pembangunan benteng melibatkan insinyur zeni, penjaga, dan 3.000 kuli pribumi serta beberapa tahanan yang dihukum kerja paksa. Guna menghemat biaya pengangkutan, batu-bata dan genting dibuat di dekat benteng dengan mendirikan tungku-tungku pembakaran. Sementara kayu dan batu kapur masih didatangkan dari tempat lain. Pada tahun 1844, sekalipun pembangunannya belum selesai, benteng ini mulai ditempati prajurit. Sebagai penghormatan kepada Raja Belanda kala itu, Willem I, benteng yang rampung dibangun tahun 1850 itu diberi nama Willem I.

Pada tahun 1865 dan 1872, Ambarawa diguncang oleh gempa bumi. Konstruksi benteng menjadi tidak aman sehingga prajurit yang tinggal di benteng harus pindah ke barak di luar benteng. Di samping itu, ada kesalahan desain pada benteng, yakni langit-langit ruangan lantai dua rupanya dirasa terlalu rendah, sehingga ruangan menjadi terasa pengap dan tentu terasa gerah untuk ukuran orang Eropa yang tidak biasa dengan iklim panas. Hal lain yang Benteng Willem I ditinggalkan adalah perkembangan teknologi artileri yang memungkinkan meriam menembak lebih akurat dan jangkaunya lebih jauh. Setelah tidak berfungsi sebagai benteng, sebagian Benteng Willem I Ambarawa kemudian diubah fungsinya menjadi penjara.

Pada masa pendudukan Jepang, Benteng Willem I Ambarawa dimanfaatkan sebagai kamp tawanan orang Eropa dan mereka yang dicurigai membangkang kepada pemerintah militer Jepang. Setidaknya ada seribu orang yang ditahan di dalam benteng itu. Mereka diberi jatah ransum yang sedikit. Pada pagi dan siang hari, mereka memasak jagung yang seringkali tidak dimasak matang. Malam harinya, mereka makan dengan nasi dan sayuran yang sedikit. Sesudah kemerdekaan, Benteng Willem I dijadikan kamp tahanan orang Eropa dan tentara Jepang yang sudah menyerah. Tentara sekutu datang ke sini untuk mengevakuasi para orang Eropa dan tentara Jepang dari benteng ini. Namun tanpa diduga, pemerintah Belanda membonceng mereka dan berusaha menegakan kembali kuasa di Indonesia. Maka terjadilah peristiwa Palagan Ambarawa. Setelah pertempuran Ambarawa, para tawanan yang ditahan di benteng dipindah ke Semarang.

Tulisan dan Foto : Lengkong Sanggar Ginaris (mahasiswa magang Pasca Sarjana Arkeologi UGM)

TINGGALKAN KOMENTAR