Rabiman, Kental dengan Ritual Kejawen

0
275

Ia mengawali profesi menjadi pencari batu saat ia diajak oleh Atmo Jino, teman ayahnya yang kebetulan satu desa. Pada tanggal 1 Maret 1981 ia ditetapkan menjadi PNS. Awal mula kemampuan Rabiman hanya terbatas pada tatah-tatah batu dan menyetel. Kemampuan Rabiman sebagai pencari batu bertambah ketika ia mendapat kesempatan untuk belajar dengan Atmo Jino. Setiap hari, ia mengikuti rekan ayahnya itu keliling candi dan ikut mengangkat batu. lama kelamaan, Rabiman merasakan sensasi sebagai pencari batu “Barang sing awal e ra ono dadi ketemu, awal e ra ketok dadi ketok”. (Barang yang awalnya tidak ada jadi ketemu, awalnya tidak kelihatan jadi kelihatan).Walaupun Atmo Jino seorang Buddha, ia tetap melaksanakan ritual kejawen.

Suatu hari, Rabiman diajak untuk kungkum di Kali Upak dan tidur di dalam candi. Hal ini dilakukan untuk menjernihkan pikiran, agar bisa memudahkannya dalam mencari batu. Menurut pria yang biasa dipanggil dengan sebutan Mbah Man ini, seorang pencari batu harus kuat segala-galanya. Ia harus kuat secara fisik dan mental. Ia juga selalu memegang teguh nasehat-nasehat yang disampaikan oleh rekan ayahnya itu. Suatu hari, ia diberikan nasehat “aja pisan-pisan yen nemune barang mas-masan saka candi, aja kok milik. Amarga kui gedhe welere. Contone tau kancaku ki entuk emas saka candi, digawa menyang omah, didelekne, wetenge busung, mati”.  (Jangan sekali-kali kalau menemukan barang berupa emas dari candi, jangan diambil (dijadikan milik). Karena, itu besar larangannya. Contohnya pernah temanku mendapatkan emas dari candi, dibawa ke rumah, disembunyikan, perutnya busung, meninggal). Hal ini menjadikan Rabiman selalu jujur dalam menjalankan pekerjaannya.

Apabila ia sedang tugas diluar dan mendapati emas, ia akan pergi ke kota untuk menghubungi pihak kantor walaupun jaraknya cukup jauh. Ia telah pensiun dari pencari batu sejak 1 September 2017, namun dedikasinya masih besar untuk pemugaran. Saat ini, ia masih dibutuhkan untuk pemugaran Candi Jepara, dekat dengan Danau Rano dan Situs Bumi Ayu, Tanah Abang di Sumatera. Pria yang lahir pada tanggal 2 Agustus 1958 ini berharap anak muda bisa mempunyai rasa handarbeni peninggalan nenek moyang.

Ditulis oleh: Meilinia FathonahMahasiswa Jurusan Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya, Jurusan Sejarah, Undip Semarang

TINGGALKAN KOMENTAR