You are currently viewing Makna Relief Candi Sojiwan

Makna Relief Candi Sojiwan

Oleh: Isbania Afina Syahadati

Candi merupakan salah satu wujud peradaban masa lampau dan memiliki nilai yang terkandung didalamnya. Namun, apabila kita berkunjung ke suatu candi kita sering sekali menghiraukan bentuk relief yang terdapat pada dinding candi. Salah satu candi yang terletak di Jawa Tengah yang memiliki banyak makna dalam ukiran reliefnya ialah Candi Sojiwan. Candi ini letakanya berada di Kebon Dalem Kidul, Prambanan, Klaten, Jawa Tengah. Candi ini merupakan peninggalan dari Mataram Kuno dan bercorak Budha. Candi ini didirikan sebagai bentuk pengorbanan dari Raja Balitung kepada neneknya nini haji rakyat sanjiena yang beragama Budha. Meskipun candi ini jarang dikunjungi namun, banyak hal menarik yang perlu untuk dikulik. Hal tersebut ialah relief yang terdapat pada dinding Candi Sojiwan.

Pada dinding Candi Sojiwan yang menghadap utara terlihat seekor kera yang naik diatas punggung buaya. Seekor kera tersebut sebenarnya merupakan jelmaan sang Budhisatwa yang duduk di tepi sungai Gangga. Sedangkan terdapat seekor buaya betina yang melihat kera tersebut dan memiliki keinginan untuk memakan hati kera itu. Oleh karenanya, buaya betina itu kemudian meminta kepada buaya jantan yang merupakan suaminya untuk menangkap kera yang dimaksudnya. Untuk mengabulkan permintaan istrinya, maka buaya jantan pun kemudian pergi menemui kera dan mengatakan bahwa diseberang sungai terdapat pohon dengan buah yang sangat lezat. Untuk mengelabui kera, maka buaya jantan itu memberika tawaran untuk disebrangkan di sungai. Hingga si kera pun akhirnya menyanggupi penawaran dari buaya jantan tersebut. Namun, sesampai di tengah sungai, buaya jantan pun berterus terang kepada kera. Bahwasanya, istrinya menginginkan memakan hati kera tersebut. Lalu, dengan senang hati ternyata kera tersebut mau mengabulkan permintaan dari istri buaya jantan tersebut. Dikatakanlah bahwa hati kera tersebut tertinggal di pohon, maka buaya jantan harus mengantarkannya kembali lagi. Sesudah kembali, si buaya jantan pun tidak menyadari bahwa kera tersebut sudah lepas dari incaranya.

Sumber:

Choirulnisah Trisnayanti, “Studi Bentuk dan Makna Relief Candi Sojiwan”, Skripsi, Surakarta: UNS, 2015

Kartini Pramono, Latar Belakang Filsafat Cerita-Cerita Binatang Pada Relief Candi Sojiwan, Lembaga Penelitian, Yogyakarta: UGM, 1984.

Leave a Reply