Makam Sunan Muria di Kudus

0
6017

Makam Sunan Muria merupakan salah satu bukti arkeologis yang berkenaan dengan masa awal perkembangan Islam di Jawa khusunya di wilayah Kudus, Pati dan sekitarnya. Kompleks Makam Sunan Muria berada di Bukit Muria yang terletak di Desa Colo, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, Provinsi Jawa Tengah dan berada pada ketinggian lebih dari 1600 meter di atas permukaan laut.

 Sunan Muria adalah salah seorang peyebar Islam di Jawa yang tergabung dalam kelompok Wali Songo. Wilayah dakwah Sunan Muria meliputi Kudus, Pati dan sekitarnya terutama di daerah-daerah pedalaman seputar Gunung Muria. Menurut latar belakang sejarah, ada beberapa versi mengenai silsilah Sunan Muria. Versi pertama menyebutkan bahwa Sunan Muria mempunyai nama kecil R. Umar Said yang merupakan anak Sunan Kalijaga dari istrinya yang bernama Dewi Saroh putri Maulana Ishak. Sunan Muria menikah dengan Sujinah anak dari Sunan Ngudung (R. Usman Haji). Menurut cerita versi pertama ini, Sunan Muria memiliki hubungan kekerabatan dengan Sunan Kudus (Jafar Shadiq), yaitu saudara ipar karena Sunan Kudus adalah kakak Dewi Sujinah istri Sunan Muria.

Adapun versi kedua mengatakan bahwa Sunan Muria adalah putra Sunan Ngudung dari istrinya yang bernama Dewi Sarifah. Putra Sunan Ngudung lainnya antara lain Sunan Giri II, Sunan Kudus, dan Sunan Giri III. Sedangkan hubungannya dengan Sunan Kalijaga adalah Sunan Kalijaga merupakan putra Tumenggung Wilatikta, Putra Ario Tejo III, Putra R. Penanggungan. Sedangkan Sunan Ngudung adalah putra Dewi Maduretno, putra R. Baribin, putra R. Penanggungan. Jadi menurut versi ini Sunan Muria adalah keponakan jauh Sunan Kalijaga.

Metode dakwah yang digunakan Sunan Muria dengan cara yang bijaksana dalam menghadapi masyarakat yang menjadi objek dakwahnya. Dakwah yang dilakukan Sunan Muria diselaraskan dengan keperayaan lama, adat yang bertentangan dengan ajaran Islam dilakukan dengan perlahan-lahan. Sunan Muria juga dikenal berdakwah melalui kesenian. Salah satu tembang macapat hasil ciptaannya adalah Sinom dan Kinanti.

Kompleks Makam Sunan Muria merupakan salah satu living monument yang sampai saat ini masih ramai dikunjungi oleh para peziarah. Dalam kompleks Makam Sunan Muria, selain makam juga terdapat bangunan masjid.

  1. Bangunan Makam

Bangunan Makam Sunan Muria berada di sebelah Barat bangunan masjid. Bangunan cungkup makam Sunan Muria mempunyai konstruksi kayu beratap Joglo dua susun. Atap bangunan ditutup dengan Sirap. Dinding cungkup berupa tembok bata yang diplester semen. Di dalam cungkup ini selain Makam Sunan Muria, juga banyak dijumpai makam para kerabat Sunan Muria antara lain Dewi Sujinah (Istri Sunan Muria) dan Dewi Rukayah (Anak Sunan Muria).

Makam Sunan Muria terdapat di dalam kamar atau bilik yang berpintu. Dinding Makam Sunan Muria dibuat dari batu kapur yang berhias panel-panel. Jirat dan Makam Sunan Muria berbentuk sederhana seperti kebanyakan nisan tipe Demak. Gawang pintu biik makam Sunan Muria diberi pahatan, demikian juga daun pintu yang diukir dengan ragam hias yang sangat indah.

  1. Bangunan Masjid

Bentuk bangunan masjid di kompleks makam Sunan Muria sudah tidak seperti yang asli. Hal ini disebabkan karena masjid telah mengalami beberapa kali perbaikan. Perbaikan total terjadi sekitar tahun 1980 an. Pada gambar lama yang diambil sebelum tahun 1980 dapat dilihat bahwa masjid Sunan Muria mepunyai atap tumpang susun dua dan pada puncaknya dilengkapi dengan mustoko. Serambi masjid merupakan bangunan semi terbuka yang mempunyai atap berbentuk limasan. Bangunan masjid saat ini tidak tampak dari luar karena tertutup oleh bangunan serambi maupun bangunan fasilitas lainnya yang dibuat berlantai dua. Pada ruang utama masjid tampak bangunan baru dengan material dan peralatan masa kini.

Kekunaan yang masih tersisa adalah ruang mihrab. Ruang mihrab berbentuk lengkung motif Arab yang diapit dua buah pilar. Atap mihrab berbentuk lengkung dan kedua ujungnya berupa ukel. Ruang utama amsjid terdapat empat tiang utama yang terbuat dari beton yang dilapisi papan kayu jati berukir. Kekunaan lain yang masih tersisa dari masjid yang ada di kompleks makam Sunan Muria ini adalah bedug dan gantungannya. Bedug tersebut digantung pada gawangan kayu. Pada gawangan terdapat hiasan bermotif fauna berupa dua buah naga yang arah hadapnya berlawanan dankedua ekornya bersatu di tengah. Di atas naga terdapat empat ekor burung. Tiang gantungan berkaki tiga berhias sulur-suluran. Pada ambang atas gantungan terdapat prasasti berhuruf Jawa yang dipadukan dengan angka latin. Sedangkan pada sisi belakang terdapat prasasti berhuruf Arab yang dipadukan dengan huruf Jawa.

(Disarikan Endah Rahmawati)

TINGGALKAN KOMENTAR