Gaya Arsitektur Transisi pada Gedung Lawang Sewu

0
101

Tri Windari Putri

Lawang Sewu merupakan nama yang tidak asing bagi kita, ketika kita berada di Semarang. Lawang Sewu merupakan bangunan tua yang dibangun sejak masa kolonial. Lawang Sewu merupakan bangunan yang didirikan sebagai kantor kereta api yang dibangun oleh perusahaan swasta yaitu NIS (Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij). Bangunan ini merupakan bangunan kantor administrasi kereta api yang dibangun di Hindia-Belanda. Lawang Sewu didirikan pada tahun 1904 dan terus mengalami perkembangan hingga pembangunan berakhir pada tahun 1918. Lawang sewu dirancang oleh Ir. P de Rieu namun mengalami penundaan proses konstruksinya hingga tahun 1903. Pembangunan kemudian dilanjutkan kembali oleh Prof. J. Klinkhamer, B. J. Oundag dan asistennya C.G. Citeroen.

Bangunan ini tetap berdiri kokoh hingga saat ini, muskipun telah berganti-ganti fungsinya. Fungsi bangunan ini awalnya digunakan sebagai kantor, tapi setelah dikuasai oleh Jepang bangunan ini digunakan sebagai penjara bagi tahanan perang, kemudian setelah indonesia merdeka bangunan ini digunakan oleh KODAM IV Diponegoro sebagai kantor dari tahun 1949 hingga 1994.

Saat ini Lawang Sewu digunakan sebagai salah satu tempat wisata yang populer dengan menyuguhkan keindahan arsitektur bangunannya. Bangunan Lawang Sewu dalam pembangunannya menggunakan Gaya Arsitektur Transisi (1890-1915), merupakan gaya arsitektur yang berkembang di Hindia-Belanda yang berlangsung singkat dari akhir abad ke 19 hingga awal abad ke 20. Gaya Arsitektur Transisi merupakan perubahan gaya dari “Indische Empire” menuju “Kolonial Modern”. Perkembangan Arsitektur transisi dipengaruhi oleh seorang aristek Neo-Gothik PJH. Cuypers (1827-1921). Gaya arsitektur transisi menggunakan gaya Indische Empire namun mencoba menghilangkan gaya Yunani.

Gaya bangunan arsitektur transis memiliki karakteristik yang khas. Memiliki menara untuk memunculkan kesan romantis. Hal ini dapat dilihat dari depan gedung Lawang Sewu yang memiliki menara di sebalah kanan dan kirinya serta terdapat persegi delapan yang berbentuk kubah diatas menaranya. Masih banyak memakai bentuk atap pelana dan perisai dengan penutup genting. Memakai konstrukis tambahan sebagai ventilasi (doemer). Menyeseuaikan dengan iklim tropis di Hindia Belanda, dibuatlah jendela yang diletakkan pada sisi atap (domer) selain itu juga terdapat gable dan balustrade yang tampak dari barat gedung lawang sewu. Memiliki bentuk atap yang tinggi dengan kemiringan antara 45˚-60˚. Menggunakan kayu dan beton serta dinding pemikul dalam pembangunan kolom-kolom. Bahan utama bangunan menggunakan batu bata dan kayu serta pemakaian kaca pada jendela terbatas.

Pembagian ruang Lawang Sewu berbentuk horizontal dan vertikal. Ruang berbentuk horiontal dalam bangunan Lawang Sewu menerapkan prinsip double banked dan terdapat dua baris ruang yang dipisahkan oleh koridor tengah. Secara vertikal ruang terbagi oleh lapis-lapis lantai, hubungan antar lapis ruang berupa ruang void dan tangga.

Penggunaan kaca jendela yang terbatas. Hal ini menjadi karakteristik bangunan lawang Sewu ialah terdapat kaca patri yang dibagian tengah menggambarkan Dewi Fortuna yang berbaju merah, roda bersayap lambang kereta api dan Dewi Sri yang diasanya terdapat tumbuhan dan hewan serta simbol kota dagangan Batavia, Surabaya dan Semarang. Simbol kota dagang Belanda yakni Amsterdam, Roterdam, dan Den Haag di kaca sebelah kiri dan ratu-ratu Belanda ditambilkan di kaca sebelah kanan.

Referensi:

Amirul Farras Abyyusa dkk, Monumentalitas Arsitektur Lawang Sewu, Universitas Katolik Parahyangan, Jurnal Vol 03 No. 2 edisi April 2019

Samuel Hartono, Arsitektur Transisi di Nusantara dari akhir abad 19 ka awal abad ke 20, Universitas Kristen Peta, Vol. 34, No.2 Desember 2006

Abdul Malik, Aspek Tropis Pada Bangunan Kolonial Lawang Sewu, Universitas Negeri Diponegoro, 2004

https://m.cnnindonesia.com/menyingkap-kecerdasan-arsitektur-lawang-sewu  diakses 03 Agustus 2020

TINGGALKAN KOMENTAR