Darmanta, Bekerja Layaknya Sopir

0
115

Di usianya yang sudah senja, pria kelahiran Klaten, 22 Agustus 1950 ini mencoba mengingat kembali memorinya yang usang tentang pencarian batu candi. Saat itu, Darmanta sejak kecil sudah bertempat tinggal di sebelah timur Candi Sewu. Ia teringat awal mula bekerja di Candi Sewu setelah pemilihan umum pertama Soeharto (sekitar tahun 1971).

Saat pertama kali bekerja di Candi Sewu, ia masih menjadi tenaga muda. Namun, Darmanta yang saat itu masih berusia muda sangat kagum ketika disuruh untuk memindahkan batu dari satu tempat ke tempat lain dan dipasang bisa langsung cocok. Pria lulusan SMP PGRI di kawasan Prambanan ini sangat antusias ketika disuruh mengikuti seniornya keliling candi dengan membawa meteran serta memperhatikan ornamen-ornamen candi. Kesulitan yang ia temui pada saat itu adalah mencari batu hingga luar Candi Sewu. Tak jarang, batu yang ia temukan sudah menjadi pagar atau menjadi material bangunan sarana transportasi pada masa kolonial. Kadang pula, ia menemukan batu di lahan masyarakat. Untung saja, masyarakat saat itu mendukung proses pembangunan candi, jadi bisa langsung diberikan.

Pria yang menjadi kakak dari Supardji (sekarang masih aktif) dan Pak De dari Agus Kuncoro (pencari batu) ini, sangat takjub dan bangga akan keluhuran dan kebijaksanaan nenek moyang yang dapat menciptakan bangunan yang begitu megah. Bahkan ia sampai terheran-heran ketika ia mendapat tugas di luar Candi Sewu, seperti di Candi Ratu Boko. Ia takjub, bagaimana orang dulu membawa material bongkahan batu ke atas gunung? Ia berharap, generasi saat ini dapat menghargai dan merawat peninggalan nenek moyang. Banyak orang asing yang merasa heran akan kekayaan dari negara kita, terdapat peninggalan yang sangat unik serta berbagai macam perbedaan tapi kita dapat bersatu dengan Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika. Ia merasa sangat berterima kasih pada nenek moyang.

Menurutnya bekerja sebagai pencari batu itu seperti seseorang yang bekerja seperti sopir. Saat berkendara, sopir tidak banyak bicara, namun ia sebenarnya bekerja dan terus fokus. Begitu pula dengan seorang pencari batu candi, mereka tidak banyak berbicara, namun pikirannya terus berjalan hingga dapat menemukan sambungan satu batu dengan batu yang lain. Setelah pensiun menjadi pencari batu candi pada 2006, ia disibukkan dengan menggembala kambing. Menurutnya menggembala kambing bisa membuatnya lebih segar setelah pensiun dari pencari batu candi yang harus berpikir tegang dan fokus di setiap harinya.

Ditulis oleh: Meilinia FathonahMahasiswa Jurusan Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya, Jurusan Sejarah, Undip Semarang

TINGGALKAN KOMENTAR