You are currently viewing Daftar Raja-Raja (bagian 1), Candi Sewu dan Sejarah Pemugarannya

Daftar Raja-Raja (bagian 1), Candi Sewu dan Sejarah Pemugarannya

Balai Pelestarian Cagar Budaya Provinsi Jawa Tengah sampai saat terus menerbitkan buku bertema Cagar Budaya. Beberapa buku yang telah diterbitkan merupakan buku yang cukup sering digunakan untuk referensi guna melakukan tindakan pelestarian suatu cagar budaya. Buku-buku ini sering disebut sebagai buku “Babon” karena sangat memegang peranan penting. Salah satu buku “Babon” ini adalah Buku Candi Sewu dan Sejarah Pemugarannya. Adapun tim penulis buku ini adalah Penasehat/editor : IGN Anom, Penanggung Jawab : Tri Hatmaji, Tim Penyusun terdiri dari Ketua : Kusen, Anggota : I Made Kusumajaya, Gutomo, Rusmulia Ciptadi H, Murdjijono, Sudarno, dan Suhardi. Buku ini diterbitkan sebagai bagian Proyek Pelestarian / Pemanfaatan Peninggalan Sejarah dan Purbakala Jawa Tengah 1991- 1992. Untuk lebih memudahkan akses masyarakat untuk dapat membaca buku ini, laman ini akan menampilkan bagian per bagian dari buku Candi Sewu dan Sejarah Pemugarannya.

Sebelum tahun 1983, pengetahuan tentang nama raja-raja yang pernah memerintah di Jawa Tengah bersumber pada daftar raja- raja yang termuat dalam prasasti Mantyasih (Kedu) tahun 907 Masehi yang dikeluarkan oleh Raja Balitung, serta keterangan yang dikumpulkan dari prasasti- prasasti yang dikeluarkan oleh raja-raja lain. Prasasti Mantyasih berisi daftar raja-raja yang memerintah sebelum Balitung di medang di oh pitu ( ungkapan dalam prasasti : rahyangta rumuhun ri mdang ri poh pitu) yaitu

  1. Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya
  2. Sri Maharaja Rakai Panangkaran
  3. Sri Maharaja Rakai Panunggalan
  4. Sri Maharaja Rakai Warak
  5. Sri Maharaja Rakai Garung
  6. Sri Maharaja Rakai Pikatan
  7. Sri Maharaja Rakai Kayuwangi
  8. Sri Maharaja Rakai Watuhumalang

Kemudian diikuti oleh nama raja yang mengeluarkan prasasti yaitu Sri Maharaja Rakai Watukura Dyah Balitung Dharmodaya Masambu (ibid..,: 82). Dari ke delapan Raja Balitung hanya Sanjaya yang disebutkan nama pribadinya, sedang yang lain disebut dengan gelar dan kemudian diikuti oleh nama tempat dimana ia berkuasa. Selanjutnya kecuali Rakai Panunggalan dan Rakai Warak yang hanya disebut dalam Prasasti Mantyasih, nama atau gelar raja lainnya ditemukan dalam prasasti-prasasti lain. Di samping itu dalam prasasti yang ditemukan di Jawa di sebut-sebut pula nama raja yang tidak termasuk dalam daftar Balitung yaitu Indra yang disebut dalam Prasasti Kelurak tahun 782 Masehi dan Samarattungga yang disebut dalam Prasasti Kayumwungan ( karangtengah ) tahun 824 Masehi ( Ibid.: 85-86)
Adanya nama raja di luar daftar raja-raja yang dibuat Balitung serta adanya peninggalan kuno yang berlatar belakang agama Hindu dan Buddha telah menimbulkan dugaan bahwa di Jawa Tengah dahulu ada dua dinasti yaitu Dinasti Syailendra yang beragama Buddha dan Dinasti Sanjaya yang beragama Hindu. Dugaan tentang adanya dua dinasti ini ada yang mendukung dan ada yang menolak. Dan hal ini sampai sekarang masih merupakan masalah yang diperdebatkan dikalangan para ahli sejarah dan arkeologi. Perbedaan pendapat semacam ini memang wajar karena yang dihadapi adalah sumber sejarah yang serba kurang lengkap. (foto Prasasti Mantyasih)