You are currently viewing Cerita Para Juru Pelihara Candi Plaosan

Cerita Para Juru Pelihara Candi Plaosan

Candi Plaosan terletak di Dukuh Plaosan, Desa Bugisan, Kecamatan, Prambanan Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. De Carparis menyatakan bahwa kompleks candi Plaosan didirikan pada pertengahan abad ke-9 M, antara tahun 825-850 M. Pendapat Carparis ini didasarkan dari data prasasti, gaya seni dan arsitektur Candi Plaosan. Dikatakan pula bahwa Candi di bangun oleh raja putri dari Dinasti Sailendra yang bergelar Sri Kahulunan, dibantu oleh suaminya Rakai Pikatan dari Dinasti Sanjaya yang beragama Hindu. Sri Kahulunan adalah ratu yang berasal dari Dinasti Sailendra penganut agama Buddha,yang samakan dengan Pramordawardhani. Berdasarkan Prsasasti Karangtengah tahun 824 Masehi dapat di ketahui bahwa Pramodawardhani adalah anak raja Samaratunnga yang membangun Candi Mendut pada tahun 1812 M.

Candi Plaosan merupakan Candi di Kawasan Prambanan yang mempnyai nilai penting untuk dilestarikan.Candi ini dapat menunjukkan harmoni dua agama yang hidup saing berdampingan yaitu Hindu dan Buddha. Pelestarian Candi ini meliputi pelestarian kompleks Candi itu sendiri beserta lingkungannya sebagai satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Candi Plaosan dahulu merupakan tanah perdikan dan memerlukan dukungan dari wilayah sekitarnya.Salah satu kebutuhanya adalah kebutuhan pangan yang di dukung dari persawahan disekitarnaya. Sampai sekarang linngkungan area persawahan ini masih masih ada di kompleks Candi Plaosan ini.Areal persawahan ini perlu di pertahankan sebagai upaya mempertahankan lanskap budaya. Sebagai salah satu situs warisan budaya Indonesia, sudah pasti Candi Plaosan menjadi salah satu tempat yang banyak di kunjungi oleh wisatawan, baik wisatawan Nusantara maupan wisatawan Mancanegara. Wisatawan yang berkunjung ke Candi Plaosan datang dengan berbagai keperluan ,mulai dari sekedar jalan-jalan.urusan kedinasan,untuk belajar sejarah,untuk beribadah dan banyak pula pasangan kekasih yang mengabadikan foto Prewedding mereka di Candi Plaosan sebelum menikah dan mereka mempercayai bahwa yang berfoto dengan pasangan di kawasan Candi Plaosan pernikahanya akan langgeng seperti cerita sejarah Candi Plaosan yaitu pernikahan beda agama yang di lakukan oleh Raja purti Sri Kahulunan dan Rkai Pikatan yang menyatu karena cinta.

Dengan adanya kunjungan wisatawan ke Kawasan Wisata Candi Plaosan sudah pasti sangat berhubungan erat dengan sampah. Kenapa? Karena setiap wisatawan yang datang pasti membawa bekal berupa air minum/air mineral,makanan/cemilan dan yang lain seperti tissue. Meskipun sebelum memasuki halaman Candi petugas keamanan sudah mengungatkan untuk tidak mebuang sampah sembarangan karena di setiap sudut candi telah di sediakan tempat sampah dan wisatawan /pengujnung wajib membuang sampah di tempatnya selain itu ada banyak peraturan yang wajib di patuhi pengunjung. Seperti peraturan untuk berfoto dan tidak memanjat candi. Petugas juru pelihara mempunyai peran penting dalam hal menjaga kebersihan kompleks Candi. Adapun alat-alat yang digunakan untuk untuk membersihkan kompleks Candi yaitu : Sapu lidi,sabit,tangga,gunting rumput,mesin rumput,sikat ijuk,cangkul,spreyer,dan tempat sampah. Selanjutnya adalah hasil survey dan wawancara penulis dengan ketua juru pelihara dan beberapa anggota juru pelihara terkait kebersihan kompleks Candi Plaosan.Selain sebagai petugas kebersihan juru pelihara juga kadang membantu dibidang keamanan yaitu ikut mengawasi perilaku wisatawan/pengujung yang sering melanggar peraturan.

Perilaku wisatawan/pengunjung yang sering membuang sampah sembarangan di kompleks Candi Plaosan ini sangat disayangkan oleh para petugas Juru Pelihara di sana. Hal ini berdasar pada hasil survey dan wawancara penulis dengan beberapa petugas juru pelihara di Candi Plaosan. Tempat sampah yang di sediakan di Candi Plaosan ini sangat banyak dan diposisikan di tempat-tempat stratrgis yang sering di lalui pengunjung. Seperti digerbang masuk Candi utama, disekitaran Candi Perwara.

“Sudah di sediakan tempat sampah tapi masih saja membuang sampah sembarangan, kadang kalau saya lihat yang seperti ini sampahnya saya suruh ambil dan di buang ke tempat sampah“ kata Marsono. Selama bekerja sebagai juru pelihara sejak 3/6/1991 di Candi Plaosan dan saat ini menjabat sebagai ketua tim juru pelihara, beliau mengacungkan jempol untuk wisatawan asing yang selalu patuh dan bahkan tidak pernah membuang sampah sembarangan, ”kalaupun posisi mereka agak jauh dari tempat sampah sampahnya dikantongi dulu nanti kemuadian baru di buang ke tempat sampah“. Dan menurut beliau wisatawan asing mempunyai etika lebih baik.

Marsono, juru pelihara Candi Plaosan


“Selain sampah plastik banyak juga wisatawan yang membuang puntung rokok di dalam kompleks Candi Plaosan padahal di sana juga ada peraturan dilarang merokok di area ini namun itulah perilaku wisatawan yang sangat susah memetuhi peraturan yang ada” tambah Sugeng Sutrisno. Beliau juga mengatakan hal yang sama dengan ketua tim juru pelihara bahwa hanya wisatawan domestiklah yang sering membuang sampah sembarangan serta sering melanggar peraturan yang lain, seperti memanjat candi atau memanjat tumpukan batu yang belum tersusun. Bekerja sebagai juru pelihara sangat menyenangkan karena bisa berkumpul bersama teman-teman. Hal yang menjadi perhatian dan sangat disayangkan adalah perilaku sebagian kecil wisatawan yang sering membuang sampah sembarangan. Untuk itu, hal yang menjadi harapannya ialah kesadaran semua wisatawan atau pengunjung Candi Plaosan untuk membudayakan perilaku membuang sampah pada tempatnya.

Sugeng Sutrisno, juru pelihara Candi Plaosan


“Sangat disayangkan karena menurut pengamatan saya selama menjadi juru pelihara disini, sebagian besar wisatawan/pengunjung yang berkunjung ke Candi Plaosan adalah orang-orang yang berpendidikan tapi apa yang dilakukan oleh sebagian dari mereka ini benar-benar merupakan perilaku yang tidak terpuji yaitu membuang sampah sembarangan dan kadang melanggar berbagai peratuatran yang ada. Misalnya larangan untuk mengambil gambar dari atas tumpukan batu yang belum tersusun, memanjat candi dan bahkan ada yang merokok di area Candi dan mereka-mereka ini adalah wsatawan domestik/wisatawan Nusantara. Sangat berbanding terbalik dengan Wisatawan Asing yang lebih mematuhi peraturan yang ada” jelas Stiarno.

Stiarno, juru pelihara Candi Plaosan

Dari pendapat-pendapat para juru peliahara dan survey langsung penulis di Kawasan Wisata Candi Plaosan dapat disimpulkan bahwa kesadaran membuang sampah pada tempatnya dari sebagian wisatawan masi sangat kurang dan di dominasi oleh wisatawandomestic/wisatawan nusantara.Dan pesan penulis bagi pembaca untuk lebih membudayakan perilaku membuang sampah pada tempatnya.Dan kita berasama-sama “kunjungi,Lindungi dan lestarikan” kawasan cagar budaya yang merupakan warisan budaya Negara kita Indonesia tercinta.Sekian dan Terimakasih. (Florida Balagaize,Politeknik Api Yogyakarta/2020).

Leave a Reply