Cagar budaya harus dipandang sebagai warisan kekayaan intelektual yang dimiliki oleh suatu wilayah, termasuk OKU. Ia merupakan hasil dari proses kemampuan adaptasi manusia dengan alam dan lingkungannya; hasil dari proses keluwesan interaksi masyarakat budaya setempat dengan masyarakat budaya lainnya; juga, merupakan hasil dari proses pengekspresian keberadaan masyarakat pendukung budaya bersangkutan. Maka cagar budaya, akhirnya lebih merupakan cerminan jati diri dan karakter masyarakat budaya setempat. Dan sebagai sebuah aset, cagar budaya itu dapat bermanfaat atau dimanfaatkan sebagai sumber pendapatan wilayah. Contoh nyatanya, sebagai obyek wisata.

Untuk wilayah OKU, gua-gua prasejarah di Padangbindu tampaknya sudah menjadi ikon pariwisata setempat. Tinggal bagaimana ia dapat dikelola seiring dengan upaya untuk tetap menjaga kelestariannya. Sekali lagi, pendekatan pariwisata yang berkelanjutan sangat perlu diterapkan di sini. Ar nya, konsep pariwisata budaya yang disusun harus dapat menjadi alat pelestari. Dengan pendekatan tersebut, upaya pelestarian dapat menjelma sebagai daya tarik wisata tersendiri, yang berbasis edukasi. Lewat pendekatan pariwisata yang berkelanjutan, keberadaan masyarakat di sekitar gua-gua prasejarah Padangbindu, pun tak akan terabaikan. Mereka niscaya memiliki ikatan historis-kultural untuk turut melestarikannya. Karena memahami arti penting keberadaannya. Juga, karena dapat merasakan manfaatnya