JALUR MARITIM DAN PERDAGANGAN REMPAH DI BENGKULU (3)

0
392
ririfahlen/bpcbjambi

JALUR MARITIM

Aktifitas kemaritiman berupa pelayaran dan perdagangan telah berlangsung sejak lama di wilayah Bengkulu yang juga dikenal dengan sebutan Silebar atau Kerajaan Silebar. Rosihin Anwar yang merupakan tokoh Pers Indonesia dan wartawan senior, dalam bukunya yang berjudul “Sejarah Kecil Petite Histoire Indonesia” menyebutkan bahwa pada abad ke 5 Masehi para pedagang dari Kerajaan Tarumanegara telah datang ke Bengkulu untuk membeli Lada (Anwar, 2004:119).
Keberadaan lada inilah yang mendorong pedagang dari Kerajaan Tarumanegara berlayar dari daerah asalnya di Pulau Jawa menuju ke Bengkulu salah satu daerah di Pulau Sumatera. Dalam buku Oriental Commerce or the East India Trader’s Complete Guide, diberitakan bahwa tanaman lada dibudidayakan masyarakat di seluruh wilayah Bengkulu dan menjadi komoditi dagang utama selain serbuk emas dan sarang burung. Secara khusus serbuk emas diproduksi dari Mukomuko, sedangkan sarang burung dari Krui yang sekarang termasuk wilayah administrasi Lampung Keseluruhan komoditi tersebut kemudian dikapalkan ke Bengkulu (Milburn, 1825. 366-370).
Secara geografis Jawa dan Sumatera dipisahkan oleh Laut Jawa dan Selat Sunda sehingga tentunya para pedagang tersebut berlayar untuk sampai ke Bengkulu. Kerajaan Tarumanegara berpusat di daerah Sundapura atau yang kini kita kenal dengan nama Bekasi, mengacu pada kesimpulan dari isi prasasti Muara Cianteun Yang menyatakan jika pusat kerajaan telah berpindah pada masa kekuasaan Raja Suryawarman, yang tak lain adalah Raja ke 7 dari kerajaan Tarumanegara. Jika mengacu pada letak geografis tersebut, para pedagang dari Kerajaan Tarumanegara berlayar dengan menyusuri jalur pesisir utara Laut Jawa, kemudian melanjutkan pelayarannya menyeberangi Selat Sunda, dan akhirnya sampai
Bengkulu.

Peta Wilayah Kerajaan Tarumanegara (sumber:http//kisahasalusul.blogspot.com/2015/05/letak-kerajaan-tarumaneggara-lokasi.html)

Menurut Febianto dalam tulisannya yang berjudul “Perlawanan Kesultanan-Kesultanan Bengkulu Melawan Hindia Belanda Abad 19”, disebutkan bahwa pada masa sebelum tahun 1685, di wilayah Bengkulu sekarang terdapat beberapa kerajaan kecil, yaitu disamping Kerajaan Empat Petulai, yang juga terkenal dengan Kerajaan Depati Tiang Empat dengan Rajo Depatinya di Pegunungan Bukit Barisan di daerah Rejang Lebong serkarang, ada di bagian pesisir Bengkulu Kerajaan Sungai Serut di Bengkulu, Kerajaan Silebar di daerah Lembak Bengkulu Utara, Kerajan Sungai Lemau di daerah Pondok Kelapa Bengkulu Utara, dan Kerajaan anak Sungai di daerah Muko-Muko. Kerajaan-Kerajaan kecil tersebut, tidak terbentuk suatu Negara dengan kekuasaan mutlak Kerajaan itu terdiri dari dusun-dusun yang dipimpin oleh seorang kepala yang dipilih oleh para penduduknya dan para kepala dusun secara sukarela menggabungkan diri pada kerajaan, dimana Raja adalah lambang kesatuan. Terlepas belum ditemukannya bukti arkeologis mengenai jejak pelayaran para pedagang dari Tarumanagara ke Bengkulu, keberadaan lada di daerah ini tetap menjadi daya tarik bagi bangsa-bangsa lain untuk datang ke Bengkulu. Apalagi lada merupakan salah satu jenis rempah-rempah yang menjadi komoditi andalan dari nusantara pada masa itu selain cengkeh dan pala.

bersambung…

(artikel ini ditulis oleh Yadi Mulyadi, disadur dari tulisan yang berjudul “Jalur Maritim dan Perdagangan Rempah di Bengkulu”, yang telah dipublikasikan dalam buku “Membaca Pesan Masa Lalu Bumi Bengkulu”)