SOMBORI TAPAK HARAPAN MBOKITA “Gambar Cadas dalam Gua Prasejarah”

0
2106

Wisatawan mengenal wilayah Desa Mbokita dengan nama Sombori yang dijuluki sebagai “Raja Ampatnya Sulawesi Tengah”. Secara administrasi wilayah potensi cagar budaya gua-gua prasejarah berada di pesisir pantai Teluk Matarape dan gugusan pulau Sombori yang berbatasan langsung dengan Laut Banda di Desa Mbokita, Kecamatan Menui Kepulauan, Kabupaten Morowali, Provinsi Sulawesi Tengah. Litologi Teluk Matarape merupakan gugusan perbukitan karst yang menjorok kearah laut disebelah utara, perbukitan struktural bersusun batuan ofiolit disebelah selatan, dan tertutup busur kepulauan terumbu pada gerbang teluk menuju Laut Banda.

Desa Mbokita merupakan gugusan pulau karang yang terletak di Teluk Matarape dari salah satu desa dari 24 desa yang berada di Kecamatan Menui Kepulauan. Aksesibilitas mencapai Desa Mbokita dapat dilalui dengan dua jalur menumpangi roda empat atau roda dua dari Bungku Tengah ke dermaga Lafeu (Morowali, Sulawesi Tengah) menumpangi kapal antar pulau, atau dengan melalui jalur Kota Kendari ke dermaga Molore (Konawe Utara, Sulawesi Tenggara) dan menumpangi kapal sewa dari masyarakat setempat. Adapun batas-batas Desa Mbokita, yaitu:

  • Sebelah Utara    : Teluk Matarape dan Desa Matarape;
  • Sebelah Selatan : Pulau
  • Sebelah Timur   : Perbukitan Karst Matarape dan Pulau Marege (Sombori);
  • Sebelah Barat    : Pulau Kokoh dan Desa Molore, Kabupaten Konawe Utara (Sulawesi Tenggara).

Hamparan laut biru dan bentangan gugusan karst Matarape tentunya dapat memanjakan mata para penikmat wisata pantai. Penduduk yang bermukim dipulau Mbokita berasal dari suku Bajo yang akrab dengan budaya maritim. Adapun suku lainnya berasal dari Bungku dan Menui, Sulawesi Tengah. Keberadaan masyarakat di pulau ini tidak terlepas dari orang dituakan dengan sebutan dalam bahasa Bajo – Bungku yaitu Ambo (Idn. Nenek) Kitta(Idn. Kita). Ambo Kitta (Mbokita) kini di makamkan di pulau Kayangan yang terletak disebelah barat pulau yang sekarang menjadi nama desa yakni Mbokita.

Pulau Desa Mbokita dengan latar belakang gugusan karst Matarape. Sumber foto : BPCB Gorontalo, 2018

Tidak banyak yang tahu keberadaan gambar cadas yang terdapat di gua Berlian dan gua Mbokita. Bagi wisatawan dan masyarakat keindahan alam pulau dan pantai yang menjadi daya tarik wisata di kepulauan Sombori. Untuk pertama kalinya di tahun 2018, tim Balai Pelestarian Cagar Budaya Gorontalo menemukan gambar cadas berupa cap tangan di gua Berlian dan gua Mbokita melalui Pendataan Potensi Cagar Budaya Gua Prasejarah, Kabupaten Morowali, Provinsi Sulawesi Tengah. Penamaan gua pun bagi masyarakat di Mbokita diberikan secara objektif melalui unsur pembentuk dinding gua, stalaktit, stalagmit dan pilarmenyerupai batu berlian yang berkilauan saat terpancar sinar, sehingga diberikan nama gua Berlian.

Gua Berlian merupakan salah satu objek yang sering dikunjungi wisatawan karena ketertarikannya akan nama berlian yang disematkan pada gua ini.Lain halnya dengan guaMbokita, awalnya gua ini diberikan nama sebagai gua telapak tangan oleh pak Haidar yang menjadi penunjuk jalan. Baginya gua telapak tangan ini cukup misterius dan awalnya hanya dia yang mengetahui keberadaannya. Ketika ditanyakan alasan mengapa nama gua ini telapak tangan? Dengan sigap dijawabnya, bahwa “gua ini memiliki banyak gambar-gambar telapak tangan di setiap dinding gua”. Saat pertama kali menemukannya, pak Haidar tidak mengetahui siapa yang membuat telapak tangan tersebut, sampai bertemu dengan saya yang akhirnya memahami bahwa telapak-telapak tangan tersebut merupakan hasil kebudayaan masa lalu yang dibuat sejak masa prasejarah. Kemudian sebagai bentuk apresiasi saya terhadap keakraban dan asal usul masyarakat desa Mbokita, gua yang semula dinamakan gua Telapak Tangan diubahlah menjadi gua Mbokita.

Gua Berlian

Aksesibilitas ke gua Berlian berjarak ± 0,86 Mil Laut atau sekitar 1,59 Km dari sebelah Timur desa Mbokita dengan menumpangi perahu dengan melalui Teluk Matarape dan bersandar di tepi tebing laut untuk menapaki jalan tanjakan hingga mencapai mulut gua. Secara astronomis gua Berlian berada pada koordinat 3°16’35.80″ Lintang Selatan dan 122°25’21.60″ Bujur Timur dengan ketinggian 13 Meter dari permukaan laut (Mdpl). Gua Berlian merupakan gua bentukan alam yang didominasi vegetasi tanaman perdu dan pohon berbatang keras. Secara morfologi gua Berlian perbukitan karst Matarape yang masih menyatu dengan pulau Sulawesi. Unsur pembentukan gua terdiri dari batuan gamping dan terumbu berwarna abu-abu pucat. Proses pelarutan gua sudah berlangsung intensif denganmenghasilkan bentuk tiang stalagmite dan stalaktit (kalsit terubah intensif menjadi dolomit).

Akses jalan dan papan nama gua Berlian yang menjadi salah satu objek wisata di karst Matarape, Mbokita. Sumber foto: BPCB Gorontalo, 2018

Arah mulut gua menghadap ke barat dan memiliki lebar 12,3 meter dan tinggi 7 meter. Teras gua yang memanjang dari Utara ke Selatan ditemukan konsentrasi kerang yang terdeposit secara masif di permukaan tanah dan juga sedimentasi kerang bagian bawah dinding gua.Dominasi jenis kerang yang ditemukan di gua Berlian berdasarkan klasifikasi famili terdiri dariTridacnidae,Trochidae – Turbinidae – Nerita albicilla,  Strombidae – Lambis-lambis, Cypraeidae, Rannelidae, dan Conidae. Sebaran kerang kemudian diindikasikan sebagai bahan makanan bagi penghuni gua pada masa lalu. Dalam istilahnya seringkali dinamakan sebagai Kjokkenmoddinger (Dnk) atau sampah dapur (Idn) yang merupakan proses dari tumpukan sedimentasi (fosil) kulit kerang dan tulang hewan yang dihasilkan manusia masa lalu. Karakterisitik semacam ini pada sejumlah gua bentukan alam pada masa prasejarah seringkali diindikasikan sebagai gua hunian dengan mengamati pola sampah dapur yang ditemukan diatas lahan situs.

Persebaran gambar cadas di gua Berlian terletak di 4 bidang dinding dengan membagi panel berdasarkan identifikasi pengelompokan penempatan gambar cadas yang masing-masing berada pada dinding Utara, Selatan dan dinding Timur yang berada dalam dinding gua.

Pola sebaran gambar cadas telapak tangan berdasarkan pembagian panel melalui denah gua dari BPCB Gorontalo dan sebuah gambar bergaris merah yang menunjukkan titik cap tangan yang pertamakali ditemukan Tim Pendataan Potensi Cagar Budaya Gua Prasejarah Morowali BPCB Gorontalo. Sumber foto: BPCB Gorontalo yang diadaptasikan oleh Faiz, 2018.

Rata-rata pembuatan telapak tangan dilakukan dengan teknik penyemprotan atau bentuk telapak tangan negative hand stencil. Teknik ini ditandai pada pola bercak-bercak merah pada bagian luar untuk mendapatkan pola telapak tangan yang diinginkan. Bahan membuat telapak tangan yang ditempelkan di dinding dan langit gua menggunakan pewarna oker. Bahan oker ini merupakan proses pelapukan lanjut dari tanah-tanah lunak yang tercampur oksidasi besi, tanah liat, kapur, dan bahan-bahan berbentuk pasir. Oker dapat menghasilkan varian warna merah, coklat dan percampuran arang untuk menghasilkan warna hitam.

Berdasarkan pengamatan langsung, jumlah dan bentuk gambar cadas telapak tangan yang ditemukan di gua Berlian hanya sebagian kecil yang dapat teridentifikasi dengan baik, masih cukup banyak gambar telapak tangan yang tidak dapat teridentifikasi disebabkan tingginya intensitas kelembapan sehingga mempercepat proses dolomitisasi terhadap dinding gua tempat ditemukannya sebaran gambar cadas.

Gua Mbokita

Seperti halnya aksesibilitas menuju gua Berlian, perjalanan ke gua Mbokita mesti dilalui dengan perahu. Secara topografi, letak gua Mbokita berada di sebelah Utara perbukitan karst Matarape. Jika mengikuti jalur darat jarak antara gua Berlian dan gua Mbokita sekitar 2, 29 Km dengan menyusuri tebing dan punggungan bukit karts serta belukar dan hutan yang menutupi perbukitan. Sedangkan dengan jalur laut jarak yang ditempuh 2,63 Mil laut atau 4,88 Km dengan jalur menyusuri celah perbukitan karst Matarape dan pulau Marege (pulau Sombori) hingga berbatasan dengan perairan laut Banda.

Profil keletakan gua Mbokita, dan inzet tampak mulut gua dari luar dan dari dalam gua Mbokita. Sumber foto: BPCB Gorontalo yang diadaptasikan oleh Faiz, 2018.

Astronomis gua Mbokita berada pada kooordinat Lintang Selatan 3°15’26.70″ dan Bujur Timur 122°25’49.40″ dengan ketinggian 47 Meter dari permukaan laut (Mdpl). Kemiringan lereng jalan ke mulut gua sekitar 18 meter dengan vegetasi hutan berupa tanaman perdu, rotan, pohon berbatang keras dan anggrek berdaun panjang. Litologi pembentukan gua Mbokita berupa batu gamping terumbu berwarna keabu-abuan. Nampak dibeberapa tempat terlihat proses pelarutan yang intensif melalui dolomitisasi pembentukan tiang dan tirai gua. Stalaktit dan stalagmit jarang ditemui di gua Mbokita. Hanya dibagian mulut gua terdapat pembentukan stalagmit.

Di permukaan tanah dari mulut gua sampai ruang tengah, tersebar secara masif tumpukan kjokkenmoddinger dari berbagai famili kerangyang didominasi Strombidae – Lambis-lambis, Tridacnidae, Mytiladae, Trochidaea, Rannelidae dan Conidae.

Bentuk gambar cadas di gua Mbokita menunjukkan perbedaan dengan gambar cadas di gua Berlian yang signifikan, tidak saja pada teknik penggambaran serta warna yang digunakan, tetapi memiliki pola yang sangat bervariasi. Persebaran gambar cadas di gua Mbokita dibagi menjadi 5 panel. Gambar cadas yang terdapat pada panel 1 di dinding gua sebelah utara memiliki pola telapak tangan negative hand stencil yang dibuat secara berkelompok dengan jumlah yang sangat banyak, selain itu terdapat bentuk lukisan fauna yang lebih menyerupai ikan, lukisan geometris, antropomorfik dan lukisan abstrak. Bentuk lukisan semacam ini umumnya dibuat dibuat dengan teknik gores atau di lukis untuk menampakkan gambar yang diinginkan. Dinding gua disebelah Timur Laut menjadi panel 2, yang memiliki variasi gambar cadas berupa lukisan hewan menyerupai anoa bertanduk yang berapit dengan gambar telapak tangan. Rata-rata pola penempatan gambar cadas berada di langit-langit gua. Di sebelah Selatan terdapat sebuah pilar yang memisahkan antara dua mulut gua yang menghadap ke arah Timur terdapat gambar cadas telapak tangan yang dikelompokkan menjadi panel 3. Pada panel 4 gambar cadas yang ditemukan secara signifikan memiliki pola yang hampir sama dengan kelompok gambar telapak tangan pada setiap panel. Gambar cadas panel 5 terletak di sebelah Selatan yang membentuk celah batu dan memiliki jalan untuk naik ke lorong gua bagian atas. Gambar telapak tangan yang ditemukan memiliki 2 varian warna hitam dan merah. Adapun bentuk jari runcing yang ditemukan pada salah satu gambar telapak tangan. Pola penempatan gambar cadas di bagian langit-langit, stalaktit, dan pada bidang celah sempit dari dinding batu.

Pola sebaran gambar cadas telapak tangan berdasarkan pembagian panel dan denah gua yang dibuat oleh Tim Pendataan Potensi Cagar Budaya Gua Prasejarah Morowali BPCB Gorontalo. Foto oleh Faiz, 2018.

Seni, Realita dan Harapan

Ada banyak varian transformasional dalam mengartikan konsep seni melalui makna wujud kebudayaan, diantaranya melalui identifikasi datagambar cadas yang terdapat pada gua Berlian dan gua Mbokita. Seperti halnya melalui gambar cadas masa prasejarah yang dihasilkan melalui gagasan pelaku budayadalam mewujudkan karya yang layaknya disebut sebagai seni lukisan pada masa lalu. Pola-pola penempatan gambar telapak tangan yang seringkali ditemukan secara berkelompok (panel) dapat diartikan memiliki cerita dan makna yang diinginkan. Dominasi gambar telapak tangan di gua Berlian dan gua Mbokita merupakan penggambaran yang sederhana untuk menunjukkan eksistensi budaya bagi pembuatnya terhadap bentuk gagasan yang menghasilkan karya seni lukis, penggambaran aktifitas dan lingkungannya, pengkodefikasian terhadap kepercayaan dunia natural dan supranatural. Perpaduan gambar telapak tangan dengan bentuk-bentuk penggambaran hewan, antropomorfik, dan geometris tidak sekedar menggambarkan sesuatu yang ada di alam untuk memenuhi kesenangan, tetapi penggambaran tersebut dapat menjadi simbol-simbol aktifitas natural dan supranaturalmasyarakat pelaku budaya. Begitu juga dengan penggunaanwarna bahanyangdidominasi warna merah terdapat dan kurangnya penggunaan warna hitam tentu bukan hal yang dilakukan tanpa kesengajaan. Perpaduan pola penempatan gambar telapak tangan berwarna merah dan hitam memberikan makna terhadap pola ideologi dari perilaku masyarakat pelaku budaya.

Manusia dalam membentuk konsep kebudayaan tidak terlepas dari pilar utama, yakni gagasan, aktifitas, dan karya. Ide dikategorikan sebagai seni yang kompleks dari gagasan, nilai, dan norma. Wujud kebudayaan semacam ini dapat terwujud menjadi sebuah karya dalam bentuk lukisan, tulisan dan kebendawian. Begitu pun dengan aktifitas yang dapat diartikan sebagai wujud kebudayaan melalui perilaku manusia yang dilakukan secara berpola dalam masyarakat. Wujud ini disebut sistem sosial melalui aktifitas manusia saling berinteraksi berdasarkan pola tertentu yang dapat diamati dan didokumentasikan.  Sedangkan karya merupakan wujud artefak budaya atau hasil modifikasi manusia terhadap objek kebendawian yang menunjang pola kebutuhan dan keinginan dalam kehidupan manusia.

Penemuan baru sebaran gambar cadas di gua, ceruk dan tebing laut kawasan karst Matarape masih berpotensi. Sebagai langkah awal upaya pelestarian cagar budaya di wilayah karst Matarape, maka diperlukan pendataan berkelanjutan dan penelitian arkeologi untuk mengetahui persebaran menyeluruh untuk mengetahui wilayah budaya seberapa luas ruang jelajah pelaku budaya gambar cadas di karst Matarape pada masa lalu dan diperlukan penelitian terpadu untuk mengungkap umur absolut dengan menggunakan metode uranium series Geochemistry pada sampel gambar telapak tangan dan figuratif lainnya di gua Mbokita dan gambar telapak tangandi gua Berlian. Metode pertanggalan ini menjadi hal penting untuk mengetahui umur gambar cadas di kawasan karst Matarape untuk mengungkap jalur migrasi pelaku budaya gambar cadas di Indonesia.

Adapun keterlibatan masyarakat setempat sangat diperlukan sebagai pemberi informasi sekaligus penunjuk jalan. Penguasaan lingkungan yang dimiliki masyarakat setempat menjadi faktor utama untuk mengantar peneliti menemukan dugaan situs-situs baru yang selama ini belum mereka pahami terutama bentuk-bentuk peninggalan hasil kebudayaan masa prasejarah. (Penulis Artikel: Faiz)