You are currently viewing Tirtayasa, sejarah dan toponimi

Tirtayasa, sejarah dan toponimi

Tirtayasa adalah salah satu kecamatan di Kabupaten Serang, letaknya sekitar 25 km di timur kota Serang. Kata “Tirtayasa” merupakan gelar yang diberikan kepada raja Banten, yakni Abul Fath Abdul Fattah (1651 – 1672). Pemberian gelar dengan nama Sultan Ageng Tirtayasa kepada Abul Fath Abdul Fattah, berkaitan dengan perannya merencanakan dan melaksanakan pembangunan di bidang pertanian dan pengairan. Saluran air yang mudah dilayari perahu-perahu kecil digali sepanjang jalan kuna, yakni dari sungai Untung Jawa Tanara hingga Pontang. Pembangunan saluran air buatan ini tidak hanya dipergunakan untuk perhubungan yang mungkin dilalui perahu-perahu kecil saat peperangan melawan Belanda, tetapi juga mempunyai fungsi yang berhubungan dengan kemakmuran rakyat.

Irigasi yang berada di kanan – kiri saluran, sangat penting bagi sawah-sawah yang sebagian besar baru dibuka. Oleh karena usaha yang dilakukannya tersebut, Abul Fat Abdul Fattah mendapat gelar Sultan Ageng Tirtayasa. Tirta berarti air, yasa berarti merencanakan atau membangun. Dengan demikian, tirtayasa mengandung arti perencanaan atau pembangunan irigasi untuk kepentingan pertanian sekaligus pertahanan.

Rumah penyelamatan temuan cagar budaya bergerak di Tirtayasa

Bidang pertanian khususnya tanaman padi mengalami perkembangan amat pesat. Begitu suburnya tanaman padi di daerah yang dilalui saluran irigasi di sekitar Tirtayasa, Pontang dan Tanara sehingga lama-kelamaan tercapai swasembada beras yang selanjutnya dikumpulkan oleh rakyat dan dikumpulkan di gudang-gudang umum, untuk dipergunakan sebagai bahan perbekalan sewaktu perang terjadi lagi dengan Belanda.

Dalam catatan sejarah, pada abad ke-17 Sultan Ageng Tirtayasa mulai berkurang perannya di Kesultanan Banten dan menyerahkan kepada anaknya yang bernama Sultan Haji untuk mengurusi pemerintahan di Surosowan. Sultan Ageng Tirtayasa memilih tinggal di Keraton Tirtayasa yang berada agak jauh di timur Surosowan. Tirtayasa berlokasi di tepi pantai dan jalan kuna. Di keraton ini, Sultan Ageng Tirtayasa dapat mengawasi putranya yang bermukim di Keraton Surosowan.

Sifat Sultan Haji yang mudah dipengaruhi, dimanfaatkan oleh Belanda. Saat Belanda melakukan politik adu domba dengan menyulut konflik antara ayah dan anak, Sultan Haji berpihak pada Belanda. Sultan Ageng Tirtayasa melakukan penyerbuan mendadak ke Keraton Surosowan, namun kemudian dapat direbut kembali oleh Sultan Haji dengan bantuan Belanda.

Pada akhir konflik dengan perang terbuka pada tanggal 28 – 29 Desember 1682, daerah Tirtayasa dapat dikuasai oleh Belanda. Namun Belanda tidak memperoleh rampasan pada penyerbuan tersebut karena Sultan Ageng Tirtayasa memerintahkan agar Keraton Tirtayasa dibumihanguskan. Pada tahun 1683, Sultan Ageng Tirtayasa ditahan oleh Belanda dan dibawa ke Batavia. Tahun 1692, Sultan Ageng Tirtayasa meninggal dunia dan dimakamkan di pemakaman raja-raja Banten yang berada di utara Masjid Agung Banten.

 

 

*sumber: Toponimi/Sejarah Nama-nama Tempat Berdasarkan Cerita Rakyat