Situs Batu Goong, Punden Berundak di Pulosari Pandeglang

0
92

Situs Batu Goong secara administratif terletak di Kampung Cigadung, Desa Sukasari, Kecamatan Pulosari, Kabupaten Pandeglang, Banten. Berada pada kordinat 06o 20’17,2” LS dan 105o 55’18,9” BT dengan ketinggian 215 mdpl. Menuju lokasi situs tidaklah sulit, mengingat lokasinya berdekatan dengan pusat pariwisata Pantai Carita dan Labuan atau berjarak ± 30 km dari pusat pemerintahan Kabupaten Pandeglang. Bisa ditempuh dengan menggunakan kendaraan baik roda empat maupun roda dua.

Dinamakan Situs Batu Goong, karena beberapa artefak batu yang ada di kompleks ini memiliki bentuk seperti gamelan/kenong (dalam bahasa sunda Goong). Masyarakat lebih mengenal dan menyebutnya sebagai Batu Goong.

Situs ini terletak di suatu kawasan perbukitan yang disebut Kadu Guling. Di bukit ini banyak tumbuh vegetasi tanaman hutan hujan tropis di antaranya, melinjo (Gnetum Gnemon), jati ambon (Tectoniagrandis), waru (Hibiscus teliaceus), mangga (Mangifera indica), bamboo (Bambusa vulgaris), tanaman perkebunan masyarakat seperti singkong (Manihotutilissima), kelapa (Cocos nusifera), dan padi (Oriza). Selain vegetasi  tanaman hujan tropis di kawasan situs tumbuh juga tanaman  rempah seperti kecombrang/honje (Etlingera elatior), jahe (Zingiber officinale), kunyit (Curcuma longa), kencur (Kaempferia galangal), dan beberapa tanaman rempah lainnya.

Ragam vegetasi tersebut merupakan sumber daya alam yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar, baik untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, dan dapat juga sebagai daya tarik pengunjung.

Situs Batu Goong mulai menjadi fokus perhatian pada tahun 1995 oleh Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala (SPSP) Serang, yang saat ini bernama  Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Banten. Instansi ini melakukan kegiatan ekskavasi penyelamatan yang kemudian dilanjutkan dengan pendataan dan pemetaan lokasi situs pada tahun 1996. Dari hasil kedua kegiatan tersebut disimpulkan bahwa tampak situs Batu Goong adalah punden berundak yang merekayasa bentukan alam. Kemudian baru pada tahun 1997 Balai Arkeologi Bandung melaksanakan kegiatan penelitian dan berlanjut pada tahun 2002 dan 2009. Penelitian ini menyimpulkan bahwa peninggalan arkeologis tersebut berasal dari budaya tradisi megalitik, dan merupakan salah satu corak  budaya prasejarah yang berkembang menembus kurun waktu sejarah. Kemudian untuk melengkapi data peta dan gambar Kantor BPCB Banten pada tahun 2018 melaksanakan kegiatan pemetaan dan penggambaran di Kawasan Situs Batu Goong termasuk Situs Citaman.

Mengacu kepada Djaenuderadjat (2001), menyebut Situs Batu Goong sebagai punden berundak yang memanfaatkan beda tinggi permukaan tanah. Punden dibentuk  berdasarkan garis kontur bukit Kaduguling yang bertingkat, kemudian beberapa bagian dilakukan pemangkasan sehingga menampakan punden bertingkat dari paling rendah di sisi  barat dan makin tinggi di timur (Djaenuderadjat: 2001).

Hasil kegiatan pemetaan yang dilakukan oleh BPCB Banten pada tahun 2018 memperkuat dugaan tersebut. Bukit Kaduguling memiliki garis kontur yang berundak. Garis-garis kontur tersebut terlihat dari posisi Citaman ke arah timur laut semakin meninggi membentuk miniatur gunung. Sesuai hasil pemetaan juga tampak adanya semacam teras-teras yang dibatasi oleh fitur batu dan parit. Batas parit atau batas yang terbuat dari fitur batu sekarang keadaanya sudah tidak bisa dikenali secara jelas mengingat kawasan adalah areal perkebunan aktif yang dikelola oleh masyarakat. Disimpulkan juga bahwa keseluruhan areal bukit Kaduguling memiliki luas 2,8 Ha.

Di kompleks Batu Goong terdapat beberapa artefak, diantaranya terdapat dua belas batu yang mengelompok. Saat ini batu-batu tersebut dilindungi sebuah cungkup berukuran 5,3 meter x 5,3 meter. Satu menhir berdiri di bagian tengah dikelilingi oleh sepuluh batu silinder (palinggih) dengan bidang atasnya rata dan satu artefak berbentuk gong kecil (kenong). Menhir yang berdiri di tengah-tengah nampaknya berfungsi sebagai pusat, sedangkan batu batu yang lainnya ditempatkan mengelilingi pusat tersebut, formasi semacam ini lazim disebut formasi “temu gelang” yang banyak djumpai pada masa tradisi megalitik. Selain  dua belas batu terdapat satu artefak  batu yang terletak diluar cungkup, namun masih terpendam.

Batu-batu tersebut dilindungi oleh pagar keliling berbahan BRC berukuran 11,12 m x 11, 12 m dengan tinggi 1,2 m. Ukuran batu silinder memiliki diameter relatif sama, yaitu 50 sampai 52 cm, sedangkan tinggi memiliki ukuran yang bervariasi.

Di luar kompleks Batu Goong yang telah diberi pagar keliling, terutama di sebelah barat daya terdapat dua batu yang memiliki bentuk dan ukuran berbeda. Satu batu berjarak sekitar 15 meter dari Situs Batu Goong. Batu ini memiliki bentuk kenong (goong) sebagian badan batu tersebut tertanam di dalam tanah dan satu batu lagi memiliki bentuk silinder (pelinggih). Jadi secara keseluruhan terdapat lima belas batu yang terdapat di Komples Batu Goong ini. Selain fitur batu, di Kawasan Bukit Kaduguling ini juga ditemukan beberapa fragmen keramik asing dari masa Dinasti Song (abad 12), Dinasti Ming (abad 15), dan dari Thailand (abad 14) serta kaki arca yang diyakini berasal dari masa klasik (Sudarti, 2013).

Sumber : Buku Data Base Cagar Budaya di Kabupaten pandeglang

TINGGALKAN KOMENTAR