Sebaran Tinggalan Arkeologis di Kabupaten Tanggamus, Provinsi Lampung

0
1515

Inventarisasi cagar budaya di Kabupaten Tanggamus, Propinsi Lampung yang dilakukan oleh tim inventaris BPCB Serang, berhasil menyisir beberapa benda yang termasuk dalam kriteria cagar budaya. Tim inventaris cagar budaya BPCB Serang telah melakukan inventarisasi di Situs Megalitik Batu Bedil, Kompleks Prasasti Batu Bedil, Situs Batu Gajah, Situs Gelombang, dan bunker Jepang. Ditinjau dari jenisnya, hasil inventarisasi cagar budaya di beberapa situs tersebut cukup beragam. Kegiatan inventarisasi ini dilakukan selama lima hari, sehingga dapat dimaklumi kalau tidak begitu banyak benda yang termasuk dalam kriteria cagar budaya berhasil diinventaris. Terlebih lagi kondisi lapangan yang agak berat, serta cukup jauhnya jarak antara situs satu dengan yang lain sehingga hanya beberapa situs yang berhasil diinventaris.

Situs Batu Bedil
Situs Batu Bedil

Berdasarkan data yang berhasil dikumpulkan di lapangan, benda yang diduga cagar budaya yang berhasil diinventaris berasal dari masa tradisi megalitik dan dari masa sesudahnya, yakni masa klasik dan masa kolonial. Tinggalan arkeologis yang berhasil diinventarisir antara lain batu tegak, altar batu, batu datar, batu lumpang, batu kursi, parit tanah, prasasti, dan bunker. Situs-situs tersebut, kecuali bunker Jepang, rata-rata mempunyai karakteristik temuan yang sama, yang menunjukkan tinggalan arkeologis dari masa tradisi megalitik.

Prasasti di Situs Prasasti Batu Bedil
Prasasti di Situs Prasasti Batu Bedil

Situs-situs ini tumbuh mengikuti aliran sungai, baik daerah hulu, bagian tengah, maupun bagian hilir DAS Sekampung. Masyarakat pada masa lalu memilih lokasi dekat dengan sungai bukannya tanpa alasan. Pada umumnya, situs-situs tersebut berada di daerah yang subur, kebanyakan berada di daerah meander sungai atau punggungan bukit dan bekas rawa, yang merupakan daerah subur. Dengan demikian sungai tidak hanya dipandang sebagai sarana transportasi tetapi juga dilihat sebagai daerah yang subur. Apabila dikaitkan dengan kehidupan manusia pada masa prasejarah, maka pada saat itu usaha mencari makan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari merupakan hal yang utama dan menjadi sandaran berat bagi kelangsungan hidup masyarakat pada masa itu. Dengan demikian, lahan yang subur menjadi sangat berarti bagi masyarakat yang sangat berorientasi pada usaha pencarian makanan.

Pendukung tradisi megalitik di DAS Sekampung membuat pemukiman yang keberadaan bangunannya mempunyai karakteristik yang hampir sama, yaitu terdiri dari gundukan tanah dan parit. Tentu saja bentuk bangunannya disesuaikan dengan bentuk lahan dan sumberdaya alam yang ada di sekitarnya. Bentuk pemukiman situs-situs di sepanjang DAS Sekampung ada yang mengikuti bentuk bentang lahan yang memang sudah tersedia oleh alam, dan ada pula yang tidak mengikuti bentuk bentang lahan yang ada. Bangunan-bangunan yang terdapat di dalam situs tersebut pada umumnya diberi pembatas tanah berupa gundukan dan parit, yang sekaligus merupakan benteng permukiman tersebut. Pembatas itu juga membagi bangunan menjadi ruang-ruang yang diduga mempunyai fungsi tertentu. Pembatas tidak selalu terdiri atas gabungan gundukan tanah dan parit, tetapi bisa juga hanya berupa parit saja, seperti yang ditemukan di Situs Gelombang. Batas ruang di Situs Gelombang hanya berupa tebing tanah yang digali membentuk parit di beberapa tempat, sehingga permukaan tebing yang memanjang tanahnya menjadi bergelombang.

Situs Batu Gajah
Situs Batu Gajah

Dari keseluruhan temuan arkeologis yang berhasil diinventaris, jika diklasifikasi maka temuan yang paling banyak adalah tinggalan dari masa tradisi megalitik dengan jenis batu tegak dan batu datar. Rata-rata batu tegak dan batu datar tersebut dalam kondisi polos tanpa pahatan. Tetapi yang membedakan batu tersebut dengan batu biasa adalah adanya suatu pola penempatan tertentu sehingga batu-batu tersebut mempunyai makna.

Ditinjau dari aspek bahan, temuan arkeologis yang berhasil diinventaris terbuat dari batuan andesit, breksi atau tufa. Pemilihan bahan tersebut besar kemungkinan didasarkan pada material yang tersedia di lingkungan sekitar masyarakat pendukung budaya tersebut. Daerah Aliran Sungai (DAS) Sekampung disusun oleh batuan vulkanik andesit muda dengan pusat erupsi di daerah Rantai. Putaran vulkanik andesit muda menyebar luas di bagian barat dan tengah, yang dipisahkan oleh dataran alluvial. Selain itu, dataran tufa masam berkembang pada endapan ignimbrite yang membentang luas di bagian timur DAS Sekampung. Dataran tufa masam tersusun atas bahan-bahan yang mengandung kalsit, seperti kuarsa, batu apung, dan gelas vulkanik. Sehingga dapat dimaklumi jika bahan-bahan tersebut yang banyak dimanfaatkan oleh masyarakat pendukung tradisi megalitik dan masa klasik yang bermukim di sepanjang DAS Sekampung, karena material tersebut banyak tersebar di sekitar mereka.