Perbedaan yang menyatukan pada Gereja Santa Maria de Fatima Jakarta

0
1188
Gereja Santa Maria de Fatima

Perbedaan yang menyatukan pada Gereja Santa Maria de Fatima Jakarta

 

Tampak depan gereja dengan bentuk langgam cina

Gereja Santa Maria de Fatima berada di Jalan Kemenangan III, Glodok,Tamansari,  Jakarta Barat. Bangunan ini terletak di antara pemukiman padat penduduk dengan  mayoritas etnis Cina. Gereja Santa Maria de Fatima diperkirakan berdiri pada awal abad XIX M dengan langgam Cina yang pada awalnya digunakan sebagai rumah tinggal. Pada masa kemudian, mulai tahun 1951, bangunan mulai digunakan sebagai asrama umat Khatolik. Pada tahun 1954/1955, bangunan rumah tinggal ini secara resmi beralih fungsi menjadi tempat peribadatan umat Khatolik [sebagai gereja dan klenteng].

bagian dalam Gereja Santa Maria de Fatima
Altar gereja yang tetap mempertahankan ciri bangunan etnis Cina

Berdirinya Paroki Santa Maria de Fatima (Toasebio) bermula dari pemberian tugas oleh Vikaris Apostoik Jakarta, Mgr. Adrianus Djajasepoetra, SJ kepada Pater Wilhelmus Krause Van Eeden, SJ pada tahun 1953, untuk membeli sebidang tanah di daerah Pecinan (sekarang bernama Petak Sembilan atau Toasebio). Tujuan utama pembelian tanah itu adalah untuk mendirikan gereja, sekolah, dan asrama bagi orang Tionghoa Perantauan (Hoakiauw). Langkah awal pengembangan gereja di Pecinan ini dilakukan dengan mendirikan asrama untuk kaum Hoakiauw yang bersekolah di bilangan Jakarta Barat.

Pater Antonius Loew SJ yang berasal dari Austria dipilih sebagai kepala paroki dan Pater Leitenbauer sebagai pengelola sekolah yang pertama. Sekolah ini dinamakan Sekolah Ricci, yang berasal dari nama imam missionaries Yesuit, Matteo Ricci. Usaha Pater Leitenbauer, yang dibantu oleh Pater Braunmandl, Pater Loew, dan Pater Tcheng, berjalan dengan lancar, dan mereka juga membuka kursus bahasa Inggris, Jerman, dan Mandarin, yang dikenal dengan sebutan Ricci Evening School. Asrama yang dikelola oleh Pater Tcheng diberi nama Ricci Youth Center. Pada tahun 1953, dibelilah sebidang tanah yang digunakan sebagai kompleks gereja dan sekolah, dari seorang kapitan bermarga Tjioe (lurah keturunan Tionghoa pada masa penjajahan Belanda). Pada tahun 1954, tanah dan bangunan tersebut resmi menjadi milik gereja. Di atas lahan tersebut berdiri sebuah bangunan utama yang diapit 2 bangunan di kanan kirinya. Di depan bangunan utama terdapat 2 patung singa yang merupakan lambang kemegahan bangsawan Cina.

TINGGALKAN KOMENTAR