Cara Membaca Nisan-Nisan Cina Koleksi MSKBL

0
210

Suku bangsa Cina/Tionghoa memiliki historis cukup panjang di seluruh belahan dunia. Sebagai bangsa yang terkenal ulet, tekun, dan pandai berdagang, komunitas Tionghoa dapat ditemukan di mana saja. Hubungan orang-orang tionghoa dengan masyarakat nusantara sudah terjadi hampir ratusan tahun, sedangkan hubungan bangsa Tionghoa dengan Banten telah terjalin sejak pelabuhan Banten dibuka untuk para pedagang asing sekitar awal abad ke-16. Meskipun pada masa itu, Banten merupakan kota baru untuk sebuah pelabuhan, namun cukup ramai dikunjungi para pedagang asing khususnya dari Gujarat, Benggala, Cina, Abesinia, Turki, Arab, Pegu, Persia dan sebagainya (Wangsadidjaja,1991:2). Banten yang kemudian berkembang menjadi Kesultanan di pertengahan abad ke-16 memiliki sisa-sisa hasil kebudayaan yang tersimpan di Museum Situs Kepurbakalaan Banten Lama (MSKBL). Salah satu hasil kebudayaan tersebut, yakni aneka nisan yang menjadi koleksi MSKBL. Koleksi nisan tersebut antara lain Nisan Muslim, Nisan Belanda/Eropa, dan Nisan Cina. 

Papan nisan cina biasa disebut bongpay dalam dialek Hokkian. Pada permukaan bongpay, biasanya terdapat tulisan-tulisan dalam karakter Han yang mengandung makna dan nilai artistik tersendiri. Bongpay biasanya selain menuliskan perihal mendiang pemilik nisan, juga melambangkan bakti dari anak cucu sang mendiang. Bongpay dipasang dalam kondisi berdiri, sehingga pengambilan data dimensinya memakai ukuran tinggi, lebar dan tebal. Bentuk makam cina dengan bongpay di depan dan sistem penulisannya yang sekarang lazim kita lihat merupakan bentuk dan sistem penulisan nisan mulai dari masa Dinasti Ming dan diteruskan sampai sekarang. Usia model penulisan tersebut kini telah berumur lebih dari 600 tahun. Cara penulisan dan pembacaannya, yakni dari kanan ke kiri dan dari atas ke bawah.

Bongpay umumnya terdiri dari 4 bagian, yaitu Baris Tengah, Baris Horizontal (Mata Bongpay), Baris Kanan dan Baris Kiri. Masing-masing biasanya memiliki keterangan sebagai berikut :

1. Baris Tengah

Menuliskan tentang nama dan status selama hidup mendiang. Status dan kedudukan dalam masyarakat selama hidupnya juga boleh dituliskan di sini. Seperti gelar sebagai orang yang berjasa pada agama atau pemerintahan, ataupun pernah menjadi pejabat di daerah tertentu.

2. Baris Horizontal (Mata Bongpay)

Baris yang horizontal yang biasanya hanya terdiri dari dua karakter huruf kanji. Biasanya bertuliskan nama daerah (kabupaten tradisional atau desa di Cina), yang merupakan nama tempat marga atau keluarga almarhum berasal. Nama tempat atau daerah tersebut sifatnya kuno biasanya setingkat kabupaten. Jika dikomparasikan dengan masa sekarang, ada yang namanya masih dipakai sebagai nama kabupaten atau nama kota, ada juga yang sudah melebur menjadi nama desa atau kecamatan, dan adapula yang sudah hilang.

3. Baris Kanan

Menuliskan masa dan waktu saat bongpay tersebut didirikan. Waktu pendirian bongpay tersebut ditulis dalam susunan kata yang terbentuk dari kombinasi antara unsur Ten Heavenly Stems (10 Batang Langit) dan Twelve Earthly Branches (12 Cabang Bumi) serta nama tahun pemerintahan, yakni nama kaisar yang sedang bertahta, misalnya Qianlong Jiǎ-Chén (Tahun Naga Kayu (yang)) pada pemerintahan Qianlong (1735-1795), yakni tahun 1784). Ada pula yang menulis tahun kesekian dari pemerintah/kaisar yang berkuasa sampai kepada hitungan bulan, misalnya Xiangfeng San Nian Hua Yueh (Tahun ke-3 Kaisar Xianfeng (1850-1861) Bulan Bunga Musim Semi, yakni Februari-Maret tahun 1852). 

Ten Heavenly Stems (10 Batang Langit) dan Twelve Earthly Branches (12 Cabang Bumi) merupakan dua unsur yang dikombinasikan membentuk siklus enam puluh tahunan (siklus seksagesimal) atau ganzhi. Ganzhi dipakai sebagai kalender tradisional untuk menunjukkan tahun, bulan, hari, dan jam.


4. Baris Kiri

Menuliskan siapa yang membuat atau mendirikan bongpay tersebut. Biasanya bongpay dibuat oleh anak, cucu, saudara atau kerabat satu marga dengan mendiang. Ada yang menuliskan nama asli dari anak laki-laki dan cucu (anak dari anak laki-laki), ada pula yang hanya menuliskan beberapa karakter sebagai pengganti nama dari anak dan cucu mendiang. Bagi yang tidak punya anak laki-laki biasanya menuliskan dibuat oleh anak perempuan.

Penyusun artikel : Siti Rohani, S. Hum., BPCB Banten

TINGGALKAN KOMENTAR