Masyarakat Adat Baduy yang bersahaja (1)

jembatan gajeboh
jembatan gajeboh

Seba Baduy memang sudah lewat beberapa bulan lalu, namun tak akan hilang dari ingatan tentang kesahajaan mereka. Mungkin dunia luar belum begitu mengenal Baduy seperti halnya Bali. Berbeda dengan Bali yang terkenal ke seluruh mancanegara karena keindahan budaya dan alamnya, Baduy menarik karena kekhasan adat dan kesederhanaan budayanya. Masyarakat Baduy sangat unik, populasinya hanya belasan ribu orang. Mereka tinggal dalam komunitas adat dan patuh terhadap aturan adat tradisional yang ketat.

Tanah Baduy terletak tidak jauh dari Jakarta, ibukota Indonesia. Hanya berjarak 160 km dari Jakarta, yang merupakan cerminan dari masyarakat modern di Indonesia. Sederhana dan kesederhanaan adalah titik pesona yang melekat pada identitas Baduy. Hingga kini masyarakat Baduy berusaha tetap bertahan pada kesederhanaannya di tengah kuatnya arus modernisasi. Bagi masyarakat Baduy, kesederhanaan bukanlah kekurangan atau ketidakmampuan. Akan tetapi sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari arti kebahagiaan hidup yang sesungguhnya. Sepintas lalu memang sulit dimengerti, mengapa di negara yang kosmopolitan dan metropolis seperti Indonesia, masih terdapat kelompok masyarakat yang berpegang teguh pada unsur-unsur budaya asalnya sejak ratusan tahun yang lalu. Hal ini menunjukkan bahwa kebudayaan memainkan peranan penting dalam kehidupan manusia.

Masyarakat Baduy bermukim di daerah perbukitan di wilayah Provinsi Banten bagian selatan. Mereka tidak memeluk Islam, kepercayaan yang mereka anut adalah Sunda Wiwitan, yakni percaya kepada Batara Tunggal. Sebagaimana diketahui bahwa Indonesia adalah salah satu negara di dunia dengan mayoritas warga negaranya penganut Islam. Penduduk desa di sekitar masyarakat Baduy pun sebagian besar memeluk agama Islam. Namun demikian, hal tersebut tidak menghalangi terjalinnya hubungan baik antara masyarakat Baduy dengan penduduk di sekitarnya.

kampung Cipaler
kampung Cipaler

Masyarakat Baduy tidak bersawah, namun mereka bercocok tanam dengan cara berladang. Sawah dan sekolah dianggap tabu bagi masyarakat Baduy. Sehingga dalam tradisi Baduy tidak ada budaya tulis. Peraturan dan adat istiadat diturunkan kepada generasi penerus secara lisan.

Banyak peneliti yang menjadikan masyarakat Baduy sebagai topik penelitian karena keunikan budaya mereka. Namun, semakin banyak orang yang menulis dan mencoba memperoleh keterangan tentang masyarakat Baduy, maka semakin rapi pula mereka menyimpan hakikat kehidupannya dari masyarakat luas.

Menenun, salah satu aktivitas perempuan Baduy
Menenun, salah satu aktivitas perempuan Baduy

Kehidupan masyarakat Baduy merupakan misteri yang semakin menarik untuk dikaji sebagai sumber pemahaman tentang hakikat budaya nenek moyang Indonesia, terutama tentang ketahanan system social budayanya terhadap penetrasi unsur-unsur budaya Hindu, Islam, maupun pengaruh budaya Barat. Tulisan ini akan mengungkapkan tentang kesederhanaan masyarakat Baduy dalam menjalani kehidupannya, tentang religinya, kehidupan sosialnya, toleransinya terhadap masyarakat lain, dan adaptasi mereka terhadap terjangan modernisasi. Semoga tulisan ini akan memberikan wacana dan pemahaman baru pada masyarakat luas tentang Indonesia yang sesungguhnya.

bersambung…