Lebak Cibedug : Monumen Beribadatan Nenek Moyang

0
360

Situs Lebak Cibedug secara administrasi terletak di Kampung Cibedug, Kelurahan Citorek Barat, Kecamatan Cibeber, Kabupaten Lebak. Secara astronimis berada pada titik koordinat UTM 48 M dimana titik X 0642875 dan titik Y 9257504 dengan ketinggian elevasi ± 877 meter dari permukaan laut (mdpl). Batas-batas dari Situs Lebak Cibeduk adalah sebagai berikut.

  • Sebelah utara berbatasan dengan Sungai Cibedug;
  • Sebelah selatan berbatasan dengan Sungai Cibedug;
  • Sebelah timur berbatasan dengan Bukit Pasir Cimanggu;
  • Sebelah barat berbatasan dengan Sungai Cibedug.

Situs Lebak Cibedug ini memiliki lahan seluas ± 40.400 m² (berdasarkan SK Menteri No. 139/M/1998).

Punden Lebak Cibedug berdenah segi empat, terbagi dalam beberapa tingkatan ruang atau halaman dengan pola bangunan dibuat semakin ke belakang semakin tinggi. Terdapat jalan atau pintu masuk di sebelah barat melalui anak tangga yang berjumlah sekitar 30-an. Pada pintu masuk tersebut ditempatkan sebuah menhir yang berukuran cukup besar.

Kompleks megalitik Lebak Cibedug merupakan situs yang memiliki tinggalan yang bervariasi, berupa batu tegak, batu datar, dan tahta batu dengan punden berundak sebagai bagian yang paling sakral. Secara keseluruhan, tinggalan budaya di situs Lebak Sibedug memperlihatkan suatu kompleks struktur yang terdiri atas tiga punden yang semakin tinggi dari sisi barat ke arah timur. Punden pertama (sebelah barat) merupakan bagian (ruang) yang paling rendah dibandingkan dengan punden kedua dan ketiga. punden kedua terletak di bagian tengah, dan punden ketiga merupakan bagian inti yang terletak di bagian paling timur dengan posisi paling tinggi.

  1. Punden Pertama

Punden pertama memiliki denah persegi dan terdapat tinggalan berupa struktur dari bongkahan batu andesit yang dilengkapi dengan satu anak tangga. Selain itu juga terdapat dua buah menhir dalam posisi rubuh yang saling berdampingan.

2. Punden Kedua

Punden kedua berada di sebelah timur punden pertama dengan dibatasi oleh gundukan tanah dan untuk memasuki punden kedua terdapat undakan batu yang memotong batas gundukan tanah. Punden kedua memiliki tinggalan berupa struktur bongkahan batu andesit berdenah persegi. Kemudian di sisi timur dari struktur persegi tersebut, terdapat struktur bongkahan batu andesit berdenah persegi yang terdiri dari tiga susunan undakan yang semakin ke atas semakin mengecil ukurannya. Sisi selatan dari struktur yang memiliki tiga buah undakan, terdapat susunan batu berdenah persegi dengan empat batu tegak dalam posisi miring yang berada di setiap sudutnya, tinggalan ini oleh sangat dikeramatkan oleh mastarakat sehingga diberipagar pengaman dan diberi atap. Selanjutnya di bagian selatan dari tinggalan yang dikeramatkan oleh masyarakat terdapat terdapat struktur susunan batu andesit berdenah persegi dan juga terdapat empat buah pasangan batu tegak dan batu datar yang seolah-olah memperlihatkan bentuk seperti batu kursi. Serta terdapat sebuah batu tegak dalam posisi rubuh didekat akses menuju undakan tangga menuju punden ketiga.   

3. Punden Ketiga

Punden ketiga merupakan bagian yang paling tinggi yang terletak di sebelah paling timur situs yang diduga merupakan ruang sakral. Punden ketiga berdasarkan pengamatan memiliki tiga buah ruang yaitu ruang pertama memiliki tinggalan berupa struktur susunan batu andesit berdenah persegi yang berada di sisi utara dan selatan pada ruang pertama dan dibagian tengah dari ruangan pertama terdapat lantai batu berorientasi barat – timur yang memiliki ukuran lebar sekitar ± 150 cm untuk akses menuju undakan tangga ke ruang kedua yang berada di sisi timur dan di dekat lantai batu, terdapat susunan batu bertumpuk berdenah persegi dengan batu tegak diatasnya dalam posisi rubuh. Menuju ke ruang kedua terdapat undakan batu/tangga batu yang jika dilihat dari kontur tanahnya berupa empat buah undakan dimana pada masing-masing undakan terdapat batu tegak di setiap sisi tangga batu yang saat ini dalam posisi rubuh. Memasuki ruang kedua di sisi utaranya terdapat tinggalan berupa struktur susunan batu andesit berdenah persegi dengan sebuah batu datar yang berada di bagian tengahnya, tepat di sebelah selatannya terdapat lantai batu dengan tiga buah pasangan batu tegak dan batu datar yang seolah-olah memperlihatkan bentuk seperti batu kursi. Sedangkan di sisi selatannya juga terdapat struktur susunan batu andesit berdenah persegi. Selain itu pada bagian tengah ruang kedua, terdapat lantai batu berorientasi barat – timur dengan lebar ± 120 cm yang merupakan akses menuju ke ruang ketiga (inti) dan di sisi timur lantai batu tersebut terdapat susunan batu bertumpuk berdenah persegi. Ruang ketiga pada punden ketiga merupakan ruang inti dimana pada ruang ini terdapat punden utama dari situs Lebak Cibedug yang memiliki denah persegi dengan delapan buah undakan yang semakin keatas semakin mengecil ukurannya dan pada setiap sudut dari masing-masing undakan terdapat batu tegak yang terbuat dari batu andesit yang sebagian besar saat ini sudah dalam keadaan rubuh. Selain itu juga terdapat akses menuju undakan yang tertinggi berupa tangga batu yang berada di sisi barat dari punden utama. Di puncak punden utama saat ini terdapat empat buah batu andesit berbentuk pipih.

Selain punden berundak, terdapat temuan lain yang tersebar di sekitar lokasi situs: sumuran, kompleks menhir di Pegunungan Pasir Manggu, batu bergores (biasanya digunakan untuk upacara), dan batu tukuh (punden dengan menhir yang oleh masyarakat dianggap merupakan penanda pendirian suatu kampung).

Latar Belakang Sejarah

Punden berundak Lebak Cibedug maupun punden berundak lain yang berada di sekitar kawasan Banten dan Jawa Barat diperkirakan dibangun pada masa kehidupan manusia hidup menetap, bercocok tanam, dan beternak atau setingkat masa neolitik (2500-1500 SM). Pada masa tersebut, manusia telah mengenal sistem religi yang mereka wujudkan dengan ritual menghormati roh-roh nenek moyang. Roh-roh nenek moyang dipercayai telah bersinergi dengan alam sekitar tempat mereka tinggal, sehingga memiliki kekuatan yang mampu memberikan anugerah maupun bencana terhadap masyarakat melalui fenomena alam yang berlangsung.

Untuk mewujudkan gagasan abstrak semacam itu, masyarakat pada masa tersebut membangun monumen-monumen sebagai sarana peribadatan mereka. Roh-roh nenek moyang dipercaya bersemayam di sebuah tempat yang tinggi (menunjukkan kedudukannya yang sudah jauh lebih tinggi dari manusia biasa). Tempat tinggi tersebut selalu diasosiasikan dengan surga, kahyangan, parahyangan, dsb. Dengan demikian, manusia perlu mencitrakan objek abstrak tersebut dalam wujudyang dapat dijangkau oleh indra mereka. Pembangunan punden berundak merupakan salah satu upaya mereka untuk menghormati kekuatan yang menguasai dunia tempat mereka tinggal.

Konsep yang menyangkut bentuk atau pola bangunan pemujaan semacam punden berundak masih terus digunakan dan berkembang hingga pengaruh Hindu-Buddha masuk ke Indonesia. (Sumber : Buku Database Cagar Budaya Kabupaten Lebak, BPCB Provinsi Banten).

TINGGALKAN KOMENTAR