Kisah dibalik Gedung Stovia, Jakarta (1)

stovia, tampak depan
stovia, tampak depan

Pembangunan Gedung STOVIA dilaksanakan oleh korps Zeni pada tahun 1899 di tanah seluas 15,742 m2. Gedung ini terletak di Gang Manjangan kawasan Weltevreden (sekarang Jln. Dr. Abdul Rahman Saleh 26 Jakarta). Tetapi karena dukungan dan bantuan pemerintah kolonial Belanda sangat kurang dalam hal pembiayaan, Dr. HF Roll kemudian berusaha mengumpulkan dana. Berkat sumbangan PW Jansen, J Nienhuys dan HC. Van den Honer, Akhirnya terkumpul dana sebesar f.178.000. Gedung STOVIA akhirnya bisa selesai pembangunannya dan diresmikan pada 1902.

Karena pembangunan gedung STOVIA ini ditangani oleh militer, maka rancangan gedung STOVIA nampak kaku, tetapi kokoh. Gaya bangunannya sedikit memperlihatkan gaya klasik, terutama fasade bangunan di atas pintu masuk utamanya memperlihatkan kode bangunan Yunani. Pintu masuk utamanya memperlihatkan gaya kolonial yang bertipe benteng pertahanan. Jendela-jendelanya memperlihatkan jendela gaya Eropa dengan sistem dua lapis. Lapis luar merupakan daun jendela berisi kisi-kisi penahan sinar matahari, sedangkan lapisan dalamnya merupakan daun jendela kaca untuk memasukkan sinar matahari, tanpa harus membuka seluruh jendela. Sedangkan bagian atas jendelanya berbentuk lengkung, dilengkapi kisi-kisi untuk sirkulasi udara.

stovia
stovia

Dari bentuk bangunan dan denah bangunannya, maka rancangan gedung STOVIA nampak lebih memperhatikan aspek fungsi daripada entetika. Gedung ini tidak memiliki ruang transisi seperti teras depan, sehingga gedung STOVIA terkesan kurang familier, kaku, seperti bangunan tipe benteng pertahanan atau bangunan asrama.

Di Ruang Anatomi Stovia, dr. Sutomo dan kawan-kawan telah memprakarsai terbentuknya Budi Utomo pada 20 Mei 1908 atas dorongan dr. Wahidin Sudiro Husodo. Organisasi yang semula mengorganisir penghimpunan dana pendidikan untuk membantu rakyat Indonesia agar dapat bersekolah itu kemudian memicu terbentuknya sejumlah organisasi pemuda daerah. Budi Utomo kemudian menjembatani terselenggaranya berbagai pertemuan organisasi-organisasi pemuda daerah di Stovia, sehingga terbentuk semangat kesatuan bangsa (nasionalisme) untuk membebaskan diri dari penjajahan. Sejumlah perkumpulan pemuda itulah merupakan lahan persemaian para pemimpin bangsa Indonesia, yang memiliki semangat dan pengabdian tinggi terhadap nusa dan bangsa. Atas jasa organisasi Budi Utomo ini, kemudian pemerintah menetapkan tanggal 20 Mei 1908 diperingati sebagai tonggak sejarah Hari Kebangkitan Nasional bangsa Indonesia.

bersambung….