Inventarisasi Cagar Budaya Bergerak Di Situs Kepurbakalaan Batujaya, Karawang, Jawa Barat

0
878
Staf BPCB Banten melakukan inventarisasi cagar budaya bergerak di Museum Situs Batujaya

Tanggal 7 April sampai dengan 13 April 2017 Museum Situs Kepurbakalaan Banten Lama melakukan kegiatan Inventarisasi Cagar Budaya Bergerak di Situs Kepurbakalaan Batujaya, Karawang. Mungkin timbul pertanyaan, mengapa Museum Situs Kepurbakalaan Banten Lama melakukan inventarisasi di Situs Kepurbakalaan Batujaya, bukankah Museum Situs Kepurbakalaan Banten Lama seharusnya hanya mengurusi cagar budaya Situs Kepurbakalaan Banten Lama? Penamaan museum tentu saja menjadi dasar dari pertanyaan tersebut, namun Museum Situs Kepurbakalaan Banten Lama adalah satuan unit yang menjadi bagian dari Balai Pelestarian Cagar Budaya Banten. Beberapa tahun belakangan ini, Museum Situs Kepurbakalaan Banten Lama memang telah diserahi tugas untuk melakukan inventarisasi cagar budaya bergerak di beberapa lokasi situs dimana terdapat “Rumah Informasi” yang menyimpan sejumlah koleksi cagar budaya bergerak, baik hasil penelitian, penemuan, maupun hasil penyerahan dari masyarakat.

Situs Kepurbakalaan Batujaya juga memiliki museum, yaitu Museum Situs Batujaya yang didirikan dan dikelola oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat, adapun sumber daya manusia yang dimiliki juga terbatas pada tenaga lokal juru pelihara. Koleksi yang dimiliki Museum Situs Batujaya merupakan hasil penelitian beberapa instansi, seperti hasil kegiatan ekskavasi penelitiaan Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, ekskavasi penelitian Fakultas Sastra Universitas Indonesia, dan ekskavasi penyelamatan dalam kegiatan pemugaran yang dilakukan oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya Banten. Sejak pertama kali ditemukan dan kemudian diikuti oleh sejumlah penelitian, banyak temuan-temuan hasil ekskvasi di Situs Kepurbakalaan Batujaya yang kemudian penyimpanannya terpisah-pisah mengikuti siapa yang melakukan kegiatan dan menemukannya.

Perlahan dianggap perlu untuk menertibkan dan membuat satu catatan berupa data inventaris terhadap cagar budaya bergerak Situs Kepurbakalaan Batujaya. Sebagai langkah awalnya, inventarisasi dilakukan terhadap cagar budaya bergerak hasil kegiatan Balai Pelestarian Cagar Budaya Banten sendiri, diikuti kemudian secara perlahan berkoordinasi untuk cagar budaya bergerak lain yang berada di sejumlah pihak yang pernah melakukan kegiatan di Situs Kepurbakalaan Batujaya, mengingat Situs Kepurbakalaan Batujaya berda dalam wilayah kerja Balai Pelestarian Cagar Budaya Banten.

Kegiatan inventarisasi cagar budaya bergerak Situs Kepurbakalaan Batujaya pada tahun ini adalah tahap ketiga dalam pelaksanaannya, tahap satu dan dua dilaksanakan pada tahun 2015 dan 2016. Begitu banyaknya cagar budaya bergerak yang harus diinventaris, tiap pelaksanaan kegiatan memiliki capaian target yang harus dipenuhi. Tahap awal yang dilakukan pada tahun 2015 target yang dicapai 384 cagar budaya bergerak. Tahap kedua yang dilaksanakan pada tahun 2016 target yang dicapai adalah 550 cagar budaya bergerak.

Masih berkenaan dengan jumlah yang begitu banyak, kegiatan inventarisasi dilakukan dengan memilih sampel pada cagar budaya yang bergerak. Pemilihan sampel didasarkan pada ragam hias, bentuk, warna, bahan, dan jenis benda. Selain itu tentunya akan diikuti pula oleh nilai penting cagar budaya tersebut dalam penemuannya di Situs Kepurbakalaan Batujaya, misalnya keramik asing, tembikar asing, batu unik yang kemungkinannya didatangkan dari laur wilayah situs, sisa bahan yang dapat memberikan gambaran proses pembuatan satu benda, “sampah” proses pakai atau buat yang bisa memberikan gambaran kehidupan, sisa-sisa jasad manusia dan hewan yang berupa tulang dan gigi mungkin dapat memberikan gambaran akan lingkungan dan “gaya hidup” pada masanya. Sebenarnya sangat menarik dan akan sangat bermanfaat apabila data inventaris ini dapat dibuat sedetail mungkin, karena akan memudahkan dalam pemanfaatannya sebagai sumber data penelitian di masa depan, terutama para mahasiswa yang perlu penelitian tulisan ilmiah sebagai tugas akhir kuliah Situs Kepurbakalaan masih menyimpan banyak hal yang perlu digali lebih jauh.

Melanjutkan dua tahap sebelumnya, kegitan tahun 2017 masih membatasi pada cagar budaya bergerak hasil ekskavasi penyelatan pada dua lokasi, yaitu Segaran V (Candi Blandongan) dan Telagajaya Ia (Candi Serut). Sekilas tentang hasil inventarisasi cagar budaya bergerak di Situs Kepurbakalaan Batujaya, dapat dikatakan bahwa cagar budaya bergerak yang terbanyak adalah pecahan tembikar atau gerabah. Proses penemuan cagar budaya bergerak berupa tembikr atau gerabah banyak melalui ekskavasi. Pada lapisan tanah tertentu di Situs Kepurbakalaan batujaya memang banyak didapati tembikar atau gerabah yang tersebar seperti lapisan di atas lapisan tanah di bawahnya. Selain itu tembikar atau gerabah juga didapati sebagai bekal kubur pada sejumlah jasad yang terkubur di sejumlah titik di halaman candi, terutama Candi Segaran V atau lebih dikenal sebagai Candi Blandongan. Tembikar atau gerabah yang banyak ditemukan dalam kegiatan inventarisasi adalah jenis wadah yang terdiri dari periuk, pasu, tempayan, dan kendi. Periuk banyak ditemukan memiliki tutup. Jika dilihat secara keseluruhan antara bagian tubuh dengan tutupnya, terlihat unik karena periuk tersebut menyerupai bentuk buah. Penemuan periuk sebagai wadah bekal kubur memperlihatkan wadah yang digunakan adalah polos tanpa ragam hias dan pewarnaan, namun dalam kegiatan inventarisasi didapati adanya periuk yang memiliki ragam hias melalui proses pewarnaan. Sementara ini gambaran yang didapat adalah adanya perbedaan fungsi periuk polos dengan yang beragam hias atau berwarna.

Fragmen stuko, salah satu cagar budaya bergerak yang telah diinventaris BPCB Banten

Seperti halnya periuk, wadah jenis pasu juga terdiri dari pasu polos dan berhias, namun terlihat lebih bnyak memiliki hias berupa garis lingkr pada bagian bahu atau pangkal leher. Ketebalannya tiap pasu juga tampaknya berbeda, ada yang tebal dengan pengerjaan kasar, dan ada yang berdinding tipis dengan pengerjaan halus dan memiliki ragam hias dan pewarnaan. Pewarnaan bisa dari bahan yang memang disapukan sebagai perwarna, atau melalui bahan dasar tanahnya yang melalui proses pembakaran memberikan warna pada wadah. Tempayan adalah jenis wadah yang terbesar ditemukan. Banyak diantaranya ditemukan dalam bentuk polos, namun ada diantaranya dalam jumlah yang tidak banyak diketahui memiliki ragam hias.

Kendi adalah jenis wadah lainnya dari bahan tembikar yang banyak ditemukan di Situs Kepurbakalaan Batujaya. Umumnya ditemukan dalam bentuk pecahan, identifikasi banyaknya jumlah kendi adalah dengan ditemukannya banyak bagian cerat atau cucuk kendi dari berbagai ukuran dan bentuk. Beberapa buah yang dapat direkonstruksi memperlihatkan tampilan yang sangat unik dan menarik dengan hiasan pada tubuh dan kemuncaknya.

Cara buat wadah-wadah tembikar di Situs Kepurbakalaan Batujaya dapat diketahui telah menggunakan roda putar dan tatap-pelandas melalui tahapan teknik spiral atau pun cincin. Ragam hias banyak menggunakan teknik gores, beberapa dengan teknik cukil, tekan, cetak, dan tempel. Beberapa pecahan wadah memperlihatkan pengerjaan yang halus, ragam hias yang unik seperti lukisan dengan sapuan kuas, bahkan bentuk yang berbeda. Tembikar-tembikar yang halus dan unik tersebut adalaj tembikar dari luar Situs Kepurbakalaan Batujaya, beberapa disebut tembikar Arikamedu, sesuai dengan tempatnya berasal, yaitu satu tempat di Indian bagian selatan.

Fragmen bata, salah satu temuan di Situs Kepurbakalaan Batujaya

Wadah yang ditemukan di Situs Kepurbakalaan Batujaya, selain tembikar atau gerabah, juga ditemukan berupa stoneware dan keramik. Stoneware banyak ditemukan dalam bentuk pecahan wadah yang besaran dan bentuknya diduga sebagai guci, pasu, atau tempayan. Selain bahan dan proses pembuatannya yang menjadikan stoneware lebih kuat dan memiliki porositas yang lebih baik dari tembikar, pecahan stoneware yang ditemukan beberapa diantaranya juga memiliki lapisan pewarna. Keramik adalah bahan lainnya dari jenis wadah yang ditemukan, biasanya dalam bentuk perlengkapan sehari-hari seperti mangkuk, mangkuk kecil, dan piring. Benda-benda tersebut berwarna biru-putih dengan hiasan motif floral. Beberapa benda dari keramik didapati juga dari jenis wadah berukuran besar, seperti guci, pasu atau tempayan. Warna wadah berukuran besar sering didapati berwarna hijau berglasir dan coklat tua.

Pada akhir kegiatan, target yang dicapai dalam pelaksanaan kegiatan Inventarisasi Cagar Budaya Bergerak di Situs Kepurbakalaan Batujaya adalah 450 cagar budaya bergerak yang berasal dari Segaran V (Candi Blandongan) dan Telagajaya Ia (Candi Serut). Kedua candi tersebut tampaknya memiliki perbedaan dari banyaknya jenis wadah yng ditemukan. Candi Telagajaya Ia lebih banyak memiliki tembikar berukuran lebih besar dari periuk, wadahnya sangt sedikit yang beragam hias atau berwarna. Dari Candi Telagajaya Ia banyak ditemukan pecahan stuko bagian dari relief dinding. Bentuk yang dapat diidentifikasi menggambarkan sejumlah makhluk seperti hewan bertanduk, burung, dan gajah. Sebagian mungkin penggambaran dari makhluk demonis, sebagian lainnya mungkin bagian dari relief cerita. Sejumlah bahan sisa proses buat benda tertentu yang berasal dari logam juga ditemukan. Sisa jasad berupa tulang dari mamalia banyak didapati.

Beberapa temuan unik dari Candi Telagajaya Ia (Candi Serut) adalah: Temuan unik gigi mamalia yang belum dapat diidentifikasi. Keunikannya terlihat pada permukaan mahkota gigi yang dihaluskan dengan cara dikikir, pada bagian akar gigi terlihat lubang yang sengaja dibuat. Kemungkinan gigi tersebut digunakan sebagai perhiasan berupa kalung. Temuan batu berbentuk silinder, namun bagian kedua ujungnya mengecil dengan ukuran yang berbeda. Pada bagian tubuh batu terlihat pahatan garis-garis sejajar panjang batu. Pada salah satu ujungnya terlihat jejak pakai yang memberikan gambaran bahwa benda tersebut dipakai sebagai alat penggerus. Temuan stuko yang mungkin sedikit menarik adalah stuko potongan ibu jari. Tidak seperti pecahan stuko lain yang dapat diidentifikasi sebagai bagian relief dinding, potongan ibu jari ini seperti bukan bagian dari relief yang menempel pada dinding, tapi merupakan potongan stuko ibu jari dari lengan arca.

Pecahan sisa proses buat benda logam juga ditemukan di Telagajaya Ia, bahkan ada bahan berbentuk lempeng seperti kawat dalam satu kumpulan yang karena waktu lama menjadi terekat. Benda logam yang unik adalah temuan bagian cucuk kendi yang terbuat dari logam perunggu. Bentuknya seperti belalai gajah, namun pada ujungnya distilir dengan hiasan floral berupa mahkota bunga. Temuan benda dari logam lainnya adalah periuk kecil atau mungkin karena ukurannya bisa disebut sebagai buli-buli dan lempeng perunggu berbentuk piringan. Periuk kecil atau buli-buli berbahan perunggu dilengkapi tutup, tangkai pegangan yang dapat bergerak bebas, dan sendok. Piringan logam terlihat rata, sehingga kemungkinannya dapat berupa piring atau benda lain yang mungkin digunakan sebagai perlengkapan ritual. Tepiannya terlihat memiliki hiasan tempa berbentuk floral seperti lembaran daun.

Jenis temuan dari Telagajaya Ia dan Segaran V sesungguhnya telah dapat memberikan sedikit gambaran tentang fungsi bangunan, cara hidup masyarakat masa lalu yang semasa dengan bangunannya, dan proses budayanya. Meskipun belum tergambar dalam satu bingkai yang jelas, namun bayangan sudah ada. Hanya perlu lebih banyak menambah pengetahuan tentang Batujaya itu sendiri melalui pemahaman akan lingkungan, cagar budaya tidak bergerak, dan tentunya cagar budaya bergeraknya yang begitu banyak.

Capaian target 450 cagar budaya bergerak pada tahun ini bukan berarti inventarisasi cagara budaya bergerak di Situs Kepurbakalaan Batujaya telah selesai, karena masih ada sejumlah cagar budaya bergerak lain yang belum terinventarisir, seperti bata berprofil. Semoga, perlahan namun pasti dengan target yang terukur, inventarisasi cagar budaya bergerak di Situs Kepurbakalaan Batujaya dapat berlanjut hingga tersusun satu data inventaris yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai kepentingan oleh berbagai kalangan.

TINGGALKAN KOMENTAR