Upacara Bendera Dalam Memperingati Hari Kebangkitan Nasional 2018

0
963
Logo Kebangkitan Nasional 110 tahun

Tanggal 21 Mei 2018 dilaksanakannya Upacara bendara dalam memperingati hari Kebangkitan Nasional 20 mei 2018. Pada kegiatan upacara ini diikuti oleh seluruh aparatur sipil negara di lingkungan Balai Pelestarian Cagar Budaya Bali.

Kepala Balai Pelestarian Cagar Budaya Bali menyampaikan pidato dari menteri Komunikasi dan Informatika sebagai berikut:

SAMBUTAN
MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA RI
PADA UPACARA BENDERA MEMPERINGATI
HARI KEBANGKITAN NASIONAL KE-110 TAHUN 2018

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Selamat pagi dan salam sejahtera,
Om Swastiastu,
Namo Buddhaya,
Salam kebajikan,

Saudari-saudara peserta upacara yang saya hormati,
Ketika rakyat berinisiatif untuk berjuang demi meraih kemerdekaan dengan membentuk
berbagai perkumpulan, lebih dari seabad lalu, kita nyaris tak punya apa-apa. Kita hanya
memiliki semangat dalam jiwa dan kesiapan mempertaruhkan nyawa. Namun sejarah
kemudian membuktikan bahwa semangat dan komitmen itu saja telah cukup, asalkan
kita bersatu dalam cita-cita yang sama: kemerdekaan bangsa.
Bersatu, adalah kata kunci ketika kita ingin menggapai cita-cita yang sangat mulia
namun pada saat yang sama tantangan yang mahakuat menghadang di depan. Boedi
Oetomo memberi contoh bagaimana dengan berkumpul dan berorganisasi tanpa
melihat asal-muasal primordial akhirnya bisa mendorong tumbuhnya semangat
nasionalisme yang menjadi bahan bakar utama kemerdekaan.
Boedi Oetomo menjadi salah satu penanda utama bahwa bangsa Indonesia untuk
pertama kali menyadari pentingnya persatuan dan kesatuan. Presiden Pertama dan
Proklamator Kemerdekaan Republik Indonesia, Soekarno, pada peringatan Hari
Kebangkitan Nasional tahun 1952 mengatakan bahwa: “Pada hari itu kita mulai
memasuki satu cara baru untuk melaksanakan satu ‘idee’, satu naluri pokok daripada
bangsa Indonesia. Naluri pokok ingin merdeka, naluri pokok ingin hidup berharkat
sebagai manusia dan sebagai bangsa. Cara baru itu ialah cara mengejar sesuatu
maksud dengan alat organisasi politik, cara berjuang dengan perserikatan dan
perhimpunan politik, cara berjuang dengan tenaga persatuan.”
2
Para pendahulu yang berkumpul dalam organisasi-organisasi seperti Boedi Oetama itu
memberikan yang terbaik bagi terbentuknya bangsa melalui organisasi. Bukan pertamatama
dengan memberikan harta atau senjata, melainkan dengan komitmen sepenuh
jiwa raga. Dengan segala keterbatasan sarana dan prasarana saat itu, mereka terus
menghidup-hidupi api nasionalisme dalam diri masing-masing.
Seratus sepuluh tahun kemudian bangsa ini telah tumbuh menjadi bangsa yang besar
dan maju, sejajar dengan bangsa-bangsa lain. Meski belum sepenuhnya sempurna,
rakyatnya telah menikmati hasil perjuangan para pahlawannya berupa meningkatnya
perekonomian, kesehatan, pendidikan, dan sebagainya. Keringat dan darah pendahulu
bangsa telah menjelma menjadi hamparan permadani perikehidupan yang nyaman
dalam rengkuhan kelambu kemerdekaan.
Kalau sekarang bangsa ini punya hampir segala yang dibutuhkan, seharusnya kita
terinspirasi bahwa dengan kondisi embrio bangsa seabad lalu yang berada dalam
rundungan kepapaan pun, kita telah mampu menghasilkan energi yang dahsyat untuk
membawa kepada kejayaan. Apalagi kini, ketika kita jauh lebih siap, tak berkekurangan
dalam sumber daya alam dan sumber daya manusia.
Saudari-saudara sebangsa dan setanah-air,
Butir kelima dari Nawacita Kabinet Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla
berisi visi untuk meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia melalui peningkatan
kualitas pendidikan dan pelatihan. Pada awal tahun ini, visi tersebut mendapat
penekanan lebih melalui amanat Presiden Joko Widodo yang menyatakan bahwa
pemerintah akan meningkatkan pembangunan sumber daya manusia (SDM) pada tahun
2019, melanjutkan percepatan pembangunan infrastruktur yang menjadi fokus pada
tahun-tahun sebelumnya. Melalui pembangunan manusia yang terampil dan terdidik,
pemerintah ingin meningkatkan daya saing ekonomi dan secara simultan meningkatkan
kapasitas sumber daya manusianya.
Bayangkan jika kita sepenuhnya berhasil membangun sumber daya manusia unggul
dari seluruh dari 260-an juta lebih penduduk negeri ini. Bercermin dari keberhasilan
Boedi Oetomo menggalang ide nasionalisme mulai dengan segelintir orang seabad lalu,
maka apa jadinya jika seluruh sumber daya manusia unggul kita saat ini berhimpun
dalam ide nasionalisme yang sama, dalam cita-cita untuk kejayaan bangsa yang sama?
Kekayaan alam merupakan sumber daya yang terbatas. Butuh segudang prasyarat
untuk bisa dieksploitasi, dan selalu ada limit untuk menggenjot pemanfaatannya.
Sedangkan sumber daya manusia kita menyediakan kapasitas dan kapabilitas yang
sangat luas untuk dikembangkan. Kebangkitan sumber daya manusia Indonesia secara
bersama-sama dan kompak, tanpa terdistraksi oleh godaan-godaan yang
3
kontraproduktif, akan membawa kepada kejayaan bangsa, selain secara otomatis bagi
individu-individunya sendiri.
Oleh sebab itu tema “PEMBANGUNAN SUMBER DAYA MANUSIA MEMPERKUAT
PONDASI KEBANGKITAN NASIONAL INDONESIA DALAM ERA DIGITAL” dalam
peringatan Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2018, ini harus dimaknai dengan upayaupaya
penyadaran setiap masyarakat Indonesia, untuk mengembangkan diri dan
merebut setiap peluang untuk meningkatkan kapasitas diri yang dibuka oleh berbagai
pihak, baik oleh pemerintah, badan usaha, maupun masyarakat sendiri. Pengembangan
kapasitas sumber daya manusia juga harus diletakkan dalam konteks pemerataan
dalam pengertian kewilayahan, agar bangsa ini bangkit secara bersama-sama dalam
kerangka kebangsaan Indonesia.
Saudari-saudara sebangsa dan setanah-air,
Bung Karno juga menggambarkan persatuan bangsa seperti layaknya sapu lidi. Jika
tidak diikat, maka lidi tersebut akan tercerai berai, tidak berguna dan mudah
dipatahkan. Tetapi jikalau lidi-lidi itu digabungkan, diikat menjadi sapu, mana ada
manusia bisa mematahkan sapu lidi yang sudah terikat?
Gambaran tersebut aktual sekali pada masa sekarang ini. Kita merasakan bahwa ada
kekuatan-kekuatan yang berusaha merenggangkan ikatan sapu lidi kita. Kita disuguhi
hasutan-hasutan yang membuat kita bertikai dan tanpa sadar mengiris ikatan yang
sudah puluhan tahun menyatukan segala perbedaan tersebut.
Padahal inilah masa yang sangat menentukan bagi kita. Inilah era yang menuntut kita
untuk tidak buang-buang waktu demi mengejar ketertinggalan dengan bangsa-bangsa
lain. Momentum sekarang ini menuntut kita untuk tidak buang-buang energi untuk
bertikai dan lebih fokus pada pendidikan dan pengembangan manusia Indonesia.
Menurut perhitungan para ahli, sekitar dua tahun lagi kita akan memasuki sebuah era
keemasan dalam konsep kependudukan, yaitu bonus demografi. Bonus demografi
menyuguhkan potensi keuntungan bagi bangsa karena proporsi penduduk usia
produktif lebih tinggi dibanding penduduk usia non-produktif. Menurut perkiraan Badan
Pusat Statistik, rentang masa ini akan berpuncak nanti pada tahun 2028 sampai 2031,
yang berarti tinggal 10-13 tahun lagi. Pada saat itu nanti, angka ketergantungan
penduduk diperkirakan mencapai titik terendah, yaitu 46,9 persen.
Proyeksi keuntungan bonus demografi itu akan tinggal menjadi proyeksi jika kita tak
dapat memaksimalkannya. Usia produktif hanya akan tinggal menjadi catatan tentang
usia daripada catatan tentang produktivitas, jika mutu sumber daya manusia produktif
pada tahun-tahun puncak bonus demografi tersebut tidak dapat mengungkit mesin
pertumbuhan ekonomi.
4
Oleh sebab itu Bapak Presiden Joko Widodo dalam berbagai kesempatan selalu
mendorong dunia pendidikan, bekerja sama dengan industri dan bisnis, untuk mencari
terobosan-terobosan baru dalam pendidikan vokasi. Jurusan-jurusan baru, baik di
tingkat pendidikan tinggi maupun juga di tingkat menengah, yang berkaitan dengan
keahlian dan ilmu terapan, harus selalu diciptakan untuk memasok industri akan tenaga
terampil yang siap kerja.
Saudari-saudara sebangsa dan setanah-air,
“Generasi bonus demografi” yang kebetulan juga beririsan dengan “generasi millenial”
kita tersebut, pada saat yang sama, juga terpapar oleh massifnya perkembangan
teknologi, terutama teknologi digital. Digitalisasi di berbagai bidang ini juga membuka
jendela peluang dan ancaman yang sama. Ia akan menjadi ancaman jika hanya pasif
menjadi pengguna dan pasar, namun akan menjadi berkah jika kita mampu
menaklukkannya menjadi pemain yang menentukan lansekap ekonomi berbasis digital
dunia.
Alhamdulillah, kita mencatat bahwa tak sedikit anak muda kreatif yang mampu
menaklukkan gelombang digitalisasi dengan cara mencari berkah di dalamnya. Internet,
media sosial, situs web, layanan multimedia aplikasi ponsel, mereka jadikan ladang
baru buat berkarya, dan pasar yang menjanjikan bagi kreativitas. Banyak kreator
konten dan pengembang aplikasi Indonesia yang mendunia, mendapatkan apresiasi
baik material maupun non-material.
Oleh sebab itu, mari bersama-sama kita jauhkan dunia digital dari anasir-anasir
pemecah-belah dan konten-konten negatif, agar anak-anak kita bebas berkreasi,
bersilaturahmi, berekspresi, dan mendapatkan manfaat darinya. Tidak ada satu pihak
yang tanggung jawabnya lebih besar daripada yang lain untuk hal ini. Pepatah Aceh
mengatakan: Pikulan satu dipikul berdua, rapat-rapat seperti biji timun suri. Artinya
kira-kira: Kita harus menjaga persatuan dalam memecahkan masalah, harus berbagi
beban yang sama, merapatkan barisan, jangan sampai terpecah-belah. Demikian juga,
dalam konteks menghadapi digitalisasi ini, kita semua harus dalam irama yang
serempak dalam memecahkan masalah dan menghadapi para pencari masalah.
Saudari-saudara sebangsa dan setanah-air,
Dulu kita bisa, dengan keterbatasan akses pengetahuan dan informasi, dengan
keterbatasan teknologi untuk berkomunikasi, berhimpun dan menyatukan pikiran untuk
memperjuangkan kedaulatan bangsa. Seharusnya sekarang kita juga bisa, sepikul
berdua, menjaga dunia yang serbadigital ini, agar menjadi wadah yang kondusif bagi
5
perkembangan budi pekerti, yang seimbang dengan pengetahuan dan keterampilan
generasi penerus kita.
Selamat Hari Kebangkitan Nasional ke-110. Mari maknai peringatan tahun ini di
lingkungan kita masing-masing, sesuai lingkup tugas kita masing-masing, untuk
semaksimal mungkin memfasilitasi peningkatan kapasitas sumber daya manusia,
terutama generasi muda, yang akan membawa kepada kejayaan bangsa di tahun-tahun
mendatang.
Terima kasih. Bangkit Indonesia!
Wassalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Om shanti shanti shanti Om.
Jakarta, 20 Mei 2018
Menteri Komunikasi dan Informatika RI
RUDIANTARA

TINGGALKAN KOMENTAR