You are currently viewing SITUS BENTENG RANU HITU/MAKES  DESA DIRUN, KECAMATAN LAKMANEN, KABUPATEN BELU,  PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR

SITUS BENTENG RANU HITU/MAKES DESA DIRUN, KECAMATAN LAKMANEN, KABUPATEN BELU, PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR

Daerah kabupaten Belu pada umumnya terdiri atas daratan bukit dan pegunungan serta hutan. Daerah Belu tergolong daerah yang curah hujannya sedikit yang secara tidak langsung iklim tersebut mempengaruhi pola hidup dan watak keseharian masyarakat Belu. Desa Dirun berlokasi di dataran tinggi, meliliki luas 14.400 ha, dengan batas-batas; sebelah Utara Desa Tohe, sebelah Timur Lewuwalu, sebelah Selatan Sisi Fatuberal, sebelah Barat Maudemu. Desa Dirun memiliki jumlah penduduk 3.500 orang

Jalan Menuju Situs Benteng Makes

Benteng makes berada di bukit Makes, Desa Dirun, Kecamatan Lakmanen, kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur, pada titik koordinat 51 L 729239, 8992108 UTM (pintu masuk) dengan ketinggian 1200 Mdpl. Lingkungan sekitar benteng makes, berupa lapangan safana, tumbuhan berupa kaktus, rumput, dan pohon” yang mudah hidup di lahan kars. benteng ini berjarak ± 2 km dari Dusun Nuawa’in Desa Dirun. Sedangkan jarak dari Kota Atambua menuju Desa Dirun ± 40 km, dengan waktu perjalanan ± 1,5 jam. Saat ini daerah sekitar yang sebut dengan Fulan Fehan, dataran safana sudah menjadi objek wisata alam, dan sudah sering dikunjungi oleh wisatawan Indonesia dan asing. Hanya saja tidak terlalu ramai, biasanya ramai pada saat musim liburan. Bukit Makes, padang safana Fulan Fehan masuk kedalam zona Hutan Milik Negara

Lokasi Benteng Ranu Hitu/Makes, Dok.google earth. 2017. edit BPCB Bali

Tempat tinggal orang-orang Belu dahulunya banyak berada di daerah perbukitan yang dikelilingi oleh semak berduri dan batu karang yang tidak mudah didatangi orang dan hidup secara berkelompok, dengan maksud untuk menjaga keamanan dari gangguan orang luar maupun binatang buas. Rumah asli penduduk Belu bernama Lopo, yaitu rumah yang berbentuk seperti kapal terbalik dan ada yang seperti gunung. Atapnya menjulur ke bawah hampir menyentuh tanah. Dinding rumah terbuat dari Pelepah Gewang, biasa disebut Bebak, tiang-tiangnya terbuat dari kayu-kayu balok, sedang atapnya dari daun gewang. Di bagian dalam rumah dibagi menjadi dua ruangan yaitu bagian luar diberi nama Sulak untuk ruang tamu, tempat tidur tamu, dan tempat anak-anak laki-laki dewasa .Pada bagian dalam disebut Nanan, yaitu tempat untuk tidur keluarga dan tempat makan. Sebelum pengaruh agama masuk ke daerah ini masyarakat di sini sudah mempunyai kepercayaan kepada Sang Pencipta, Sang Pengatur, yang biasa mereka sebut dengan Uis Neno (Dewa Langit) dan Uis Afu (Dewa Bumi). Banyak ragam upacara dan sesaji yang ditujukan kepada dewa-dewa tersebut untuk meminta berkah kesuburan tanah, hasil panen dan lain-lain. Salah satu contoh adalah upacara Hamis Batar no Hatama Mamaik suatu upacara sebagai tanda rasa syukur dimulainya musim petik jagung.

Sejarah Singkat Benteng Ranu Hitu/Makes

Tidak banyak bahkan tidak ada data-data tertulis mengenai Situs Benteng Ranu HItu/Makes, data sejarah mengenai benteng ini lebih banyak didapatkan melalui cerita dari tetua adat (makoan) seorang penutur. Dapat dikatakan cerita mengenai Situs Benteng Ranu Hitu/Makes ini berkembang dan berlanjut dengan budaya lisan dari generasi sebelumnya ke generasi berikutnya.

Meriam Portugis di halaman utama Benteng Ranu Hitu/Makes, Dok.BPCB Bali

Sesuai dengan berbagai cerita sejarah daerah di Belu, manusia Belu pertama yang mendiami wilayah Belu adalah “Suku Melus”. Orang Melus dikenal dengan sebutan “Emafatuk Oan Ema Ai Oan“, (manusia penghuni batu dan kayu). Tipe manusia Melus adalah berpostur kuat, kekar dan bertubuh pendek. Semua para pendatang yang menghuni Belu sebenarnya berasal dari “Sina Mutin Malaka”. Malaka merupakan tanah asal-usul pendatang di Belu yang berlayar menuju Timor melalui Larantuka. Khusus untuk para pendatang baru yang mendiami daerah Belu terdapat berbagai versi cerita. Kendati demikian, intinya bahwa, ada kesamaan universal yang dapat ditarik dari semua informasi dan data.

Menurut cerita bahwa ada tiga orang bersaudara dari tanah Malaka yang datang dan tinggal di Belu, bercampur dengan suku asli Melus. Nama ketiga bersaudara itu menurut para tetua adat masing-masing daerah berlainan. Dari Makoan Fatuaruin menyebutnya Nekin Mataus (Likusaen), Suku Mataus (Sonbai), dan Bara Mataus (Fatuaruin). Sedangkan Makoan asal Dirma menyebutnya Loro Sankoe (Debuluk Welakar), Loro Banleo (Dirma Sanleo) dan Loro Sonbai (Dawan). Namun menurut beberapa makoan asal Besikama yang berasal dari Malaka ialah Wehali Nain, Wewiku Nain dan Haitimuk Nain. Ketiga orang bersaudara dari Malaka tersebut bergelar raja atau loro dan memiliki wilayah kekuasaan yang jelas dengan persekutuan yang akrab dengan   masyarakatnya.   Kedatangan mereka dari tanah Malaka hanya untuk menjalin hubungan   dagang antar daerah di bidang kayu cendana dan hubungan etnis keagamaan.

Dari semua pendatang di Belu, pimpinan dipegang oleh “Maromak Oan“  Liurai  Nain  di  Belu  bagian Selatan. Bahkan menurut para peneliti asing  Maromak  Oan  kekuasaannya juga  merambah  sampai  sebahagian daerah Dawan (Insana dan Biboki). Dalam   melaksanakan   tugasnya   di Belu,  Maromak Oan memiliki perpanjangan tangan yaitu  Wewiku-Wehali  dan  Haitimuk  Nain. Selain juga ada di Fatuaruin, Sonbai dan Suai Kamanasa serta Loro Lakekun, Dirma, Fialaran, Maubara, Biboki dan Insana. Maromak Oan sendiri menetap di Laran sebagai pusat kekuasaan kerajaan Wewiku-Wehali. Para pendatang di Belu tersebut, tidak membagi daerah Belu menjadi Selatan dan Utara sebagaimana  yang  terjadi  sekarang. Menurut para sejararawan, pembagian Belu menjadi Belu bagian Selatan dan Utara hanyalah merupakan strategi pemerintah jajahan   Belanda   untuk mempermudah  system  pengontrolan terhadap masyarakatnya. Dalam keadaan  pemerintahan  adat  tersebut muncullah siaran dari pemerintah raja-raja dengan apa yang disebutnya “Zaman  Keemasan Kerajaan”. Apa yang kita catat dan dikenal  dalam sejarah daerah  Belu  adalah  adanya kerajaan Wewiku-Wehali (pusat kekuasaan seluruh Belu). Di Dawan ada kerajaan Sonbay yang  berkuasa di daerah Mutis. Daerah Dawan termasuk Miamafo dan Dubay sekitar 40.000 jiwa masyarakatnya. Menurut penuturan para tetua adat dari Wewiku-Wehali, untuk mempermudah  pengaturan system pemerintahan, Sang Maromak Oan mengirim para pembantunya ke seluruh wilayah  Belu  sebagai  Loro dan Liurai. Tercatat nama-nama pemimpin besar   yang   dikirim   dari   WewikuWehali seperti Loro Dirma, Loro Lakekun, Biboki Nain, Herneno dan Insana  Nain  serta  Nenometan  Anas dan Fialaran. Ada juga kerajaan Fialaran di Belu bagian Utara yang dipimpin Dasi Mau Bauk dengan kaki tangannya seperti Loro Bauho, Lakekun, Naitimu, Asumanu, Lasiolat dan Lidak. Selain itu ada juga nama seperti Dafala, Manleten, Umaklaran Sorbau. Dalam perkembangan pemerintahannya muncul lagi tiga bersaudara yang ikut memerintah di Utara yaitu Tohe Nain, Maumutin dan Aitoon.

Dari perkawinan antara Loro Bauho dan Klusin yang dikenal dengan nama As  Tanara  membawahi  Dasi  Sanulu yang dikenal sampai sekarang ini yaitu Lasiolat,Asumanu,  Lasaka,  Dafala, Manukleten, Sorbau, Lidak, Tohe Maumutin dan Aitoon. Dalam berbagai penuturan di Utara maupun di Selatan terkenal dengan “empat jalinan terkait”. Di Belu Utara bagian Barat dikenal Umahat, Rinbesi Hat yaitu Dafala, Manuleten, Umaklaran Sorbauan dibagian Timur ada Asumanu Tohe, Besikama-Lasaen, Umalor-Lawain. Dengan demikian rupanya keempat bersaudara yang satunya menjelma sebagai tak kelihatan itu yang menandai asal-usul pendatang di Belu membaur dengan penduduk asli Melus yang sudah lama punah.

Benteng ini bernama Benteng Ranu Hitu atau yang biasa dikenal orang-orang lokal sebagai Benteng Lapis 7, karena berada di atas bukit Makes maka benteng ini juga sering disebut dengan Benteng Makes. Benteng ini adalah benteng utama Kerajaan Dirun pada waktu itu, benteng perang tradisional di pedalaman yang pada saat itu di Timor masih sering terjadi perang antar suku. Menurut cerita masyarakat setempat Benteng Ranu Hitu/Makes sudah ada sebelum penguasaan Portugis dan beberapa kali berpindah tangan sampai akhirnya dijaga oleh 3 pahlawan lokal dai 3 suku lokal yaitu suku Loos, suku Sri Gatal, dan suku Monesogo. Benteng ini dulu merupakan tempat para pahlawan, atau yang biasa di sebut Meo. Di benteng ini biasanya mereka mengatur strategi atau bahkan melakukan tes kekebalan tubuh dengan cara memotong-motong tubuh mereka sendiri untuk membuktikan apakah tubuh mereka bisa kembali menjadi utuh sebelum maju ke medan perang.

Pintu masuk pertama, Benteng Ranu Hitu/Makes, Dok.BPCB Bali

Di benteng ini terdiri dari 7 lapis pertahanan yang dimulai dari awal pintu masuk hingga akhirnya ke lapisan terakhir dimana terdapat sebuah area bulat dari batu membentuk sebuah tempat pertemuan, tempat dimana raja-raja waktu dulu berkumpul. Susunan bangku ruang pertemuan dari batu tersebut masih terlihat asli dan alami, terdiri dari batu-batu alam pipih yang disusun sedemikian rupa dan melingkar (tata batu melingkar). Di tengah tempat pertemuan terdapat dua buah batu besar dan kecil yang konon dulu dipergunakan untuk menaruh kepala musuh mereka. Salah satu bangku batu terlihat spesial dari yang lainnya karena memiliki singasana batu yang lebih tinggi. Ternyata itu merupakan tempat raja Suku Uma Metan. Sebuah batu bulat pipih juga tergeletak sebagai alas duduk yang tidak boleh diduduki oleh siapapun juga, bahkan sampai sekarang. Masyarakat Timor percaya jika mereka menduduki bangku tersebut, maka nasib buruk bisa menimpa mereka. Tepat di belakang bangku tersebut terdapat sebuah batu persegi panjang yang ternyata adalah makam dari sang raja pertama Kerajaan Dirun, Raja Dasi Manu Loeq. Menurut tutur yang disampaikan oleh Makoan, Batu yang digunakan untuk membangun benteng didatangkan dari Desa Ikin dan Desa Lewalo.

Makam Raja Dirun I, di halaman utama Benteng Ranu Hitu/Makes, Doc.BPCB Bali

Ada sebuah tradisi yang masih berlanjut dari Suku Uma Metan, menaruh sirih pinang di dekat makam raja. Hal ini merupakan adat istiadat masyarakat setempat. Sirih pinang memang identik sekali dengan suku-suku di Timor, bisa sebagai lambang persahabatan, lambang perdamaian juga lambang keakraban. Seakan dengan mengunyah sirih pinang menjadikan kita sebagai bagian dari keluarga masyarakat Timor. Selain itu sirih pinang juga merupakan simbol rasa hormat. Dengan menaruh sirih pinang di dekat makam raja. Suku Uma Metan percaya bahwa arwah leluhur masih banyak bersemayam di tempat itu. Benteng Ranu Hitu sendiri kabarnya dibuat selama tujuh hari tujuh malam, dimana pada siang hari dikerjakan dengan tenaga manusia dan pada malam hari dikerjakan oleh para arwah leluhur. Tidak heran suasana mistis terasa kental sekali saat berada di tempat ini. Di bagian halaman belakang benteng, dimana terdapat Hol Makes, yaitu tempat memanggil pasukan atau rakyat, serta tempat khusus untuk meneriakkan perang pada waktu itu. Letaknya memang di pinggir tebing dengan lembah-lembah di sekitarnya sehingga sangat yakin jika kita berteriak, akan terdengar keras sekali karena efek pantulan dari lembah-lembah tersebut. Terbayangkan bagaimana situasi pada masa itu, mungkin saja lebih hebat dari film box office yang biasa kita lihat di bioskop.

Sampai saat ini belum ada penelitian yang lebih lanjut dan mendalam terhadap Benteng Ranu Hitu/Makes, sehingga data sejarah hanya berupa data lisan, tutur dari orang yang lebih tua/yang dituakan oleh masyarakat Desa Dirun (seorang Makoan) pemangku adat.

artanegara

Balai Pelestarian cagar Budaya Bali Wilayah Kerja prov. Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur Jalan Raya Tampaksiring, Bedulu, Blahbatuh, Gianyar, Bali 80581 Telepon (0361) 942347, Fax (0361) 942354 e-mail: bpcbbali@kemdikbud.go.id dan bp3_bali@yahoo.com

Leave a Reply