Seminar Kajian Kawasan DAS Pakerisan Dan Petanu Di Museum Arma, Ubud, Bali

0
1631

Kegiatan Seminar  Kajian Pelestarian Kawasan DAS Pakerisan dan Petanu Kabupaten Gianyar, Provinsi Bali dengan melibatkan peserta yang terdiri dari para pemilik dan pengelola cagar budaya dan para pemegang kebijakan yang berkaitan dengan pelestarian kawasan cagar budaya sebanyak 55 orang, pembicara dari berbagai instansi sebanyak 6 orang, serta dua orang modurator yang berkompeten di bidangnya.

Seminar  Kajian Pelestarian Kawasan DAS Pakerisan dan Petanu Kabupaten Gianyar, Provinsi Bali telah dilaksanakan pada tanggal 2 Desember 2013 dengan melibatkan tim yang terdiri dari Drs. I Wayan Susila (Ketua), Drs. I Wayan Gede Yadnya Tenaya (Sekretaris), I Made Sumiarta BA (Anggota), Ida Ayu Gede Yuni Anita Sari, SS (Anggota), Ni Made Ricayanti Suantra, SE (Anggota),  I Wayan Sandia (Anggota), I Kadek Suarsa (Anggota).

Dalam kegiatan Seminar Kajian Pelestarian Kawasan DAS Pakerisan dan Petanu Tahun 2013 di Museum Arma Ubud Gianyar hadir para pemegang kebijakan adat di sekitar kawasan DAS Pakerisan dan Petanu, dengan pembicara para ahli arkeologi dan pemerhati budaya yang sangat peduli akan keberlangsungan Cagar Budaya di Kawasan DAS Pakerisan dan Petanu. Para peserta dan pembicara tersebut bersentuhan langsung dengan Cagar Budaya yang terdapat di sekitar kawsan tersebut. Setelah panitia melakukan persiapan maka kegiatan dimulai pada pukul 08.00 WITA yang diawali dengan kegiatan registrasi peserta.

Setelah para pembicara, modurator dan peserta hadir, maka kegiatan dimulai dengan diawali pembukaan oleh pembawa acara, yang kemudian secara bersama-sama semua yang hadir dalam kegiatan sebagai rasa cinta dan bakti kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya sehingga selama kegiatan berlangsung rasa persatuan dan kesatuan dapat tertanam dalam setiap pembicaraan yang dilakkukan dalam seminar tersebut. Untuk mkemanjatkan syukur dan untuk kelancaran kegiatan para hadirin semua memanjatkan Doa yang dipimpin oleh tokoh agama setempat yang memohon agar kegiatan diberikan kelancaran serta tujuan pelaksanaan kegiatan dapat tersampaikan dengan baik dan bermanfaat untuk masyarakat. Acara dilanjutkan dengan laporan yang disampaikan oleh Bapak Kepala Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Gianyar. Berlandaskan rasa terimakasih dan syukur kehadapan Tuhan Yang Maha Esa beliau menyampaikan tentang latar belakang, manfaat serta tujuan dilaksanakannya kegiatan ini sehingga para hadirin paham dan mengerti tentang alasan serta harapan dilaksanakannya kegiatan Seminar Kajian Pelestarian Kawasan DAS Pakerisan dan Petanu. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan sambutan serta pembukaan yang disampaikan oleh Direktur Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman yang dalam hal ini diwakili oleh Ibu Dra. Widiati, M.Hum. Dalam sambutannya beliau menyampaikan langsung sambutan yang disampaikan Bapak Direktur yang menyampaikan tentang pelestarian kawasan cagar budaya berdasarkan UU No. 11 Th. 2010 serta diharapkan pula melalui kegiatan seminar ini dapat menambah daftar kawasan yang akan nantinya dilestarikan dan ditetapkan sebagai kawasan cagar budaya, dan tentunya dalam pengelolaan kawasan tersebut memberikan banyak manfaat bagi banyak pihak. Dengan berakhirnya sambutan dari Ibu Widiati maka secara resmi kegiatan seminar kajian pelestarian kawasan DAS Pakerisan dan Petanu dibuka dengan tiga buah ketukan.

Kegiatan ini melibatkan enam orang pembicara dari berbagai instansi dan profesi, dua orang moderator serta peserta seminar berjumlah 55 orang yang sebagian besar merupakan pemegang kebijakan, pemangku adat, mahasiswa, pengajar dan peneliti. Kegiatan seminar dibagi menjadi dua sesi. Sesi pertama dengan empat orang pembicara dan satu orang moderator dan sesi kedua dengan dua orang pembicara dan satu orang moderator. Pada sesi pertama para pembicara mempresentasikan materinya dengan baik dan menarik sehingga sangat banyak peserta yang bertanya dan memberikan saran kritiknya untuk penyempurnaan pelestarian kawasan cagar budaya DAS pakerisan dan Petanu. Begitu pula pada sesi kedua meskipun pembicara hanya dua orang tetapi para peserta masih antusias untuk mendengarkan dan berdiskusi secara baik dan terbuka. Setelah kegiatan diskusi yang cukup menarik dan membuat para peserta paham dan mengerti akan pelestarian kawasan cagar budaya maka kegiatan seminar diakhiri oleh pembawa acara.

 

  1. 1.    Bulan Pejeng Representatif Teknologi dan Karya Seni Prasejarah Bali

      oleh DR. I Made Sutaba, APU (Budayawan)

  1. Bulan jatuh dari langit

Bulan Pejeng adalah nama julukan untuk menyebut sebuah nekara perunggu dari jaman prasejarah, yaitu dari masa perundagian yang berkembang kira-kira 2000 tahun  yang silam, atau kira-kira sekitar awal tarih masehi. Warisan budaya ini, adalah salah satu  media pemujaan  yang sakral, sampai sekarang masih tersimpan denganbaik di Pura Penataran Sasih di desa Pejeng, Gianyar, yang terletak hampir di pusat desa, yaitu di tepi jalan rayaTampaksiring- Kintamani, sehingga tidak ada suatu kesulitan untuk mengunjungi puraini. Menurut sebuah ceritarakyat yang sangat populer di kalangan masyarakat luas diceritakan, bahwa “Bulan Pejeng” ini adalah “bulan” yang  dahulukala jatuh di desa Pejeng, membuat desa ini menjadi terang-benderang siang dan malam, sehingga para pencuri tidak mungkin dapat melakukan aksinya. Oleh karena itu,  maka“bulan” ini dikencinginya, sehingga  tidak lagi bersinar  sampai sekarang. Adapun nama Pura Penataran Sasih ini, yang berarti“Pura tempat bulan” (Bulan=Sasih), barangkali berkaitan erat sekali dengancerita “bulan” yang dahulukala telah jatuh dari langit. Masih ada lagi cerita lain yang menuturkan, bahwa nekara Pejeng ini adalah subang Kebo Iwa, seorang tokoh legendaris yang sangat kuat dan sakti, sehingga dengan kukunya  berhasil mengukir Goa Gajah, candi tebing Gunung Kawi dan lain- lainnya.

Nekara Pejeng tersebut di atas, untuk pertama kalinya diperkenalkan kepada dunia internasional oleh G. E. Rumphius, seorang ahli Ilmu Hayat melalui bukunya Amboinsche Rariteitkamer yang diterbitkan pada tahun 1705, walaupun ia sendiri sebenarnya belum pernah datang ke Bali, tetapi  ternyata ia telah berhasil memanfaatkan segala keterangan yang berasal dari Hendrik Leydekerker’s, yang telah melihat dan mempelajari nekara tersebut di atas. Sejak itu, nekara Pejeng mulai mendapat perhatian dunia, dan ternyata pada tahun 1906  W. O. J. Nieuwenkamp, seorang seniman ternama datang ke Bali dan membuat gambar detil  nekara tersebut di atas, yang hasilnya hingga sekarang masih menjadi bahan rujukan dalam  studi arkeologi prasejarahdan baru beberapa tahun yang lalu dilakukan penggambaran ulang oleh Dinas Purbakala  Bali dan Jakarta.

Sejalan dengan bergulirnya waktu, berita mengenai nekara Pejeng telah menarik perhatian para ahli arkeologi Indonesia untuk melakukan penelitian dengan seksama, karena selain nekara perunggu tersebut di atas, di Pura Penataran Sasih terdapat juga sejumlah kekunaan yang berasal dari masa meluasnya pengaruh agama Hindu antara lain, ialah prasasti,  arca-arca Hindu dan lain-lainnya yang masih berfungsi sakral bagi penduduk desa setempat untuk memohon keselamatan,  kesejahteraan dan agar terhindar dari marabahaya. Dapat ditambahklan, bahwa  berdasarkan hasil pengamatan arkeologi, desa Pejeng adalah sebuah desa kuno, mempunyai lebih dari 50 buah pura yang sebagian tergolong sebagai cagar budaya (ada yang besar dan ada juga yang kecil dan sederhana), yang tersebar mengitari desa dan  masih berfungsi sakral bagi penduduk setempat. Ada dugaan sementara,  bahwa desa Pejeng adalah Singhamandawa yang dahulua menjadi pusat kerajaan Bali kuno. Dalam hubungan ini,perlu juga dicatat di sini, bahwa desa Bedulu yang terletak tidak jauh di sebelah  selatan desa Pejeng,mempunyai lebih dari 20 buah pura kuno, yang sampai seakarang masih berfungsi sacral bagi masyarakat setempat.

 

  1. Penelitian arkeologi

Berdasarkan hasil penelitian para ahli arkeologi  dapat diketahui, bahwa nekara Pejeng adalah sebuah nekara raksasa dengan segala ukuran yang serba besar, yaitu tinggi  186,5 m. dan garis tengah bidang pukulnya 1,60 m. (foto 1). Di kalangan para ahli arkeologi, nekara ini disebut juga sebagai nekara dengan kepala, karena mempunyai empat pasang hiasan kepala atau  kedok muka  dengan mata bulat melotot, hidung berbentuk kerucut memanjang dan telinganya panjang memakai anting-anting dari mata uang. Lebih jauh diduga, bahwa hiasan kedok muka ini tidak semata-mata hanya berfungsi estetik-dekoratif, melainkan lebih banyak berfungsi simbolis-magis, yaitu sebagai lambang atau simbol nenek moyang yang mempunyai kekuatan gaib yang dapat melindungi arwah seseorang yang meninggal dunia dalam perjalanannya ke dunia akhirat.Di samping itu dipercaya juga dapat memberikan perlindungan dan kesejahteraan kepada kaum kerabat atau masyarakat yang masih hidup.Ada juga hiasan lainnya yang mengandung makna simbolis-magis, ialah hiasan bulu burung merak yang dipercayai sebagailambang kematian, atau sebagai pengantar arwah ke dunia akhirat, sedangkan hiasan bintang adalah lambang kebesaran dunia atau alam semesta, sedangkan hiasan tumpal diduga sebagai lambang kehidupan.

Penelitian seputar nekara Pejeng  sebagai artefak prasejarah yang penting semakin menarik dan masih diteruskan hingga dewasa ini. Sebagai contoh dapat disebutkan, ialah penelitian yang dilakukan pada tahun 1932 oleh K. C. Cruq dari Dinas Purbakala RI. (Jakarta) yang berhasil menemukan tiga buah fragmen cetakan batu di sebuah pura di desa Manuaba, yang memakai hiasan kedok muka yang hampir sama dengan hiasan kedok muka pada nekara Pejeng, tetapi dengan ukuran yang lebih kecil. Beberapa tahun yang lalu, (alm) Prof. Dr. R. Soejono, ketika bertugas memimpin Kantor Purbakala Bali di Bedulu, Gianyar, menemukan lagi dua buah fragmen cetakan batu yang merupakan bagian dari temuan Cruq di tempat yang sama di desa Manuaba. Kelima buah cetakan batu di atas, sampai sekarang tersimpan di sebuahpura di desa Manuaba,  yang dianggap sebagai media pemujaan yang sakral bagi masyarakat setempat. Berdasarkan temuan cetakan batu ini, maka para ahli purbakala berpendapat, bahwa2000 tahun yang silam masyarakat prasejarah Bali telah menguasai teknologi dan seni tuang logam (metalurgi) dan berhasil mengembangkan industri logam lokal yang khas Bali, yang dapat menghasilkan barang-barang perunggu, seperti nekara Pejeng dengan ragam hias seperti dipaparkan diatas; tajak, gelangdan lain-lainnya. Keberhasilan ini dapat dicapai,  karena kearifan lokal masyarakat Bali pada waktu itu telah tumbuh dan berkembang dengan sangat pesat, sehingga menghasilkan karya-karya budaya yang sangat khas Bali. Perkiraan ini diperkuat juga dengan adanya temuan di luar Bali, yaitu di Jawa Barat  berupa cetakan dari tanah liat untuk membuat mata tombak, yang dapat juga dianggap sebagai bukti berkembangnya industri logam lokal di luar Bali.

Selain di desa Pejeng, di tempat lainnya di daerah Bali ditemukan juga nekara perunggu, yaitudi Peguyangan (Badung), Pacung, Ularan, Pangkungparuk (Buleleng), Ban (Karangasem), Manikliyu (Bangli), Perean (Tabanan), dan Bitra (Gianyar). Berdasarkan hasil penelitian di lapangan dapat diketahui, bahwa di antara nekara perunggu ini ada yang ditemukan dalam asosiasi  atau konteks  penguburan, ialah nekara dari Ularan dan Pangkungparukyang diduga sebagai bekal kubur,  sedangkan nekara Manikliyu ternyata digunakan sebagai wadah kubur  (foto2 ), sama halnya dengan nekara perunggu dari Plawangan (Jawa Tengah).  Temuan nekara perunggu di daerah Bali seperti tersebut di atas adalah  bukti yang  menyatakan, bahwamasyarakat prasejarah Bali, sekitar 2000 tahun yang silam, jauh sebelum datangnya pengaruh dari India, telah berhasil menguasai dan mengembangkan industri logam lokal yang khas Bali, sehingga pada waktu itu berhasil mencapai puncaknya. Selain nekara perunggu, di beberapa situs arkeologi di Bali, ditemukan juga barang-barang perunggulainnya, yaitu tajak, gelang cincin, sarung tangan dan lain-lainnya, yang berhubungan erat dengan tradisi penguburan, seperti yang ditemukan dalam sejumlah sarkofagus Bali dan di situs necropolis prasejarah Gilimanuk..

Kenyataan di atas menunjukkan, bahwa dinamika kearifan lokal masyarakat Bali telah berhasil tampil dengan sangat cerdas.Hal semacam ini juga terbukti dari temuan sebuah nekara yang tidak dibuat dari perunggu, melainkan dari batu, yang sampai sekarang disimpan di sebuah pura di desa Carangsari (Badung) dan masih berfungsi sakral bagi masyarakat setempat.Hal  ini terjadi, mungkin karena pada waktu itu tidak tersedia perunggu yang diperlukan; atau barangkali masyarakat tidak berhasil mendapat bahan-bahan yang diperlukan, tetapi kesulitan ini ternyatatidak membuat masyarakat setempat kehilangan akal atau kehabisan semangat untuk memenuhi keperluannya yang bersifat religius. Untuk mememuhi keperluan ini, sekali lagi, kearifan lokal masyarakat Bali yang sangat dinamis dan cerdas berhasil memanfaatkan sumberdaya alam yang tersedia di sekitarnya, yaitu batu atau bebatuanyang dapat digunakan untuk membuat nekara sebagai pengganti nekara perunggu. Tampaknya masyarakat  tidak memasalahkan perbedaan bahan dan perbedaan bentuk sarana pemujaan yang dapat dihasilkan, karena mereka lebih mementingkan pemenuhan keperluan yang bersifat religius untuk memohon keselamatan dan kesejahteraan bersama.

Masih ada sisi lain yang merupakan keunggulan dari kearifan lokal masyarakat Bali  dalam penguasaan teknologi dan seni tuanglogam yang sangat rumit, ialah nekara dari Ularan dan Pangkungparuk seperti disebutkan di atas, adalah dua nekara mini atau nekara perunggu berukuran kecil (disebut juga miniatur nekara perunggu)yang sangat spektakuler, baik sebagai hasil teknologi dan seni tuang logam  (metalurgi)  maupun sebagai  karya seni prasejarah Bali yang khas,  yang baru untuk pertama kalinya ditemukan di Indonesia. Secara tipologis, kedua nekaramini ini dapat dianggap supermini, sedangkan “Bulan Pejeng” dapat dianggap sebagai nekara superbesar, seperti dipaparkan di atas.Kedua nekara tersebut di atas adalah temuanarkeologi yang sangat penting dan langka,kini telah memperkaya khazanah budaya Indonesia, khususnya budaya Bali. Temuan  arkeologis semacam ini dapat dianggap sebagai bukti, bahwa masyarakat Bali khususnya tidak begitu saja mengadopsi  teknologi dari Dongson, tetapi dengan memiliki kemampuan dan penguasaan sendiri dalambidang teknologi metalurgi, akhirnya berhasil mengembangkannya dengan kekuatan kearifan lokal, sehingga menjadi karya budaya yang benar-benar khas Bali. Dapat ditambahkan, bahwa penelitian terhadap nekara Pejeng telah dilakukan juga oleh D. D. Bintarti (2000).

Sementara itu, penelitian arkeologi di luar Bali telah berhasil menemukan nekara perunggu yang menarik perhatian, yaitu di Kerinci (Sumatra), Banten, Tanurejo, Weleri, Plawangan (Jawa), Pulau Salayar, Roti, Kei dan Papua. Menarik perhatian, ialah adanya persamaan bentuk dan pola hias tertentuantara nekara-nekara perunggu Indonesia, seperti tersebut di atas dengan nekara-nekara perunggu di Asia Tenggara, sehingga timbul dugaan, bahwa Indonesia mendapat pengaruh dari Dongson yang dipandang sebagai pusat teknologi  perunggu di Asia Tenggara,yang dibawa oleh penutur Bahasa Austronesia melalui jalan darat atau lewat jalur samudra. Dalam perlintasan budaya Asia-Pasifik semacam ini, Bali  mempunyai posisi geografis  yang  amat strategis, dan  berhasil  mengadopsi teknologi  metalurgi dari Dongson, dan semuanya  dimodifikasi melalui kearifan lokal masyarakat Bali yang sangat cerdas, dinamis, fleksibel, selektifdan kreatif sehingga karakter yang khas Bali dapat disaksikan dengan jelas.

Berdasarkanhasil–hasil penelitian arkeologi dapat diketahui, bahwa pada masa perundagian telah berkembang juga tradisi megalitik yang tersebar hampir di seluruh dunia, termasuk di Indonesia antara lain, berupa menhir,dolmen, kubur peti batu dan sebagainya. Para ahli arkeologi berpendapat, bahwa pada waktu itu seluruh Bali telah dihuni oleh masyarakat megalitik yang agraris dan menguasai teknologi metalurgi, menetap di desa-desa, hidup dengan teratur, dipimpin oleh seorang tokoh yang dipercaya, disegani dan dihormati. Kehidupan masyarakat berkembang semakin maju, karena  telah menguasai teknologi metalurgi, menuntut adanya tenaga-tenaga yang memiliki kemampuan dan penguasaan bidang-bidang tertentu dalam kehidupan masyarakat. Menghadapi keadaan semacam ini, dalam masyarakat  lahir dan berkembang kelompok-kelompok sosial fungsional, yaitu kelompok para pemimpin, kelompok para undagiatau tukang batu dan pande logam (besi) yang mempunyai kemampuan khusus, kelompok para rohaniawan yang mengatur dan melaksanakan berbagairitual, seperti ritual penguburan dan masyarakat umum yang tidak mempunyai kemampuan tertentu, bertugas membantu semua kelompok lainnya. Pada waktu itu, dalam masyarakat tumbuh dan berkembang kepercayaan  kepada  arwah  leluhur  atau  arwah  pemimpin yang dianggap berada di puncak gunung atau bukit, atau di suatu tempat yang sulit  dikunjungi,  dan dipercayai mempunyai kekuatan magis (magic power) yang dapat melindungi kaum kerabat atau masyarakat dari marabahayadan dapat juga memberikan keselamatan dan kesejahteraan. Kepercayaan ini ternyata sangat mempengaruhi kehidupan masyarakat sehari-hari, dan sampai sekarang masih tampak dalam kehidupan bangsa Indonesia, khususnya  dalam  masyarakat Bali.  Dapat dikemukakan di  sini, bahwa pada waktu tradisi megalitik berkembang dengan pesat, kepercayaan kepada arwah nenek moyang adalah sistem religi yang bersifat universal, sehingga para ahli arkeologi menganggapnya sebagai ciri utama tradisi megalitik yang dapat dijumpai di situs-situs megalitik di seluruh  dunia.

 

  1. 3.    “Bulan Pejeng” representasi teknologi  dan karya seni prasejarah Bali

Berdasarkan hasil-hasil kajian arkeologi seputar nekara Pejeng seperti dipaparkan di atas dapat diketahui, bahwa nekara ini adalah karya budaya masyarakat prasejarah Bali, yang bersifat multidimensi, seperti juga karya-karya budaya lainnya, mengandung pesan-pesan, berbagai informasi dan pengetahuan mengenai kehidupan masyarakat masa silam. Dengan perkataan lain  dapat dikatakan,  bahwa nekara Pejeng adalah bukti arkeologis yang menggambarkan kehidupan masyarakat perundagian di Balisebelum datangnya pengaruh dari India, meliputi berbagai aspek yang bersifat multidimensional, yaitu (a) penguasaan teknologi, seni tuang logam dan karya seni yang diwarnai oleh kearifan lokal yang amat signifikan dan bermakna simbolis-magis; (b)  berkembangnya pranata sosial,  berupa kelompok-kelompok sosial fungsional seperti dipaparkan di atas; dan (c) sistem religi yang didominasi oleh kepercayaan kepada arwah nenek moyang, yang  sangat mempengaruhi  kehidupan masyarakat  Bali hingga dewasa ini.  Dengan demikian, maka  “Bulan Pejeng” dapat dianggap sebagai sebuah representasi teknologi, seni tuang logam dan karya seni masyarakat  prasejarah Baliyang tidak hanya sekedar bermakna signifikan pada waktu itu, tetapi telah berhasil mencapai puncaknya, sehingga menjadi master piecemasa perundagian di Bali.. Secara historis dapat dikemukakan di sini, bahwa karya budaya prasejarah ini tentu menjadi dasar yang penting bagi perkembangan kebudayaan Bali, terutama kesenian, ketika pengaruh dari India sampai di Pulau Dewata ini.

Dalam konteks kekinian,  nekara Pejeng yang sarat dengan kandungan nilai-nilai sosial-budaya tentu sangat bermanfaat dalam pembangunan karakter bangsa, yaitu mengukuhkan  ketahanan jatidiri  generasi muda untuk menghadapi budaya global, pesatnya multikulturalisme  dan gemuruhnya pengaruh industri pariwisata (budaya) yang didukung oleh kemajuan teknologi, terutama teknologi transportasi, informasi dan komunikasi. Pembangunan karakter bangsa yang ideal, dapat dilakukan melalui suatu sistem pendidikan yang berbasis sejarah (Bali) dalam berbagai jenjang atau tingkatan pendidikan yang telah diatur oleh Pemerintah.Bagi masyarakat  Bali dewasa ini, kiranya sangat  penting untuk membangun kesadaran sejarah dan budaya sendiri, supaya  tidak kehilangan akar sejarah dan budaya leluhurnya sendiri dalam membangun Bali yang maju, modern, dan sejahtera lahir-bathin dalam NKRI. yang kuat dan bersatu (S-10112012 – Rev.19112013).