Pura Pancering Jagat

0
4696

Pura Pancering Jagat terletak di Dusun Trunyan, Desa Trunyan, Kecamatan Kintamani Kabupaten Bangli, berjarak sekitar 65 Km dari Kota Denpasar. Lokasi pura berada di sebelah timur laut permukiman Desa Trunyan pada koordinat 80 42’ 38.2” LS, 1150 25’ 34.6” BT dan ketinggian 1.056 mdpl.

Nama Pure Pancering Jagat berasal dari nama patung besar setinggi 4 meter yang terdapat di pura ini yang oleh masyarakat disebut “Arca Datonta” atau “ Ratu gede Pancering Jagat”. Arca Datonta merupkan arca bercorak  megalitik, dihias dengan ukiran sederhana dan dengan ekspresi  wajah menyeramkan. Arca ini digambarkan tanpa busana, dengan alat vital (penis)  yang menjulur ke bawah. Tepat di bawah alat vitalnya terdapat lubang yang menggambarkan alat kelamin wanita.  Simbol ini diduga merupakan  bentuk lingga yoni, kekuatan Dewa Siwa dan Dewi Uma menurut kepercayaan Hindu (Julia, 2011).

Arca Ratu Gede Pancering Jagat atau Arca Dadonta disakralkan oleh masyarakat. Arca Datonta dianggap sebagai simbol laki-laki (purusa) sedangkan simbol perempuan (pradana) terdapat pada pelinggih Ida Ratu Ayu Dalem Pingit berupa Meru Tumpang Tiga yang dilengkapi dengan “lambang yang tak dapat diukur dalamnya”. Simbol purusa dan pradana (laki-laki dan perempuan) menurut kepercayaan masyarakat Trunyan adalah simbol kesuburan.

Keyakinan yang sakral kepada Ratu Gede Pancering Jagat berkaitan dengan Tari Barong Brutuk yang juga disakralkan oleh masyarakat. Tarian ini dipentaskan pada saat upacara besar di pura yakni ini yakni dilaksakan tiap-tiap dua tahun sekali pada hari purnama kapat.  Pementasan ini sebagai pertanda  turunnya Tuhan dalam manifestasi sebagai Ratu Gede Pancering Jagat, ratu Ayu Dalem Pingit, dan Ratu Sakti Maduwegama.

Keberadaan Pura Ratu Gede Pancering Jagat dan Arca datonta tertulis pula dalam beberapa prasasti. Dalam prasasti Trunyan AI, Trunyan B, Bwahan A, Bwahan B, Bwahan C, Bwahan E, Batur Pura Tulukbiyu, dan Pura Tulukbiyu B diuraikan tentang interaksi sosial religius pada saat upacara keagamaan yang dihadiri oleh masyarakat penyungsung pura. Prasasti-prasasti tersebut menjelaskan tentang kegiatan ritual yang ditujukan kepada Ratu Pancering Jagat atau yang lebih dikenal dengan Bhatara Da Tonta di Desa Turun-an (Trunyan). Hal ini menunjukkan adanya kontak sosial dalam masyarakat dalam satu banua di kawasan Danau Batur (Apsari, 2011).

Dalam Prasasti trunyan B (tahun 833 Çaka) diterangkan secara jelas hubungan desa-desa di Trunyan khusunya antara Desa Air Hawang dengan Desa Turun-an. Desa Er Rawang dan Desa Turun-an mempunyai tugas mas ing-masing dalam upacara kebesaran Bhatara Da Tonta dan apabila tidak dapat melakukan tugas tersebut maka masing-masing desa akan dikenakan kewajiban. Seperti ditulis dalam lembar berikut ini.

IIb

  1. “…atĕhĕrto banua di er rawang, manguning di da bhātara da tonta rājakāryyanda, mangalap er danu, dirusĕn da bhatāra, kumamuningin ida, tĕhĕr ya
  2. Macincin mamata, matingĕtingĕt mamata, mangamuningin bhātara da tonta pikangudunda datu to sahayan padang, di banua di er rawang, mangurumandyang i
  3. Da bhātara, kunang yan I tka ya, bakat ya ku 2 …”

(Callenfels, 1926: 24-25; Goris, 1954: 58)

Artinya secara bebas kurang lebih seperti berikut.

  1. “…demikian pula (kewajiban) Desa Er Rawang kepada Bhatara Da Tonta pada saat upacara kebesaran beliau yaitu mengambil air danau, memandikan Bhatara, mengoles sesuatu yang berwarna kuning kepada beliau kemudian beliau diberikan
  2. Cincin permata, anting-anting permata, mengoleskan sesuatu yang berwarna kuning Bhatara Da Tonta yang dihormati sebagai datu atau pemimpin oleh semua warga Desa di Er Rawang pada saat upacara untuk I
  3. Da Bhatara. Bila mereka tidak datang pada saat upacara itu, mereka didenda 2 kupang …”

Mengacu pada isi prasasti tersebut jelas kiranya bahwa kepercayaan kepada Ratu gede Pancering Jagat atau Bhatara Da Tonta yang berkembang sejak masa prasejarah tetap berlanjut pada masa klasik dan sampai sekarang ini. Itulah pula sebabnya mengapa Pura untuk memuliakan Bhatara Da Tonta tetap dijaga, dikeramatkan dan dilestarikan. Pada awal tahun 2007 pura ini pernah ditimpa bencana karena pohon tumbang yang mengakibatkan 17 pelinggih beserta tiga candi bentar dan tembok pembatas pura hancur. Namun berkat kerjasama antara masyarakat, unsur swasta dan pemerintah pura ini telah dapat direnovasi kembali.