Konservasi Di Pura Puseh Desa Temesi, Kecamatan Gianyar, Kabupaten Gianyar, Bali

0
1886
konservasi di pura puseh desa temesi
konservasi di pura puseh desa temesi

Pelaksanaan konservasi di Pura Puseh Desa Temesi dilaksanakan pada tanggal 14 s/d 19 Juni 2013 oleh sebuah tim dari Balai Pelestarian Cagar Budaya Gianyar dengan susunan tim sebagai berikut :

  1. I Gede Wardana ( Ketua tim)
  2. I Wayan Balik (Konservator)
  3. Dewa Made Suastika (Konservator)
  4. I Wayan Subawa (Tenaga Konservasi)
  5. I Made Warsa (Tenaga Konservasi)
  6. Lalu Minotan( Tenaga konservasi)

Pura Puseh Temesi secara administratif, berlokasi di Desa Temesi, Kecamatan  Gianyar, Kabupaten Gianyar. Pura Puseh Temesi  merupakan suatu  tempat pemujaan agama Hindu (Pura) yang berfungsi sebagai PuraKayangan Jagat Desa Pakraman Temesi.Lokasi Pura ini sangat strategis berada dipinggir jalan raya menuju tempat pembuangan akhir (TPA) di Kabupaten Gianyar. Jarak tempuk dari kota Gianyar kurang lebih 3 kilometer arah timur kota, sedangkan jarak tempuh dari kota Denpasar sekitar 30 kilometer. Lingkungan pura tersebut terletak di lingkungan persawahan yang nyaman dan sejuk di pagi /sore hari. Secara astronomis koordinat pura pada UTM 50 L 318325 UTM 9054887 dengan ketinggian 93 meter diatas permukaan air laut. Batas-batas Pura Puseh Temesi di sebelah utara merupakan sawah, sebelah timur adalah sawah, sebelah barat juga sawah dan selatan adalah jalan. Pura tersebut terdiri dari tiga halaman yaitu halaman jaba (luar), madya (tengah), dan jeroan (dalam).

Wilayah Desa Temesi merupakan wilayah jajahan Desa Taman Bali, Kabupaten Bangli (sehingga letak pertigaan di sebelah utara Desa Temesi terdapat pertigaan Bangli, bukan pertigaan Gianyar). Menurut ceritera orang tua Raja Gianyar ingin merebut wilayah Temesi, tetapi tidak bisa karena wilayah Temesi memiliki bala tentara “gamang” berjumlah domas (delapan ratus). Kemudian Raja Gianyar mengirim duta ke wilayah Temesi untuk diajak berunding, jika ingin berada di bawah kerajaan Gianyar, maka tanah di sebelah selatan wilayah Temesi menjadi hak warga Temesi. Mengungkap sejarah Pura Puseh Temesi sangat sulit dilakukan karena sumber-sumber tertulis yang berkaitan dengan pura tersebut belum ditemukan hingga sekarang. Di dalam lontar Siwagama dijelaskan bahha pendirian tempat suci di desa adat (khayangan tiga) yaitu Pura Puseh, Pura Desa dan Pura Dalem. maka Pura puseh sebagai pusat atau asal, yang merupakan tempat suci untuk pemujaan leluhur dari orang yng dihormati di desa tersebut. dari uraian tersebut jelas bahwa, Pura Puseh didirikan untuk menyembah atau pemujaan leluhur yang dahulu kala mendirikan suatu desa. hal ini sesuai dengan pandangan Dr. R. Goris bahwa, yang dipuja di Pura Puseh adalah leluhur yang telah disucikan yang dianggap dewa (ardana, t.t : 29:30 ; Goris, 160 : 101-111). mengingat adanya kesediaan dan kesepakatan pengemong maka pura tersebut secara khusus ditujukan untuk menghormati Ida Bhatara Sri dan Ida Bhatara Wisnu selaku dewa penguasa kemakmuran (kesuburan).

arca di pura puseh desa temesi
arca di pura puseh desa temesi

Dilihat dari bahannya arca di Pura Puseh Temesi terbuat dari batu padas. Adapun bahan yang dipergunakan bersifat higroskofis dan sangat peka akan pengaruh lingkungan terutama suhu dan iklim setempat, sebagai akibat pengaruh lingkungannya bahan dasar batu padas akan mengalami proses interaksi. Proses tersebut merupakan proses alamiah yang tidak bisa dihindari, oleh sebab itu pada dasarnya semua benda atau mengalami proses penuaan secara alamiah dan akan mengalami proses degradasi yang nantinya mengakibatkan menurunnya kualitas bahan dasar yang digunakan. Selain itu ada juga faktor-faktor yang memicu kerusakan /pelapukan yaitu baik itu faktor internal maupun faktor external.Faktor  external adalah adanya pengaruh dari luar seperti kondisi geografis (iklim, bencana alam maupun vandalisme). Sedangkan faktor internal adalah tergantung dari kualitas bahan dasar dari benda cagar budaya sendiri. Dari segi prosesnya kerusakan/pelapukan cagar budaya di Pura Penataran Sasih dapat dikelompokkan menjadi 4 (empat)  yaitu kerusakan secara mekanis, fisis, khemis dan biologis ;

1.   Kerusakan secara mekanis

Bentuk  dari kerusakan  ini dapat di ketahui dengan adanya : pecah, retak dan patah. Kerusakan terjadi pecahan maupun patah disebabkan adanya faktor external. Dari hasil pengamatan dilapangan bahwa kondisi lingkungan secara makro yaitu suhu udara berkisar 30 – 32 derajat celsius. Dengan kelembaban udara berkisar 60 – 70 % .

2.  Kerusakan Fisis

Kerusakan secara fisis terjadi karena faktor iklim setempat, baik secara makro maupun secara mikro, di samping itu tak terlepaskan oleh pengaruh suhu dan kelembaban pada siang maupun di malam hari yang akan memicu terjadinya proses pelapukan secara fisis.

Diagnosis

Pada prinsipnya dalam penanganan konservasi harus di dasari atas diagnosis terhadap permasalahan yang dihadapi salah satu faktor yang sangat perlu diperhatikan adalah batuan dasar benda cagar budaya sendiri, apalagi terbuat dari batu padas yang bersifat higroskofis, oleh karena itu di dalam penanganan konservasi harus dengan sangat hati-hati.Dari hasil diagnosis dapat disimpulkan bahwa permasalahan yang dihadapi adalah mengalami kerusakan/pelapukan secara mekanis, fisis, chemis dan biologis, secara umum kerusakan benda cagar budaya di Pura Puseh Temesi prosentasenya sedikit , dengan demikian dapat ditentukan formulasi penanganannya yaitu berupa, pembersihan secara mekanis kering, dan Pembersihan mekanis basah.

2. Kegiatan Konservasi

Pembersihan mekanis kering Pembersihan yang dimaksud adalah untuk membersihkan akumulasi debu dan kotoran dalam bentuk rumah serangga dan tahi burung yang menempel pada benda cagar budaya. Adapun peralatan yang digunakan adalah berupa  sikat gigi dan kuas.