Inventarisasi Warisan Budaya di Kabupaten Ende “Situs Kampung Adat Walotopo”

0
539

Latar Belakang

Besarnya potensi kepurbakalaan yang ada di wilayah kerja BPCB Gianyar, khususnya Provinsi NTT, menimbulkan konsekuensi masih banyak diantara warisan budayayang ada belum dapat diinventarisasi keberadaannya.Inventarisasiterhadap peninggalan itu diharapkan akan dapat menjadi sumber data sejarah budaya untuk kepentingan pendidikan maupun dalam rangka pelestariannya. Inventarisasi merupakan langkah yang amat penting untuk dilakukan dalam upaya pelestarian terhadap cagar budaya. Mengingat warisan budaya mempunyai sifat yang terbatas dan  tidak dapat diperbarui. Berkaitan dengan inventarisasi, dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 52 Tahun 2012 tentang Organisasi dan Tata Kerja Balai Pelestarian Cagar Budaya disebutkan bahwa salah satu fungsi BPCB adalah melaksanakan dokumentasi dan publikasi cagar budaya. Jadi kegiatan inventarisasi dengan pendokumentasian termasuk di dalamnya, merupakan kegiatan yang wajib dilaksanakan oleh BPCB. Kegiatan inventarisasi terhadap potensi cagar budaya diharapkan akan menghasilkan suatu daftar warisan budaya/cagar budaya yang dapat memberikan gambaran tentang persebaran warisan budaya/cagar budaya yang ada di wilayah kerja masing-masing BPCB.

Kabupaten Ende yang merupakan bagian dari Pulau Flores mempunyai sejarah yang sangat panjang dan meninggalkan bukti-bukti fisik hasil kegiatan manusia pendukungnya di masa lampau. Bukti fisik tersebut berupa sejumlah peninggalan arkeologi yang ditemukan tersebar di seluruh wilayahnya. Sebagai warisan budaya masa lalu yang sangat beragam, peninggalan tersebut dapat dikelompokkan menjadi kelompok yang lebih kecil berdasarkan bahan, jaman, fungsi maupun jenisnya. Berdasarkan bahan, bukti fisik tersebut dapat terbuat dari batu, padas, tanah liat, logam, dan lain-lain. Kalau berdasarkan  zaman, warisan tersebut ada yang berasal dari zaman prasejarah, masa klasik Hindu-Budha, masa Islam, masa kolonial dan masa kemerdekaan. Berdasarkan fungsi, warisan budaya tersebut  dapat berfungsi sakral dan profan. Berdasarkan jenis, sesuai dengan Undang-undang No. 11 tahun 2010, dapat dibedakan menjadi benda, bangunan, struktur, situs dan kawasan.

Upaya-upaya pelestarian terhadap warisan budaya/cagar budayadi Kabupaten Ende telahdiupayakan oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya Gianyar, diantaranya berupa penempatan juru pelihara, pemetaan dan dokumentasi. Terkait dengan kegiatan inventarisasi warisanbudaya di Kabupaten Ende,  tercatatbaru 8 lokasi yang sudahdiinventarisir. Diantaranya lokasi-lokasi yang terkait dengan sejarah pengasingan Bung Karno di Ende. Delapan lokasi yang dimaksud adalah Rumah Pengasingan Bung Karno, Taman Renungan Bung Karno(Pohon Sukun), Gedung Imakulata, Makam Ibu Amsi, Gereja Paroki Kristus Katedral Ende, Percetakan Offset Arnoldus, Detasemen Polisi Militer IX/I dan  Masjid Besar Ar-Rabithah.

Sesuai dengan tugas pokok dan fungsi BPCB, maka dalam tahun anggaran 2014 ini dilaksanakan inventarisasi lanjutan dengan sasaran lokasi lainnya di kabupaten ini untuk melengkapi data warisan budaya yang telah ada sebelumnya.

Maksud dan Tujuan

Kegiatan Inventarisasi Warisan Budaya di Kabupaten Ende, NTT, dimaksudkan untuk  lebih menyempurnakan kwalitas dan menambah kwantitas data yang telah ada. Dengan harapan hasil yang diperoleh benar-benar merupakan data yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan, baik jumlah, jenis dan berbagai aspek penting lainnya. Sedangkan tujuan kegiatan ini adalah untuk menjaring data agar dapat digunakan sebagai dasar bahan dalam penyusunan Daftar Induk Inventarisasi Warisan Budaya/Cagar Budaya yang tersebar di Kabupaten Ende, dan dapat dijadikan dasar dalam penentuan kebijakan pelindungan, pengembangan dan pemanfaatannya.

Metode

Untuk mencapai hasil sesuai dengan maksud dan tujuan kegiatan, harus memenuhi  kaedah-kaedah metodelogi yang lazim digunakan dalam penelitian. Hal ini dimaksudkan agar pelaksanaan kegiatan lebih berbobot dan memiliki nilai ilmiah.   Adapun metode yang digunakan adalah sebagai berikut :

  1. Kepustakaan merupakan salah satu acuan dalam pelaksanaan kegiatan studi teknis dengan menelaah hasil-hasil penelitian terdahulu yang  dipublikasikan. Selain itu studi pustaka merupakan metode untuk mendapatkan sumber-sumber data yang terkait dengan obyek yang akan dilaksanakan studi. 
  2. Observasi adalah teknik pengumpulan data dengan cara mengamati langsung obyek yang akan diteliti untuk mengetahui kondisi benda yang sebenarnya.
  3. Wawancara adalah tehnik pengumpulan data dengan mengadakan tanya jawab secara langsung dengan tokoh masyarakat, aparat desa, atau orang-orang yang mengetahui informasi tentang cagar budaya yang menjadi sasaran kegiatan.  Wawancara dilakukan dalam kegiatan ini dengan metode tanpa struktur.

Letak dan Lingkungan

Kabupaten Ende merupakan salah satu kabupaten di Pulau Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur, dengan luas wilayah 2.046,59 km2 (204.660 Ha). Secara astronomikabupaten  ini  terletak pada posisi 8°26´04° 8°4´17° – 8°54’27° 8°42’30° LS dan 121°50´41° 121°26’04° – 121°24’0° 121°24’27° BT. Secara geografis Kabupaten Ende memiliki letak yang cukup strategis karena berada  dibagian

tengah Pulau Flores yang diapit oleh lima Kabupaten di bagian barat : Nagekeo, Ngada, Manggarai Timur, Manggarai, dan Manggarai Barat, sedangkan dibagian timur oleh dua kabupaten yakni : Kabupaten Sikka dan Kabupaten Flores Timur. Ende adalah kota transit penghubung bagian barat Flores dan bagian timur Flores, dengan batas-batas wilayah :

  • Utara             : Laut Flores
  • Timur             : Kabupaten Sikka
  • Selatan          : Laut Sawu
  • Barat             : Kabupaten Ngada (www.nttprov.go.id)

Ende juga merupakansebuah kabupaten yang dikelilingi olehperbukitan.Bukit-bukit ini menampilkan keindahan yang luar biasa. Di sinilah terdapat Gunung Kelimutu, kawasan Taman Nasional Kelimutu dan Danau Kelimutu atau yang disebut juga dengan Danau Tiga Warna.Pembagian wilayah menurut ketinggian dari permukaan laut terdiri atas 79,4 % berada pada ketinggian kurang dari 500 meter diatas permukaan laut, dan 20,6% berada pada ketinggian lebih dari 500 meter diatas permukaan laut.Perubahan suhu harian tidak terlalu menonjol antara musim panas dan musim dingin.Rata-rata amplitudo suhu harian 60o C dengan rata-rata suhu siang hari 33,5o C dan malam hari 23o C. Hal ini menunjukkan perbedaan suhu siang dan malam tidak terlalu besar.Ini berarti bahwa cuaca di wilayah daerah ini tidak terlalu dingin dan tidak pula terlalu panas(www.nttuweb.com/ntt).

Wilayah administratif pemerintahan Kabupaten Ende  terbagi menjadi 21 kecamatan, yaitu : Nangapanda, Ende, Ende Selatan, Ende Utara, Ende Tengah, Ende Timur, Ndona, Wolowaru, Maurole, Detusoko, Pulau Ende, Maukaro, Wewaria, Wolojita, Kelimutu, Detukeli, Kota Baru, Lio Timur, Ndori, Ndona Timur, dan Lepembusu Kelisoke (Wikipedia.org).                 Mengenai lokasi-lokasi yang menjadi sasaran kegiatan inventarisasi, secara administratif tersebar di 3 kecamatan, yaitu Ndona, Ende Utara, dan Wolowaru. Kondisi lingkungan masing-masing lokasi akan digambarkan dalam sketsa dan peta di bawah ini.

Kampung Adat Wolotopo

Secara administratif Kampung Adat Wolotopo termasuk dalam wilayah Dusun Wawu Sumba, Desa Wolotopo Timur, Kecamatan Ndona. Secara astronomis terletak pada posisi 51 L 0358316 UTM 9020990, dengan ketinggian  38meter di atas permukaan air laut. Untuk mencapai lokasi situs tidaklah sulit karena dapat dicapai dengan kendaraan roda dua maupun kendaraan roda empat. Kampung Adat Wolotopoberjarak  ±12 km dari Kota Ende.Memasuki Perkampungan Wolotopoakan terlihat bangunan rumah-rumah penduduk yang berhimpitan satu dengan yang lain. Sebagian dari rumah-rumah itumasih terbuat dari bahan lokal, walau sebagian yang lain sudah bertembok semen. Bagai relief, rumah-rumah penduduk berdiri diantara tebing-tebing perbukitan.Perkampungan megalitik, itulah istilah yang dapat disebutkan untuk perkampungan Wolotopo, karena selain keberadaan rumah-rumah adat yang dibangun beralaskan batu dan tiang penyangga, di kampung ini juga terlihat dengan jelas keberadaan kubur-kubur batu.

Kampung Adat Wolotopo

  • No. Inventaris  :  3/16-05/ST/9
  • Alamat : 
    • Dusun : Wawu Sumba
    • Desa : Wolotopo
    • Kecamatan : Ndona
    • Kabupaten : Ende
    • Provinsi : Nusa Tenggara Timur
  • Koordinat : 51 L 0358316 UTM 9020990
  • Luas Lahan : 36,30 m x 15,40 m =  559,02 m2
  • Batas-batas : 
    • Utara : Rumah penduduk
    • Timur : Rumah penduduk
    • Timur : Rumah penduduk
    • Selatan : Rumah penduduk
    • Barat  : Rumah penduduk
  • Periode :  Prasejarah  dan Kemerdekaan
  • Latar Budaya  :  Tradisi megalitik
  • Pemilik  : Mosalaki
  • Pengelola : Mosalaki
  • Deskripsi  : Kampung  Wolotopo merupakan salah satu kampung yang sudah cukup tuayang sampai saat inimasyarakatnyatetapmemelihara beraneka ritus dan kekayaan budaya yang diwariskan oleh leluhurnya.Kampung Adat Wolotopo memiliki ciri yang unik dan khas yang berbeda dengan kampung adat lainnya. Rumah-rumah dibangun di pinggir tebing sehingga membuat keindahan tersendiri. Di kampung ini terdapat dua bangunan rumah adat dalam kondisi yang baik. Di depan rumah adat dimanfaatkan  sebagai pekuburan para tokoh adat dan anggota keluarga mereka. Pada sisi depan kuburan ini dibuat berteras-teras. Pada bidang berteras difungsikan sebagai kuburan keluarga, sedangkan pada areal puncak sebagai tempat mengubur para tokoh adat mereka. Pada masing-masing teras kuburan ditata dengan batu-batu alam.Tepat di tengah kampung berdiri sebuah tempat untuk makam leluhur yang disebut Bhaku.

Rumah Adat Atalaki

  • No. Inventaris    : 2/16-05/BNG/7
  • Ukuran
    • Tinggi : –
    • Panjang  : 14,50 m
    • Lebar  : 10,30 m
  • Bahan : Kayu, bambu, ilalang
  • Kondisi : Utuh
  • Arah hadap : Selatan
  • Deskripsi : Rumah adat Atalaki pada bagian kaki dibuat dengan konstruksi panggung dan  sistem topang. Artinya, bagian kaki-kaki dengan  bentuk panggung dengan sistem sambungan memakai pasak. Tiang-tiangnya memakai kayu hanya dikelupas kulit luarnya saja,  sehingga memberikan kesan natural.  Bagian badan, memakai tiang-tiang kayu natural.Dinding luar memakai papan-papan kayu pada keempat sisinya.Bagian  serambi depan dibentuk persegi empat memanjang dengan sebuah pintu masuk sebagai penghubung ke dalam ruangan dalam. Bagian dalam, ruangan terbagi menjadi 6 buah, dengan 3 dapur.Konsep pembagian ruangan pada dasarnya adalah berdasarkan jenis kelamin dengan istilah Bikasawu untuk istilah ruang di sebelah kanan diperuntukkan bagi laki-laki dan Rabulaki untuk istilah ruangan di sebelah kiri bagi perempuan.  Tiga buah ruang dapur dengan tungku tradisional menggunakan 3 buah batu  alam silindris dipasang membentuk segi tiga sama sisi.  Bagian atap memakai alang-alang, membentuk 4 sudut bubungan dari atas ke bawah, dalam bingkai persegi empat.Bangunan rumah Adat Atalaki secara fungsional digunakan sebagai tempat melakukan musyawarah dan acara-acara adat pada saat-saat tertentu.Sehari-harinya rumah adat ini digunakan sebagai tempat tinggal kepala suku adat.

Rumah Adat Saosuwe

  • No. Inventaris  : 2/16-05/BNG/8
  • Ukuran
    • Tinggi : –
    • Panjang  : 10,60 m
    • Lebar : 10,20 m
  • Bahan : Kayu, bambu, ilalang
  • Kondisi  : Utuh
  • Arah hadap : Selatan
  • Deskripsi : Rumah adat ini letaknya bersebelahan dengan rumah adat Atalaki.  Rumah ini mempunyai konstruksi yang sama dengan rumah adat Atalaki,  berupa rumah panggung. Bagian kaki-kaki dengan  bentuk panggung dengan sistem sambungan memakai pasak. Tiang-tiangnya memakai kayu hanya dikelupas kulit luarnya saja,  sehingga memberikan kesan natural.  Bagian badan, memakai tiang-tiang kayu natural. Dinding luar memakai papan-papan kayu pada keempat sisinya. Bagian  serambi depan dibentuk persegi empat memanjang dengan sebuah pintu masuk sebagai penghubung ke dalam ruangan dalam. Bagian dalam berupa ruangan tempat tinggal dan dapur. Konsep pembagian ruangan pada dasarnya adalah berdasarkan jenis kelamin dengan istilah Bikasawuuntuk istilah ruang di sebelah kanan diperuntukkan bagi laki-laki dan Rabulaki untuk istilah ruangan di sebelah kiri bagi perempuan.  Bagian atap memakai alang-alang, membentuk 4 sudut bubungan dari atas ke bawah, dalam bingkai persegi empat.

Punden Berundak

  • No. Inventaris : 4/16-05/STR/5
  • Bahan : Batu
  • Kondisi : Utuh
  • Deskripsi  : Merupakan sebuah struktur yang terbuat dari susunan batu-batu alam yang disusun sedemikian rupa. Di bagian atas terdapat kubur-kubur batu yang merupakan makam  tokoh-tokoh adat masyarakat Wolotopo.Sedangkan pada sisi samping yangdibuat berteras-terasdifungsikan sebagai kuburan keluarga.

TINGGALKAN KOMENTAR