Inventarisasi Situs Warloka IV

0
647

Latar Belakang

Pulau Flores merupakan pulau di Provinsi Nusa Tenggara Timur yang masuk dalam gugusan Kepulauan Sunda Kecil bersama Bali dan NTB, dengan luas wilayah sekitar 14.300 km². Pulau Flores bersama Pulau Timor, Pulau Sumba dan Kepulauan Alor merupakan empat pulau besar di Provinsi NTT yang merupakan salah satu provinsi kepulauan di Indonesia dengan 566 pulau. Di ujung barat dan   timur Pulau Flores ada beberapa gugusan pulau kecil. Di sebelah timur ada gugusan Pulau Lembata, Adonara dan Solor, sedangkan di sebelah barat ada gugusan Pulau Komodo dan Rinca. (http://epangawang.wordpress.com)

Secara administratif Pulau Flores dibagi menjadi 9 (sembilan) kabupaten yaitu : Lembata, Flores Timur, Sikka, Ende, Nagekeo, Ngada, Manggarai Timur, Manggarai dan Manggarai Barat. Kabupaten yang disebutkan terakhir merupakan kabupaten baru yang dimekarkan dari Kabupaten Manggarai. Pendirian Kabupaten Manggarai Barat menjadi wilayah otonom baru diresmikan pada tanggal  7 Juli 2003, melalui UU RI No. 8 Tahun 2003. Dari sudut budaya adanya pemekaran kabupaten tersebut tidak merubah sistem kebudayaan Manggarai yang telah turun-temurun merupakan satu sistem kebudayaan yang tidak terpisahkan. Perubahan struktur pemerintahan yang terjadi di Manggarai tidak dapat mengubah struktur kehidupan sosial yang kolektif, atau yang telah ada sebelumnya.

Pembentukan Kabupaten Manggarai Barat sebagai sebuah kabupaten baru menuntut Kabupaten Manggarai Barat harus mampu mengelola tata pemerintahannya sendiri untuk mengejar ketertinggalan dari kabupaten lain di Provinsi Nusa Tenggara Timur dan dari kabupaten lain di Pulau Flores pada khususnya.  Termasuk juga harus mampu menjaga, memelihara dan melestarikan warisan budaya yang berada di wilayahnya. Kabupaten Manggarai Barat mempunyai keunggulan berupa lingkungan alam dan sumber daya budaya yang khas dan spesifik yang potensial untuk dikembangkan. Salah satunya adalah sumber daya tinggalan arkeologi. Di Kabupaten Manggarai Barat, seperti kabupaten lain di Pulau Flores, tersebar lokasi-lokasi yang menyimpan tinggalan purbakala yang berperan dalam kehidupan manusia Flores di masa lampau yang masih dilestarikan sampai sekarang.

Berdasarkan Keputusan Bupati Manggarai Barat Nomor 152/KEP/HK/2006 tanggal 23 September 2006, disebutkan jumlah cagar budaya di Kabupaten Manggarai Barat berjumlah 18 aset. Dan pada tahun 2012 ini berdasarkan catatan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Manggarai Barat tercatat 23 lokasi yang masuk dalam Daftar Tinggalan Budaya Kabupaten Manggarai Barat. Jadi antara tahun 2006 – 2012 terdapat penambahan 5 lokasi yang masuk daftar inventaris. Lokasi warisan budaya (situs) tersebut sampai sekarang belum terkelola dengan baik. Akibatnya banyak situs yang telah rusak dan hilang. Upaya pelestarian untuk mempertahankan keberadaan aset budaya tersebut dengan perlindungan, pengembangan dan pemanfaatannya belum optimal. Salah satu lokasi yang masuk dalam daftar warisan budaya di atas adalah tinggalan arkeologi yang tersebar di Desa Warloka.

Desa Warloka terletak di tepi pantai yang menghadap ke arah Pulau Rinca di bagian barat Kabupaten Manggarai Barat, sekitar 30 km dari kota Labuhan Bajo. Sebagian besar penduduknya bermata pencaharian sebagai nelayan, dan sebagian lagi sebagai peladang. Permukaan tanahnya landai sampai ke kaki bukit. Kemudian pada jarak sekitar 500 meter, permukaan tanahnya mulai menanjak hingga ke perbukitan. Pada tahun 1981 situs Warloka pernah diteliti oleh tim dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional. Penelitian tersebut berhasil menemukan menhir, dolmen, alat batu, gerabah dan keramik. Adanya penemuan tersebut membuktikan Desa Warloka merupakan situs permukiman dan pemujaan pada masa prasejarah hingga masa setelahnya.  Tim peneliti dari Unversitas Gajah Mada Yogyakarta juga pernah melakukan penelitian di Desa Warloka. Penelitian tersebut berhasil menemukan empat tulang manusia modern tipe homo sapiens yang terdiri dari tiga tulang manusia dewasa dan satu tulang anak kecil. Juga ditemukan berbagai benda peninggalan lain seperti gelang, rantai perunggu, mangkok, batu nisan, tulang-tulang binatang serta alat-alat pada zaman sejarah (http://dion-bata.blogspot.com).

Adanya penemuan penting tersebut otomatis menempatkan kawasan Warloka menjadi objek penelitian ilmu pengetahuan, sekaligus menjadi sasaran penggalian liar yang dilakukan oleh penduduk desa dan sekitarnya untuk mendapatkan barang keramik dan barang berharga lainnya. Penggalian-penggalian liar tersebut mengakibatkan lokasi-lokasi warisan budaya yang tersebar di kawasan Warloka dalam kondisi rusak. Hal ini dapat diketahui dari posisi warisan budaya yang sudah tidak insitu dan tergeletak begitu saja di tanah, bahkan ada dalam kondisi terpotong dan pecah. Tinggalan budaya yang masih dapat ditemukan sampai sekarang di Desa Warloka berupa batu-batu menhir dan dolmen yang tersebar di daerah pantai, lereng bukit dan puncak bukit.

Warisan budaya di Desa Warloka merupakan bukti sejarah perjalanan hidup nenek moyang orang Flores yang amat penting untuk dilestarikan. Karena nilai penting yang terkandung di dalamnya, maka warisan budaya itu harus dilestarikan untuk kepentingan pembentukan jati diri dan karakter bangsa Indonesia di masa yang akan datang. Sesuai Undang-undang RI Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya, khususnya pasal 1 ayat 6, Desa Warloka dapat dikategorikan sebagai Kawasan Cagar Budaya karena merupakan satuan ruang geografis yang memiliki dua situs atau lebih yang letaknya berdekatan dan memperlihatkan ciri tata ruang yang khas. Di Desa Warloka terdapat beberapa lokasi yang menyimpan peninggalan purbakala yang khas, berupa peninggalan dari masa megalitik. Untuk dapat dikatakan sebagai Cagar Budaya, maka lokasi beserta benda di dalamnya harus ditetapkan melalui proses penetapan. Pada pasal 1 Undang-undang RI Nomor 11 Tahun 2010 disebutkan kewenangan penetapan berada di tangan pemerintah kabupaten/kota berdasarkan rekomendasi Tim Ahli Cagar Budaya, dan BP3 Bali sebagai sebuah UPT yang mempunyai tugas dan fungsi  melaksanakan pelestarian Cagar Budaya di Propinsi Bali, NTB dan NTT, tetap diwajibkan untuk melakukan kegiatan inventarisasi warisan budaya.

 

Letak dan Lingkungan

Secara administrasi wilayah Kabupaten Manggarai Barat yang beribukota di Labuan Bajo terdiri dari 7 Kecamatan, yaitu : Kecamatan Komodo (termasuk pulau-pulau di sekitarnya seperti Pulau Komodo, Rinca, Mules, Longos serta pulau-pulau kecil lainnya), Sano Nggoang, Lembor, Macang Pacar, Kuwus, Boleng dan Welak dengan luas wilayah 294,746 Ha. Luas daratan adalah 2.947,50 km², sedangkan luas wilayah lautan adalah 6.052,50 km². Secara geografis Kabupaten Manggarai Barat terletak diantara : 08°.14 Lintang Selatan – 09°.00 Lintang Selatan dan 119°.21 Bujur Timur – 120°.20 Bujur Timur. Wilayah Kabupaten Manggarai Barat menunjukkan ketinggian yang bervariasi, yakni kelas ketinggian kurang dari 100 m dpl, 100 – 500 m dpl, 500 – 1000 m dpl dan di atas 1000 m dpl. Lebih dari 75% wilayah berketinggian di atas 100 m dpal. Kemiringan lerengnya bervariasi antara 0-2%, 2-15%, 15-40% dan diatas 40%. Namun secara umum, wilayah bertopografi berbukit-bukit hingga pegunungan. Iklim dan curah hujan tidak merata. Besarnya curah hujan tahunan rata-rata sekitar 1500 mm/tahun, sehingga secara umum iklim bertipe tropik kering/ semi arid. Curah hujan tertinggi terdapat di pegunungan yang mempunyai ketinggian di atas 1000 meter di atas permukaan laut, sedangkan curah hujan pada daerah-daerah lain relatif rendah. Batas-batas wilayah Kabupaten Manggarai Barat adalah :

  • Sebelah timur : Kabupaten Manggarai
  • Sebelah barat : Selat Sape
  • Sebelah Utara : Laut Flores
  • Sebelah Selatan : Laut Sawu (nttprov.go.id)

Desa Warloka dan sekitarnya ditinjau dari segi geomorfologi (pembentukan permukaan kulit bumi), merupakan daerah perbukitan dengan sedikit dataran. Daerah tersebut terletak di pantai barat Pulau Flores dan dapat dibagi menjadi tiga zone (daerah), yaitu daerah pantai (bea), daerah lereng perbukitan (tonggong) dan daerah puncak bukit (golo). Secara administratif Kawasan Warloka yang menjadi objek kegiatan termasuk dalam wilayah Kecamatan Komodo. Untuk mencapai lokasi Kawasan Warloka dapat ditempuh melalui jalur darat dan laut, dengan perbandingan jalur darat membutuhkan waktu yang lebih panjang dari pada jalur laut.  Dari pelabuhan Labuan Bajo perjalanan dapat ditempuh ± selama 1,5 jam dengan menggunakan boat sampai di pelabuhan Warloka. Dari pelabuhan Warloka perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki melewati perumahan penduduk.

Konsentrasi tinggalan purbakala di Kawasan Warloka tersebar di beberapa lokasi, ada di tepi laut, areal pemukiman penduduk, sampai di daerah-daerah perbukitan. Konsentrasi I, berupa menhir terletak di tepi laut, tepatnya di areal Puskesmas  Pembantu Komodo. Konsentrasi I berjarak ± 250 m dari Pelabuhan Warloka. Konsentrasi II, berupa menhir terdapat di areal pemukiman berjarak ± 500 m dari konsentrasi I. Konsentrasi III, berupa menhir terletak di areal bukit kecil, berjarak ± 200 m dari konsentrasi II. Konsentrasi IV terletak di puncak sebuah bukit berjarak ± 1.5 km dari konsentrasi I dengan harus melalui jalan yang terjal.

Berdasarkan informasi dari Kepala Desa Warloka, masih banyak lagi persebaran menhir-menhir di daerah Warloka yang tersebar di puncak-puncak bukit.

 

Sejarah Penelitian

Dari beberapa sumber tertulis (hasil penelitian) diketahui bahwa Desa Warloka yang terletak di tepi pantai yang menghadap ke arah Pulau Rinca, di bagian barat Kabupaten Manggarai merupakan lokasi yang mengandung sisa-sisa kegiatan manusia masa lampau. Laporan Verhoeven pada tahun 1950 dan 1952 menyebutkan tentang adanya tempat upacara berupa menhir dan dolmen serta sisa-sisa peralatan batu. Laporan Berita Penelitian Arkeologi No. 30 tahun 1984 tentang Penelitian Arkeologi Warloka Kabupaten Manggarai menyebutkan bahwa Situs Warloka merupakan situs kegiatan dari masa prasejarah dan diduga bahwa daerah Warloka dan sekitarnya merupakan situs permukiman dan pemujaan. Dari pola persebaran temuan terlihat bahwa bangunan-bangunan batu menhir dan dolmen terdapat di puncak bukit. Kehadiran bangunan-bangunan batu tersebut, agaknya sesuai dengan konsep pemujaan bahwa gunung adalah tempat suci dari arwah nenek moyang, dengan demikian tentunya di puncak bukit itulah tempat diadakannya upacara pemujaan arwah nenek moyang. Pada situs ini belum dapat dibuktikan bahwa dolmen yang ditemukan merupakan tempat penguburan seperti di daerah Sumba dan Nias. Sementara itu, bangunan-bangunan batu menhir yang ditemukan diduga berfungsi sebagai batas permukiman atau batas daerah yang sakral. Kebiasaan seperti ini terlihat di Jawa Barat dan Gunung Kidul.

Catatan dari Orsoy de Flines tahun 1972 menyebutkan tentang ditemukannya keramik-keramik. Pada tahun 1979 Pusat Penelitian Arkeologi Nasional dan Museum Nasional melaporkan telah berhasil mengumpulkan keramik-keramik yang berasal dari Cina (dinasti Sung-Ming) abad ke 10-17; Vietnam (Annam) abad ke 14-15; dan Thailand abad ke 14-17 (Abu Ridho, 1979). Dapat disimpulkan sementara bahwa perhubungan dagang internasional pelabuhan Warloka dengan wilayah jauh (Cina, Vietnam, Thailand) secara langsung ataupun tak langsung lebih maju dan intensif pada abad 14-17. Bukti lain terkuak lewat temuan Tim Penelitian Ekskavasi Situs Warloka 2010 yang ditulis Adyanti Putri Ariadi dalam Jurnal Arkeologi Papua, Vol. 6 Edisi No. 1 Juni 2014. Dalam penelitian arkeologis tersebut, ditemukan bekal kubur yang diduga dipasok dari luar berupa keramik, gerabah, manik-manik, dan logam perunggu. Benda-benda tersebut memiliki bahan dan teknik pengerjaan yang cukup rumit dan diduga merupakan komoditas dari luar Situs Warloka, dari beberapa penjelasan tersebu, masyarakat Situs Warloka memang melakukan kontak dengan pihak luar dengan melakukan kegiatan pertukaran barang. Hal ini diperkuat dengan tidak ditemukannya “bengkel” atau tempat pembuatan benda-benda yang menjadi bekal kubur. Benda-benda dengan bahan dan teknik pengerjaan yang cukup rumit mungkin belum bisa diterapkan pada masyarakat Situs Warloka pada saat itu karena terbatasnya sumber bahan dan pengetahuan.

Penelitian lain di Situs Warloka yang pernah dilakukan beberapa diantaranya adalah:

Penelitian yang dilakukan oleh Pusat Penelitian Arkeologi Nasional pada tahun 1981. Penelitian ini berisikan peninjauan ulang terhadap peninggalan purbakala hasil dari penelitian terdahulu, data temuan baru baik yang bersifat arkeologis maupun historis.

A.M.O. Jeannie I.K. tahun 1994 dalam skripsi berjudul Strategi Adaptasi Pendukung Situs Warloka, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (Tinjauan Berdasarkan Persebaran Artefak Paleolitik). Penelitian ini berisikan tentang sebaran habitasi sementara dilihat dari tempat yang memiliki akumulasi temuan limbah alat sebagai sisa pemangkasan maupun pecahan alat batu.

Adyanti Putri Ariadi tahun 2012 dalam skripsi berjudul Sistem Penguburan Pada Situs Warloka, Manggarai Barat, Flores. Penelitian ini berisikan tentang Situs Warloka sebagai situs penguburan, dengan temuan tiga rangka dalam satu kotak galian. Rangka tersebut terdiri dari dua individu orang dewasa dan satu individu anak. Anak dikuburkan dengan bekal kubur yang jumlah dan nilainya lebih tinggi dibandingkan dengan bekal kubur individu dewasa dan cara penguburan dan keragaman jenis bekal kubur ini disebabkan oleh faktor-faktor religi, status sosial, dan lingkungan budaya. Diterbitkan juga dalam Jurnal Arkeologi Papua Vol. 6 Edisi No. 1 Juni – 2014.

Dian Nisa Anna Rahmayani tahun 2012 dalam skripsi berjudul Gerabah Situs Warloka, Manggarai Barat, Flores (Tinjauan Berdasarkan: Tipologi, Teknologi, dan Kontekstual). Penelitian ini berisikan tentang temuan gerabah di Situs Warloka dan indikasi adanya kontak dengan wilayah lain di luar Situs Warloka yang dibuktikan dengan ditemukannya cawan berkaki yang mirip dengan temuan di Situs Tomu dan Situs Hatasua di Maluku Tengah.

Tular Sudarmadi tahun 2014 dalam disertasi berjudul Between Colonial Legacies and Grassroots Movements: Exploring Cultural Heritage Practice in the Ngadha and Manggarai Region Flores. Salah satu situs yang diteliti dalam disertasi tersebut adalah Situs Warloka.

Ruth Sylvia tahun 2017 dalam skripsi berjudul Status Kesehatan Gigi Individu Pendukung Situs Warloka, Manggarai Barat, Flores, NTT. ). Penelitian ini berisikan tentang penyakit yang dapat diketahui dari gigi individu pendukung Situs Warloka dan penyebab penyakit gigi pada individu pendukung situs warloka.

Berita penemuan warisan budaya tersebut sangat menggembirakan karena akan memperkaya khasanah ilmu pengetahuan yang manfaatnya tidak hanya bagi daerah ini melainkan untuk masyarakat dunia. Ternyata di perut bumi Nusa Tenggara Timur yang terkenal kering dan gersang ada peninggalan masa lalu yang luar biasa. Dunia ilmu pengertahuan niscaya berterima kasih atas temuan tersebut. Situs homo sapiens di Warloka telah membuka mata pemerintah daerah dan masyarakat Manggarai betapa daerah itu sangat kaya. Manggarai Barat ternyata tidak hanya identik dengan biawak raksasa komodo yang namanya telah mendunia.

Adanya penemuan keramik-keramik asing juga  membuktikan bahwa Warloka pada masa lalu merupakan daerah hunian yang sempat dikunjungi oleh orang-orang luar.  Interaksi dengan orang luar ini berakibat pada diadaptasinya kebudayaan luar oleh masyarakat Warloka. Sejak ditemukannya benda-benda asing tersebut banyak pihak memberikan tafsiran tentang awal mula datangnya benda-benda itu.  Dipercaya pada masa lampau telah ada pionir bangsa Cina yang menguasai perdagangan rempah-rempah untuk Indonesia Timur, termasuk menguasai wilayah Warloka. Mengenai hubungan dengan Jawa, ada pendapat yang menyatakan bahwa Warloka telah ada hubungan dengan Jawa pada masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk di Kerajaan Majapahit pada abad ke- 14. Untuk memastikan sejarah kebudayaan di Situs Warloka tentunya harus dilakukan penelitian lebih lanjut secara berkala.

 

Data CB/ODCB Situs Warloka

Tinggalan warisan budaya di Situs Warloka merupakan Obyek yang Diduga Cagar Budaya (ODCB) karena sampai saat ini belum dilakukan penetapan oleh Bupati sebagai Kepala Pemerintah Daerah sesuai dengan amanat Undang-Undang No 11 Tahun 2010. Adapun data objek yang diduga cagar budaya yang terdapat di Situs Warloka sesuai dengan hasil kegiatan Inventarisasi yang di lakukan oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya Bali pada tahun 2012 yang diketuai oleh Ketut Alit Amerta, S.S adalah sebagai berikut:

  • Situs Warloka
  • Inventaris :  3/16-17/ST/04
  • Alamat :
    • Kampung : –
    • Desa : Warloka
    • Kecamatan : Komodo
    • Kabupaten : Manggarai Barat
    • Provinsi : Nusa Tenggara Timur
  • Luas lahan :  –
  • Koordinat :  50 L 0809673, 9047585 UTM 144 m DPL
  • Batas-batas :
    • Utara : Lereng bukit
    • Timur : Semak-semak
    • Selatan : Semak-semak
    • Barat : Lereng bukit
  • Pemilik :  Pemerintah Daerah Kabupaten Manggarai Barat
  • Pengelola :  Pemerintah Daerah Kabupaten Manggarai Barat
  • Latar Budaya :  Megalitik
  • Deskripsi :  Lokasi situs terletak di puncak sebuah bukit yang cukup tinggi. Untuk mencapai lokasi situs harus menempuh jalan yang agak terjal dan mendaki, karena lokasi situs yang berada di puncak bukit dan jalur yang harus dilalui  tertutup oleh semak belukar. Di situs ini tersebar 13 (tiga belas) menhir  dan 2 (dua) dolmen. Posisi menhir tersebar tidak beraturan, yang menandakan situs ini dalam kondisi terganggu karena adanya kegiatan penggalian liar oleh masyarakat. Luas area situs tidak ketahui secara pasti, karena masyarakat setempat maupun Pemerintah Daerah Kabupaten Manggarai Barat belum menentukan sebatas mana lahan yang menjadi area situs. Hal ini tampak dari kondisi situs tanpa adanya tanda atau pagar pembatas dengan area di sekitarnya. Kondisi situs kurang terawat karena penuh ditumbuhi oleh semak-semak belukar.

 

  • Meja Batu

  • Inventaris : 4/16-07/STR/01
  • Ukuran meja
    • Panjang: 150 cm
    • Lebar : 110 cm
    • Tebal :   20 cm
    • Tinggi kaki : 30 cm
  • Bahan : Batu Andesit
  • Kondisi : Utuh
  • Tempat : Situs Warloka
  • Periode : Megalitik
  • Deskripsi : Terdiri atas sebuah batu datar yang ditopang oleh empat batu kecil yang berfungsi sebagai kaki, polos tanpa hiasan.

 

  • Meja Batu

  • Inventaris : 2/16-07/STR/02
  • Ukuran meja
    • Panjang : 187 cm
    • Lebar : 110 cm
    • Tebal :   23 cm
    • Tinggi kaki : 38 cm
  • Bahan : Batu andesit
  • Kondisi : Utuh
  • Tempat : Situs Warloka
  • Periode : Megalitik
  • Deskripsi : Terdiri atas sebuah batu datar yang ditopang oleh empat batu kecil yang berfungsi sebagai kaki, polos tanpa hiasan.

 

  • Menhir

  • Inventaris : 1/16-07/BD/22
  • Ukuran
    • Panjang : 72 cm
    • Lebar : 15 cm
  • Bahan : Batu andesit
  • Kondisi : Terpotong, tumbang
  • Tempat simpan : Situs Warloka
  • Periode : Prasejarah
  • Deskripsi : Berbentuk persegi empat, polos tanpa hiasan.

 

  • Menhir

  • Inventaris : 1/16-07/BD/23
  • Ukuran
    • Panjang : 198 cm
    • Lebar : 20 cm
  • Bahan : Batu andesit
  • Kondisi : Utuh, tumbang
  • Tempat simpan : Situs Warloka
  • Periode : Prasejarah
  • Deskripsi : Berbentuk persegi empat, polos tanpa hiasan.

 

  • Menhir

  • Inventaris : 1/16-07/BD/24
  • Ukuran
    • Panjang : 57 cm
    • Lebar : 11 cm
  • Bahan : Batu andesit
  • Kondisi : Terpotong, tumbang
  • Tempat simpan : Situs Warloka
  • Periode : Megalitik
  • Deskripsi : Berbentuk persegi empat, polos tanpa hiasan.

 

  • Menhir

  • Inventaris : 1/16-07/BD/25
  • Ukuran
    • Panjang : 199 cm
    • Lebar : 19 cm
  • Bahan : Batu andesit
  • Kondisi : Utuh, tumbang
  • Tempat simpan : Situs Warloka
  • Periode : Prasejarah
  • Deskripsi : Polos tanpa hiasan.

 

  • Menhir

  • Inventaris : 1/16-07/BD/26
  • Ukuran
    • Panjang : 55 cm
    • Lebar : 11 cm
  • Bahan : Batu andesit
  • Kondisi : Terpotong, tumbang
  • Tempat simpan : Situs Warloka
  • Periode : Prasejarah
  • Deskripsi : Berbentuk persegi empat, polos tanpa hiasan.

 

  • Menhir

  • Inventaris : 1/16-07/BD/27
  • Ukuran
    • Panjang : 180 cm
    • Lebar : 15 cm
  • Bahan : Batu andesit
  • Kondisi : Tumbang
  • Tempat simpan : Situs Warloka
  • Periode : Prasejarah
  • Deskripsi : Berbentuk persegi empat, polos tanpa hiasan.

 

  • Menhir

  • Inventaris : 1/16-07/BD/28
  • Ukuran
    • Panjang : 149 cm
    • Lebar : 15 cm
  • Bahan : Batu andesit
  • Kondisi : Tumbang
  • Tempat simpan : Situs Warloka
  • Periode : Prasejarah
  • Deskripsi : Berbentuk persegi empat, polos tanpa hiasan.

 

  • Menhir

  • Inventaris : 1/16-07/BD/29
  • Ukuran
    • Panjang : 54 cm
    • Lebar  : 15 cm
  • Bahan : Batu andesit
  • Kondisi : Terpotong, tumbang
  • Tempat simpan : Situs Warloka
  • Periode : Megalitik
  • Deskripsi : Berbentuk persegi empat, polos tanpa hiasan.

 

  • Menhir

  • Inventaris : 1/16-07/BD/30
  • Ukuran
    • Panjang : 102 cm
    • Lebar  : 20 cm
  • Bahan : Batu andesit
  • Kondisi : Terpotong, tumbang
  • Tempat simpan : Situs Warloka
  • Periode : Megalitik
  • Deskripsi : Polos tanpa hiasan.

 

  • Menhir

  • Inventaris : 1/16-07/BD/31
  • Ukuran
    • Panjang : 94 cm
    • Lebar : 16 cm
  • Bahan : Batu andesit
  • Kondisi : Terpotong, tumbang
  • Tempat simpan : Situs Warloka
  • Periode : Megalitik
  • Deskripsi : Berbentuk persegi empat, polos tanpa hiasan.

 

  • Fragmen Batu Datar (Batu Altar)

  • Inventaris : 1/16-07/BD/32
  • Ukuran
    • Panjang : 53 cm
    • Lebar : 49 cm
    • Tebal : 18 cm
  • Bahan : Batu Andesit
  • Kondisi : Pecah
  • Tempat simpan : Situs Warloka
  • Periode : Megalitik
  • Deskripsi : Terdapat hiasan berupa goresan yang tidak berpola pada bagian permukaan batu.

 

  • Fragmen Batu Datar (Batu Altar)

  • Inventaris : 1/16-07/BD/33
  • Ukuran
    • Panjang : 163 cm
    • Lebar :  69 cm
    • Tebal : 18 cm
  • Bahan : Batu Andesit
  • Kondisi : Pecah
  • Tempat simpan : Situs Warloka
  • Periode : Megalitik
  • Deskripsi : Terdapat hiasan berupa goresan yang tidak berpola pada bagian permukaan batu.

 

  • Menhir

  • Inventaris : 1/16-07/BD/34
  • Ukuran
    • Panjang : 203 cm
    • Lebar :   15 cm
  • Bahan : Batu andesit
  • Kondisi : Tumbang
  • Tempat simpan : Situs Warloka
  • Periode : Megalitik
  • Deskripsi : Polos tanpa hiasan.

 

  • Menhir

  • Inventaris : 1/16-07/BD/35
  • Ukuran
    • Panjang : 79 cm
    • Lebar : 19 cm
  • Bahan : Batu andesit
  • Kondisi : Terpotong, tertimbun tanah
  • Tempat simpan : Situs Warloka
  • Periode : Megalitik
  • Deskripsi : Polos tanpa hiasan.

 

  • Menhir

  • Inventaris : 1/16-07/BD/36
  • Ukuran
    • Panjang : 81 cm
    • Lebar : 23 cm
  • Bahan : Batu andesit
  • Kondisi : Terpotong, tertimbun tanah
  • Tempat simpan : Situs Warloka
  • Periode : Prasejarah
  • Deskripsi : Polos tanpa hiasan.

 

 

BAGIKAN
Artikulli paraprakAncaman Terhadap Kelestarian Situs Gunung Tambora
Artikulli tjetërObjek Yang Diduga Cagar Budaya Di Kecamatan Hu’U
Balai Pelestarian cagar Budaya Bali Wilayah Kerja prov. Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur Jalan Raya Tampaksiring, Bedulu, Blahbatuh, Gianyar, Bali 80581 Telepon (0361) 942347, Fax (0361) 942354 e-mail: bpcbbali@kemdikbud.go.id dan bp3_bali@yahoo.com

TINGGALKAN KOMENTAR