Inventarisasi Situs Gereja PNIEL Blimbingsari

0
255

Situs Gereja PNIEL Blimbingsari terletak di Desa Blimbingsari, Kecamatan Melaya, Kabupaten Jembrana.  Situs Gereja PNIEL Blimbingsari telah di inventarisasi oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya Provinsi Bali pada tahun 2021 dengan nomor inventarisasi 3/14-01/STS/21 dengan titik koordinat 50L0226649 UTM 9088585 dan ketinggian 150 mdpl. Adapun batas-batas situs pada sisi utara berbatasan dengan rumah penduduk, sisi timur berbatasan dengan jalan raya, selatan berbatasan dengan jalan raya dan kanto desa, dan sisi barat berbatasan dengan rumah penduduk.

Dusun Blimbingsari adalah sebuah desa yang berlokasi di kecamatan melaya, Kabupaten Jembrana, Provinsi Bali. Desa ini termasuk salah satu desa terbersih di Provinsi Bali, jalan-jalan sudah ditata dengan baik seperti halnya konsep budaya Bali dengan konsep orientasi nyegara gunung atau konsep luan-teben (kaje-kelod) sebagai sumbu ritual dan sumbu natural. Penduduk di Desa Blimbingsari mayoritas memeluk agama Kristen Protestan namun desa ini memiliki keunikan diantaranya terkait adat dan budaya Bali terlihat dari salah satu bangunan gereja GKPB PNIEL Blimbingsari yang menyerupai Pura (tempat ibadah umat Hindu) kental dengan ornament khas bali seperti ukiran-ukiran, candi kurung (kori agung), candi bentar, bale kul-kul sebagai peganti lonceng yang biasa identik dengan bangunan gereja dan gaya arsitektur bangunan gereja menyerupai wantilan atau bangunan semi terbuka tanpa adanya tembok penyekat bangunan

Sejarah singkat terkait berdirinya gereja GKPB Blimbingsari, awal mulanya pada masa pemerintahan Kolonial Belanda sekitar tahun 1939 muncul berbagai komplik salah satunya terkait komplik agama yang berdampak besar di wilayah Kota Denpasar dan sekitarnya. Karena itulah pemerintahan kolonial Belanda berinisiatif memindahkan masyarakat yang berkomplik ke wilayah Bali bagian barat di sekitar hutan Desa Melaya yang terkenal angker dan masih lebat. Berdasarkan pemantaun beberapa orang dari atas perbukitan sebelah utara Desa Melaya terlihat dibagian selatan atau yang sekarang disebut Desa Blimbingsari nampak terlihat adanya cahaya yang menyerupai salib, maka setelah itu sekitar 30 orang mulai berabas hutan disekitar tempat yang berbentuk salib tersebut dan membuka lahan pemukimanan dan perkebunan. Pada saat itu pembagian lahan sudah nampak jelas dan dibagi rata dengan cara lotre, masing-masing mendapatkan 2 hektar tanah termasuk 20 are untuk pekarangan. Maka dari itu rumah penduduk sangat tertata dengan baik, tempat ibadah (gereja) dan kantor desa berada di tempat sentral, hutan dan lahan pertanian dibagian utara desa, dan pemakaman berada di selatan desa. Khususnya untuk bangunan gerja GKPB Blimbingsari dibangun di atas lahan yang memiliki kontur meninggi di bagian pojok perempatan Desa Blimbingsari, gereja menghadap ke arah selatan berhadap-hadapan dengan kantor Desa Blimbingsari. Secara struktur gereja memiliki luas lahan sekitar 20 are yang dibagi menjadi tiga halaman (tri mandala), halaman paling laur atau nista mandala berada dibagian barat bangunan gereja yang terdapat beberapa bangunan seperti rumah pendeta, kantor gereja/tata usaha, bangunan serba guna, toilet, dan pos jaga. Halaman tengah atau madya mandala berada di bagian selatan bangunan utama gereja, dibatasi dengan tembok penyengker berbahan bata dan padas dihiasi panil dengan ornament ukiran khas bali serta perpaduan pahatan relief dengan cerita masuknya agama Kristen Protestan ke Bali dan menyebar di berbagai wilayah di sekitarnya, bagian selatan madya mandala terdapat candi bentar pembatas anatara jalan raya dan halam madya mandala, dibagian utara terdapat satu buah candi kurung atau kori agung yang megah menghadap ke arah selatan dengan dua pintu berisi ukiran dengan motif tertentu. Dibagian kemuncak kori agung dihiasi dengan satu buah salib yang mempertegas agama yang terdapat di dalamnya. Bagian pojok timur laut terdapat satu buah bale kulkul di bagian atas atapnya berisi satu buah salib. Di utama mandala meruapakan tempat yang paling disakrakal, terdapat beberapa bangunan utama seperti gereja yang berbentuk seperti wantilan atau ruangan semi terbuka, dasar berbentuk persegi delapan, memakai tiang kolom berjumlah 18 buah, serta memiliki atap bertumpang tiga dibagian kemuncaknya dihiasi dengan satu buah salib. Selain bangunan gereja tedapat pula bangunan konsistori dibagian utara bangunan geraja menghdap ke selatan, kolam, dan dibagain barat bangunan geraja terdapat satu buah bangunan bale gong menghadap ke timur. Keberadaan gereja yang masih tetap berdiri kokoh dan megah hingga saat ini masih difungsikan sebagai tempat ibadah bagi umat Kristen Protestan Desa Blimbingsari dan upacara adat lainnya.

Bangunan Cagar Budaya/Diduga Cagar Budaya

Gereja PNIEL Blimbingsari

Gereja PNIEL Blimbingsari

Arsitektur bangunan gereja GKPB Pniel Blimbingsari berdiri megah menghadap ke arah selatan menyerupai sebuah bangunan suci umat Hindu (Pura). Gereja ini memakai konsep arsitektur tradisional Bali (asta kosala kosali) dengan memiliki tiga halaman atau Tri Mandala yang masing-masing dibatasi dengan tembok pembatas untuk mempertegas komplek gereja dan lingkungannya.

Bagian nista mandala/halaman luar berada di sebelah barat dari madya dan utama mandala halaman ini cukup berbeda dengan masa bangunan yang berada pada zona nista mandala komplek Pura di Bali dikarenakan kebutuhan akan penunjang masa gereja dan fungsinya. Beberapa banguan sebagai penunjang di halaman nista mandala yaitu gedung serba guna, garasi, rumah pendeta, kantor gereja/ tata usaha, toilet, pos jaga, dan halaman parkir.

Bagian madya mandala atau halaman tengah posisinya berada di sebelah selatan utama mandala merupakan halaman kedua yang memiliki fungsi sebagai penunjang kegiatan peribadahan, pada zona ini dikelilingi oleh tembok penyengker berbahan bata dan padas, pada bagian sisi selatan terdapat candi bentar pembatas madya mandala dengan jalan raya, pada bagian candi bentar ini memiliki ornament salib sebagai symbol agama Kristen. Bagian utara terdapat kori agung berbahan padas dan bata menghadap ke selatan memiliki dua pintu yang difungsikan sebagai pintu masuk utama. Bagian atas pintu terdapat ukiran suluran daun dan bunga serta bagian tengah-tengah terdapat pahatan dua buah burung mengapit ukiran berbentuk salib yang patah melambangan posisi ketika Yesus di salib. Di puncak kori agung juga terdapat satu buah salib yang mempertegas fungsi bangunan yang ada di dalamnya. Kori agung ini merupakan pembatas antara madya mandala dan utama mandala. Bangunan penunjang di areal madya mandala berupa bale kul-kul dibagian pojok timur laut dan bale bengong, serta terdapat kolam di bagian bawah tangga menuju kori agung.

Bagian utama mandala merupakan halaman dengan posisi tertinggi dalam komplek gereja GKPB Pniel Blimbingsari. Hal ini dikarenakan fungsi bangunan gereja sebagai pusat tempat ibadah dan tempat yang paling sakral. Halam utama mandala dibatasi oleh tembok penyengker berbahan bata dan padas. Beberapa bangunan yang terdapat di utama mandala yaitu; bangunan GKPB (tempat beribadah), ruangan konsistori disebelah utara bangunan GKPB, bale gong disebalah barat. Ketiga bangunan ini memeiliki peranan penting dalam keberlangsungan ibadah. Secara khusus bentuk arsitektur bangunan utama atau fasad Gereja GKPB Blimbingsari sangat kuat dipengaruhi oleh arsitektur tradisional Bali khususnya bangunan wantilan. Wantilan merupakan balai terbuka tanpa adanya penyekat atau tembok yang membatasi bangunan utama atau sering juga disebut bangunan semi terbuka. Struktur bangunan Gereja GKPB Blimbingsari terbagi ke dalam tiga elemen yaitu; bagian dasar, badan, dan bagian atap. Bagian dasar bangunan berbentuk segi delapan dengan menggunakan tiga anak tangga untuk mempertegas altar, lantai berbahan tegel berwana krim dengan motif bitnik-bintik. Bagian badan bangunan terdapat 18 buah kolom atau tiang penyangga masing-masing 6 buah dibagian sisi selatan dan utara, masing-masing 3 buah berada di sisi barat dan timur berbahan beton berwana putih polos tanpa ornament khas Bali. Pembatas antara badan dan atap dimasing-masing kolom terdapat panil berjumlah 16 buah di bagian dalam berbahan bata dengan motif suluran daun dan bunga serta terdapat 1 ekor burung, di atas altar terdapat 1 buah panil dengan motif suluran, bunga dan hurup A dan symbol Ώ. Dibagian pintu keluar terdapat 1 buah panil dengan arti sebagai pemberkatan. Dibagian luar terdapat 4 buah panil dengan motif suluran daun dan bunga, serta di bagian pintu masuk terdapat satu buah panil dengan motif suluran daun dan hiasan seperti mahkota serta pada bagian kanan dan kiri terdapat simbol laki-laki dan perempuan. Bagian badan ini bersifat semi terbuka. Fasilitas penunjang yang terdapat di areal ruangan atau bangunan gereja yaitu; alat-alat maha kudus seperti lilin, salib, kitab, meja mimbar dengan motif ukiran khas Bali, dan kursi sebagai tempat duduk bagi umat yang sedang melaksanakan ibadah. Bagian atap mengkrucut ke atas bertumpang tiga yang melambangkan tritunggal yaitu Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Konstruksi atap berbahan kayu dan memakai atap zeng berwarna coklat. Plafon berbahan kayu atau lambersering yang disusun secara vertikal, dibagian atap bagian dalam (atas bangunan) terdapat kaca bening 2 buah berbentuk persegiempat dan dua buah berbentuk lingkaran yang difungsikan sebagai penerangan alami agar akses matahari langsung masuk ke ruangan atau bangunan gereja, dimasing-masing penyekat kaca tersebut terdapat lima buah panil menceritakan perjalanan Tuhan Yesus berbahan kayu dan dilapisi pewarna mas (prada), 1 buah panil di posisi tengah berbentuk persegiempat panjang yang disekat menjadi dua bagian (cerita), 2 buah panil di bagian kanan dan kiri berbentuk limas yang disekat menjadi empat bagian (cerita), serta 2 buah panil dengan bentuk persegi empat yang disekat menjadi empat bagian (cerita). Bagian paling atas terdapat hiasan berbentuk kubus berjumlah 18 buah berbahan beton yang merupakan ujung dari tiang penyangga atau kolom dan bagian depan posisi ditengah-tengah terdapat 1 buah salib menghadap ke selatan.