You are currently viewing Inventarisasi di Situs Pura Agung Kentel Gumi (Bagian 1)

Inventarisasi di Situs Pura Agung Kentel Gumi (Bagian 1)


POKJA REGISTRASI DAN DOKUMENTASI

BALAI PELESTARIAN CAGAR BUDAYA BALI


Secara administratif Dengan Pura Kentel Gumi kurang lebih 43 Km dari kota Denpasar, 6 km dari kota Semarapura, 1 km dari kota Kecamatan Banjarangkan. Tepatnya di Banjar Tusan Kawan, Desa Pakraman Tusan, Kecamatan Banjarangkan, Kabupaten Klungkung. Secara astronomi Pura Kentel Gumi ini terletak pada kordinat 50 L 0324283, 9056147 UTM, dengan batas-batas:

  • Utara : Pemukiman Penduduk
  • Timur : Pemukiman Penduduk
  • Selatan : Pemukiman dan Sekolah Dasar
  • Barat : Jalan raya Menuju Kota Klungkung

Letak Pura ini sangat strategis karena sangat mudah dijangkau oleh sarana transportasi apapun, mengingat tempatnya terletak di pinggir jalan utama. Kondisi lingkungan Pura dan lingkungan sekitar Pura terawat dan rindang ditanami dengan tumbuhan-tumbuhan yang memperindah suasana Pura Kentel Gumi.

Mengungkap keberadaan Pura Agung kentel Gumi secara rinci dan akurat masi banyak menemui kesulitan, hal itu disebabkan oleh berbagai faktor antara lain, bangunan pemujaan terlalu tua umurnya dan terbatasnya lontar-lontar atau data sejarah lainnya tentang keberadaan Pura ini. Secara arfiah dapat dijelaskan tentang pengertian kata Kentel Gumi. Kentel berati padat atau akrab, sedangkan Gumi berarti bumi, tanah, dunia. Dengan demikian kata Kentel Gumi berarti terjadinya suasana akrab di dunia atau terciptanya kedamaian.

Selain pengertian diatas, kata Kentel juga berarti Pangeka yakni suatu benda yang mula-mula dalam keadaan panas dan cair, lama kelamaan setelah didinginkan mengalami proses pembekuan yang disebut padat atau kentel. Pemberian nama Kentel Gumi mengandung makna simbolik, yaitu penegakan kembali keneradaan Pulau Bali oleh Mpu Kuturan dimana pada saai itu bali telah hancur akibat pemerintahan Maya Danawa yang memerintah pada tahun 962 M-975 M. Mpu Kuturan berhasil menegakan kembali kemasyarakatan penduduk Bali setelah dihancurkan oleh pemberontakan Maya Danawa.

Setelah kerajaan Majapahit berhasil menguasai Bali, melalui ekspedisi Patih Gajah Mada tahun 1343 Masehi, Pura Kentel Gumi di Desa Tusan didirikan dan sebagai saksi sekaligus sebagai tugu kemenangan yang melambangkan kekuasaan Majapahit di Bali. Sri Kresna Kepakisan yang merupakan Adipati Samprangan yang dinobatkan sebagai pemimpin di Bali pada tahun 1350 Masehi, saat itulah pembangunan pura yang sifatnya pemugaran dan penyempurnaan dilaksanakan. Pada pura ini juga dibangun arca-arca perwujudan yang merupakan simbol dari sekte-sekte yang telah menyatu. Setelah pura ini lengkap dengan berbagai pelinggih yang dibangun maka di beri nama Pura Agung Kentel Gumi. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Pura Agung Kentel Gumi didirikan oleh Mpu Kuturan pada abad ke-11 Masehi dan dilanjutkan pada pertengahan abad ke-14 Masehi oleh Sri Aji Kresna Kepakisan.

Menurut lontar Raja Purana Batur yang dikeluarkan oleh Raja Dalem Waturenggong, pengawasan, pemeliharaan maupu upacara yang patut dan wajib dilaksanakan oleh pemerintah atau raja pada saat itu. Isi dari lontar tersebut adalah :

makamuwah ukertining khayangan, ngaturang amiduka ring bhatara guru ring tampuriang, ring dalem ring tolangkir, ring puseh ring kentel gumi, ika maka bhatara triguna penegeng ring bali, yan titik samangke wong desa angaturang abeseka ngayu ayu, amargiang pengaci-aci ring bhatara triguna…...”

Yang memiliki arti :

“begitu juga tata cara melaksanakan upacara di khayangan dengan mempersembahkan upacara pamiduka kehadapan Bhatara Guru di Pura Thampuhyang Batur, di Pura dalem Besakih, dan di Pura Puseh Kentel Gumi. Ketiga itulah sebagai pemersatu pualau Bali, apabila taat seperti ini semua penduduk desa melakukan upacara persembahyangan serta patut mempersembahkan upacara kehadapan Bhatara Tri Guna…….”

Pura-pura besar dan penting yang ada di Bali maupun di Jawa dibangun di Pura ini, seperti : Pengayengan Bhatara di Besakih, Batur, Ulundanu, Segara, Masceti, Maosphait, dan pengayengan-pengayengan yang terdapat di pelinggih ratu arca. Pada pelinggih Ratu Arca terdapat kurang 69 arca perwujudan, 1 arca Ganesha, 1 lingga semu. Selain itu terdapat dua buah lingga di dalam Meru Tumpang 11, dan 1 buah arca Caturmukha ditempatkan terpisah tersendiri di satu bangunan.

Dari keterangan diatas dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa Pura Agung Kentel Gumi didirikan oleh Mpu Kuturan pada abad XI dan pada pertenganhan abad XIV disempurnakan lagi oleh dinasti Kresna Kepakisan saat beliau memerintah menjadi raja di Bali.

 

Benda Cagar Budaya di Pura Agung Kentel Gumi

  • Lingga
  • No Inventaris : 1/14-05/BB/01

  • Bahan : Batu Padas
  • Warna : bu-abu
  • Ukuran
    • Tinggi : 39 cm
    • Lebar : 13 cm
    • Tebal : 13 cm
    • Diameter : 12 cm
  • Periodesasi : Hindu Bali (abad VIII)
  • Kondisi : utuh
  • Justifikasi : merupakan lingga sempurna dengan 3 bagian yaitu segi empat Brahma bhaga, segi delapan wisnu bhaga, dan setengah lingkaran siwa bhaga. pada bagian atas atau siwa bhaga terdapat guratan (cerat). Yang menunjukan bentuk asli dari bentuk kemaluan laki-laki. Bagian depan lingga agak aus dan rusak.

 

  • Lingga Bajeralepa dengan Mata
  • No Inventaris : 1/14-05/BB/02

  • Bahan : Batu Padas
  • Warna :
  • Ukuran
    • Tinggi : 56 cm
    • Lebar : 17,5 cm
    • Tebal : 17,5 cm
    • Diameter : 17 cm
  • Periodesasi : Hindu Bali (abad VIII)
  • Kondisi : utuh, terawat
  • Justifikasi : merupakan lingga sempurna dengan 3 bagian yaitu segi empat Brahma bhaga, segi delapan wisnu bhaga, dan setengah lingkaran siwa bhaga. pada bagian atas atau siwa bhaga terdapat guratan (cerat), gambar mata (caksu lingga) yang merupakan simbol dari mata ke-3 dari dewa Siwa sebagai Tri Netra. Lingga ini sudah mengalami sebuah proses pembekuan sehingga terlihat mengkilap seperti batu hitam dan hampir mirip seperti logam, proses ini disebut dengan proses bajralepa, yaitu sebuah proses pelapisan terakhir setelah Lingga jadi.

 

  • Fragmen Bangunan
  • No Inventaris : 1/14-05/BB/03

  • Bahan : Batu Padas
  • Warna : abu-abu
  • Ukuran
    • Tinggi : 114 cm
    • Lebar Tiang : 31 cm
    • Tebal Tiang : 36 cm
    • Lebar Atap : 69 cm
    • Tebal Atap : 17 cm
  • Periodesasi : Hindu Bali (abad VIII)
  • Kondisi : utuh
  • Justifikasi : ini merupakan tiang batu dengan atap segi empat pipih, yang bagian dalamnya berudak-undak, memiliki motif suluran patra daun ring-ring. Jika dilihat seksama antara bagian atap dan tiang tidaklah satu kesatuan atau terpisah. tiang batu ini dipercayai sebagai simbol dari pusat (pancer) dunia (jagat), sehingga sampai saat ini pelinggih ini disebut sebagai pelinggih Pancering Jagat.

 

  • Arca Perwujudan Caturmuka
  • No Inventaris : 1/14-05/BB/04

  • Bahan : Batu Padas
  • Warna : abu-abu
  • Ukuran
    • Tinggi Keseluruhan : 74 cm
    • Tinggi Arca : 65.5 cm
    • Lebar Arca : 31 cm
    • Tebal Arca : 24 cm
    • Tinggi Lapik : 8,5 cm
    • Lebar Lapik : 32 cm
    • Tebal Lapik : 32 cm
  • Periodesasi : Bali Kuna (abad XI – XIII)
  • Kondisi : utuh, terawat
  • Justifikasi : sikap arca berdiri sama bangga di atas lapik berbentuk padma melingkar, bermuka empat (Caturmukha), yang mengarah ke empat penjuru mata angin. Memakai mahkota seperti bunga padma yang tersusun semakin keatas semakin mengecil. Bentuk muka oval, mata terbuka, hidung mancung, bibir tipis, telinga terlihat jelas memakai anting (kundala). Bertangan empat, memakai gelang lengan (keyura) bentuk genitri, gelang tangan (kankana) genitri, dua tangan di depan perut dengan sikap dhyanamudra membawa kuncup padma, dua tangan di belakang memegang laksana dewa, tangan kiri belakang membawa camara, tangan belakang kanan terlihat membawa agni (api). Memakai kalung (hara) motif sulur tumpal segitiga, mengenakan tali kasta (upawita) dari bahu kiri sampai didepan perut dan terlihat menyatu dengan uncal (kancut) sampai ke kaki motif garis. Memkai kain sampai mata kaki dengan motif garis, selendang menguntai di sebelah kanan dan kiri pinggang arca dengan motif garis. Dilihat dari sikap arca dan atribut yang dibawa, kemungkinan arca ini adah arca perwujudan seorang tokoh penting yang diwujudkan dalam bentuk Dewa Brahma. Trend seperti ini dimulai di Jawa Timur sekitar abad ke-11 Masehi pada masa dinasti Rajasa (Ken Arok). Sifat-sifat arca seperti ini muncul karena adanya konsep atau paham Dewaraja.

 

  • Fragmen Arca Perwujudan
  • No Inventaris : 1/14-05/BB/05

  • Bahan : Batu Padas
  • Warna : abu-abu
  • Ukuran
    • Tinggi : 34 cm
    • Lebar : 16,5 cm
    • Tebal : 15 cm
  • Periodesasi : Bali Kuna (abad XI – XIII)
  • Kondisi : tidak utuh dan aus
  • Justifikasi : sikap arca berdiri diatas lapik dengan sandaran, bagian kepala patah, tangan aus, kaki aus.

 

  • Fragmen Arca perwujudan
  • No Inventaris : 1/14-05/BB/06

  • Bahan : Batu Padas
  • Warna : abu-abu
  • Ukuran
    • Tinggi : 29 cm
    • Lebar : 13 cm
    • Tebal : 12 cm
  • Periodesasi : Bali Kuna (abad XI – XIII)
  • Kondisi : tidak utuh, terawat
  • Justifikasi : sikap berdiri tegak

samabangga diatas lapik dengan sandara (stela) polos, bagian kepala dan leher patah, sikap tangan dhyana mudra membawa padma kuncup. memakai kain polos, selendang (sampur), dan uncal.

 

  • Fragmen Arca Perwujudan
  • No Inventaris : 1/14-05/BB/07

  • Bahan : Batu Padas
  • Warna : abu-abu
  • Ukuran
    • Tinggi : 36 cm
    • Lebar : 11,5 cm
    • Tebal : 16,5 cm
  • Periodesasi : Bali Kuna (abad XI – XIII)
  • Kondisi : tidak utuh, terawat
  • Justifikasi : sikap berdiri tegak samabangga diatas lapik dengan sandara (stela), bagian kepala patah, sikap tangan sujut di depan perut. memakai kain polos, selendang (sampur), dan uncal.

 

  • Arca Perwujudan
  • No Inventaris : 1/14-05/BB/08

  • Bahan : Batu Padas
  • Warna : abu-abu
  • Ukuran
    • Tinggi : 43 cm
    • Lebar : 16 cm
    • Tebal : 13 cm
  • Periodesasi : Bali Kuna (abad XI – XIII)
  • Kondisi : utuh, terawat
  • Justifikasi : sikap arca kaku berdiri samabangga diatas lapik setengah lingkaran polos dengan sandaran (stela). bagian mahkota aus, muka aus, memakai hiasan telinga (simping), anting-anting (kundala), terlihat leher seperti berlipat dengan tiga lipatan, memakai gelang lengan (keyura) motif simbar, pergelangan tangan patah. mengenakan kain dengan motif geometri vertikal tiga lipatan, dan uncal dengan motif garis-garis miring.

 

  • Fragmen Arca Perwujudan
  • No Inventaris : 1/14-05/BB/09

  • Bahan : Batu Padas
  • Warna : abu-abu
  • Ukuran
    • Tinggi : 31 cm
    • Lebar : 15 cm
    • Tebal : 14 cm
  • Periodesasi : Bali Kuna (abad XI – XIII)
  • Kondisi : tidak utuh, terawat
  • Justifikasi : sikap berdiri tegak samabangga diatas lapik dengan sandara (stela) yang patah, bagian kepala patah, pergelangan tangan patah, memakai kain polos, selendang (sampur), dan uncal.

 

  • Arca Perwujudan
  • No Inventaris : 1/14-05/BB/10

  • Bahan : Batu Padas
  • Warna : abu-abu
  • Ukuran
    • Tinggi             : 40 cm
    • Lebar              : 16 cm
    • Tebal             : 11,5 cm
  • Periodesasi : Bali Kuna (abad XI – XIII)
  • Kondisi : tidak utuh, aus
  • Justifikasi : sikap arca kaku berdiri samabangga, lapik patah dengan sandaran (stela). Tangan terlihat ditetakkan didepan perut, kondisi arca sangat aus jadi tidak dapat dideskripsikan.

 

  • Arca Perwujudan
  • No Inventaris : 1/14-05/BB/11

  • Bahan : Batu Padas
  • Warna : abu-abu
  • Ukuran
    • Tinggi : 29 cm
    • Lebar : 13 cm
    • Tebal : 12 cm
  • Periodesasi : Bali Kuna (abad XI – XIII)
  • Kondisi : tidak utuh, aus
  • Justifikasi : sikap arca kaku berdiri di atas lapik segi empat polos sikap samabangga. bagian kepala patah, tangan aus, terlihat memakai kalung (hara), gelang lengan (keyura), ikat perut (udarabandha) dan kain motif geometris garis vertikal. Bagian kaki juga aus.

 

  • Arca Perwujudan
  • No Inventaris : 1/14-05/BB/12

  • Bahan : Batu Padas
  • Warna : abu-abu
  • Ukuran
    • Tinggi : 32 cm
    • Lebar : 13 cm
    • Tebal : 10 cm
  • Periodesasi : Bali Kuna (abad XI – XIII)
  • Kondisi : tidak utuh, terawat
  • Justifikasi : sikap arca kaku samabangga berdiri diatas lapik setengah lingkaran dengan sanaran (stela). bagian kepala patah, lengan kiri patah, lengan kanan memakai gelang (keyura) motif simbar, memakai kalung (hara) motif suluran, simbar. sikap tangan dyanamudra membawa kuncup padma, memakai kain dari dada sampai kaki. motif kain garis geometris gelombang, tumpal segitiga, dan memakai dua buah sampur motif bunga, uncal dngan motif garis geometris kotak.

 

Arca Perwujudan

  • No Inventaris : 1/14-05/BB/13

  • Bahan : Batu Padas
  • Warna : abu-abu
  • Ukuran
    • Tinggi : 43 cm
    • Lebar : 15 cm
    • Tebal : 12 cm
  • Periodesasi : Bali Kuna (abad XI – XIII)
  • Kondisi : aus
  • Justifikasi : sikap arca berdiri samabangga di atas lapik segi empat polos dengan sandaran (stela). mahkota aus, muka aus, tangan aus, terlihat memakai anting-anting (kundala) bulat lurus menjuntai. terlihat memakai ikat dada (udarabandha), sikap tangan berada didepan perut. memakai kain tetapi aus.

 

  • Arca Perwujudan
  • No Inventaris : 1/14-05/BB/14

  • Bahan : Batu Padas
  • Warna : abu-abu
  • Ukuran
    • Tinggi : 46 cm
    • Lebar : 13 cm
    • Tebal : 14 cm
  • Periodesasi : Bali Kuna (abad XI – XIII)
  • Kondisi : utuh, terawat
  • Justifikasi : sikap arca berdiri samabangga diatas lapik setengah lingkaran dengan sandaran (stela), bentuk muka persegi, mata sipit, alis tipis, hidung dan mulut aus. leher bergurat tiga, memakai mahkota (makuta) kelopak bunga padma bertingkat, anting-anting (kundala), hiasan telinga (simping). memakai kalung (hara), ikat dada (udarabanda), gelang lengan (keyura), bagian pergelangan tangan kiri patah, sikap tangan dhyanamudra didepan perut. memakai kain dari dada sampai kaki dengan dua buah sampur motif bunga.

 

  • Fragmen Bangunan (Kepala Kala)
  • No Inventaris : 1/14-05/BB/15

  • Bahan : Batu Padas
  • Warna : abu-abu
  • Ukuran
    • Tinggi : 20 cm
    • Lebar : 17,5 cm
    • Tebal : 19 cm
  • Periodesasi : Bali Kuna (abad XI – XIII)
  • Kondisi : aus
  • Justifikasi : fragmen bangunan kepala kala ini merupakan bagian dari suatu bangunan yang berfungsi sebagai dekoratif yang biasanya diletakkan di dinding-dinding bangunan. bentuk muka bulat, mata melotot, alis tebal, hidung besar dan pesek, mulut lebar dengan gigi dan taring terlihat menyeramkan, dagu disamarkan (distilir) dengan motif simbar.

 

  • Arca Perwujudan
  • No Inventaris : 1/14-05/BB/16

  • Bahan : Batu Padas
  • Warna : abu-abu
  • Ukuran
    • Tinggi : 44 cm
    • Lebar : 13 cm
    • Tebal : 11 cm
  • Periodesasi : Bali Kuna (abad XI – XIII)
  • Kondisi : utuh, terawat
  • Justifikasi : sikap arca kaku samabangga berdiri diatas lapik segi empat polos dengan sandaran (stela), memakai mahkota (makuta) daun padma bertingkat, mata sipit, hidung pesek, bibir tipis, leher bergurat tiga, memakai hiasan telinga (simping), anting-anting (kundala) menguntai sampai dada. sikap tangan dhyanimudra membawa padma kuncup, memakai gelang lengan (keyura) motif simbar, gelang tangan (kankana) polos, kalung (hara) motif simbar tumpal terbalik, ikat dada (udarabandha). mengenakan kain polos tiga lapis dari pinggang sampai kaki dengan uncal.

 

  • Arca Perwujudan
  • No Inventaris : 1/14-05/BB/17

  • Bahan : Batu Padas
  • Warna : abu-abu
  • Ukuran
    • Tinggi : 45 cm
    • Lebar : 13 cm
    • Tebal : 11 cm
  • Periodesasi : Bali Kuna (abad XI – XIII)
  • Kondisi : aus
  • Justifikasi : sikap arca kaku samabangga berdiri diatas lapik segi empat polos dengan sandaran (stela), memakai mahkota (makuta) daun padma bertingkat, muka aus, leher bergurat tiga, memakai hiasan telinga (simping), anting-anting (kundala) menguntai sampai dada. sikap tangan dhyanimudra membawa padma kuncup, memakai gelang lengan (keyura) motif simbar, gelang tangan (kankana) polos, kalung (hara) motif simbar tumpal terbalik, ikat dada (udarabandha). mengenakan kain motif geometris garis vertikal tiga lapis dari pinggang sampai kaki dengan uncal. terlihat arca pernah patah di bagian dada, namun sekarang sudah disambung kembali.

 

  • Lingga Semu (Lingga Patok)
  • No Inventaris : 1/14-05/BB/18

  • Bahan : Batu Padas
  • Warna : abu-abu
  • Ukuran
    • Tinggi  : 53 cm
    • Diameter : 21 cm
  • Periodesasi : Bali Kuna (abad XI – XIII)
  • Kondisi : utuh, terawat
  • Justifikasi : lingga semu merupakan sebuah bentuk lingga yang belum sempurna seperti lingga pada umumnya, biasanya lingga semu ini digunakan sebagai batas dari suatu daerah/wilayah/tanah perdikan. selain itu lingga semu juga biasanya dijadikan sebagai ornamen hiasan suatu bangunan sebagai menara sudut. Terlihat terjadi proses penghalusan di bagian dasar lingga.

 

  • Fragmen Arca Perwujudan
  • No Inventaris : 1/14-05/BB/19

  • Bahan : Batu Padas
  • Warna : abu-abu
  • Ukuran
    • Tinggi : 26 cm
    • Lebar : 16 cm
    • Tebal : 9 cm
  • Periodesasi : –
  • Kondisi : aus
  • Justifikasi : kondisi arca sangat aus jadi tidak ada yang bisa diidentifikasi, hanya terlihat sisa-sisa goresan yang menunjukan batas arca dengan sandaran (stela), dan lapik segi empat.

 

  • Fragmen Arca Perwujudan
  • No Inventaris : 1/14-05/BB/20

  • Bahan : Batu Padas
  • Warna : abu-abu
  • Ukuran
    • Tinggi             : 40 cm
    • Lebar             : 14 cm
    • Tebal             : 11 cm
  • Periodesasi : Bali Kuna (abad XI – XIII)
  • Kondisi : tidak utuh, aus
  • Justifikasi : bagian sandaran (stela) atas kiri patah, kaki dan lapik patah, mahkota dan muka aus, terlihat memakai anting-anting (kundala), kalung (hara) motif tumpal segitiga terbalik, ikat perut (udarabandha). pergelangan tangan patah dengan sikap tangan berada di depan perut.

 

Lanjutan ke Artikel Inventarisasi di Pura Kentel Gumi (Bagian 2)…….. 

artanegara

Balai Pelestarian cagar Budaya Bali Wilayah Kerja prov. Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur Jalan Raya Tampaksiring, Bedulu, Blahbatuh, Gianyar, Bali 80581 Telepon (0361) 942347, Fax (0361) 942354 e-mail: bpcbbali@kemdikbud.go.id dan bp3_bali@yahoo.com

Leave a Reply