Inventarisasi Cagar Budaya/Objek Diduga Cagar Budaya di Desa Getasan, Kecamatan Petang, Kabupaten Badung, Propinsi Bali

0
475

Latar Belakang

Arti tingggalan arkeologi adalah sebagai  data sejarah dan kebudayaan yang harus dilestarikan, karena merupakan hasil karya budaya masyarakat jaman dulu. Pulau Bali sangat kaya akan tinggalan arkeologi, tersebar di seluruh pelosok kabupaten/kota. Salah satu daerah yang kaya akan peninggalan arkeologi adalah Desa Getasan, Kecamatan Petang, Kabupaten Badung. Tingggalan arkeologi di daerah tersebut terdiri dari berbagai macam bentuk dan jenis yang berasal dari berbagai jaman atau peradaban, diantaranya terdapat penemuan-penemuan berupa tinggalan tradisi prasejarah, Bali kuna (abad XIII-XV), dan dari masa kolonial. Sebagian besar peninggalan yang ditemukan di Desa Getasan berasal dari jaman prasejarah dan klasik (Hindu-Budha).

Di daam undang-undang nomor 11 tahun 2010 tentang Cagar Budaya, tinggalan arkeologi diklasifikasikan menjadi benda, bangunan, struktur, situs, dan satuan ruang geografis (kawasan) dan disebut sebagai Cagar Budaya. Cagar Budaya tersebut belum semuanya dapat diinventarisasi dan didokumentasikan secara menyeluruh. Balai Pelestarian Cagar Budaya Gianyar (BPCB Gianyar) dengan wilayah kerja Provinsi Bali, NTB, dan NTT sebagai Unit Pelaksana Teknis Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang menangani masalah pelestarian cagar budaya memiliki tugas pokok antara lain untuk melakukan kegiatan registrasi (inventarisasi dan dokumentasi) benda, bangunan, struktur, situs, dan satuan ruang geografis (kawasan) untuk diusulkan sebagai cagar budaya. Inventarisasi terhadap benda, bangunan, struktur, situs, dan satuan ruang geografis (kawasan) yang memiliki potensi sebagai cagar budaya meliputi beberapa aspek penting antara lain lokasi, bentuk, jenis, ukuran, jumlah, pemotretan, dan pendeskripsian setiap tinggalan sejarah masa lalu sehingga mendapatkan data yang akurat dan lengkap. Data yang diperoleh di lapangan selanjutnya dijadikan sebagai pedoman dalam menyusun Buku Induk Daftar Inventarisasi Cagar Budaya.

Cagar budaya perlu dilestarikan dan dikelola dengan sebaik-baiknya oleh pemerintah baik pusat maupun daerah dengan melibatkan peran serta seluruh masyarakat. Perlindungan, pengembangan, dan pemanfaatan cagar budaya dalam rangka memajukan kebudayaan Nasional untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

Maksud dan Tujuan

Kegiatan inventarisasi Cagar Budaya di Desa Getasan, Kecamatan Petang, Kabupaten Badung, Propinsi Bali, dimaksudkan untuk menyempurnakan kualitas data yang ada dalam arti hasil yang diperoleh benar-benar merupakan data yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan, baik mengenai jumlah, jenis dan berbagai aspek penting lainnya. Sedangkan tujuan kegiatan ini adalah sebagai bahan dalam penyusunan Daftar Induk Inventarisasi Cagar Budaya yang tersebar di Provinsi Bali, sehingga dapat dijadikan dasar dalam penentuan kebijakan bagi upaya-upaya pelestarian, pengembangan dan pemanfaatannya. Dari hasil inventarisasi ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi penyusunan sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan kebudayaan.

Metode

Untuk mencapai hasil sesuai dengan maksud dan tujuan kegiatan, harus memenuhi  kaedah-kaedah metodelogi yang lazim digunakan dalam penelitian. Hal ini dimaksudkan agar pelaksanaan kegiatan lebih berbobot dan memiliki nilai ilmiah.   Adapun metode yang digunakan adalah sebagai berikut :

  1. Kepustakaan merupakan salah satu acuan dalam pelaksanaan kegiatan studi teknis dengan menelaah hasil-hasil penelitian terdahulu yang  dipublikasikan. Selain itu studi pustaka merupakan metode untuk mendapatkan sumber-sumber data yang terkait dengan obyek yang akan dilaksanakan studi. 
  2. Observasi adalah teknik pengumpulan data dengan cara mengamati langsung obyek yang akan diteliti untuk mengetahui kondisi benda yang sebenarnya.
  3. Wawancara adalah tehnik pengumpulan data dengan mengadakan tanya jawab secara langsung dengan tokoh masyarakat, aparat desa, atau orang-orang yang mengetahui informasi tentang cagar budaya yang menjadi sasaran kegiatan.  Wawancara dilakukan dalam kegiatan ini dengan metode tanpa struktur.

Letak dan Lingkungan

Kecamatan Petang adalah sebuah kecamatan di kabupaten Badung, Bali, Indonesia. Luasnya adalah 115,00 km². Pada tahun 2004, penduduknya berjumlah 27.576 jiwa. Kecamatan ini mempunyai 7 kelurahan/desa, yaitu Belok, Carangsari, Getasan, Pangsan,    Pelaga, Petang, serta Sulangai. Daerah ini memiliki banyak daerah pariwisata serta berpotensi memiliki berbagai macam peninggalan arkeologi.

Salah satunya adalah Desa Getasan, dengan ikon sebagai Desa Pariwisata dengan atraksi gajah serta jalur-jalur trekking yang cukup menantang sebagai objek andalan yang cukup diminati bagi wisatawan. Selain itu Desa Getasan juga memiliki banyak potensi arkeologi, sejarah, maupun budaya lainnya. Berjarak 30 km dari Kota Denpasar serta 22 km dari Kabupaten Badung dengan mengendari kendaraan roda dua, mobil, mini bus, ataupun bus dapat ditempuh selama 1 jam perjalanan, dengan luas 401 Ha desa ini sangat mudah dicapai mengingat jalur transportasi di desa ini merupakan jalur transportasi untuk menuju daerah pariwista yang banyak ditemukan di Kecamatan Petang. Daerah ini memiliki curah hujan yang cukup intens mengingat daerah ini berada dalam ketinggian  400 mdpl. Adapun batas wilayah desa ini yaitu sebelah utara berbatasan dengan  Desa Pangsan, sebelah timur berbatasan dengan Sungai Ayung, sebelah selatan berbatasan dengan Desa Carangsari, sebelah barat berbatasan dengan  Sungai Penet.

  • Situs Pura Rambut Siwi
  • Nama : Pura Rambut Siwi
  • No.Inventarisasi : 3/14-04/STS/11
  • Alamat :
    • Banjar : Getasan Kau  
    •  Desa : Getasan
    • Kecamatan : Petang
    • Kabupaten : Badung   
    • Provinsi : Bali        
  • Luas Lahan : 64 x 28 m2
  • Koordinat UTM  : 50 L 0304382 UTM 9067089 
  • Elevation  : 401 mdpl
  • Batas-Batas:
    • Utara                    : Kebun
    • Timur                   : Sungai kecil
    • Selatan                : Kebun
    • Barat                    : Sawah
  • Latar Budaya : Hindu-Budha
  • Jenis Situs : Tempat Ibadah
  • Kepemilikan : Kelompok Masyarakat
  • Pengelola : Kelompok Masyarakat
  • Deskripsi  : Pura ini merupakan pura yang bersifat genealogis, yaitu pura yang disungsung/difungsikanoleh kelompok masyarakat Desa Getasan secara turun temurun. Pura ini berlokasi di pinggir jalan umum yang merupakan jalur transportasi pariwisata sehingga sangat mudah dijangkau dan dapat dilalui berbagai jenis kendaraan bermotor. Pura ini terdiri dari dua halaman, yakni halaman utama (jeroan) yang merupakan pusat disimpannya tinggalan arkeologi dengan berbagai macam bangunan pendukung lainnya dan halaman luar (jaba) yang terdapat bangunan berupa dapur (pewaregan suci), areal parkir, wantilan (aula), serta kamar kecil. Secara keseluruhan bangunan dalam kondisi baik dan terawat.
  • Fragmen Bangunan (Relief Lingga Kembar)
  • No.Inventarisasi : 1/14-03/BND/91
  • Ukuran    
    • Tinggi  : 41 cm
    • Lebar  : 52 cm    
    • Lebar : 52 cm                             
  • Bahan : Batu Padas
  • Warna : Abu-abu
  • Periode : Hindu – Budha
  • Abad : XIV – XVI Masehi
  • Deskripsi : Merupakan bagian dari bangunan berupa relief lingga semu yang berbentuk bulat lonjong, bagian dasarnya berbentuk bulat seperti bunga padma.
  • Lingga
  • No.Inventarisasi : 1/14-03/BND/92
  • Ukuran    
    • Tinggi : 54 cm
    •  Lebar : 18 cm
    • Tebal : 17 cm
  • Bahan : Batu Padas
  • Warna : Abu-abu
  • Periode : Hindu – Budha
  • Abad : XIV – XVI Masehi
  • Deskripsi : Merupakan lingga sempurna dengan 3 (tiga) bagian yaitu segi empat (brahma bhaga), segi delapan (wisnu bhaga), dan setengah lingkaran (siwa bhaga). Pada bagian atas terdapat guratan melengkung (cerat).                               
  • Lingga
  • No.Inventarisasi : 1/14-03/BND/93
  • Ukuran  
    • Tinggi : 41 cm     
    • Lebar  : 52 cm    
    • Tebal  : 33 cm                           
  • Bahan : Batu Padas
  • Warna : Abu-abu
  • Periode : Hindu – Budha
  • Abad : XIV – XVI Masehi
  • Deskripsi : Merupakan lingga semu dengan ukuran lebih besar dari ukuaran biasanya. Bagian atas lingga berbentuk bulat lonjong, sedangkan di bagian bawahnya berbentuk persegi empat, teknik pengerjannya tidak rapi serta permukaannya berpori-pori.
  • Lingga
  • No.Inventarisasi : 1/14-03/BND/94
  • Ukuran                                   
    • Tinggi : 66 cm
    • Lebar  : 22 cm
    • Tebal : 22 cm
  • Bahan  : Batu Padas
  • Warna : Abu-abu
  • Periode : Hindu – Budha
  • Abad : XIV – XVI Masehi
  • Deskripsi : Merupakan lingga sempurna dengan 3 (tiga) bagian yaitu segi empat (brahma bhaga), segi delapan (wisnu bhaga), dan setengah lingkaran (siwa bhaga). Pada bagian atas terdapat guratan melengkung (cerat) dan di bagian tengah sedikit rusak dan aus.
  • Fragmen Bangunan (Relief)
  • No.Inventarisasi : 1/14-03/BND/95
  • Ukuran                                   
    • Tinggi : 48 cm
    • Lebar : 30 cm
    • Tebal : 29 cm
  • Bahan : Batu Padas
  • Warna : Abu-abu
  • Periode : Hindu – Budha
  • Abad : XIV – XVI Masehi
  • Deskripsi : Merupakan bagian dari bangunan berupa relief lingga semu, bagian dsar lingga berbentuk persegi empat, relief lingga memakai bingkai berbentuk persegi empat dan bagian atasnya terdapat undagan berbentuk persegi empat
  • Fragmen Bangunan
  • No.Inventarisasi : 1/14-03/BND/96
  • Ukuran                                   
    • Tinggi  : 45 cm
    • Lebar : 60 cm
    • Tebal : 60 cm
  • Bahan  : Batu Padas
  • Warna : Abu-abu
  • Periode  : Hindu – Budha
  • Abad : XIV – XVI Masehi
  • Deskripsi : Merupakan bagian dari bangunan, dalam kondisi terbelah-belah, bagian pojok terdapat lipatan, bagian tengahnya berlubang dan berbentuk persegi empat.
  • Fragmen Arca Binatang
  • No.Inventarisasi : 1/14-03/BND/97
  • Ukuran                                   
    • Tinggi  : 37 cm
    • Lebar  : 40 cm
    • Tebal : 40 cm
  • Bahan  : Batu Padas
  • Warna : Abu-abu
  • Periode : Hindu – Budha
  • Abad : XIV – XVI Masehi
  • Deskripsi :  merupakan fragmen arca dalam sikap duduk di atas lapik, bagian muka aus dan hanya terlihat bentuk dasarnya saja, bagian badan dengan ekor panjang melintang di punggung, serta memiliki rambut ikal.
  • Fragmen Arca Pancoran
  • No.Inventarisasi : 1/14-03/BND/98
  • Ukuran                                   
    • Tinggi : 44 cm
    • Lebar : 32 cm
    • Tebal : 32 cm
  • Bahan : Batu Padas
  • Warna : Abu-abu
  • Periode : Hindu – Budha
  • Abad : XIV – XVI Masehi
  • Deskripsi : Merupakan fragmen arca yang sebagian besar dalam kondisi aus, hanya terlihat bentuk dasarnya saja, bagian depan dipahatkan bentuk dasar arca dari kepala hingga badan, serta di bagian tengahnya berlubang tembus hingga ke belakang.  
  • Fragmen Bangunan
  • No.Inventarisasi : 1/14-03/BND/99
  • Ukuran                                   
    • Tinggi : 41 cm
    • Lebar  : 53 cm
  • Bahan : Batu Padas
  • Warna : Abu-abu
  • Periode : Hindu – Budha
  • Abad : XIV – XVI Masehi
  • Deskripsi : Merupakan bagian dari bangunan yang berbentuk persegi empat dengan lipatan di bagian atas dan bawahnya, bangian tengahnya berlubang dengan bentuk persegi empat.  
  • Tugu Batu
  • No.Inventarisasi : 1/14-03/BND/100
  • Ukuran                                   
    • Tinggi : 70 cm
    • Garis Tengah : 47 cm
  • Bahan : Batu Padas
  • Warna : Abu-abu
  • Periode : Hindu – Budha
  • Abad  : XIV – XVI Masehi
  • Deskripsi : Merupakan tugu batu yang terdiri dari tiga bagian, di bagian atas berbentuk seperti bunga padma dengan ukuran lebih besar dari bagian tengahnya. Pada bagian tengahnya berbentuk seperti tiang persegi delapan. Sedangkan pada bagian bawahnya dalam kondisi terbelah-belah berbentuk bulat melingkar.
  • Situs Pura Tegal Suci
  • Nama : Pura Rambut Siwi
  • No.Inventarisasi : 3/14-04/STS/12
  • Alamat                        
    • Banjar  : Getasan Kauh
    • Desa  : Getasan
    • Kecamatan : Petang
    • Kabupaten : Badung
    • Provinsi : Bali
  • Luas Lahan :  2 are
  • Koordinat UTM  : 50 L 0304437 UTM 9067146
  • Elevation : 419 mdpl
  • Batas-batas                  
    • Utara : Pura
    • Timur : Jurang
    • Selatan : Jurang
    • Barat : Sungai kecil
  • Latar Budaya : Hindu-Budha
  • Jenis Situs : Tempat Ibadah
  • Kepemilikan : Kelompok Masyarakat
  • Pengelola : Kelompok Masyarakat
  • Deskripsi : Pura ini merupakan pura yang disungsung/difungsikanoleh kelompok masyarakat Desa Getasan secara turun temurun. Pura ini berlokasi di tengah hutan berjarak sekitar 50 meter dari jalan umum yang merupakan jalur transportasi pariwisata. Pura ini dikelilingi semak dan pohon besar hanya ada satu bangunan tempat pemujaan di Pura ini. Tinggal;an yang utuh hanya ada satu, sisanya berupa reruntuhan bangunan yang tidak dapat diidentifikasi.
  • Fragmen Arca Nandhi
  • No.Inventarisasi: 1/14-04/BND/101
  • Ukuran                        :
    • Tinggi : 32 cm
    • Lebar  : 24 cm
    • Tebal : 47 cm
  • Bahan : Batu Padas
  • Warna  : Abu-abu
  • Tempat : Pelinggih Gedong Arca
  • Periode : Hindu – Budha
  • Abad : XIV – XVI Masehi
  • Deskripsi : Fragmen Arca digambarkan dalam sikap duduk, bagian muka sudah rusak, yang terlihat adalah kepala dengan telinga kecil, kaki depan dilipat  begitu pula dengan kaki belakang yang dilipat. Pada bagian badannya yang kegemukan terlihat punggungnya yang bergelombang, serta ekornya yang melingkar di badannya.

Pembahasan

  • Situs Pura Rambut Siwi

Dari hasil kegiatan inventarisasi yang telah dilaksanakan di situs Pura Rambut Siwi Desa Getasan, Kecamatan Petang, Kabupaten Badung, Propinsi Bali, maka dapat di ketahui bahwa terdapat 3 (tiga) buah tinggalan berupa lingga, 4 (empat) buah tinggalan berupa fragmen bangunan,  2 (dua) buah tinggalan berupa fragmen arca, serta 1 (satu) buah tinggalan berupa tugu batu.

Tinggalan berupa lingga merupakan lambang dari Dewa Siwa, yang terbuaat dari batu padas, terdapat guratan melingkar yang biasa disebut dengan cerat. Kata lingga berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti phallus atau alat kelamin laki-laki. Biasanya lingga di tempatkan di atas yoni atau vulva yang berarti alat kelamin perempuan. Jika lingga dan yoni disatukan maka disebut sebagai lambang penyatuan unsur laki-laki dan perempuan yang diharapkan memberikan kesuburan bagi pemujanya.

Fragmen bangunan yang terdapat di situs ini merupakan tinggalan yang dibuat dari bahan batu padas dengan bentuk persegi serta berukuran besar. Beberapa bagian dari bangunan tersebut terdapat relief yang menggambarkan lingga yoni. Jika demikian kemungkinan pada jaman dulu pernah berdiri sebuah bangunan dengan pahatan yang sederhana, arsitektur yang tidak mewah serta relief-relief yang menggambarkan simbol-simbol kedewataan. Berdasarkan temuan-temuan lainnya dapat dikatakan bahwa bangunan yang pernah di bangun disini merupakan bangunan pemujaan Agama Hindu yang memuja Dewa Siwa yang diwujudkan dalam simbol lingga. Berdasarkan hal tersebut, kemungkinan tinggalan yang ada di Pura ini berasal dari abad XIV-XVI Masehi.

  • Situs Pura Tegal Suci

Merupakan situs yang berada di tengah-tengah hutan di Desa Getasan. Situs ini tidak di batasi dengan pagar pelindung ataupun balai pelindung, sehingga bisa dikatakan situs ini menyatu dengan lingkungan alam yang ada di sekitarnya. Meskipun berada di tengah hutan situs ini dekat dengan jalan umum yang merupakan jalur transportasi pariwisata. Berjarak sekitar 50 meter dari jalan umum dengan berjalan kaki maka situs ini dapat dijangkau dengan baik. Di situs ini hanya terdapat tinggalan berupa fragmen arca nandi dalam sikap duduk, sisanya berupa reruntuhan bangunan dari bahan batu padas.

Arca nandi merupakan simbol dari lembu putih kendaraan Dewa Siwa, dalam cerita pewayangan India, Nandi juga disebut sebagai nandini atau handini. Nandhi adalah anak raja jin bernama Patanam di Negara Dahulagiri, sebelah timur laut pegunungan Himalaya. Nandhi sangat sakti, kuat, dan Bengal karena itu dia di puja oleh seluruh rakyat Dahulagiri. Mendengar hal tersebut Bhatara Guru menjadi murka, karena menurut beliau yang pantas dipuja dan disembah adalah Dewata. Bhatara Guru kemudian memerangi Nandhi dan mengakibatkan kekalahan pada Nandi. Nandhi kemudian dijadikan tunggangan pribadi Bhatara Guru. Di beberapa tempat Nandhi juga dipercaya sebagai pembawa kesuburan, `hal itu disebabkan karena dari tubuhnyalah mengalir susu yang banyak dikonsumsi oleh manusia sehingga, manusia menganggapnya sebagai dewa pembawa kesuburan.

Arca nandhi yang terdapat di Pura Tegal Suci dilihat dari gaya atau karakteristiknya, arca memiliki bentuk yang sangat sederhana dan tidak menampakan atribut-atribut kedewataan. Kemungkinan arca ini berasal dai abad XIV – XVI Masehi, karena dalam periode tersebut gaya atau karakteristik tinggalannya kembali dalam bentuk yang sederhana. 

Simpulan

  • Berdasarkan hasi pengamatan diketahui bahwa peninngalan purbakala yang terdapat di Desa Getasan, Kecamatan Petang, Kabupaten Badung, Propinsi Bali, terdiri dari 11 benda cagar budaya berupa Lingga, Fragmen Arca, Fragmen Bangunan, dan stambha, serta 2  situs cagar budaya.
  • Berdasarkan gaya atau karakteristik tinggalan berupa lingga, arca, fragmen arca, fragmen bangunan dan stambha diperkirakan berasal dari abad XIV – XVI Masehi.

Rekomendasi

  • Bertitik tolak ketentuan dalam UU RI Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya, berdasarkan hasil inventarisasi dapat dikatakan bahwa semua tinggalan yang terdapat di Pura Puseh Kangin Desa Carangsari, Kecamatan Petang, Kabupaten Badung, Propinsi Bali seperti tersebut di atas dapat dimasukkan  dalam kategori cagar budaya sehingga perlu dilestarikan.
  • Mengingat pentingnya nilai yang terdapat dalam peninggalan di situs-situs cagar budaya yang ada di Pura Puseh Kangin Desa Carangsari, Kecamatan Petang, Kabupaten Badung, Propinsi Bali, maka perlu dilestarikan agar cagar budaya terhindar dari kerusakan, kemusnahan dan kehilangan.
  • Pelestarian Cagar Budaya di Desa Getasan, Kecamatan Petang, Kabupaten Badung, Propinsi Bali, harus melibatkan masyarakat agar tidak menimbulkan konflik.
  • Setiap upaya pelestarian baik berupa konservasi, pemugaran, pengembangan, pemeliharaan, dan pemanfaatannya agar dikoordinasikan dengan pihak Balai Pelestarian Cagar Budaya Bali di Gianyar.

TINGGALKAN KOMENTAR